1. Latar Belakang Lahirnya Mars Sinose Kingmi: (a. Semangat roh kembalinya Sinode Kingmi Papua. b. Membangun kesatuan dan persatuan dalam organisasi gereja Kingmi. c. Membangun cirri khas gereja Kingmi). 2. Tim Pengarang Lagu Mars Sinode; (a. Bpk Fredy Kusen. b. Drs. Dody Siwabesy, MP. c. Pdt.Yance Nawipa, M.Th).
Nawipa, Yance lahir di Kagokadagi Paniai Propinsi Papua pada tanggal 05 Januari 1968. Anak pertama dari alm Pdt. Lukas Nawipa dan alma Lea Gobai sebagai pelayan Tuhan di pedalaman Paniai. Saya menyelesaikan Sekolah Dasar (SD) YPPGI di Obaipugaida. Pada bulai Mei 1982 saya menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) YPK di Wamena. Kemudian melanjutkan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) YPPGI pada tahun dan kota yang sama, dan menyelesaikan pada bulan Mei 1987, sesudah itu melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Teologi Jaffray (STTJ) Ujungpandang pada bulan Agustus 1987 dan menyelesaikan pada bulan Mei 1992.
Saya, pernah melayani di beberapa tempat, antara lain: menjadi Guru pada Sekolah Teologi Atas (STA) Bozeman dan mengajar pada Akademi Agama Kristen di Wamena tahun 1992-1993. Setelah itu melanjukna pendidikan Program Pasca Sarjana pada Institut Filsafat Theologi dan Kepemimpinan Jaffray (IFTKJ) Jakarta dan menyelesaikan 1995. Menikah dengan Ny.Mince T. Nawipa pada tanggal 15 April 1995 di Jakarta. Telah di karuniai Tuhan dua orang putri, yaitu Febrin Visi Irka Nawipa (SMP) dan Sela Almenda Nawipa (TK).
Melayani Tuhan pada Sekolah Tinggi Teologi GKIP Sorong dan menjadi Gembala sidang Pos Pelayanan Km 12 Sorong dari tahun 1995—1999. Kemudian membuka Sekolah Tinggi Teologi Walter Post Kampus II Nabire tahun 1999 dan sedang melayani sebagai Ketua Sekolah. Pernah menjadi Gembala Sidang GKI (Kingmi) Jemaat Sejahtera Nabire sejak tahun 2000—2004. Kemudian tahun 2006/2007 telah menyelesaikan Program Pascasarjana Jurusana Kepemimpinan Konsentrasi Manajemen Gereja pada IFTK Jaffray Jakarta, dengan Judul Tesis: “Model-Model Kepemimpinan Para Hamba Tuhan dari Sejak 1938—2005 Sebagai Suatu Acuan bagi Kepemimpinan Gereja Kemah Injil Menuju Kemandirian di Tanah Papua.”
Berkaitan dengan kembalinya Sinode Kingmi Papua, maka saya menulis judul tesis ini untuk memberikan kontribusi pikiran kepada pihak gereja untuk mengembangkan diri menjadi mandiri di Tanah Papua. Dengan semangat roh sinode Kingmi ini, maka saya diberi kesempatan oleh Panitia Konferensi Wilayah ke-VIII untuk menyusun teks lagu Mars Sinode Kingmi Papua.
Lagu Mars Sinode ini dikarang dalam suasana yang penuh semangat, untuk membangun Sinode Kingmi di Tanah Papua sebagai sebuah lembaga gereja yang kuat, sehat, hidup dan mandiri.
3. Tujuan Lahirnya Mars Sinode: Di dalam Syair lagu Mars Sinode Kingmi Papua terdapat gambaran visi, misi, tujuan, dan falsafah pelayanan organisasi Gereja Kingmi. Dengan menghayati dan mengamalkan isi syair lagu agar seluruh warga Gereja Kingmi memiliki sehati, sepikir, seroh, seiman untuk melayani Tuhan bersama-sama di Tanah Papua ini dalam Kuat Kuasa Kebangkitan Kristus untuk menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah dan menciptakan Zona Damai di Tanah Papua.
4. Penjelasan Istilah: (4.1. Lagu Mars. 4.2. Sinode. Sinode (juga dikenal sebagai konsili) adalah sebuah dewan dari sebuah Gereja Kristen, yang biasanya dihimpun untuk mengambil keputusan tentang suatu masalah doktrin, administrasi atau aplikasi. Sebuah konsili ekumenis dinamai demikian karena ia merupakan sinode dari seluruh Gereja (ekumene) atau, lebih tepatnya, dari semua yang menganggapnya sebagai seluruh Gereja.Kata "sinode" berasal dari kata Yunani συνοδος yang berasal dari kata συν (sun=bersama-sama) dan όδος (hodos=jalan) yang berarti "berjalan bersama".
Dengan demikian, kata "sinode" juga berarti "persidangan" atau "pertemuan" yang menekankan kebersamaan. Kata ini sinonim denagn kata Latin concilium — "konsili". Pada mulanya, sinode adalah pertemuan yang dihadiri oleh para uskup, dan kata ini masih dipergunakan dalam pengertian ini di lingkungan Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur.
Kadang-kadang ungkapan sinode umum atau konsili umum merujuk kepada suatu konsili ekumenis. Kata sinode juga merujuk kepada dewan para uskup yang berkedudukan tinggi, yang membawahi sejumlah Gereja Ortodoks yang mempunyai pimpinan sendiri (otosefalus).
Penggunaan di berbagai denominasi Gereja.
Gereja Ortodoks. “Di lingkungan Gereja-gereja Ortodoks, sinode terdiri atas para uskup dan merupakan sarana utama untuk pemilihan uskup dan penetapan hukum-hukum gerejawi antar-diosis”.
Gereja Katolik Roma. “Sinode local. Di lingkungan Gereja-gereja ritus Timur sinode mempunyai pengertian yang sama dengan di lingkungan Gereja-gereja Ortodoks. Di lingkungan Gereja-gereja ritus Latin mempunyai pengertian berikut: Konsili-konsili tertentu, Sinode diosis (keuskupan), Konferensi uskup nasional.”
Konsili-konsili tertentu adalah sinode-sinode yang tidak permanen dari para uskup ritus Latin di wilayah-wilayah tertentu. Konsili ini mempunyai dua bentuk: konsili atau sinode lengkap, yang terdiri atas para uskup dari suatu negara dan yang dihimpunkan oleh dua pertiga suara dari konferensi uskup nasional, dan dewan provinsial, yang terdiri atas para uskup dari suatu provinsi gerejawi dan yang dihimpunkan oleh metropolitan dengan persetujuan dari mayoritas uskup yang ada di bawahnya.
Para uskup wilayah (termasuk uskup pembantu serta mereka yang bukan uskup yang mengepalai gereja-gereja tertentu di wilayah (misalnya, kepala biara teritorial) dan vikar apostolik) mempunyai hak suara dalam konsili-konsili pleno atau provinsial, meskipun beberapa anggota lainnya dari wilayah yang bersangkutan (seperti misalnya presiden universitas Katolik dan para pejabat gereja curia setempat diundang dan berpartisipasi sebagai penasihat.
Sinode diosis adalah sebuah pertemuan yang tidak permanen dari para rohaniwan dan awam dari suatu gereja di wilayah tertentu, yang diundang oleh uskup diosis sebagai suatu dewan penasihat tentang masalah-masalah legislatif. Hanya seorang uskup (uskup diosis) yang mempunyai hak suara, dan di diosis-diosis yang tidak mempunyai uskup pembantu, ia mungkin merupakan satu-satunya uskup yang menghadiri sinode ini. Para anggota lain dari sinode diosis, termasuk para uskup pembantu yang hadir, hanya bertindak sebagai penasihat, sementara segala keputusan untuk mengeluarkan keputusan hukum diserahkan kepada uskup diosis.
Konferensi uskup nasional adalah sebuah lembaga permanen yang terdiri atas semua uskup ritus Latin di sebuah negara. Para uskup dari gereja-gereja sui juris lainnya dan utusan nuncio Paus menurut hukum tidak termasuk dalam konferensi para uskup, meskipun konferensi itu sendiri dapat mengundang mereka untuk menghadirinya sebagai penasihat atau dengan hak suara (Hukum Kanon 450).
Baik sinode partikular (kan. 445) dan sinode keuskupan (kan. 391 & 466) mempunyai kekuasaan legislatif penuh atas anggota-anggotanya. Hal ini berbeda dengan kekuasaan konferensi uskup nasional, yang hanya mengeluarkan hukum-hukum pelengkap hanya bila diberikan wewenang untuk hal itu oleh dekrit Takhta Suci. Setiap hukum pelengkap harus pula dikukuhkan oleh Takhta Suci (kan. 455).
Sinode Umum. “Gereja Katolik Roma juga mempunyai dua sinode yang terdiri atas anggota-anggota dari seluruh Gereja: Sinode para Uskup dan Konsili ekumenis. Sinode Para Uskup adalah sesuatu yang baru dari Konsili Vatikan II, yang diperkenalkan lewat dekrit Christus Dominus. Sinode ini adalah sebuah dewan penasihat Paus, yang anggota-anggotanya terdiri atas para uskup terpilih dari seluruh dunia. Paus berfungsi sebagai presidennya atau menunjuk seseorang sebagai presidennya, menetapkan agendanya, menghimpun, menunda, dan membatalkan sinode, dan dapat pula mengangkat anggota-anggota tambahan ke dalamnya (kan. 344).
Para anggota sinode mengungkapkan pandangan-pandangannya mengenai masalah-masalah secara pribadi (artinya, sinode tidak mengeluarkan dekrit atau resolusi), tetapi Paus, atas keputusannya sendiri, dapat memberikan kuasa itu. Dalam hal ini, dekrit-dekrit atau resolusinya disetujui dan dirumuskan oleh Paus sendiri (kan. 343). Sinode Para Uskup ini ditunda apabila Takhta Suci kosong.
Gereja Katolik Roma percaya bahwa sebuah konsili ekumenis adalah sebuah sinode non-permanen dari semua uskup yang ada dalam persekutuan dengan Paus dan yang, bersama-sama dengan Paus, menjadi pemimpin tertinggi di dunia atas seluruh Gereja Kristen (kan. 336). Paus sendirilah yang mempunyai hak untuk menghimpunkan, menunda, dan membubarkan sebuah konsili ekumenis. Ia sendiri pula yang memimpinnya atau memilih seseorang yang lain untuk mewakilinya dan menentukan agendanya (kan. 338). Apabila Takhta Suci kosong, maka otomatis sebuah konsili ekumenis akan ditunda.
Sebelum hukum-hukum dikeluarkan oleh sebuah konsili ekumenis diberlakukan atau sebelum ajaran-ajaran yang dikeluarkan oleh sebuah konsili ekumenis dianggap otentik, semuanya itu harus dikukuhkano leh Paus, yaitu orang satu-satunya yang berhak merumuskannya (kan. 341). Harus dicatat bahwa pandangan tentang konsili ekumenis ini sangat berbeda dengan pandangan-pandangan yang dipegang oleh denominasi-denominasi Kristen lainnya.
Gereja Anglikan. “Di lingkungan Komuni Anglikan, sinode dipilih oleh para rohaniwan dan awam. Di kebanyakan gereja-gereja Anglikan, ada hierarkhi sinode yang dibagi menurut geografinya, dengan Sinode Umum di puncaknya; para uskup, rohaniwan dan kaum awam bertemu sebagai "kelompok" di dalam sinode. Sinode diosis dihimpun oleh seorang uskup di dalam diosisnya, dan terdiri atas rohaniwan dan anggota awam yang terpilih. Sinode dekanat dihimpun oleh Dekan rural (atau Dekan Wilayah) dan terdiri atas semua rohaniwan yang ditunjuk ke masing-masing paroki di lingkungan dekanan, ditambah anggota-anggota awam yang diangkat”.
Gereja Lutheran. “Dalam tradisi Lutheran sinode dapat merupakan suatu wilayah administratif setempat yang serupa dengan sebuah diosis, seperti misalnya Sinode Daerah Minneapolis dari Evangelical Lutheran Church in America (Gereja Lutheran Injili di Amerika), atau menunjuk kepada keseluruhan tubuh gereja, seperti misalnya Lutheran Church - Missouri Synod (Gereja Lutheran - Sinode Missouri, sebuah denominasi Lutheran yang konservatif). Kadang-kadang kata ini juga digunakan untuk pertemuan para pendeta dari sebuah diosis. Dalam hal ini, kata tersebut tidak mengandung makna administratif.”
Gereja Presbyterian. “Dalam sistem pemerintahan Gereja Presbyterian kata sinode adalah tingkat administrasi antara klasis setempat dan General Assembly (Persidangan Umum), sebagai lembaga tertinggi pemerintahannya. Beberapa denominasi menggunakan kata sinode, seperti misalnya Presbyterian Church in Canada (Gereja Presbyterian di Kanada), Uniting Church in Australia (Gereja Bersatu di Australia), dan Presbyterian Church (USA) (Gereja Presbyterian di AS). Namun, sebagian gereja lainnya tidak menggunakan kata sinode sama sekali, dan Gereja Skotlandia membubarkan sinodenya pada tahun 1980-an, lihat Daftar Sinode dan klasis Gereja Skotlandia”.
Gereja-gereja Reformasi. “Di Swiss dan Gereja-gereja Reformasi Jerman Selatan Gereja-gereja Reformasi ditata sebagai gereja-gereja mandiri yang dinamai menurut wilayahnya (mis. Gereja Reformasi Injili Zürich, Gereja Reformasi Berne), sinode mempunyai kedudukan sejajar dengan Persidangan Umum dari Gereja-gereja Presbyterian. Di Belanda, Gereja-gereja Reformasi (dan di kalangan Gereja-gereja Reformasi orang-orang Belanda di Amerika Utara), "sinode" adalah persidangan denominasi yang dihadiri oleh wakil-wakil dari masing-masing klasis setempat”.
Penggunaan di Kongo oleh Protestan. “Di Republik Demokratik Kongo, sebagian besar denominasi Protestan telah bergabung dalam sebuah institusi keagamaan yang dinamai Gereja Kristus di Kongo atau CCC, yang di Kongon sendiri biasa dirujuk sebagai Gereja Protestan. Dalam struktur CCC, sinode nasional adalah persidangan umum dari berbagai gereja yang membentuk CCC. Dari Sinode ini dibentuk sebuah Komisi Eksekutif, dan sekretariat. Ada pula sinode-sinode CCC di setiap provinsi Kongo, yang disebut sebagai sinode provinsi. CCC terdiri atas 62 denominasi Protestan”.
