Tanah Papua merupakan wilayah bio-geografis terbesar ketiga di Indonesia, dengan kemajemukan suku, bahasa dan adat istiadat serta memiliki keanekaragaman sumber daya alam (SDA) hayati dan ekosistem baik di darat maupun perairan yang cukup tinggi. Salah satu bagian wilayah di Tanah Papua yang memiliki keanekaragaman suku dan budaya, serta keanekaragaman hayati yang cukup besar adalah wilayah Kepala Burung baik itu daratan dan perairan.
Pengelolaan SDA di Papua semakin kuat dan bakal jamur perusahaan akan lebih meningkat sebagai dampak dari lahirnya UU No. 21/2001 tentang status Otonomi Khusus bagi daerah Papua. Otonomi Khusus, secara politis merupakan strategi politis untuk menjawab kebutuhan masyarakat Papua, sehingga Otsus dapat menjadi peluang sekaligus tantangan bagi masyarakat adat Papua. Banyak investor dari dalam dan luar negeri yang tidak segan-segan menawarkan penanaman modalnya di Papua.
Salah satu kemudahan adalah Gubernur Kepala Daerah Provinsi Papua dengan legitimasi UU Otsus ini boleh mencari investor sendiri untuk mengembangkan daerah kekuasaannya. Peluang ini didukung dengan adanya UU. No. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan UU. No. 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan daerah. Dampak dari peluang OTSUS ini telah dibuktikan dengan adanya kehadiran Britiesh Petroleum Indonesia (BP-Indonesia) yang akan memproduksi Gas Alam Cair di Kawasan Teluk Bintuni dengan proyek LNG Tangguh.
Adalah defacto bahwa kekayaan SDA juga dapat menjadi pemicu konflik yang berdimensi HAM hingga melahirkan dasar perjuangan bagi masyarakat Papua untuk memisahkan diri dari NKRI. Hal ini karena sudah parah sakit hatinya orang Papua yang sudah terpendam secara turun-temurun, sehubungan dengan perlakuan pemerintah Indonesia sebagai penguasa dan para investor sebagai pemilik modal.
Karena itu tidak sedikit persoalan di Papua yang terkait dengan kehadiran perusahaan-perusahaan yang menjamur di Papua dan terutama kekuasaan negara dalam hal ini pemerintah yang selalu menang terhadap masyarakat dengan mengatasnamakan peraturan-perundangan, pembangunan negara, dan terutama dengan kekuatan aparat keamanan negara dengan alasan untuk stabilitas nasional. Padahal masyarakat Papua telah sadar akan tipu muslihatnya pemerintah dengan para investor itu.
Hanya jika mereka menuntut apa yang menjadi hak-hak dasarnya sebagai manusia, dan terutama hak ulayat atas tanah adatnya, mereka malah dituduh menghambat pembangunan dan mudah dikalahkan dengan pemberian stigma Separatis, OPM (Organisasi Papua Merdeka) dan GPK yang menurut pemerintah dan aparat keamanan negara harus ditindak tegas dan ditiadakan dari bumi Indonesia. Sehubungan dengan stigma tersebut, orang asli Papua pun kehilangan identitas dirinya dari segala dimensinya.
Analisis ini tidak dapat terlepas dari hubungan tiga kekuatan besar dalam proses kehidupan sosial kemasyarakatan yaitu Negara, Modal (pasar) dan Rakyat (Komunitas). Ketiga aktor besar tersebut tidak seimbang dalam realita hubungannya, sehingga terjadi penumpukan kekuatan yang hanya menguntungkan pada negara dan modal saja, sedangkan rakyat selalu dalam kondisi “Apa Adanya” dan terus terkalahkan serta termiskinkan.