4.3. GKI (Kingmi) Papua. “Nama Gereja Kemah Injil pada awalnya adalah “Gospel Tabernacel,” Nama ini lahir dari pengalaman pelayanan DR AB.Simpson pendiri Gereja Kemah Injil sedunia. Lebih khusus konteks pelayanan misi C&MA di Tanah Papua, setelah organisasi gereja berdiri sendiri maka pihak C&MA dan para pelayan pribumi bersepakan memberi nama: “Kamah Injil Gereja Masehi Indonesia dan disingkat menjadi KINGMI Irian jaya. Karena adanya kebutuhan pelayanan misi C&MA maka KINGMI bergabung dengan KINGMI lain di Indonesia. Kemudian nama KINGMI Irian Jaya berubah menjadi Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII). Mengingat pelayanan gereja yang sangat kompleks, rumit dan luas maka GKII Wilayah Papua mengusulkan untuk menggunakan Sinode Kingmi Papua seperti model pemerintahan gereja yang dahulu”.
Isi Lagu Mars Sinode GKI (KIMGMI) Papua
1. Visi Gereja. “Visi adalah gambaran besar yang nampak secara samar-samar yang ada didepan, untuk dikejar melalui kerja keras sampai menjadi kenyataan. Visi organisasi itu datang dari Tuhan. GKI (Kingmi) Papua menerima visi dari Allah, yaitu: “Menghadirkan Nilai-Nilai Kerajaan Allah di Tanah Papua.”. Nilai-nilai Kerajaan Allah itu terdiri dari Nilai-nilai yang berhubungan dengan Allah dan nilai-nilai yang berhubungan dengan manusia. Gereja Kingmi berusaha menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah yang berhubungan dengan Allah sendiri adalah: memancarkan kesucian hidup, kejujuran, hidup benar, bersekutu, menyembah Allah, dll. Sedangkan nilai-nilai Kerajaan Allah yang berhubungan dengan manusia adalah: menghormati hak-hak orang lain, menghargai martabat manusia, memandang dan menghargai orang lain sebagai gambar Allah, mempercayai orang lain, mengasihi orang lain, melayani orang lain, membela nasib orang-orang miskin, dll.
2. Misi Gereja. “2.1. Misi gereja adalah pelaksanaan atau pemenuhan dari tugasnya yang penting dan utama yaitu menegakkan, melayani, dan memberitakan Injil Kerajaan Allah, dan pengutusan yang bertujuan untuk mengabdi danmelayani manusia. 2.2. Misi juga berarti keluar melewati batas gereja yang telah didirikan dan mengarahkan diri kepada manusia-manusia yang berada di luar gereja. Misi berarti suatu perjumpaan atau pertemuan antara Gereja dan manusia-manusia yang berada dalam situasi yang tidak bersifat Kristen. 2.3. Gereja Kemah Injil (Kingmi) mendapat misi dari Allah, yaitu: 2.3.1. Misi penginjilan bersasarkan Amanat Agung Yesus Kristus (Matius 28:18-20). 2.3.2. Misi Sosial (pelayanan kemanusiaan) dalam (Lukas 4:17-18). 2.3.3. Misi Pendidikan berdasarkan Amanat Agung Yesus Kristus (Matius 28:18-20). 2.3.4. Misi Diakonal 2.3.5. Misi Penggembalaan”.
3. Tujuan Gereja. “Tujuan Pelayanan GKI (Kingmi) Papua adalah: 3.1. Supaya seluruh unsure, komponen dan anggota gereja memuliakan Allah melalui hidup kudus, setia melayani dan Tuhan dan sesame; 3.2. Supaya seluru unsure, komponen dan anggota jemaat menikmati hidup aman, tentram dan damai sejahtera dalam Yesus Kristus di bumi ini”.
4. Fokus hidup Gereja. “Gereja GKI (Kingmi) ada hadir di Tanah Papua untuk: 4.1. belajar hidup terfokus, yaitu terus-menerus berusaha hidup berpadanan dengan Injil Yesus Kristus dan menjadi keserupaan dengan gambar-Nya; 4.2. agar gereja mencerminkan Yesus Kristus di dalam dunia ini melaui kehidupan sehari-hari kapan dan dimana saja. 4.3. Gereja selalu berfokus pada pelayanan, yaitu melayani Tuhan dan sesama manusia melalui kobaran karunia-karunia yang Allah berikan kepada setiap orang percaya.
5. Landasan Kerja Gereja. “Pelayanan GKI (Kingmi) Papua berlandaskan pada: 5.1. Lambang Injil Empat Berganda, yaitu Yesus Kristus Juruselamat, Pengudus, Tabib dan Raja yang akan datang. 5.2. Allah Tritunggal, yaitu Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. 5.3. Alkitab sebagai Firman Allah yang telah diilhamkan oleh Roh Kudus”.
6. Bentuk Pemerintahan Gereja. “Dalam bentuk Pemerintahan gereja Presbyterial Sinodal, maka Presbyter (tua-tua) gereja tergabung menjadi majelis jemaat bersama-sama memimpin dan memerintah jemaat setempat (lokal). Presbyter (majelis jemaat) berjalan bersama-sama dalam sinode.Bentuk pemerintahan ini, bukan saja menghormati pendeta dan juga menghargai pemimpin-pemimpin rohani. Di dalam kepemimpinan sebagai jemaat awam diikutsertakan dengan lebih dulu dilantik. Sebagai penatua gereja, mereka bersama-sama dengan pendeta mengatur roda kehidupan pendeta. Pada umumnya gereja di Indonesia yang sudah mengkombinasi struktur organisasi, menyebut penatua ini sebagai majelis. Jika jemaat ini sudah berkembang, sehingga menjadi beberapa atau puluhan gereja, maka bentuk pemerintahan gereja ini mendidrikan suatu wadah yang dinamakan sinode. Melalui sidang sinode ini, secara periodik dapat diadakan rapat. Dalam sinode ini akan menghasilkan keputusan-keputusan penting yang akan menentukan arah jalannya gereja. Gereja Kingmi menganut bentuk pemerintahan sinodal-presbiterial ini”.
7. Sistem Kerja Gereja. “Gereja dilambangkan sebagai tubuh Kristus. Tubuh mempunyai banyak anggota. Setiap anggota tubuh berbeda namun dalam menegrjakan seatu pekerjaan mereka harus bersatu dan bekerja bersama-sama, saling bergantung, saling melayani, saling menghargai dan saling menopang. Pelayanan dalam organisasi GKI (Kingmi) Papua sangat diharapkan agar seluruh komponen, unsure, tingkatan dan anggota jemaat mengembangakn system kerja: 7.1. Bulatkan Tekad Tekad kerja yang bulat maka tidak ada kemungkinan kesempatan bagi oknum yang lain. 7.2. Pelihara Persatuan. Bersatu dalam perbedaan (karunia, umur, pendidikan, dan jenis kelamin dan suku/ras) untuk melayani Tuhan. Perbedaan adalah asset bagi organiasi jika ditata dengan baik. 7.3. Berjiwa Besar dalam Tuhan. Gereja didirikan atas dasar Yesus Kristus. Kepala Gereja juga Yesus Kristus. Dasar dan Kepala Gereja GKI (Kingmi) di Tanah Papua adalah Yesus Kristus sendiri. Untuk itu, seluruh warga gereja Kingmi di Tanah Papua dalam pelayanan harus berjiwa besar dan selalu berpikir posif. Capailah hal apa yang Sinode Kingmi idamkan kesejahteraan hidup, pangaruh dan kekuasaan, hubungan kemanusiaan, kehidupan yang berhasil atau sukses nikmatilah semua itu dalam Tuhan.
Bagaimana menggunakan keajaiban berpikir dan berjiwa besar? 7.3.1. Ketika orang yang kecil berusaha menjatuhkan anda, Berpikirlah Besar, 7.3.2. Ketika perasaan “Saya belum mencapai tujuan saya” Muncul Berpikir Besar, 7.3.3. Ketika terlihat ada perselisihan atau pertengkaran yang tersembunyi, Berpikirlah Besar. 7.3.4. Ketika romantisme (cinta-kasih) memudar, Berpikirlah Besar, 7.3.5. Ketika merasa diri anda kalah, Berpikirlah besar, 7.3.6. Ketika anda merasa perkembangan anda dalam pekerjaan menurun, Berpikirlah Besar. Ingatlah ini: Orang Bijak akan menjadi Penguasa dari pikirannya, Orang bodoh akan menjadi budak dari pikirannya. Orang Benar, Berpikir dan Berjiwa Besar dalam TUHAN. 7.4. Melawan Kuasa Gelap dengan Kuasa Roh. Tanah Papua harus menjadi Tanah damai. Gereja hadir untuk membawa damai itu. Berbahagialah bagi mereka yang membawa damai karena mereka akan melihat Kerajaan Allah. Iblis tidak senang kalau umat Tuhan di Tanah Papua hidup dalam kerukunan dan kedamaian, sehingga Iblis selalu melakukan serangan dengan kata-kata dusta kepada oknum-oknum dan kepada kelompok-kelompok tertentu. Gereja harus melawan dusta Iblis atau kuasa gelap dengan kauat kuasa Roh Kudus”.
8. Strategi Pelayanan Gereja. “Tugas Pelayanan GKI (Kingmi) Papua dijabarkan dalam program kerja Sinode berikut ini, yaitu program pelayanan Doa, Daya, Data dan Dana (D4)”.
9. Tema : Berubah untuk Menjadi Kuat, sehat, hidup dan mandiri
Kesimpulan Akhir:
"Sebuah organisasi gereja yang merindukan sehat, kuat, hidup dan mandiri perlu dilakukan pengembangan organisasi berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar organisasi gereja itu sendiri. Dari penggunaan GKII Wilayah kembali menjadi Sinode GKI (Kingmi) adalah juga sebuah proses perubahan untuk gereja yang mandiri tanpa bergantung pada pihak-pihak lain untuk membangun dirinya sendiri dan membangun yang lain."
"Organisasi GKI ( Kingmi) di Tanah Papua perlu dilakukan pengembangan organisasi tiap priodik (jika satu priode selesai), yaitu menambah atau memangkas departemen, biro-biro yang sesuai kebutuhan pelayanan gereja setelah mengamati perubahan-perubahan". (Jemmy Gerson Adii/ Fredy Kusen, Drs. Dodi Siwabesy, MP and Pdt. Yance Nawipa M.TH)
Me
Stock Pengunjung...!!
My Mesages
Your Mesages..!!
Category
My Site
-
Dayung Sampan - Popularitas di luar Indonesia: menambahkan rujukan #1Lib1Ref #1Lib1RefID ← Revisi sebelumnya Revisi per 5 Februari 2026 00.28 Baris 7: Baris 7: == Popu...2 jam yang lalu
-
Termasuk Williams Bersaudara, 4 Bintang Athletic Bilbao Dipastikan Absen Lawan MU - Athletic Bilbao telah mengumumkan daftar pemain mereka yang berangkat ke Inggris untuk menghadapi Manchester United.8 bulan yang lalu
-
Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Bekasi Tembus 20 Ribu - *Liputan6.com, Bekasi -* Jumlah kumulatif kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, saat ini tembus di atas 20.000 kasus. Be...4 tahun yang lalu
-
Grosir pakaian Anak - mangga dua merupakan di antara pusat perbelanjaan yang ada di ibukota jakarta, letak dari pusat perbelanjaan ini ada di tempat jakarta utara. dapat disebut...10 tahun yang lalu
-
JOKOWI SETUJU PAPUA REFERENDUM - Sebuah berita cukup menarik termuat di www.gebraknews.com dengan judul “JOKOWI SETUJU REFERENDUM PAPUA MERDEKA” menjadi berita yang perlu dicermati , ka...11 tahun yang lalu
-
48 Orang Terjangkit HIV/Aids - *Solopos.com*, 26 Agustus 2013 *WONOGIRI *-- Sebanyak 48 orang di terjangkit virus HIV/Aids. Tiga orang di antaranya adalah penderita baru atau baru diket...12 tahun yang lalu
-
VISI TUHAN UNTUK GEREJA KINGMI PAPUA - VISI TUHAN UNTUK GEREJA KEMAH INJIL (KINGMI) DI TANAH PAPUA “BEKAS ANAK –ANAK PENGUASA BUMI PEGUNUNGAN PAPUA” Suatu Penglihatan Dari Ev. Petrus Giay 29 Mar...16 tahun yang lalu
-
-
-
-
-
-
-
-
-
My Arsip Blog
- Nov 23 (1)
- Nov 24 (4)
- Nov 25 (1)
- Nov 26 (1)
- Des 02 (1)
- Des 08 (2)
- Des 20 (1)
- Des 23 (1)
- Des 27 (1)
- Des 28 (2)
- Feb 08 (3)
- Feb 09 (7)
- Feb 14 (1)
- Feb 16 (6)
- Feb 18 (2)
- Feb 24 (3)
- Feb 28 (1)
- Mar 06 (1)
- Mar 08 (1)
- Mar 09 (1)
- Apr 13 (2)
- Apr 19 (1)
- Apr 27 (1)
- Mei 06 (1)
- Jun 08 (2)
- Jun 10 (1)
- Jul 06 (3)
- Jul 12 (1)
- Jul 14 (1)
- Jul 17 (1)
- Agu 29 (1)
- Sep 11 (1)
- Sep 17 (1)
- Okt 31 (1)
- Nov 01 (1)
- Jan 11 (1)
- Mar 01 (12)
- Mar 30 (1)
- Mar 31 (1)
- Apr 14 (1)
- Apr 18 (1)
- Mei 07 (1)
- Mei 10 (1)
- Mei 12 (2)
- Mei 28 (3)
- Jun 02 (1)
- Jun 24 (1)
- Jul 07 (1)
- Jul 30 (1)
- Jul 31 (1)
- Agu 10 (2)
- Agu 21 (1)
- Agu 22 (2)
- Sep 12 (1)
- Okt 15 (6)
- Okt 25 (3)
- Okt 27 (3)
- Okt 29 (2)
- Nov 02 (1)
- Nov 03 (2)
- Nov 17 (1)
- Des 22 (1)
- Jan 16 (2)
- Feb 04 (1)
- Mar 15 (3)
- Mar 20 (4)
- Mar 23 (1)
- Mar 27 (4)
- Mei 25 (1)
- Jun 17 (1)
- Jul 14 (2)
- Agu 04 (4)
- Agu 05 (1)
- Agu 07 (1)
- Agu 14 (1)
- Agu 17 (3)
- Sep 04 (3)
- Sep 06 (4)
- Sep 27 (3)
- Okt 13 (1)
- Okt 22 (3)
- Nov 09 (1)
- Nov 26 (3)
- Mar 23 (15)
- Mei 16 (1)
- Jun 05 (2)
- Jun 13 (1)
- Jun 24 (2)
- Sep 16 (1)
- Okt 11 (2)
- Agu 11 (1)
- Sep 16 (1)
- Sep 29 (1)
- Mar 23 (5)
- Jul 27 (13)
- Agu 27 (37)
- Agu 29 (4)
- Mei 28 (1)
- Nov 26 (1)
News from Detik
God Bless You All and Me
28 Desember 2008
“Seputar Lahirnya Mars Sinode GKI (KINGMI) Papua”
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
20.27
0
komentar
Label: RENUNGAN
“Hiduplah dengan Bijaksana, Adil, dan Beribadah; Titus 2:12"
Kepada segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada,salam sejahtera dalam Kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
1. Dalam suasana sukacita Natal yang menyinggahi ruang-ruang kehidupan, kita Mengucap syukur kepada Allah atas kelahiran Yesus Kristus, Juruselamat kita,karena dalam Dialah “kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (Titus 2:11). Yesus Kristus datang ke dunia supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Kasih karunia Allah yang tampak dalam diri Yesus Kristus itu pertama-tama membuat kita sanggup meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi (Titus 2:12), lalu mendidik kita untuk “hidup bijaksana, adil dan beribadah” (Titus 2:12).
Kasih karunia Allah itu mendidik kita untuk menjadi bijaksana dan penuh penguasaan diri. Kita telah dipanggil untuk mengikuti Kristus dan telah menyatakan kesediaan untuk mengikuti-Nya. Dalam setiap saat dan kesempatan, kita diajar mendengarkan firman Allah dan hidup sesuai dengan firman itu, seperti Kristus sendiri hidup dalam ketaatan penuh kepada Bapa.
Kebijaksanaan Kristiani ini haruslah memancar dalam hubungan dengan sesama. Dalam diri Anak-Nya Allah memberikan keselamatan kepada semua manusia, tanpa memandang suku, status sosial, dan agama. Allah menjadi manusia untuk menebusnya dari segala cela dan dosanya. Seperti Allah mengasihi semua orang, kita pun dipanggil untuk mengasihi sesama manusia, lebih-lebih sesama yang dipertemukan oleh Allah dengan kita dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Ketika kita mengasihi sesama tanpa memandang suku, agama, dan status sosial, maka kita telah berlaku adil. Kita telah menerima kasih dari Allah, dan Allah menghendaki agar kita mampu membawa kasih itu kepada sesama.
Kehendak Allah hanya dapat kita mengerti bila kita sendiri memiliki hubungan yang akrab dengan-Nya. Dalam ibadah yang kita lakukan, kita mendengarkan firman Allah, merayakan karya penyelamatan Allah, dan membina hubungan dengan Allah. Ibadah yang sejati membawa manusia pada kebahagiaan karena hakikat kehidupan beragama adalah hidup dalam hubungan pribadi dengan Allah dan ikut mengambil bagian dalam karya Allah untuk mengasihi manusia dan dunia.
2. Rakyat telah memilih orang-orang yang dipercaya untuk memperhatikan dan melayani kepentingan umum demi terwujudnya kesejahteraan bersama. Walaupun ada di antara mereka yang dipilih itu justru sibuk mengurusi kepentingan sendiri dan lebih mempedulikan kekuasaan daripada kesejahteraan bersama, tidak bisa disangkal bahwa ada banyak orang yang penuh kesungguhan hati melayani sesama.
Dengan dukungan pemerintah atau dengan usaha sendiri, mereka telah berjuang membantu sesama warga bangsa untuk mencapai kesejahteraan dan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Menurut kemampuan masing-masing, banyak anggota masyarakat, baik secara pribadi maupun dalam kelompok, telah berjuang memajukan pendidikan bagi anak-anak bangsa karena sadar bahwa kemajuan bangsa ini sangat ditentukan oleh pendidikan mereka di masa sekarang.
Kita berusaha dengan tidak henti-hentinya agar seluruh warga bangsa dapat hidup dengan rukun dan damai. Dalam hubungan itu, kita berupaya untuk terus menerus melakukan dialog dengan berbagai kelompok agama dan masyarakat supaya setiap warga dapat menjalankan kehidupan imannya secara lebih penuh tanpa rasa takut dan curiga satu sama lain. Berbagai hambatan dan kesulitan dalam usaha dialog ini telah kita lalui dan tidak perlu membuat kita patah semangat.
Kita patut bersyukur oleh karena bangsa kita telah sanggup bertahan menghadapi berbagai bencana yang silih berganti melanda negeri kita. Berbagai bencana itu tidak membuat kita putus asa dan berhenti berusaha. Masih banyak warga bangsa yang turut berbela rasa dan membantu meringankan beban sesama yang ditimpa bencana dan malapetaka sehingga mereka tidak terhimpit dalam penderitaan yang berkepanjangan.
3. Dalam segala usaha untuk memajukan kesejahteraan masyarakat, memajukan Pendidikan, dan menciptakan kerukunan itu baiklah kita ingat akan kasih karunia Allah yang telah dinyatakan dalam diri Kristus. Kasih karunia itu telah mendidik kita
dan memberi kita kemampuan agar sanggup hidup secara bijaksana, adil, dan beribadah. Untuk mewujudkan hal itu kami mengajak seluruh umat Kristiani Indonesia mewujudkan hal-hal berikut:
Tekun mendengarkan firman Allah yang tertulis dalam Kitab Suci agar kebijaksanaan ilahi meresapi pikiran dan hati kita. Kita menyadari bahwa kemajuan zaman merupakan tantangan tersendiri bagi kehidupan iman kita. Sebab itu, anak-anak, remaja, dan kaum muda hendaknya sejak dini diajar untuk mendengarkan firman Allah dan menaatinya.
Tetap melibatkan diri dalam usaha-usaha untuk memajukan kesejahteraan umum dan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Dengan cara ini, secara nyata kita menjalankan perintah Allah untuk berlaku adil kepada semua orang dan mengasihi sesama tanpa memandang suku, agama, ataupun golongan. Dalam segala usaha ini marilah kita memohon bantuan Tuhan agar Ia menganugerahkan kesejahteraan bagi bangsa kita, kebijaksanaan bagi para pemimpin bangsa kita, dan keamanan bagi negeri kita.
Terus-menerus menjalankan dengan setia ibadah sejati kepada Allah demi pemantapan iman kepada Tuhan dan menghindarkan diri dari ibadah yang basabasi. Ibadah sejati tidak dijalankan untuk memamerkan kesalehan tetapi untuk membina hubungan pribadi dengan Allah sehingga benar-benar menghasilkan buah nyata dalam tindakan. Oleh karena itu, hendaknya kita menjauhkan diri dari segala tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah seperti korupsi, penyalahgunaan narkoba, tindak kekerasan, dan sebagainya. Kita dipanggil untuk mengembangkan dan memelihara kebebasan yang bertanggung jawab agar semua warga bangsa dapat menjalankan ibadah dengan leluasa sesuai dengan tatacara agama masing-masing dan kekayaan budaya para pemeluknya.
Akhirnya, marilah kita memohon kebijaksanaan Allah agar kita sanggup memahami firman Allah dan hidup menurut firman itu, sebagaimana Kristus sendiri hidup dalam ketaatan penuh kepada Bapa. (Jemmy Gerson Adii/Aweidakai)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
19.55
0
komentar
Label: RENUNGAN
27 Desember 2008
Kisah "BOB" & "BIB"
Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama. Uniknya, dikiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.
Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis, maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya. Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah permen lolipop.
Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat." Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, "Saya lupa makan permennya!"
Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. "Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya." "Kenapa kamu memanggil saya?" tanya Bob. "Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali!" Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. "Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama." Bib menambahkan.
Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.
Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia." Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali." Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.
Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja.
Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup.
Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.
Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia?
Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka menjawab, "Saya akan bahagia nanti...nanti pada waktu saya sudah menikah...nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri...nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya...nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya...nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar... "
Pemikiran 'nanti' itu membuat kita bekerja sangat keras di saat sekarang'.
Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa 'nanti' bahagia. Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa 'nanti' bahagia.
Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa 'nanti' bahagia itu.
Ritme hidup yang sangat cepat... target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu...
tetapi semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan. Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita;
pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi lebih indah.
Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran; memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita,
berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri. Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang.
Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukurkepada Tuhan seperti Bib yang melewati perjalanan dan pengalaman spektakulernya di lembah permen lolipop.
Kita pasti bisa jika kita memiliki komitmen untuk menyiapkan waktu untuk Tuhan setiap hari dalam keseharian kita dan tidak melupakan kebaikan Tuhan yang telah dianugerahkan-Nya di sepanjang tahun 2008 ini...Tuhan Yesus Memberkati…
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
20.44
0
komentar
Label: RENUNGAN
23 Desember 2008
Bagaimana Korupsi Bisa di Atasi…? Kalau Tanpa Adanya Kepedulian dari Semua Pihak
Korupsi harus dilihat sebagai ancaman, lebih bahaya dari HIV-AIDS”itulah sebuah topik berita yang saya kutip dari salah satu koran lokal yang di terbitkan di Tanah Papua pada edisi selasa 23 Desember 2008.
Ketika saya melihat dan membaca topic berita tersebut, saya pun mempunyai ide sehingga menulis tulisan ini. Sebenarnya saya tidak bisa dan mampu untuk menulis tulisan ini, tetapi dengan hati yang terkesan demi mengangkat persoalan korupsi di negeri tertimur ini, sehingga saya pun tergerak hati untuk menuangkan satu, dua kata yang mungkin bagi saya sangat tidak bermanfaat, tetapi yang saya sangat harapkan melalui buah pikiran ini dapat menjadi manfaat dan berguna bagi semua pihak terutama yang sempat membaca tulisan ini……!!!
Bagaimana caranya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) itu bisa di atasi secara bersama-sama oleh semua pihak yang berkompoten di Negeri Papua yang penuh Damai ini. Bukan di atasi oleh satu atau dua orang atau pun pihak-pihak tertentu saja, tetapi yang saya maksudkan adalah semua unsur elemen mulai dari bawah hingga sampai atas harus duduk dan sama-sama menyatukan presepsi dengan tujuan untuk memberantas penyakit tersebut itu (Korupsi-red). Ingat harus ada kepedulian dari semua pihak juga tanpa terkecuali, jika mau benar-benar penyakit korupsi mau di sembuhkan 100 persen.
Menurut pikiran saya, apagunanya kalau ada wakil rakyat yang duduk di dewan mulai dari daerah hingga pusat, tetapi kalau kasus korupsi ini tidak pernah tuntas. Apa gunanya putra-putra terbaik orang Papua yang saat ini menduduki posisi-posisi terpenting di kursi empuk pemerintahaan baik di Kota, Kabupaten, Provinsi bahkan Pusat, tetapi yang namanya kasus korupsi masih saja terus ada dari tahun ke tahun hingga semakin mendekatnya kedatangan sang Juru Selamat (diakhir penghujung akhir zaman ini-red).
Apakah perlu adanya keterlibatan dari Tokoh Masyarakat (Tomas), Tokoh Pemuda (Topem), Tokoh Agama (Toga) dalam memberantas kasus ini…? Kalau menurut tanggapan saya, sangat perlu sekali untuk adanya keterlibatan semua unsur elemen yang di sebutkan diatas itu untuk sama-sama duduk berbicara, berfikir dan bertindak untuk mencari solusi akhir.
Sesuai dengan kaca mata saya, sejak saya di lahirkan, bersekolah dari TK, SD, SMP, SMU hingga Perguruan Tinggi dan sampai saat ini saya bekerja, hal yang namanya korupsi masih terus dirasakan oleh hati saya, terlihat oleh mata saya dan terdengar oleh telinga saya. Henta itu melalui informasi lewat rekan-rekan kerja, masyarakat akar rumput, dan melalui berita-berita yang di ekspos atau di publikasi oleh media elektronik bahkan media cetak.
Yang bisa saya lakukan hanyalah berdoa bagi mereka yang terus melakukan korupsi dan menulis tulisan ini, agar suatu kelak nanti harapan saya siapapun orangnya pasti akan bertobat dan kembali ke jalan yang tepat sesuai dengan apa yang diinginkan oleh kita semua terutama oleh masyarakat akar rumput di negeri PAPUA ini.
Sehingga setiap anggaran yang ada di pemerintahaan baik yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), dana Otonomi Khusus (OTSUS), Dana Perimbangan dan dana-dana lainnya bisa benar-benar terpakai untuk kepentingan “Rakyat Papua”.
Perlu diketaui bahwa Pemerintah ada karena adanya Rakyat, tanpa kehadiran rakyat maka apa gunanya ada Pemerintah, begitu pun sebaliknya. Disisi lainnya kesejahteraan rakyat itu bisa tercapai demi adanya perubahan yang akan terjadi khususnya di Tanah Papua ini kedepan misalnya saja di daerah-daerah terpencil, lembah, gunung, rawah-rawah dan pegunungan bisa lebih cepat maju dalam hal pembangunannya, sama seperti daerah-daerah lainnya yang sudah lebih dulu maju.
Satu hal yang membuat saya harus berfikir dan menulis tulisan ini yakni jika uang rakyat dikorupsi oleh para birokrat, maka kesejahteraan rakyat sudah tentunya tidak akan meningkat bahkan membuat rakyat semakin melarat, sehingga korupsi harus dilihat sebagai ancaman. Karena korupsi lebih bahaya dari penyebaran HIV-AIDS, sebab korupsi itu dilakukan oleh oknum-oknum dan korupsi itu bisa terjadi kapanpun karena tidak mengenal agama, suku, etnis maupun partai.