Pertemuan kekuatan antara negara dan modal bermuara pada terciptanya kompromi yang menghasilkan pengaturan-pengaturan baru dalam memanfaatkan berbagai fasilitas kehidupan, seperti pengelolaan hasil hutan, penguasaan lahan, penguasaan laut, pertambangan, ternyata hanya mengutamakan kepentingan negara dan modal saja. Sementara rakyat terpinggirkan dan hanya menjadi korban dari ketimpangan perimbangan kekuatan ini. Pada kondisi yang lebih praktis, demikian jelas terlihat gejala dan peristiwa dimana posisi rakyat semata-mata hanyalah sebagai obyek dari gagasan dan kebijakan yang dibuat oleh kekuatan negara dan modal, baik keduanya bersatu maupun sendiri-sendiri.
Praktek-praktek dan pola hubungan tidak seimbang seperti di atas telah mendatangkan banyak kerugian bagi rakyat, yaitu di samping terjadinya kesenjangan sosial yang parah antara rakyat dan dua aktor lainnya, juga terjadi proses pembodohan dan pemiskinan secara struktural. Lebih lanjut, analisa sosial juga menghasilkan asumsi bahwa negara dan modal adalah sebuah kesatuan komunitas, kesatuan kepentingan yang saling bekerja-sama.
Walaupun didalam masing-masing sub komunitas itu sendiri, terdiri dari beberapa komponen, seperti : (1) Sub komunitas Negara merepresentasikan militer, departemen-departemen, birokrat dan lembaga-lembaga pemerintahan lainnya. (2). Sub komunitas modal memrepresentasikan investor, perusahaan-perusahaan transnasional dan atau multinasional, tuan tanah bahkan tengkulak tingkat kampung masuk kelompok ini. Sehingga perencanaan strategi dan taktik untuk melakukan perjuangan yang selalu dijalani oleh organisasi rakyat dan Ornop terfokus pada dua kekuatan, yaitu negara dan modal.
Pada dasarnya kekuatan komunitas negara dan modal baik bermain sendiri-sendiri maupun bersama-sama bertujuan untuk memperoleh keuntungan investasi sebesar-besarnya. Akibatnya, semua komponen dalam negara, pada berbagai tingkatan dan sektor ingin menjadi penguasa, begitu pula dalam modal, semua ingin mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Faktor kepentingan ini melahirkan pertikaian antar kepentingan politik dan persaingan antar pemilik modal yang sering terjadi. Pertikaian dan persaingan ini membutuhkan arena dan manifestasinya secara nyata di lapangan. Arena termaksud adalah rakyat.
Salah satu hal yang menjadi kenyataan ketika kala itu saya bersama-sama dengan rekan-rekan terlindung dalam sebuah komunitas yang di namakan “Bin Madag Hom” artinya “Mari Kita Bersatu”. Komunitas masyarakat dalam pandangan BmH adalah komunitas masyarakat adat yang bersinggungan langsung dengan SDA, sehingga akan sangat merasakan dampak dari pertikaian dan persaingan yang dilakukan oleh kedua kelompok aktor tersebut yakni modal dan negara. Hingga sekarang yang telah dikenal oleh para aktivis ORNOP (Organisasi Non Pemerintahaan-red).
Mengenai intisari pemikiran dalam Pengorganisasian Masyarakat adalah, bahwa: (a) masyarakat mempunyai daya dan upaya untuk membangun kehidupannya sendiri. (b) Masyarakat memiliki pengetahuan dan kearifan tersendiri dalam menjalani kehidupannya secara alami. (c) upaya pembangunan masyarakat akan efektif apabila masyarakat sebagai pelaku sekaligus penikmat pembangunan, serta (d) masyarakat memiliki kemampuan membagi diri sedemikian rupa dalam peran pembangunan mereka.........Semoga....!!! (Jemmy Gerson Adii/Jasoil Papua)
Me
Stock Pengunjung...!!
My Mesages
Your Mesages..!!
Category
My Site
-
Dayung Sampan - Popularitas di luar Indonesia: menambahkan rujukan #1Lib1Ref #1Lib1RefID ← Revisi sebelumnya Revisi per 5 Februari 2026 00.28 Baris 7: Baris 7: == Popu...2 jam yang lalu
-
Termasuk Williams Bersaudara, 4 Bintang Athletic Bilbao Dipastikan Absen Lawan MU - Athletic Bilbao telah mengumumkan daftar pemain mereka yang berangkat ke Inggris untuk menghadapi Manchester United.8 bulan yang lalu
-
Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Bekasi Tembus 20 Ribu - *Liputan6.com, Bekasi -* Jumlah kumulatif kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, saat ini tembus di atas 20.000 kasus. Be...4 tahun yang lalu
-
Grosir pakaian Anak - mangga dua merupakan di antara pusat perbelanjaan yang ada di ibukota jakarta, letak dari pusat perbelanjaan ini ada di tempat jakarta utara. dapat disebut...10 tahun yang lalu
-
JOKOWI SETUJU PAPUA REFERENDUM - Sebuah berita cukup menarik termuat di www.gebraknews.com dengan judul “JOKOWI SETUJU REFERENDUM PAPUA MERDEKA” menjadi berita yang perlu dicermati , ka...11 tahun yang lalu
-
48 Orang Terjangkit HIV/Aids - *Solopos.com*, 26 Agustus 2013 *WONOGIRI *-- Sebanyak 48 orang di terjangkit virus HIV/Aids. Tiga orang di antaranya adalah penderita baru atau baru diket...12 tahun yang lalu
-
VISI TUHAN UNTUK GEREJA KINGMI PAPUA - VISI TUHAN UNTUK GEREJA KEMAH INJIL (KINGMI) DI TANAH PAPUA “BEKAS ANAK –ANAK PENGUASA BUMI PEGUNUNGAN PAPUA” Suatu Penglihatan Dari Ev. Petrus Giay 29 Mar...16 tahun yang lalu
-
-
-
-
-
-
-
-
-
My Arsip Blog
- Nov 23 (1)
- Nov 24 (4)
- Nov 25 (1)
- Nov 26 (1)
- Des 02 (1)
- Des 08 (2)
- Des 20 (1)
- Des 23 (1)
- Des 27 (1)
- Des 28 (2)
- Feb 08 (3)
- Feb 09 (7)
- Feb 14 (1)
- Feb 16 (6)
- Feb 18 (2)
- Feb 24 (3)
- Feb 28 (1)
- Mar 06 (1)
- Mar 08 (1)
- Mar 09 (1)
- Apr 13 (2)
- Apr 19 (1)
- Apr 27 (1)
- Mei 06 (1)
- Jun 08 (2)
- Jun 10 (1)
- Jul 06 (3)
- Jul 12 (1)
- Jul 14 (1)
- Jul 17 (1)
- Agu 29 (1)
- Sep 11 (1)
- Sep 17 (1)
- Okt 31 (1)
- Nov 01 (1)
- Jan 11 (1)
- Mar 01 (12)
- Mar 30 (1)
- Mar 31 (1)
- Apr 14 (1)
- Apr 18 (1)
- Mei 07 (1)
- Mei 10 (1)
- Mei 12 (2)
- Mei 28 (3)
- Jun 02 (1)
- Jun 24 (1)
- Jul 07 (1)
- Jul 30 (1)
- Jul 31 (1)
- Agu 10 (2)
- Agu 21 (1)
- Agu 22 (2)
- Sep 12 (1)
- Okt 15 (6)
- Okt 25 (3)
- Okt 27 (3)
- Okt 29 (2)
- Nov 02 (1)
- Nov 03 (2)
- Nov 17 (1)
- Des 22 (1)
- Jan 16 (2)
- Feb 04 (1)
- Mar 15 (3)
- Mar 20 (4)
- Mar 23 (1)
- Mar 27 (4)
- Mei 25 (1)
- Jun 17 (1)
- Jul 14 (2)
- Agu 04 (4)
- Agu 05 (1)
- Agu 07 (1)
- Agu 14 (1)
- Agu 17 (3)
- Sep 04 (3)
- Sep 06 (4)
- Sep 27 (3)
- Okt 13 (1)
- Okt 22 (3)
- Nov 09 (1)
- Nov 26 (3)
- Mar 23 (15)
- Mei 16 (1)
- Jun 05 (2)
- Jun 13 (1)
- Jun 24 (2)
- Sep 16 (1)
- Okt 11 (2)
- Agu 11 (1)
- Sep 16 (1)
- Sep 29 (1)
- Mar 23 (5)
- Jul 27 (13)
- Agu 27 (37)
- Agu 29 (4)
- Mei 28 (1)
- Nov 26 (1)
News from Detik
God Bless You All and Me
08 Desember 2008
3 Kekuasaan Besar : “Negara, Modal & Rakyat”
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
07.35
0
komentar
Label: EDITORIAL, POLITIK, SOSIAL BUDAYA
Antara Pasca dan Masa Reformasi…..!!!