Apakah korupsi itu bisa kita jadikan sebagai musuh bersama dan harus kita bertindak bersama-sama untuk memberantas korupsi…??
Memang saya sadari bahwa korupsi adalah ancaman dan malapetaka yang lebih jahat dari HIV-AIDS. Dimana papua soal HIV-AIDS itu termasuk tinggi, tetapi korupsi lebih bahaya lagi dari HIV-AIDS.
Sebenarnya jika semua pihak yang berkompoten bersatu dan mengatasi hal ini dengan baik, tentunya penyakit yang namanya korupsi ini dengan sendirinya dapat teratasi, tetapi sayangnya semua komponen yang berkompoten di negeri ini, misalnya seperti aparat pemerintahan (kota, kabupaten, provinsi hingga pusat), anggota dewat termasuk wartawan tidak semuanya mempunyai idealisme yang baik, sehingga perlu jaringan yang luas untuk upaya pemberantasan korupsi dan perlu saling mengoreksi.
Diakhir tulisan ini, saya sangat harapkan sekali jika satu wadah jaringan yang di bentuk oleh Papua Corruption Watch (PCW) yakni Gerakan Rakyat Tangkap Koruptor (GERTAK) bisa bekerja dengan baik dan idealisme dalam membungkam setiap koruptor-koruptor nakal di negeri yang sudah di meteraikan oleh Sang Pencipta menjadi Tanah Pilihan Tuhan di “Akhir Zaman” ini….Semoga…!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
19.58
0
komentar
20 Desember 2008
Apa Untungnya Mengkonsumsi : “Miras, Narkoba, Ganja & Rokok”
“Ada apa di balik mengkonsumsi minuman keras (miras-red), narkoba, ganja, rokok bahkan lainnya.” Itulah beberapa kata yang dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan bahkan tahun berganti tahun selalu timbul dalam benak saya di manapun saya berada dan beraktivitas.
Sebetulnya ada arti dan manfaat sekali bagi saya dan rekan-rekan yang masih bernaung di dalam lingkaran miras, narkoba, ganja dan rokok. Khusus untuk saya keadaartian itu beranjak ketika kala itu saya masih menkonsumsi miras dari berbagai jenis mulai dari jenis BIR, Alkohol, Kosongan, Vodka, Mensen, Wisky Robinson, CT, Jenever (minuman tokoh, MINTO-red), Air Nenas, Saguer, Bobo (minuman local, MILO-red) serta lainnya juga menkonsumsi rokok (sorry pada tulisan ini mengenai narkoba, ganja dan jenis lainnya secara transparan saya belum pernah mengkonsumsi jangankan mengkonsumsi, memegang bahkan melihat pun tidak pernah. Tetapi saya mencoba untuk mengaitkan semua hal itu kedalam tulisan ini). Pasalnya, dengan berbuat seperti itu semuanya bisa terjamin baik dan pula juga punya teman sangat banyak serta terlebih bisa berbuat apa saja.
Tetapi sayangnya ketika saat ini saya sudah tidak lagi beradaptasi dengan berbagai hal itu. Hal positif yang muncul dalam benak saya saat ini adalah “Tidak ada Artinya untuk semuanya itu”. Dengan mengkonsumsi miras, narkoba, ganja bahkan lainnya sudah tentunya ujung-ujungnya sebagai dampak negative yang terjadi adalah “Pertikaian, Pembunuhan, Pemerkosaan, Kecelakaan lalu lintas dan berbagai masalah lainnya”, itupun ketika air kata-kata alias miras bahkan lainnya menguasai kita.
Kadang kala banyak anggapan yang muncul. Ada yang berargumen bahwa dengan menkonsumsi miras, narkoba, ganja dan rokok serta lainnya adalah jalan terbaik bagi mereka atau siapa saja yang masih bersahabat dengan miras, narkoba, ganja, rokok dan lainnya, atau dengan tafsiran lainnya dapat saya sampikan bahwa dengan mengkonsumsi miras supaya dapat mudah menyelesaikan sesuatu masalah bahkan sebaliknya dengan menkonsumsi miras akan dapat memudahkan setiap orang dalam melakukan aksi-aksi apa saja.
Saya belum tahu pasti apa sih yang menjadi pendapat dan pandangan orang-orang yang sudah berpengalaman dari saya tentang hal ini. Kalau menurut pemikiran saya cara melalui teori dan praktek itu merupakan tanggapan yang sia-sia belaka. Sebab bukan dengan cara menkonsumsi miras atau lainnya dapat menyelesaikan segala macam permasalahan, tetapi yang jadinya malah sebaliknya akan tambah besar permasalahan bahkan tidak bisa untuk di selesaikan.
Berdasarkan fakta yang terjadi saat ini di seantero dunia pada umumnya, seperti yang saya cermati dan tonton dalam berbagai media local, nasional bahkan international. Baik melalui media cetak maupun media elektronik, banyak kasus di sana-sini yang ditayangkan bahkan di ekspos ke meja publik, henta itu kasus yang kecil, sedang bahkan sampai kasus-kasus yang besar pula.
Tentunya, secara tidak terperinci saya dapat kalkulasikan bahwa hampir berkisar antara 75 persen atau lebih terjadinya akibat kasus konsumsi miras atau lainnya. Belum hilang di ingatan saya, dalam beberapa Koran local di Tanah Papua menyebutkan secara berturut-turut selang beberapa tahun terakhir ini ada begitu banyak kasus orang yang meninggal dengan cepat akibat ulah penyakit alcohol alias miras bahkan lainnya.
Saya sangat peduli sekali dengan tragadi-tragedi tersebut itu, yang hingga kini masih terekam dalam benak bantin saya, sehingga yang menjadi usulan dan saran saya yakni perlu adanya kesadaran yang keluar dari diri pribadi kita masing-masing, tanpa adanya ajakan dan paksaan dari orang lain. Kepada semua pihak yang berkompoten tanpa terkecuali di pelosok Tanah Air Indonesia ini, perlu kita perangi bersama-sama.
Bukan berarti kita juga ikut terjerumus dalam lingkaran miras dan teman-temannya, melainkan kita harus tetap waspada dan waspada, sebab dengan kita waspada sudah tentunya merupakan salah satu solusi terbaik yang patut kita lakukan bersama-sama di manapun kita berada. Karena saya dan anda (pembaca) tidak akan pernah mengetahui secara pasti hari ini, besok atau lusa di panggil pulang oleh Sang Pencipta. Apa yang harus saya dan anda jawab kelak ketika Tuhan menanyakan, tentang aktivitas yang saya dan anda lakukan selama masih ada NAFAS di muka bumi ini..? (fikir dan renungkan sendiri)
Kepada para penentu kebijakan, saya sangat berharap agar tolong dapat mempertimbangkan hal ini. Tujuan inti dari akhir tulisan ini adalah suatu kelak nanti pada umumnya di seluruh pelosok tanah air Indonesia bahkan luar negeri dan lebih khususnya di semua Kabupaten yang ada di Indonesia bagian timur ini yakni Papua dan Papua Barat dapat bebas dari miras, narkoba, ganja bahkan yang lainnya.
Sebab ketika miras masih terus merajalela di Tanah Papua pada khususnya dan umumnya di seluruh pelosok tanah air, maka sudah tentunya tong punya generasi penerus negeri dan bangsa Indonesia ini kedepan tidak akan ada lagi. “Jika demikian kedepannya siapa lagi yang mau membangun negeri ini kalau bukan saya dan anda punya generasi. Saat ini adalah saat yang tepat untuk saya dan anda melepaskan semuanya, terutama masalah miras, narkoba, ganja bahkan lainnya.”
Akhirnya, saya ingin sampaikan satu dua kata sebagai tulisan penutup yakni : “Kalau bukan saya dan anda semua, siapa lagi dan kalau bukan sekarang saya dan anda peduli dan waspada terutama kepada miras, narkoba, ganja dan lain-lainnya untuk membebaskan miras dari Tanah Papua dan sekitarnya kapan lagi”.
Mari tong berfikir baik-baik, untuk memulai menjauhkan diri dari berbagai jenis kejahatan yang merupakan beberapa poin negative yang di larang oleh “Sang Pencipta”. Kita berfikir dengan otak, melihat dengan mata, mendengar dengan telinga, merasakan dengan hati dan bertindak dengan seluruh tubuh kita saat ini, demi untuk menyelamatkan 1000 lebih jiwa manusia yang saat ini masih dalam cenkeraman lingkaran miras dan konco-konconya.……Semoga..!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
05.18
0
komentar
Label: EDITORIAL, POLITIK, SOSIAL BUDAYA
08 Desember 2008
3 Kekuasaan Besar : “Negara, Modal & Rakyat”
Tanah Papua merupakan wilayah bio-geografis terbesar ketiga di Indonesia, dengan kemajemukan suku, bahasa dan adat istiadat serta memiliki keanekaragaman sumber daya alam (SDA) hayati dan ekosistem baik di darat maupun perairan yang cukup tinggi. Salah satu bagian wilayah di Tanah Papua yang memiliki keanekaragaman suku dan budaya, serta keanekaragaman hayati yang cukup besar adalah wilayah Kepala Burung baik itu daratan dan perairan.
Pengelolaan SDA di Papua semakin kuat dan bakal jamur perusahaan akan lebih meningkat sebagai dampak dari lahirnya UU No. 21/2001 tentang status Otonomi Khusus bagi daerah Papua. Otonomi Khusus, secara politis merupakan strategi politis untuk menjawab kebutuhan masyarakat Papua, sehingga Otsus dapat menjadi peluang sekaligus tantangan bagi masyarakat adat Papua. Banyak investor dari dalam dan luar negeri yang tidak segan-segan menawarkan penanaman modalnya di Papua.
Salah satu kemudahan adalah Gubernur Kepala Daerah Provinsi Papua dengan legitimasi UU Otsus ini boleh mencari investor sendiri untuk mengembangkan daerah kekuasaannya. Peluang ini didukung dengan adanya UU. No. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan UU. No. 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan daerah. Dampak dari peluang OTSUS ini telah dibuktikan dengan adanya kehadiran Britiesh Petroleum Indonesia (BP-Indonesia) yang akan memproduksi Gas Alam Cair di Kawasan Teluk Bintuni dengan proyek LNG Tangguh.
Adalah defacto bahwa kekayaan SDA juga dapat menjadi pemicu konflik yang berdimensi HAM hingga melahirkan dasar perjuangan bagi masyarakat Papua untuk memisahkan diri dari NKRI. Hal ini karena sudah parah sakit hatinya orang Papua yang sudah terpendam secara turun-temurun, sehubungan dengan perlakuan pemerintah Indonesia sebagai penguasa dan para investor sebagai pemilik modal.
Karena itu tidak sedikit persoalan di Papua yang terkait dengan kehadiran perusahaan-perusahaan yang menjamur di Papua dan terutama kekuasaan negara dalam hal ini pemerintah yang selalu menang terhadap masyarakat dengan mengatasnamakan peraturan-perundangan, pembangunan negara, dan terutama dengan kekuatan aparat keamanan negara dengan alasan untuk stabilitas nasional. Padahal masyarakat Papua telah sadar akan tipu muslihatnya pemerintah dengan para investor itu.
Hanya jika mereka menuntut apa yang menjadi hak-hak dasarnya sebagai manusia, dan terutama hak ulayat atas tanah adatnya, mereka malah dituduh menghambat pembangunan dan mudah dikalahkan dengan pemberian stigma Separatis, OPM (Organisasi Papua Merdeka) dan GPK yang menurut pemerintah dan aparat keamanan negara harus ditindak tegas dan ditiadakan dari bumi Indonesia. Sehubungan dengan stigma tersebut, orang asli Papua pun kehilangan identitas dirinya dari segala dimensinya.
Analisis ini tidak dapat terlepas dari hubungan tiga kekuatan besar dalam proses kehidupan sosial kemasyarakatan yaitu Negara, Modal (pasar) dan Rakyat (Komunitas). Ketiga aktor besar tersebut tidak seimbang dalam realita hubungannya, sehingga terjadi penumpukan kekuatan yang hanya menguntungkan pada negara dan modal saja, sedangkan rakyat selalu dalam kondisi “Apa Adanya” dan terus terkalahkan serta termiskinkan.
Pertemuan kekuatan antara negara dan modal bermuara pada terciptanya kompromi yang menghasilkan pengaturan-pengaturan baru dalam memanfaatkan berbagai fasilitas kehidupan, seperti pengelolaan hasil hutan, penguasaan lahan, penguasaan laut, pertambangan, ternyata hanya mengutamakan kepentingan negara dan modal saja. Sementara rakyat terpinggirkan dan hanya menjadi korban dari ketimpangan perimbangan kekuatan ini. Pada kondisi yang lebih praktis, demikian jelas terlihat gejala dan peristiwa dimana posisi rakyat semata-mata hanyalah sebagai obyek dari gagasan dan kebijakan yang dibuat oleh kekuatan negara dan modal, baik keduanya bersatu maupun sendiri-sendiri.
Praktek-praktek dan pola hubungan tidak seimbang seperti di atas telah mendatangkan banyak kerugian bagi rakyat, yaitu di samping terjadinya kesenjangan sosial yang parah antara rakyat dan dua aktor lainnya, juga terjadi proses pembodohan dan pemiskinan secara struktural. Lebih lanjut, analisa sosial juga menghasilkan asumsi bahwa negara dan modal adalah sebuah kesatuan komunitas, kesatuan kepentingan yang saling bekerja-sama.
Walaupun didalam masing-masing sub komunitas itu sendiri, terdiri dari beberapa komponen, seperti : (1) Sub komunitas Negara merepresentasikan militer, departemen-departemen, birokrat dan lembaga-lembaga pemerintahan lainnya. (2). Sub komunitas modal memrepresentasikan investor, perusahaan-perusahaan transnasional dan atau multinasional, tuan tanah bahkan tengkulak tingkat kampung masuk kelompok ini. Sehingga perencanaan strategi dan taktik untuk melakukan perjuangan yang selalu dijalani oleh organisasi rakyat dan Ornop terfokus pada dua kekuatan, yaitu negara dan modal.