System kebijakan pembangunan di Negara Indonesia sudah menunjukkan perbaikan ke arah yang lebih demokratis ada pasca reformasi. Paling tidak ada masa reformasi ini, semua proses pembangunan baik pusat maupun daerah dituntut supaya harus melibatkan public dalam proses perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasannya.
Artinya partisipasi aktif masyarakat sipil sangat diperlukan dalam proses pembangunan negara baik di tingkat pusat maupun daerah provinsi, kabupaten/kota, distrik dan kampung. Hal ini menuntut kesadaran dan semangat masyarakat sipil seutuhnya sebagai warga Negara dan bangsa Indonesia yang turut bertanggung jawab dalam proses pembangunan.
Rancangan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2004-2009 memfokuskan pada upaya pencapaian agenda pembangunan nasional yaitu mewujudkan Indonesia yang aman dan damai, adil dan demokratis dan Indonesia yang sejahtera. RPJM ini dimaksudkan untuk menjamin peningkatan dan pemenuhan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Karena itu pemerintah sebagai penyelenggara Negara baik di pusat maupun daerah membuka ruang public bagi masyarakat sipil dalam proses-proses penetapan kebijakan pembangunan.
Organisasi masyarakat sipil memainkan peran penting dalam pencapaian agenda pembangunan nasional, termasuk agenda pembangunan daerah. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) juga dituntut perannya untuk ikut mendorong pembangunan ke arah yang lebih baik.
Prinsip-prinsip Good Governance menjamin bahwa dalam pelaksanaan system Otonomi Daerah/Otonomi Khusus Papua, pemerintah daerah tidak lagi bekerja sendiri, harus melibatkan peran masyarakat sipil. Dalam proses pembangunan, pemerintah lebih berperan sebagai fasilitator dan mengatur kebijakan/regulasi daerah bersama-sama denga berbagai constituent pembangunan yang ada di suatu wilayah otonom. Oleh karena itu, masyarakat sipil yang terorganisir dalam asosiasi atau kelompok-kelompok sektoral merupakan bagian yang penting dan merupakan elemen kunci dalam demokrasi dan upaya mewujudkan proses pembangunan yang baik dan dan efisien.
Untuk itu salah satu tanggung jawab masyarakat sipil adalah membantu mendorong perwujudan pemerintahan yang baik (good governance). Masyarakat juga seharusnya terfokus pada setiap moment pembuatan kebijakan yang menyangkut kepentingan public antara lain dalam penyusunan visi dan misi daerah, pembuatan peraturan daerah (PERDA), Perencanaan – Pelaksanaan - Pengawasan APBD. Partisipasi masyarakat sipil dapat dilakukan melalui kegiatan konsultasi public, hearing/dengar pendapat dengan DPRD, jajag pendapat umum, pooling, dialog interaktif, seminar, workshop, lokakarya dan lain sebagainya yang merupakan forum public.