Pada dasarnya kekuatan komunitas negara dan modal baik bermain sendiri-sendiri maupun bersama-sama bertujuan untuk memperoleh keuntungan investasi sebesar-besarnya. Akibatnya, semua komponen dalam negara, pada berbagai tingkatan dan sektor ingin menjadi penguasa, begitu pula dalam modal, semua ingin mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Faktor kepentingan ini melahirkan pertikaian antar kepentingan politik dan persaingan antar pemilik modal yang sering terjadi. Pertikaian dan persaingan ini membutuhkan arena dan manifestasinya secara nyata di lapangan. Arena termaksud adalah rakyat.
Salah satu hal yang menjadi kenyataan ketika kala itu saya bersama-sama dengan rekan-rekan terlindung dalam sebuah komunitas yang di namakan “Bin Madag Hom” artinya “Mari Kita Bersatu”. Komunitas masyarakat dalam pandangan BmH adalah komunitas masyarakat adat yang bersinggungan langsung dengan SDA, sehingga akan sangat merasakan dampak dari pertikaian dan persaingan yang dilakukan oleh kedua kelompok aktor tersebut yakni modal dan negara. Hingga sekarang yang telah dikenal oleh para aktivis ORNOP (Organisasi Non Pemerintahaan-red).
Mengenai intisari pemikiran dalam Pengorganisasian Masyarakat adalah, bahwa: (a) masyarakat mempunyai daya dan upaya untuk membangun kehidupannya sendiri. (b) Masyarakat memiliki pengetahuan dan kearifan tersendiri dalam menjalani kehidupannya secara alami. (c) upaya pembangunan masyarakat akan efektif apabila masyarakat sebagai pelaku sekaligus penikmat pembangunan, serta (d) masyarakat memiliki kemampuan membagi diri sedemikian rupa dalam peran pembangunan mereka.........Semoga....!!! (Jemmy Gerson Adii/Jasoil Papua)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
07.35
0
komentar
Label: EDITORIAL, POLITIK, SOSIAL BUDAYA
Antara Pasca dan Masa Reformasi…..!!!
System kebijakan pembangunan di Negara Indonesia sudah menunjukkan perbaikan ke arah yang lebih demokratis ada pasca reformasi. Paling tidak ada masa reformasi ini, semua proses pembangunan baik pusat maupun daerah dituntut supaya harus melibatkan public dalam proses perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasannya.
Artinya partisipasi aktif masyarakat sipil sangat diperlukan dalam proses pembangunan negara baik di tingkat pusat maupun daerah provinsi, kabupaten/kota, distrik dan kampung. Hal ini menuntut kesadaran dan semangat masyarakat sipil seutuhnya sebagai warga Negara dan bangsa Indonesia yang turut bertanggung jawab dalam proses pembangunan.
Rancangan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2004-2009 memfokuskan pada upaya pencapaian agenda pembangunan nasional yaitu mewujudkan Indonesia yang aman dan damai, adil dan demokratis dan Indonesia yang sejahtera. RPJM ini dimaksudkan untuk menjamin peningkatan dan pemenuhan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Karena itu pemerintah sebagai penyelenggara Negara baik di pusat maupun daerah membuka ruang public bagi masyarakat sipil dalam proses-proses penetapan kebijakan pembangunan.
Organisasi masyarakat sipil memainkan peran penting dalam pencapaian agenda pembangunan nasional, termasuk agenda pembangunan daerah. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) juga dituntut perannya untuk ikut mendorong pembangunan ke arah yang lebih baik.
Prinsip-prinsip Good Governance menjamin bahwa dalam pelaksanaan system Otonomi Daerah/Otonomi Khusus Papua, pemerintah daerah tidak lagi bekerja sendiri, harus melibatkan peran masyarakat sipil. Dalam proses pembangunan, pemerintah lebih berperan sebagai fasilitator dan mengatur kebijakan/regulasi daerah bersama-sama denga berbagai constituent pembangunan yang ada di suatu wilayah otonom. Oleh karena itu, masyarakat sipil yang terorganisir dalam asosiasi atau kelompok-kelompok sektoral merupakan bagian yang penting dan merupakan elemen kunci dalam demokrasi dan upaya mewujudkan proses pembangunan yang baik dan dan efisien.
Untuk itu salah satu tanggung jawab masyarakat sipil adalah membantu mendorong perwujudan pemerintahan yang baik (good governance). Masyarakat juga seharusnya terfokus pada setiap moment pembuatan kebijakan yang menyangkut kepentingan public antara lain dalam penyusunan visi dan misi daerah, pembuatan peraturan daerah (PERDA), Perencanaan – Pelaksanaan - Pengawasan APBD. Partisipasi masyarakat sipil dapat dilakukan melalui kegiatan konsultasi public, hearing/dengar pendapat dengan DPRD, jajag pendapat umum, pooling, dialog interaktif, seminar, workshop, lokakarya dan lain sebagainya yang merupakan forum public.
Di akhir dari tulisan ini, apa yang kita buat untuk daerah dan manusia Papua di Negeri ini. Apakah solusinya untuk meningkatkan kesadaran kritis dan pemahaman masyarakat sipil dalam mengambil bagian pada setiap proses-proses pembangunan nasional maupun daerah, termasuk dalam pembuatan kebijakan public serta mendorong pemerintah daerah untuk memberi ruang public dalam setiap proses pembuatan kebijakan pembangunan daerah.
Atukah setiap pihak yang berkompoten perlu memberikan pemahaman tentang mekanisme dan ruang public dalam proses pembangunan daerah, serta bagaimanakah meningkatkan pemahaman dan kesadaran kritis bagi masyarakat sipil tentang mekanisme penyerapan aspirasi/konsultasi public melalui legislative/DPRD...? Dan Bagaimana pula meningkatkan pemahaman tentang peran masyarakat sipil dalam proses pengambilan kebijakan public/kebijakan daerah dan mendorong peran serta aktif masyarakat sipil dalam pengawasan implementasi kebijakan public/kebijakan daerah. semuanya itu kembali padapribadi lepas pribadi kita masing-masing.....Semoga!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
07.23
0
komentar
02 Desember 2008
Terkait Krisis Ekonomi Global: “Biarlah Sang Pencipta Yang Beracara”
Memang saya sadari betul, jika Sang Pencipta (GOD-red) yang beracara bagi dunia ini. Berbagai media cetak bahkan elektronik di seantero dunia mengabarkan bahwa dengan terjadinya krisis maka sudah barang tentu semua aktivitas yang kecil maupun besar dihentikan untuk sementara waktu, hingga sampai dengan krisis membaik barulah aktivitas setiap perusahaan di mana saja akan kembali normal seperti sebagaimana biasanya.
“Krisis ekonomi semakin terasa”, itulah topik berita yang saya liris dari berita harian Kompas edisi kamis 2 desember 2008. Topik itu sungguh menekan otak saya untuk bertanya dan memikirkan sesuatu sejenak. Bagi saya berfikir dan berfikir adalah hal yang sangat buruk dilakukan oleh saya sendiri. Karena harus memutar otak saya hanya untuk menulis sesuatu hal untuk semua pihak yang berkompoten termasuk karyawannya dan pokoknya semuanya tanpa terkecuali. Sebab ketika saya berfikir dan berfikir sudah barang tentu akan menggangu aktivitas saya sebagai penghubungan dengan masyarakat dan pemerintah di daerah saya yakni Sugapa.
Apa gunanya saya berfikir hal ini, yang akhirnya saya sendirilah yang menjadi stress sementara orang lain masih tetap stabil dengan keadaan rumah tanggah sederhana yang ada. Tetapi bagaimana juga dengan mereka-mereka yang di PHK (putus hubungan kerja-red), apa yang akan mereka lakukan ketika berkomunikasi atau berhadapan muka langsung dengan keluarga, hentah itu istri ataupun anak-anak mereka...?
Sungguh menjengkelkan di hati saya, kalau hal ini bisa terjadi saat ini, apakah tidak bisa di tunda-tunda lagi pada beberapa tahun kedepan ? Jika kalau memang krisis ini adalah imbas dari adanya pergantian orang nomor satu di Pemerintahaan Adi Kuasa ((USA) dari Joss Bush beralih ke Barak Obama. Bagaimana mungkin, pergantian president dari pemiompin yang satu kepada pemimpin yang lain apakah juga turut mempengaruhi kondisi keuangan di Dunia termasuk Indonesia pada umumnya dan Tanah Papua pada khususnya?
Apakah benar-benar krisis tersebut sedang terjadi saat ini, atukah krisis itu hanya dapat di katakan terjadi di negara adikuasa alias Amerika serikat saja.....? Itulah beberapa poin-poin yang selalu ada di otak saya dalam beberapa pekan terakhir ini, dan bagaimana caranya supaya dalam waktu tempo krisis ini bisa diatasi.
Saya tidak tahu harus berbuat seperti apa, karena tentunya ketika saya bilang ini atau itu, tentunya tidak akan sama dengan apa yang saat ini sedang di pikirkan oleh oeang lain. Sebab masih banyak pula pemikir-pemikir yang di handalkan, untuk mencari trit-trit tertentu dalam mengatasi kasus global ini. Yang saya berfikir mudah-mudahan dengan pemimpin yang baru, kulit yang baru, pemimpin yang siap takut akan TUhan dan segala sesuatu yang baru pula dapat dengan segera menghidupkan kembali saham-saham yang saat ini lumpuh alkibat ulah krisis ekonomi global itu, menuju kearah yang lebih baik dan normal. Sehingga karyawan yang saat ini sedang dan terus di PHK oleh masing-masing departement di panggil kembali dalam artian melakukan aktivitasnya seperti keadaan semula.
Memang saya sadari betul, jika Sang Pencipta (GOD-red) yang beracara bagi dunia ini. Berbagai media cetak bahkan elektronik di seantero dunia mengabarkan bahwa dengan terjadinya krisis maka sudah barang tentu semua aktivitas yang kecil maupun besar di hentikan untuk sementara waktu, hingga sampai dengan krisis membaik barulah aktivitas setiap perusahaan di mana saja akan kembali normal seperti sebagaimana biasanya.
Secara besar-besaran semua perusahaan yang bergerak di bidang eksport tanpa terkencuali sudah, sedang dan akan terus menghentikan aktivitas kerja, dan tentunya semua karyawan akan menjalani nasib yang sial alias di PHK. Seperti yang saya kutip dari salah satu media nasional kompas bahwa krisis ekonomi semakin terasa, yang akhirnya pasar saham di eropa jatuh lagi.
Sesuai informasi yang saya input dari media kompas menyebutkan bahwa data perekonomian di beberapa negara yang diumumkan awal pekan ini menunjukkan keadaan memburuk. Aktivitas industri di Eropa dan China menurun pada bulan November. Sementara pejabat Jepang menyatakan perekonomian melambat drastis.
Warga yang biasanya gemar berbelanja sudah tidak lagi berbelanja, demikian terlihat dari penjualan ritel yang menurun drastis. Seperti penuturan dari Gubernur Bank of Japan Masaaki Shirakawa, Senin (1/12) di Tokyo bahwa kegiatan perekonomian menurun drastis. Perusahaan-perusahaan Jepang semakin sulit mendapatkan kredit. Bank sentral Jepang juga tengah mempersiapkan langkah-langkah baru untuk mengatasi krisis kredit. Para pejabat juga sudah memperingatkan, perekonomian dapat saja kembali memasuki deflasi tahun depan.
Masih di sebutkan dalam media kompas bahwa kelesuan aktivitas ekonomi berlangsung cepat. Perekonomian dunia juga mengalami perubahan dahsyat. Dimana menurunnya perekonomian global berdampak buruk bagi produsen mobil di Jepang. Angka penjualan mobil baru turun 27,3 persen pada November menjadi 215.783 unit, angka terendah sejak tahun 1969.
Sementara, dari Seoul diberitakan ekspor Korea Selatan anjlok 18,3 persen pada November 2008 dari ekspor Oktober. Penurunan bulanan ini merupakan yang terburuk dalam tujuh tahun terakhir. Perusahaan otomotif Korsel juga bergegas mengurangi produksi karena permintaan global menurun. Dimana aktivitas sektor manufaktur di zona Euro turun mencapai titik terendah pada November lalu dan diperkirakan masih terus melemah. Indeks pembelian yang mengukur order baru di zona Eropa untuk manufaktur turun menjadi 35,6 poin. Angka indeks di bawah 50 menandakan perekonomian sedang jatuh. Ini merupakan keadaan yang belum pernah terlihat sebelumnya dalam 11 tahun terakhir.
Sesuai dengan hasil survei pembelian pada sektor manufaktur di bulan November yang sangat lemah menunjukkan bahwa resesi di zona Euro akan semakin dalam, seperti yang dikatakan oelh Howard Archer, ekonom pada IHS Global Insight.
Masih di sebutkan media Kompas bahwa dalam pekan ini diperkirakan Bank of England serta bank sentral Eropa, Australia, dan Selandia Baru akan kembali menurunkan tingkat suku bunga mereka.
Pemutusan hubungan kerja juga semakin banyak terjadi. Bank Jerman, BayernLB, akan mengurangi seperempat dari jumlah tenaga kerjanya atau sekitar 5.600 orang hingga tahun 2013. Sebagian besar pengurangan akan dilakukan di cabang Asia.
Seperti juga di Eropa, aktivitas sektor manufaktur China juga menurun drastis sepanjang November. Pemutusan hubungan kerja juga sudah terjadi di banyak pabrik di negara dengan perekonomian terbesar keempat di dunia ini.
Presiden China Hu Jintao mengatakan kepada para petinggi Partai Komunis China bahwa China akan kehilangan daya saingnya dan memperingatkan, mengatasi krisis saat ini merupakan ujian bagi Partai Komunis.
Seruan PBB
Dalam laporannya yang diterbitkan Senin, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerukan perlunya sebuah stimulus besar-besaran dan saling terkait untuk dilakukan segera. Hal itu bertujuan mengatasi keadaan ekonomi global seperti sekarang ini.
Kajian ”Situasi Ekonomi Dunia dan Prospek 2009” dipresentasikan pada konferensi internasional keuangan di Doha. Paket stimulus itu harus didasarkan pada langkah yang memperbanyak likuiditas dan rekapitalisasi perbankan. Para ekonom dari PBB juga mengusulkan agar ada regulasi pada pasar dan institusi keuangan, dilakukannya penyediaan likuiditas global yang mencukupi, serta perbaikan sistem cadangan devisa internasional.