Di akhir dari tulisan ini, apa yang kita buat untuk daerah dan manusia Papua di Negeri ini. Apakah solusinya untuk meningkatkan kesadaran kritis dan pemahaman masyarakat sipil dalam mengambil bagian pada setiap proses-proses pembangunan nasional maupun daerah, termasuk dalam pembuatan kebijakan public serta mendorong pemerintah daerah untuk memberi ruang public dalam setiap proses pembuatan kebijakan pembangunan daerah.
Atukah setiap pihak yang berkompoten perlu memberikan pemahaman tentang mekanisme dan ruang public dalam proses pembangunan daerah, serta bagaimanakah meningkatkan pemahaman dan kesadaran kritis bagi masyarakat sipil tentang mekanisme penyerapan aspirasi/konsultasi public melalui legislative/DPRD...? Dan Bagaimana pula meningkatkan pemahaman tentang peran masyarakat sipil dalam proses pengambilan kebijakan public/kebijakan daerah dan mendorong peran serta aktif masyarakat sipil dalam pengawasan implementasi kebijakan public/kebijakan daerah. semuanya itu kembali padapribadi lepas pribadi kita masing-masing.....Semoga!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
07.23
0
komentar
02 Desember 2008
Terkait Krisis Ekonomi Global: “Biarlah Sang Pencipta Yang Beracara”
Memang saya sadari betul, jika Sang Pencipta (GOD-red) yang beracara bagi dunia ini. Berbagai media cetak bahkan elektronik di seantero dunia mengabarkan bahwa dengan terjadinya krisis maka sudah barang tentu semua aktivitas yang kecil maupun besar dihentikan untuk sementara waktu, hingga sampai dengan krisis membaik barulah aktivitas setiap perusahaan di mana saja akan kembali normal seperti sebagaimana biasanya.
“Krisis ekonomi semakin terasa”, itulah topik berita yang saya liris dari berita harian Kompas edisi kamis 2 desember 2008. Topik itu sungguh menekan otak saya untuk bertanya dan memikirkan sesuatu sejenak. Bagi saya berfikir dan berfikir adalah hal yang sangat buruk dilakukan oleh saya sendiri. Karena harus memutar otak saya hanya untuk menulis sesuatu hal untuk semua pihak yang berkompoten termasuk karyawannya dan pokoknya semuanya tanpa terkecuali. Sebab ketika saya berfikir dan berfikir sudah barang tentu akan menggangu aktivitas saya sebagai penghubungan dengan masyarakat dan pemerintah di daerah saya yakni Sugapa.
Apa gunanya saya berfikir hal ini, yang akhirnya saya sendirilah yang menjadi stress sementara orang lain masih tetap stabil dengan keadaan rumah tanggah sederhana yang ada. Tetapi bagaimana juga dengan mereka-mereka yang di PHK (putus hubungan kerja-red), apa yang akan mereka lakukan ketika berkomunikasi atau berhadapan muka langsung dengan keluarga, hentah itu istri ataupun anak-anak mereka...?
Sungguh menjengkelkan di hati saya, kalau hal ini bisa terjadi saat ini, apakah tidak bisa di tunda-tunda lagi pada beberapa tahun kedepan ? Jika kalau memang krisis ini adalah imbas dari adanya pergantian orang nomor satu di Pemerintahaan Adi Kuasa ((USA) dari Joss Bush beralih ke Barak Obama. Bagaimana mungkin, pergantian president dari pemiompin yang satu kepada pemimpin yang lain apakah juga turut mempengaruhi kondisi keuangan di Dunia termasuk Indonesia pada umumnya dan Tanah Papua pada khususnya?
Apakah benar-benar krisis tersebut sedang terjadi saat ini, atukah krisis itu hanya dapat di katakan terjadi di negara adikuasa alias Amerika serikat saja.....? Itulah beberapa poin-poin yang selalu ada di otak saya dalam beberapa pekan terakhir ini, dan bagaimana caranya supaya dalam waktu tempo krisis ini bisa diatasi.