Secara umum, laporan itu memperkirakan ada penurunan pendapatan per kapita pada tahun 2009 di negara-negara maju. Pertumbuhan ekonomi global tidak lebih dari 1 persen pada tahun 2009 dibandingkan dengan 2,5 persen pada tahun 2008.
Keluarnya data perekonomian yang memburuk pada awal pekan ini mengakhiri kenaikan harga di pasar saham yang sudah terjadi selama enam hari berturut-turut.
Indeks FTSE 100 (London) anjlok 106,42 poin menjadi 4.181,59 dan indeks DAX (Jerman) anjlok 163,83 poin menjadi 4.505,61 poin. Indeks CAC-40 (Paris) anjlok 93,66 poin menjadi 3.169,02 poin pada perdagangan Senin.
”Pertanyaan sekarang ini yang krusial bukan lagi apakah resesi ekonomi global sudah dimulai, tetapi berapa lama hal ini akan terjadi,” demikian pernyataan Bank of America yang ditujukan kepada relasinya.
Selain saya mendapatkan kabar diatas, saya juga di email oleh salah satu teman saya, ketika saya menanyakan terkait dengan krisis ini kepadanya. Dengan spontan teman saya yang saat ini masih aktif bekerja sebagai crew di undergrount bagian Retpat mengatakan bahwa untuk di Freeport Timika khususnya di Departemen Pontil rata-rata semua karyawan sudah di PHK sejak pekan ini, sementara untuk di Departemen Redpat akan mulai mengurangi tenaga kerja pada awal bulan januari 2009.
Saya merasa pesimis karena saya belum tahu pasti di daerah lain, tetapi yang jelasnya di daerah Papua, kok kekayaan alamnya sangat berlimpah ruah namun malah ikut juga terkena dampaknya krisis keuangan global. Ternyata ketika saya duduk dan merenung kemudian meminta petunjuk kepada Tuhan, persoalan kekayaan itu masalah kedua, masalah yang paling prioritas yakni harga pasaran tambang dan lain-lain di dunia menurun secara drastis.
Akhir tulisan ini, saya tidak akan menjelaskan panjang lebar, tetapi yang pastinya persoalan krisis keuangan global ini, semuanya kita serahkan kepada sang pencipta, dan biarlah Sang Pencipta-lah yang beracara baki kita semua, sehingga apapun yang kita hadapi saat ini, dalam waktu yang tidak begitu lama secara global pula ekonomi akan kembali baik dan normal.......Semoga....!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
04.48
0
komentar
Label: EDITORIAL, SOSIAL BUDAYA
26 November 2008
Uskup & Asisten I Paniai Hadiri Kegiatan Muspas di Distrik Sugapa: "Di Lapter Sugapa, Sempat Terdengar Bunyi Tembakan"
Kedatangan Uskup Jhon Philip, S.Pr, Asisten I setda Pemkab Paniai, Budi Setiawan bersama rombongan di distrik sugapa, Kabupaten Paniai Provinsi Papua adalah untuk menghadiri undangan panitia kegiatan musyawarah pastoral beberapa pecan lalu. Rombongan Uskup dan Asisten I tiba di lapangan terbang (lapter) Sugapa pada, Rabu (19/11/2008) belum lama ini, melalui jasa penerbangan yang berbeda.
Rombongan uskup menumpangi pesawat AMA (Chesna) dari Timika, sementara rombongan Asisten I menumpangi pesawat Avia Star dari Enarotali-Paniai. Ketika Uskup beserta rombongannya tiba di lapter Sugapa, sempat di kagetkan dengan bunyi tembakan jenis M 16. Tembakan itu dilakukan oleh salah satu anggota koramil sugapa yang berinisial KS kearah kanan dan kiri dari salah satu pemuda asli Desa Titigi, yakni Alpius Agisimizau (korban).
Aksi tembak menembak tanpa mengena kearah korban ini, awalnya bermula dari korban AA tidak mengubris akan teguran yang di lontarkan oleh KS (anggota koramil-red). Pasalnya, saat itu (beberapa waktu lalu-red) KS menyuruh AA Cs untuk tidak membawah serta memegang alat tajam seperti panah dan busur disaat penjemputan setiap tamu yang dating, hentah itu tamu yang datang dari Enarotali, Nabire bahkan dari dari Timika. Terkecuali penari yang bisa diizinkan untuk membawah panah dan busur.
Namun, rupanya penuturan dari KS tidak di gubris oleh AA dan kawan-kawannya, dan malah sebaliknya AA Cs mengambil batu serta beberapa alat-alat tajam lainnya dan menyodorkan kearah KS. Disitulah, membuat KS tidak sabar lagi untuk mengeluarkan tembakan. Maksud dari KS hanya untuk menjaga diri dari serangan lemparan AA Cs.
Tembakan dari KS tidak menyentuh kearah AA Cs namun jauh di sebelah kanan ataupun kiri AA Cs. Karena merasa ketakutan dengan adanya bunyi tembakan tersebut, AA Cs mencoba melarikan diri yang tidak jauh dari lapter. Apa yang terjadi, kaki kiri AA tertanam di salah satu parit yang tepatnya disebelah lapter bilogai.
Syukur, karena dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa, namun AA harus menderita kaki kirinya akibat terjeblos ke dalam parit sekitar lapter bilogai. Selang beberapa menit kemudian, AA di larikan ke rumah sakit Nabire, untuk mendapatkan pertolongan pertama. Hingga berita ini naik cetak, AA masih di rawat di salah satu rumah sakit yang ada di Kota Singkong Nabire.
Akibat bunyi letusan senjata api, membuat saat itu tidak ada aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan, seperti salah satunya pembangunan Base Camp baru begitu pun juga dengan tahap finishing pembangunan TK Pesat.
Umat Kembali Menari
Tragedy yang tidak memakan korban jiwa ini, akhirnya pulih kembali. Dimana umat katolik tidak nyerah sampai disitu, tari-tarian pun kembali dilakukan lagi oleh bapa, mama dan semua umat yang hadir saat itu di lapter Sugapa, pertanda persoalan itu telah usai. Usai mendapat atraksi tarian adapt suku moni di lapter, rombongan Uskup Jhon dan Asisten I setda Pemkab Paniai berkonfoi menuju lapangan bola kaki bilogai, yang sebagaimana di lanjutkan dengan ibadah Ekaristi alias Ibadah Misa. Kegiatan Muspas ini, di bawah tema “Maju Bersama Untuk Membangun dan Meningkatkan Kesejahteraan Hidup”.
Seperti kata Uskup. Jhon Philip dalam petikan firmannya yang saya kutip dari awal hingga akhir khotbanya yakni membangun daerah Sugapa ini sangatlah di butuhkan kerja sama dan kekompokan antara sesama suku baik suku Moni, Nduga, Dani dan suku-suku lainnya. Sehingga kelak, apa yang rakyat cita-citakan dapat terwujud dan tercapai. Untuk sampai kearah itu, saat ini (bukan besok atau lusa-red) di Sugapa atau Kabupaten Intan Jaya ini dalam mewujudkan tema Muspas tidak lain dan tidak bukan adalah kita semua membutuhkan seorang Figure atau Pemimpin yang punya hati untuk membangun serta merubah daerah ini dari keterpurukan baik pembangunannya, masyarakatnya serta alamnya di daerah ini. Tidak terlepas juga seorang Pemimpin sudah sewajibnya selalu dan selalu menghadirkan Tuhan dalam dirinya bahkan kinerjanya.
“Apapun yang di lakukan oleh siapa saja, henta itu pemerintah ataupun perusahaan patutlah didukung sepenuhnya oleh masyarakat setempat. Bukan dengan persoalan tuntut menuntut kulit bia, senowi, atau dengan adanya perang antar marga yanag satu dengan marga yang lain, barulah kita beroleh kesejahtaraan. Sama sekali bukan seperti begitu, yang pastinya semua itu di kembalikan pada pribadi lepas pribadi kita masing-masing, jika kita ingin Sugapa ini maju dan berkembang pesat sama seperti dengan di daerah lainnya.”tegas Uskup Jhon di lapangan bola kaki bilogai belum lama ini.
Bakar Batu, Akhiri Kegiatan Muspas
Setelah beberapa hari lamanya, umat katolik di Sugapa melangsungkan kegiatan Muspas, akhirnya berakhir dengan kegiatan bakar batu bersama. Kegiatan penutupan muspas ini berlangsung tepat pada, Minggu (23/11/2008) lalu. Bakar batu (barapen-red) merupakan tradisi masyarakat Papua yang ada di daerah pedalaman, khususnya di sugapa. Hal ini menunjukkan adanya suatu kekompakan antara keluarga, marga bahkan tetangga yang satu dengan yang lainnya.
Diakhir tulisan ini, saya berharap kiranya dengan adanya kegiataan Muspas di Desa Bilogai, Distrik Sugapa, Kabupaten Paniai selama 3 hari 3 malam ini, kelak dapat membuahkan hasil yang baik dan berguna bagi daerah ini. Karena dengan adanya kegiatan ini merupakan suatu moment penting tersendiri bagi masa depannya masyarakat untuk bisa hidup mandiri serta dapat mengatasi beberapa hal buruk diantaranya “Kebodohan, Kemiskinan, Ketertinggalan dan Keterpinggirkan” terutama pada aspek pembangunan fisik, sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam yang sangat melimpah ruah di tanah Papua pada umumnya dan lebih khusus di daerah suku Moni, Nduga dan Dani ini ……..Semoga.!!!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
14.41
0
komentar
Label: HUKUM DAN HAM, SOSIAL BUDAYA
25 November 2008
Ketika Kita Di Nilai Sebagai Pengacau, Apa Reaksi Kita.....?
Kadang kita keliru dalam menilai sesuatu hal yang tidak kita duga, didalam berasumsi sering kita di sebut dan di nilai sebagai orang terhormat sehingga kita berpandangan kearah jauh terhadap tindakan-tindakan kriminal. Kerap kali selalu saja kita menuding bahwa oknum-oknum seperti preman, anak jalanan, pelacur, rakyat jelata merupakan sumber segala kejahatan dan sangat hina.
Apa mungkin demikian….? Alasan yang bisa saya paparkan dalam tulisan ini adalah karena mereka-merekalah yang selalu melakukan hal-hal yang tidak berkenang dimata orang-orang terhormat bahkan dimata penegak hukum serta pemerintah. Pasalnya, orang-orang terhormat sendiri telah melihat dan menilai mereka adalah pengacau.
Sungguh disesali karena selalu saja kita menggangap mereka adalah buruk, namun dibalik dari itu orang-orang terhormatlah yang selalu memperalat mereka demi kepentingan dan jabatan. Kalau kita menggangap diri kita terhormat dan mempunyai kodrat melebihi mereka itu dianggap sangatlah keliru.
Saya belum tahu, apa sih sebenarnya yang menjadi pemikiran dari pembaca, tetapi menurut tanggapan saya bahwa hentah itu preman atau anak-anak jalanan yang selama ini membuat kekacauan adalah orang-orang terhormat seperti pejabat-pejabat negara, penegak hukum dan elit-elit politik yang rakus akan kepentingan pribadi (ego) dalam menguasai suatu jabatan tertentu.
Sebuah contoh konkrit bahwa orang yang menggugurkan kandungan, orang yang melakukan konspirasi politik dan menghancurkan rakyat, orang yang menjual belikan hukum, orang yang melakukan korupsi, kolusi dan Nepotisme (KKN) serta orang yang melakukan pembantaian terhadap masyarakat sipil di pelosok bumi pertiwi ini semuanya itu adalah orang baik-baik.
Alasannya, karena melegalkan produk dalam memberikan peluang kepada hal-hal yang haram seperti minuman keras (miras), pelacur dan sejumlah siasat untuk melenyapkan orang yang dianggap dapat membahayakan orang baik-baik adalah orang baik-baik itu sendiri. Yang bisa saya simpulkan dalam tulisan ini adalah bahwa akar dari seluruh kejahatan bukan bersumber dari preman, pelacur dan anak-anak jalanan, tetapi dari orang-orang terhormat. Mengapa..? Karena mereka tidak mampu mengkoordinir kepentingan politik dengan jalur menciptakan lapangan kerja yang baik bagi mereka (seperti sebagaiman yang telah saya paparkan diatas).
Harapan saya cuma satu hingga dua pepatah kata yakni terlebih kepada seluruh preman, pelacur dan anak-anak jalanan, jangan mudah terpancing serta ditipu dan termakan arus gelombang oleh orang-orang tua yang memposisikan diri sebagai elit politik dan orang terhormat untuk selalu memperalat kita sebagai akal demi memperjuangkan kepentingan politik mereka semata. Mulai saat ini kita harus bangkit serta menunjukkan kepada dunia bahwa kita bukan biang keladi dari semua persoalan tersebut.
Kejahatan dan kekacauan yang terjadi selama ini jika tidak kita sadari maka sampai kapan pun kita akan dianggap sebagai pencetus kekacauan dan kejahatan, sebab akar kejahatan perlu dibersihkan. Salah satu contoh, beberapa tahun silam terjadi eksekusi mati Tibo cs, hal itu jangan sampai terulang lagi atau jangan sampai kita yang jadi sasaran berikutnya, akibat akibat ulah dari orang-orang baik yang selalu menggangap mereka adalah orang terhormat tanpa ada noda di baju mereka……Semoga (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
08.55
0
komentar
24 November 2008
Sekilas Pengalaman Saya.....!!!
"...Apapun yang saya lakukan tentunya untuk negeri ini. Walaupun saya terus dan terus di tindas melalui berbagai cara diantarnya teror, intimidasi bahkan lainnya. Saya saat itu di harapkan untuk meninggalkan kota bintuni oleh rekan dan keluarga saya, tetapi saya tetap bersikeras untuk harus dan harus tinggal di Bintuni, dan dengan tantangan itu tidak mematahkan semangat kerja saya sebagai koresponden dari salah satu media lokal di kota minyak sorong dan di tempatkan di Kabupaten Bintuni...."
Selanjutnya, saya akan menceritakan sedikit perjalanan karier saya sebagai Journalis selama 2 tahun lebih di Kabupaten Teluk Bintuni. Saya berterimakasih dan memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah menjaga, memelihara serta menyelamatkan saya dari segala teror, intimidasi bahkan hal-hal negative lainnya yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab kepada saya bahkan pula istri serta keluarga saya.
Perlu diketahui bahwa bekerja berdasarkan kebenaran dan keadilan di Negeri ini (Tanah Papua) sangatlah tidak mudah membalikan telapak tangan, sesuai dengan yang kita fikirkan bersama-sama. Dalam artian bahwa ketika kebenaran dan keadilan di tegakkan maka dampak-dampak negative yang tentunya diterima oleh kita semua adalah penindasan, terror dan intimidasi.
Seperti halnya yang saya terima di tanah suku Sougb, Moskona dan Meyah Kabupaten Teluk Bintuni, ketika kala itu saya dipercayakan oleh Sang Pencipta melalui PT. Fajar Papua (Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang percetakan Koran di Kota dan Kabupaten Sorong sekitarnya)yakni Harian Umum Fajar Papua. Saya bertugas di Sorong, dengan fokus peliputan yakni Pendidikan dan Kesehatan selama 5 bulan terhitung dari 17 Oktober 2005 hingga 15 Maret 2006. Selanjutnya saya di tugaskan sebagai koresponden di Kabupaten Teluk Bintuni menjadi Kepala Biro Perwakilan Teluk Bintuni, tertanggal 16 Maret 2008.
Ketika saya menginjakkan kaki pertama kali di tanah Sougb, Moskona dan Meyah Teluk Bintuni, rasa prihatin bercampur sedih timbul di benak pikiran saya ketika melihat perkembangan Kabupaten Teluk Bintuni yang kala itu sangat dan sangat sekali tertekan degan persoalan perpolitikan. Hal itulah yang akhirnya membuat pembangunan di Kabupaten Teluk Bintuni di Tahun Pertama masa kerja 100 hari di bawah kepemimpinan drg. Alfons Manibuy, DESS dan Drs. H. Akuba Kaitam sebagai Bupati dan Wakil Bupati terpilih periode 2005-2010 belum menunjukkan suatu pembangunan yang nyata, lantaran protes sesama pejabat yang kala itu kalah dalam PILKADA 2005.
Sehingga persoalan pembangunan saat itu tidak benar-benar direalisasikan sesuai dengan apa yang menjadi target dari 100 hari kerja bupati dan wakil bupati serta para kabinetnya. Namun yang paling dominan lebih banyak waktu berada pada persoalan politik atau berjuang untuk meredamkan isu politik yang semakin panas itu. Disitulah timbul rasa kepedulian saya sebagai Journalis Putra Papua ingin memberikan sejumlah kritikan membangun sesuai dengan proffesi Journalis sebenarnya yakni (Sebagai fungsi control social dalam setiap pembangunan baik yang sudah, sedang dan akan terus dilakukan oleh para pejabat public atau sering dikenal dengan nama 'Public Figure').
Sebab bagi saya bekerja sebagai PERS, berarti bekerja untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat luas, yang tentunya pada ujung-ujungnya pula saya sebagai PERS sangat membutuhkan data dari masyarakat, juga perusahaan dan pemerintah. Namun sangat disayangkan, semua komponen masyarakat termasuk pejabat public di Kabupaten Teluk Bintuni hampir sebagian besar belum mengerti dan memahami apa sebenarnya tugas serta fungsi dari PERS atau yang dikenang sebagai “Kuli Tinta” itu.
Sehingga selama hampir dua tahun sejak saya mulai bertugas di Bintuni yakni tahun 2006 hingga tahun 2008, ternyata semua pihak yang berkompoten belum menyadari arti dari tugas dan fungsinya PERS, sehingga membuat saya dan teman-teman di bintuni selalu kelabakan atau mengalami kesulitan dalam arti memberitakan atau menyajikan informasi terkait dengan kepentingan masyarakat. Ketika ada masalah atau persoalan, para pengambil kebijakkan di daerah ini sangat susah untuk ditemui atau di konfirmasi, disaat wartawan melakukan pemberitaan sesuai fakta dilapangan, ternyata pihak-pihak terkait itu tidak menerima hal nyata menjadi kenyataan yang semata pula atau dengan kata lain menjadi bahan kajian atau masukan untuk menuju kearah perubahaan.
Namun yang diterima wartawan adalah terror, intimidasi bahkan penindasan secara halus-halusan, inilah realita kami wartawan yang bertugas di kabupaten teluk bintuni. Dengan lahirnya realita tersebut membuat saya dan rekan-rekan seprofesi yang bertugas di Bintuni seperti wartawan Radio Merbau, Wartawan Harian Umum Cahaya Papua, Wartawan Tabloid Mingguan Bintuni Pos, Wartawan Harian Pagi Papua Barat Pos, Wartawan Harian Umum Fajar Papua, Wartawan Harian Pagi Radar Sorong serta Wartawan tabloid Suaru Pesisir bersepakat melalui pertemuan singkat di rumahnya salah satu rekan Wartawan Papua Barat Pos yang beralamat di Jalan Raya Bintuni Kampung Sibena Wesiri Kelurahan Bintuni Barat Distrik Bintuni membentuk satu wadah yang akhirnya disepakati Forum Journalis Bintuni (Forjubin) dan diketuai oleh saya sendiri (Jemmi Gerson Adii) sedangkan sekretarisnya Alexander F. Rahayaan dan beranggotakan kurang lebih lima orang anggota pengurus.
Dengan satu komitmen, ketika forum itu dibentuk yakni bersepakat, berkompak dan bersilaturahmi adalah hal-hal penting yang perlu dilakukan oleh setiap wartawan yang tergabung dalam forum journalis. Forum tersebut dibentuk tepat pada tanggal 26 November 2007 tahun lalu. Perjalanan pengurus Forjubin yang dibilang baru berusia seumur jagung atau 3 bulan itu, mulai tersendat-sendat ketika beberapa anggota lainnya dengan tanpa alasan yang jelas mengundurkan diri dari keanggotaannya, misalnya seperti wartawan papua barat pos yang kini sudah sah menjadi wartawan tabloid suara pesisir (Koran milik pemkab teluk bintuni-red) dan wartawan cahaya papua yang juga sama lebih dulu bergabung dengan Koran tabloid suara pesisir.Atas pengunduran diri dari satu bahkan dua anggota tersebut tidak menghalangi jalannya kepengurusan Forjubin yang ada saat ini, misalnya wartawan fajar papua, bintuni pos, wartawan RRI Merbau, wartawan radar sorong dan wartawan cahaya papua yang selalu dan selalu eksis dalam menjalankan tugas dan fungsi PERS di bintuni.
Pengalaman Pahit Beberapa ancaman terus dilancarkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab misalnya disaat motor saya terjadi kebakaran tepatnya pada hari rabu tanggal 2 Mei 2007. Aksi-aksi terror melalui kuasa kegelapan “OKULTISME” terus dan terus dilakukan oleh pihak-pihak terkait tanpa ada rasa penyesalan apapun dari mereka terhadap apa yang mereka lakukan. Di bulan september antara tanggal-tanggal belasan pada jam setengah tujuh pagi saya di hadang oleh salah satu pemegang suanggi di bintuni (namanya tidak di tulis) dengan tak sadarkan diri atau dirinya saat itu sedang dalam konsumsi miras, dan bahkan pula sebotol ceper miras dipegangnya di tanggan kanan mencoba hendak menumpangi motor saya, namun atas pertolongan Tuhan saya boleh dapat diselamatkan lewat salah satu pemuda yang juga pada saat itu ada di tempat kejadian.
Proses terror terus mulai dilancarakan, ketika salah satu pemberitaan yang pernah di muat oleh saya yakni terkait dengan masalah penemuan bom pra paskah di bintuni, begitu juga terjadi pengrusakan motor lewat kuasa gelap, sehingga ketika motor milik saya dipakai oleh teman atau siapa saja, sudah tentunya hal-hal buruk seperti kecelakaan lalu lintas dan lain-lainnya akan terjadi. Salah satu fakta yang terjadi ketika salah satu teman yakni Afstan Rumander mengendarai motor tepatnya hari selasa tanggal 25 Maret 2008 lalu, harus berhubungan dengan pihak rumah sakit bintuni disebabkan karena terjadi lakalantas tunggal, dalam artian kecelakaan tanpa ada ketabrakan karena akibat hasutan roh jahat. Intimidasi terus berlanjut, ketika saya memberitakan pemberitaan menyangkut persoalan berita hasil pengumuman testing CPNS Formasi 2007, dengan secara tidak resmi pihak pemerintah daerah kabupaten teluk bintuni memberhentikan langganan Koran harian umum fajar papua.
Dari kejadian itu, rupanya ada oknum-oknum tertentu yang sengaja memperkaya dirinya dengan melakukan terror baik lewat roh jahat yang dikirimnya guna menghasut istri saya dan mengaku sebagai "Penguasa Kalajengkin", bahkan berencana penuh ingin membunuh istri saya bahkan juga saya sendiri dan beberapa teman-teman lainnya seperti Anes Akuan, Afstan Rumander dan Darius Tukan Lein. "Hal itu dikatakan penguasa kalajenkin bintuni disaat merasuki istri saya pada tanggal 10 Mei 2008 di rumah kost bintuni.Selang empat hari kemudian atau tepatnya hari rabu tanggal 14 Mei 2008 sekitar jam 04.00 WPB, saya menerima sorth message system (SMS)terror atau intimidasi dari manusia setan atau oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Isi pesan SMS itu dikirim sebanyak tujuh kali.
Hingga sampai dengan saat ini berbagai cara-cara yang tidak berkenan terus ditingkatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab kepada saya dan teman-teman. "Inilah lika-liku hidup saya ketika menjadi Journalis di Teluk Bintuni"
Akhirnya, satu penolong yang setia yakni Tuhan Yesus. Dia adalah taruhan hidupku, dan saya percaya kepada Yesus yang memberikan nafas kehidupan kepada saya sehingga saya masih bisa bekerja di tanah Sougb, Moskona dan Meyah Kabupaten Teluk Bintuni sebagai Journalis, kala itu. Hal diatas (SMS TEROR), adalah tantangan bagi ku, ketika kuhidup bersama Yesus dan bekerja demi kepentingan masyarakat Papua khususnya di Kabupaten Teluk Bintuni. (Edit, 22 November 2008. Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
22.47
0
komentar
Label: PENGALAMAN
Apakah Budaya Papua Harus di Angkat Kembali..?
Apa yang saya paparkan dalam tulisan ini, memanglah tidak sesuai dengan apa yang saya pakai. Sebetulnya, sewaktu saya dilahirkan pada 24 tahun silam sudah sepantasnya saya harus dan harus menggunakan pakaian adat saya yaitu “Koteka” (bagi kaum laki-laki) dan “Sally” bagi kaum perempuan.
Apa boleh dikata, perkembangan zaman sejak tahun 80-an sewaktu saya melihat langit dan bumi ini bahkan pula saya belum bisa memastikan kalau saja tahun-tahun sebelumnya Koteka dan Sally sudah tidak di fungsikan lagi oleh tong pu tete, nene, mamade, bapade, tanta dan paman. Walaupun, kala itu tentunya tidak seberapa orang tua seperti yang saya sebuatkan diatas (tete, nene, paman, bapade, tanta dan mamade-red) khususnya di daerah pedalaman Papua masih menggunakan Koteka dan Sally.
Dari kota dingin Bilogai Distrik Sugapa, Kabupaten Paniai, saya sangat, sangat dan sangat terpukul ketika melihat suasana di kota dingin ini berubah. Apa yang saya lihat dan saksikan juga di saksikan oleh rekan-rekan lainnya yang juga berbondong-bondong datang kelapangan terbang Sugapa, untuk menyaksikan atraksi tarian adat “Suku Moni” (salah satu suku yang ada di pedalaman papua-red) disaat para tamu dan undangan tiba dengan pesawat, MAF, Avia Star, Merpati, Trigana dan Airfast.
Saya belum tahu pasti apa yang mereka pikirkan dengan atraksi yang dilakukan oleh masyarakat Suku Moni di daerah ini (sugapa-red), yang sebagaimana telah di persiapkan sebelumnya secara matang oleh panitia musyawarah pastoral setempat.
Ketika saya melihat dan menyaksikan atraksi tersebut, saya terus dan terus berfikir apakah saya bisa kembali menggunakan pakaian adat (koteka) ataukah saya akan terus dan terus menggunakan celana dan baju saja, dari tahun ke tahun hingga ajal tiba (dipanggil pulang oleh Bapa di sorga)…? Tentunya saya secara pribadi merasa sangat tidak bisa sekali, bukannya saya gengsi dengan adanya perkembangan zaman saat ini tetapi sewaktu saya injakan kaki pertama di dunia ini, pada waktu itu bukannya saya di pakaikan Koteka, namun malah saya di pakaikan baju dan celana.
Apakah saat itu saya harus memohon kepada mama saya untuk harus menggantikan baju dan celana dengan Koteka..? Tentunya tidak mungkin sebab saya tinggal ikut saja apa yang dilakukan oleh mama yang menjaga dan mengasuh saya sejak bayi, anak kecil hingga usia saya saat ini mencapai 24 tahun.
Saat ini saya berfikir kapankah saya bisa kembali menggunakan pakaian adat pedalaman Papua. Ataukah Koteka dan Sally hanya berakhir dengan di petieskan..? Ataukah di belasan hingga puluhan tahun kedepan anak cucu akan dapat berfikir seperti yang saya fikirkan saat ini…? Ataukah dengan perkembangan zaman yang selalu maju tiap ganti abad membuat anak dan cucu lupa akan Koteka dan Sally sebagai pakaian adat orang pedalaman Papua…? Inilah pertanyaan hari-hari saya saat ini.
Tahun lalu, ketika saya berada di salah satu kota yang ada di Provinsi Papua Barat saya membeli salah satu Koran local di daerah itu dan membaca. Dari banyaknya topic berita yang disajikan hanya satu topic yang membuat otak saya berputar untuk berfikir. Tidak lain dan tidak bukan terkait menyangkut hilangnya budaya Papua secara umum dan lebih khususnya budaya orang gunung Papua. Hal itu tentunya tidak keluar dari pakaian adat orang gunung (Koteka dan Sally).