Saya tidak tahu harus berbuat seperti apa, karena tentunya ketika saya bilang ini atau itu, tentunya tidak akan sama dengan apa yang saat ini sedang di pikirkan oleh oeang lain. Sebab masih banyak pula pemikir-pemikir yang di handalkan, untuk mencari trit-trit tertentu dalam mengatasi kasus global ini. Yang saya berfikir mudah-mudahan dengan pemimpin yang baru, kulit yang baru, pemimpin yang siap takut akan TUhan dan segala sesuatu yang baru pula dapat dengan segera menghidupkan kembali saham-saham yang saat ini lumpuh alkibat ulah krisis ekonomi global itu, menuju kearah yang lebih baik dan normal. Sehingga karyawan yang saat ini sedang dan terus di PHK oleh masing-masing departement di panggil kembali dalam artian melakukan aktivitasnya seperti keadaan semula.
Memang saya sadari betul, jika Sang Pencipta (GOD-red) yang beracara bagi dunia ini. Berbagai media cetak bahkan elektronik di seantero dunia mengabarkan bahwa dengan terjadinya krisis maka sudah barang tentu semua aktivitas yang kecil maupun besar di hentikan untuk sementara waktu, hingga sampai dengan krisis membaik barulah aktivitas setiap perusahaan di mana saja akan kembali normal seperti sebagaimana biasanya.
Secara besar-besaran semua perusahaan yang bergerak di bidang eksport tanpa terkencuali sudah, sedang dan akan terus menghentikan aktivitas kerja, dan tentunya semua karyawan akan menjalani nasib yang sial alias di PHK. Seperti yang saya kutip dari salah satu media nasional kompas bahwa krisis ekonomi semakin terasa, yang akhirnya pasar saham di eropa jatuh lagi.
Sesuai informasi yang saya input dari media kompas menyebutkan bahwa data perekonomian di beberapa negara yang diumumkan awal pekan ini menunjukkan keadaan memburuk. Aktivitas industri di Eropa dan China menurun pada bulan November. Sementara pejabat Jepang menyatakan perekonomian melambat drastis.
Warga yang biasanya gemar berbelanja sudah tidak lagi berbelanja, demikian terlihat dari penjualan ritel yang menurun drastis. Seperti penuturan dari Gubernur Bank of Japan Masaaki Shirakawa, Senin (1/12) di Tokyo bahwa kegiatan perekonomian menurun drastis. Perusahaan-perusahaan Jepang semakin sulit mendapatkan kredit. Bank sentral Jepang juga tengah mempersiapkan langkah-langkah baru untuk mengatasi krisis kredit. Para pejabat juga sudah memperingatkan, perekonomian dapat saja kembali memasuki deflasi tahun depan.
Masih di sebutkan dalam media kompas bahwa kelesuan aktivitas ekonomi berlangsung cepat. Perekonomian dunia juga mengalami perubahan dahsyat. Dimana menurunnya perekonomian global berdampak buruk bagi produsen mobil di Jepang. Angka penjualan mobil baru turun 27,3 persen pada November menjadi 215.783 unit, angka terendah sejak tahun 1969.
Sementara, dari Seoul diberitakan ekspor Korea Selatan anjlok 18,3 persen pada November 2008 dari ekspor Oktober. Penurunan bulanan ini merupakan yang terburuk dalam tujuh tahun terakhir. Perusahaan otomotif Korsel juga bergegas mengurangi produksi karena permintaan global menurun. Dimana aktivitas sektor manufaktur di zona Euro turun mencapai titik terendah pada November lalu dan diperkirakan masih terus melemah. Indeks pembelian yang mengukur order baru di zona Eropa untuk manufaktur turun menjadi 35,6 poin. Angka indeks di bawah 50 menandakan perekonomian sedang jatuh. Ini merupakan keadaan yang belum pernah terlihat sebelumnya dalam 11 tahun terakhir.