Di akhir tulisan ini, saya ingin memberikan beberapa masukan dan saran kepada semua pihak yang berkompoten di negeri Papua ini dan terlebih bagi kakak, adik, paman, bapade, mamade, tanta, kakek dan nenek khususnya asli pedalaman Papua, sudah saatnya untuk tong berfikir dan malakukannya, sebab ketika tong tidak berfikir dan melakukannya tentunya tidak menutup kemungkinan tong punya budaya pasti akan di petieskan atau punah, dan beberapa puluh tahun kedepan jika kita masih ada atau saat itu yang ada di negeri ini tong pu anak dan cucu saja, hanya mendengarkan cerita dongen saja tentang negeri Papua ini.
Saya belum tahu pasti apa yang menjadi tanggapan dan pemikiran dari kakak, adik, tanta, mamade, bapade, kakek dan nenek terkait dengan tulisan ini. Kalau menurut pemikiran dan tanggapan saya budaya Papua harus di angkat dan dilestarikan kembali saat ini. Seperti salah satu kata yang saya kutip di tulisan ini yakni “Kalau bukan sekarang kapan lagi, dan kalau bukan kitong semua orang gunung siapa lagi.”
Ingat dan camkan baik-baik, hingga tahun 2008 ini di Papua sendiri khususnya di daerah pedalaman ada beberapa daerah yang dimekarkan menjadi kabupaten sendiri (definitive), sudah tentunya yang akan bermunculan atau menanamkan investor adalah daerah budaya luar, sehingga tong punya budaya dengan sendirinya akan hilang, dan turut di pengaruhi oleh budaya luar. Apa yang menjadi budayanya kitorang orang gunung harus dan harus di angkat kembali atau di lestarikan kembali.
Kepada adik-adik yang masih duduk di bangku pendidikan mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi (PT) baik yang ada di daerah pedalaman, daerah pesisir pantai bahkan di daerah jawa dan beberapa provinsi lainnya, saya sangat harapkan agar tong harus berfikir untuk melestarikan dan mengangkat kembali budaya kita yang saat ini sudah mulai punah…..Semoga…!!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
22.39
0
komentar
Label: EDITORIAL, SOSIAL BUDAYA
Dengan Otsus, Masyarakat Papua di Pasaran Patut di Berdayakan
Istilah orang papua harus menjadi tuan diatas negerinya sendiri, bukan berarti hanya berada pada masalah kepemimpinan di dalam pemerintahaan saja, melainkan sekecil apapun bidangnya tentunya wajib dikedepankan orang papua untuk menjadi tuan di atas tanahnya sendiri. Seperti sebagaimana yang di amanatkan dalam undang-undang (UU) Otonomi Khusus (Otsus) Papua Nomor 21 Tahun 2001.
Jika di cermati satu per satu, bidang-bidang itu meliputi Pendidikan, Kesehatan, Infrastruktur dan Ekonomi Kerakyatan. Pada tulisan ini, bagian yang dirasa perlu untuk dikaji serta di teliti secara baik oleh semua pihak yang berkompoten tanpa terkecuali seperti pemerintah adalah menyangkut bidang Ekonomi Kerakyatan.
Salah satu masalah yang hingga kini masih menjadi bahan dasar yang perlu di perhatikan khususnya pada peningkatan ekonomi kerakyatan dapat dilihat secara nyata, hampir di semua daerah di dua provinsi paling tertimur ini baik Provinsi Papua maupun Provinsi Papua Barat, dimana masyarakat local khususnya mama-mama papua secara kaca mata penulis di lapangan, dimana disaat mereka (masyarakat pribumi-red) hendak menjual atau memasarkan hasil pangannya di pasar, sangat nampak sekali tidak mendapatkan tempat yang layak, malah hasil pangannya hanya bisa dijual di dasar tanah. Sedangkan, jika dilihat justru malah hampir sebagian besar masyarakat non local-lah, seperti trans Jawa-Manado dan Makasar menempati tempat jualan yang sangat strategis.
Hal inilah yang patut dibilang menjadi tuan diatas tanahnya sendiri, sedangkan fakta dan keadaan di lapangan masih saja seperti begitu dari waktu ke waktu hingga detik ini. Jika perlu bukti, bisa saja di amati hampir di seluruh pasar di Tanah Papua baik kabupaten atau kota di Provinsi Papua maupun Provinsi Papua Barat. Salah satu tempat atau pasar sesuai pantauan penulis beberapa pekan lalu, yakni di Pasar Lama Bintuni Distrik Bintuni Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat dan Pasar Baru Sentani, Distrik Sentani Kabupaten Jayapura Provinsi Papua.
Dua tempat pasar tersebut menjadi contoh dari keseluruhan pasar di Tanah Papua. Dimana, hampir sebagian besar masyarakat local menjual hasil pangannya di tempat-tempat yang secara kasar dibilang kurang strategis, misalnya saja berjualan di dasar tanah.
Hal demikian, tentunya membuahkan pertanyaan besar bagi masyarakat papua lebih khusus mama-mama papua tersebut. Sampai kapan kegiatan aktivitas oleh masyarakat local di pasar dalam berdagang di tempat yang lebih nyaman, dan sampai kapan pula mama-mama tersebut bisa mendapatkan tempat yang layak di pasar....?
Sedangkan kalau dilihat Otsus Papua sudah bergulir selama lebih kurang 7 tahun. Dari bergulirnya otsus hingga sekarang ini, masih saja terlihat orang papua tidak diberdayakan sesuai UU Otsus tersebut untuk menjadi tuan di atas tanahnya sendiri, khususnya di bidang ekonomi kerakyatan.
Banyak orang berargumen bahwa menjadi tuan diatas tanahnya sendiri hanya berlaku pada tingkat atas atau dengan kata lain di pemerintahaan saja. Tetapi tidak beranggapan secara positif bahwa dalam berdagang itu juga salah satu dari sekian banyak yang terkandung pada bagian dari bidang ekonomi kerakyatan, yang terasa sangat perlu diberdayakan.
Seperti sebagaimana, menurut beberapa mama-mama asli suku Sougb yang berada di kawasan Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat, diantaranya Hana Iba dengan suara setengah kecewa membeberkan bahwa hasil pangan yang dikelolah oleh mereka dalam memasarkan di pasar, mengalami kesulitan. Kesulitan itu, rupanya tidak lain dan tidak bukan adalah tempat penjualannya di pasar. “Saya serta mama-mama lain selalu memilih diam, sebab ketika berkata tentunya tidak ada orang yang bisa mendengarkan suara kami, pada hal kami tahu bahwa ketika kami bersuara pasti anak-anak kami yang ada duduk di Wakil Rakyat (DPRD) bisa memperjuangkan suara kami.”ujar mama Hana.
Dirinya sangat kesal, walau ada Wakil Rakyat serta juga ada Bantuan Dana Otsus yang di kucurkan oleh pemerintah yang tengah berjalan lebih kurang tujuh tahun, tetapi tidak membuahkan hasil yang baik, terutama bagi masyarakat local di bidang ekonomi kerakyatan.
Ia mengatakan, coba anak (penulis-red) lihat sendiri sekarang kita berjualan harus duduk di lantai dasar pasar, sedangkan tempat-tempat yang strategis paling banyak di dapatkan oleh orang seberang (non local-red). Jika demikian, sudah tentunya Otsus bukan milik kitorang orang papua tetapi miliknya orang non papua. “Jika kalau otsus milik orang papua, kenapa kami bisa berjualan di lantai pasar, sebenarnya tempat-tempat yang sangat strategis itulah yang harus dimiliki oleh orang-orang papua, supaya menjadi tuan di atas tanahnya sendiri dapat tercapai.”sambungnya lagi dengan nada serius.
Penuturan mama-mama di Bintuni Provinsi Papua Barat, juga sama halnya dengan apa yang diutarakan oleh beberapa mama-mama yang tengah berjualan di pasar baru Sentani di Provinsi Papua. Salah satu mama yang sempat di tanyai penulis, menuturkan dengan berjualan di lantai dasar pasar, adalah bagian tempat mereka yang nyaman dan abadi.
Menurut mama tersebut, prioritas masyarakat local terutama mereka yang berjualan di pasar perlu di perhatikan secara serius oleh pihak penentu kebijakkan, dalam hal ini para pimpinan nomor satu di pemerintahaan.
“Ini kami berbicara atas dasar UU Otsus Nomor 21 Tahun 2001, jika kalau kami tidak diberdayakan, kenapa Otsus hingga masuki tahun ke tujuh masih terus bergulir. Sedangkan pemberdayaan masyarakat local saja belum begitu nampak dipermukaan,”tukasnya............Semoga!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
22.25
0
komentar
Label: EDITORIAL, SOSIAL BUDAYA
Kebudayaan Manusia Terus Berubah Akibat Pengaruh Luar
Kebudayaan manusia dari waktu ke waktu selalu berubah atau bersifat dinamis. Perubahan-perubahan yang terjadi itu disebabkan oleh dua factor yakni, perubahan dari dalam dan perubahan dari luar. Perubahan dari dalam sesuai analisi saya yaitu manusia dalam hidupnya selalu menginginkan sesuatu yang baru, lebih baik dan sempurna serta dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga menyebabkan ia (manusia) dengan kemampuan akalnya akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Misalnya kebutuhan akan tempat tinggal (rumah) dan beberapa hal-hal lainnya. Sementara, perubahan dari luar yakni dengan masuknya pengaruh asing seperti system pengetahuan dan teknologi karena adanya pertemuan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Dimana manusia yang satu bertindak sebagai pemberi unsur-unsur kebudayaan dan manusia yang lainnya bertindak sebagai penerima kebudayaan tersebut.
Kebudayaan masyarakat Papua juga sama seperti yang telah di kemukakan diatas. Sebelum kebudayaan Papua dipengaruhi oleh kebudayaan dari luar, kebudayaan masing-masing masyarakat setempat didaerah pantai maupun pedalaman tidaklah bersifat statis tanpa mengalami perubahan.
Meskipun perubahan secara tidak nyata bolehlah dikatakan bahwa setiap generasi mewujudkan sejumlah hasil pemikiran yang tidak didapati pada kebudayaan yang diwujudkan oleh generasi yang mendahuluinya. Dalam kenyataan terlihat bahwa masyarakat-masyarakat setempat di papua mewujudkan tata cara kehidupan yang berbeda, system kekerabatan yang berbeda.
Pengetahuan mengenai alat-alat yang terbuat dari besi dan logam oleh masyarakat daerah di pedalaman Papua, diketahui setelah adanya pengaruh dari luar, yaitu dengan masuknya orang Eropa yang datang selain untuk mencari daerah penghasil rempah-rempah juga usaha untuk memperoleh kekayaan.
Begitu pula dengan penggunaan uang yang di buat Pemerintah Jajahan Belanda sebagai alat penukar untuk memperoleh barang-barang tertentu, sehingga mendorong sejumlah individu berusaha memperoleh uang yang di pertukarkan dengan barang-barang keinginannya.
Keadaan sebagaimana dijelaskan diatas terjadi pula hampir di semua daerah yang ada di dua Provinsi ini yakni Papua dan Papua Barat. Dimana sebelum masyarakat lokal menerima pengaruh dari luar, adat sangat berperan dalam kehidupan masyarakat setempat. Setelah masuknya pengaruh dari luar mengakibatkan peranan adat semakin berkurang (merosot-red), seperti masuknya pengaruh agama Kristen yang menyebabkan adanya pembakaran rumah-rumah tradisional serta hal-hal lain yang dilihat bertentangan dengan agama Kristen.
Masuknya system pemerintahaan formal turut juga mempengaruhi system pemerintahaan tradisional. Seperti semakin menurunnya dinamika gotong royong pada masyarakat. Selain itu terdapat pula perubahan pada rumah yang meliputi; bentuk, ukuran, dan bahan serta lokasi rumah tersebut.
Telah dijelaskan dimuka bahwa kebudayaan bersifat dinamis, sekarang muncul pertanyaan bila kebudayaan bersifat dinamis, apakah unsur-unsurnya juga bersifat dinamis? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu kita ketahui apa saja unsur-unsur kebudayaan itu. Sesuai data yang di input penulis, ada sebanyak tujuh unsur kebudayaan yang universal diantaranya yakni, Bahasa, Sistem Pengetahuan, Organisasi Sosial, Sistem Peralatan hidup dan Teknologi, Sistem Mata Pencaharian Hidup, Sistem Religi dan Kesenian.
Dari ketujuh unsur tersebut saya lebih memperhatikan unsur teknologi, secara khusus adalah teknik pembuatan rumah.
Mengapa teknik pembuatan rumah itu penting ? Alasan karena rumah mempunyai arti tertentu bagi pemiliknya. Rumah merupakan salah satu hasil kebudayaan yang terdapat pada semua masyarakat atau manusia di dunia.
Rumah dibangun dengan mempunyai bentuk, motif dan arsitektur dalam kebudayaan, selain itu selama ini sejumlah referensi yang berhubungan dengan teknik membuat rumah belum terungkap. Hal ini penting untuk diteliti sebelum punah, berubah dan menghilang.
Bagian pertama, fungsi sosial yaitu rumah tempat tinggal keluarga kecil atau keluarga besar, rumah suci, rumah pertahanan, dan rumah tempat berkumpul umum. Bagian kedua, fungsi pemakaian yaitu tenda atau gubuk yang segera dapat dilepas dan rumah untuk menetap.
Rumah juga berfungsi untuk menunjukkan wilayah klen tertentu (marga tertentu). Kondisi persoalan ini dipersulitkan oleh munculnya kecenderungan dari petuah-petuah itu sendiri untuk memilih rumah modern, karena tidak mempertahankan bentuk rumah tradisional. Keadaan ini juga berakibat pada menurunnya partisipasi dari sejumlah fungsionaris adat dalam rumah.....Semoga..!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
00.12
0
komentar
Label: EDITORIAL, SOSIAL BUDAYA
My Number NPWP
My Daily
About Me
Blog Organisasi
-
Rapat Kerja Sinode GKII Wilayah I Papua - Rapat Kerja I Sinode GKII Wilayah I Papua akan dilaksanakan pada hari Selasa 11-14 Juli 2017 bertempat di Gedung Serba Guna GKII Bethesda yang terletak di ...8 tahun yang lalu
-
Mari Rebut Kembali Pasar. - Peningkatan kehidupan ekonomi masyarakat Papua hingga sampai saat era modern ini perlu mendapat perhatian penuh. Selama ini orang Papua asli hanya menjadi...16 tahun yang lalu
-
-
-
-
Please Your Respon..?
Peta Kunjungan