Sesuai dengan hasil survei pembelian pada sektor manufaktur di bulan November yang sangat lemah menunjukkan bahwa resesi di zona Euro akan semakin dalam, seperti yang dikatakan oelh Howard Archer, ekonom pada IHS Global Insight.
Masih di sebutkan media Kompas bahwa dalam pekan ini diperkirakan Bank of England serta bank sentral Eropa, Australia, dan Selandia Baru akan kembali menurunkan tingkat suku bunga mereka.
Pemutusan hubungan kerja juga semakin banyak terjadi. Bank Jerman, BayernLB, akan mengurangi seperempat dari jumlah tenaga kerjanya atau sekitar 5.600 orang hingga tahun 2013. Sebagian besar pengurangan akan dilakukan di cabang Asia.
Seperti juga di Eropa, aktivitas sektor manufaktur China juga menurun drastis sepanjang November. Pemutusan hubungan kerja juga sudah terjadi di banyak pabrik di negara dengan perekonomian terbesar keempat di dunia ini.
Presiden China Hu Jintao mengatakan kepada para petinggi Partai Komunis China bahwa China akan kehilangan daya saingnya dan memperingatkan, mengatasi krisis saat ini merupakan ujian bagi Partai Komunis.
Seruan PBB
Dalam laporannya yang diterbitkan Senin, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerukan perlunya sebuah stimulus besar-besaran dan saling terkait untuk dilakukan segera. Hal itu bertujuan mengatasi keadaan ekonomi global seperti sekarang ini.
Kajian ”Situasi Ekonomi Dunia dan Prospek 2009” dipresentasikan pada konferensi internasional keuangan di Doha. Paket stimulus itu harus didasarkan pada langkah yang memperbanyak likuiditas dan rekapitalisasi perbankan. Para ekonom dari PBB juga mengusulkan agar ada regulasi pada pasar dan institusi keuangan, dilakukannya penyediaan likuiditas global yang mencukupi, serta perbaikan sistem cadangan devisa internasional.
Secara umum, laporan itu memperkirakan ada penurunan pendapatan per kapita pada tahun 2009 di negara-negara maju. Pertumbuhan ekonomi global tidak lebih dari 1 persen pada tahun 2009 dibandingkan dengan 2,5 persen pada tahun 2008.
Keluarnya data perekonomian yang memburuk pada awal pekan ini mengakhiri kenaikan harga di pasar saham yang sudah terjadi selama enam hari berturut-turut.
Indeks FTSE 100 (London) anjlok 106,42 poin menjadi 4.181,59 dan indeks DAX (Jerman) anjlok 163,83 poin menjadi 4.505,61 poin. Indeks CAC-40 (Paris) anjlok 93,66 poin menjadi 3.169,02 poin pada perdagangan Senin.
”Pertanyaan sekarang ini yang krusial bukan lagi apakah resesi ekonomi global sudah dimulai, tetapi berapa lama hal ini akan terjadi,” demikian pernyataan Bank of America yang ditujukan kepada relasinya.
Selain saya mendapatkan kabar diatas, saya juga di email oleh salah satu teman saya, ketika saya menanyakan terkait dengan krisis ini kepadanya. Dengan spontan teman saya yang saat ini masih aktif bekerja sebagai crew di undergrount bagian Retpat mengatakan bahwa untuk di Freeport Timika khususnya di Departemen Pontil rata-rata semua karyawan sudah di PHK sejak pekan ini, sementara untuk di Departemen Redpat akan mulai mengurangi tenaga kerja pada awal bulan januari 2009.
Saya merasa pesimis karena saya belum tahu pasti di daerah lain, tetapi yang jelasnya di daerah Papua, kok kekayaan alamnya sangat berlimpah ruah namun malah ikut juga terkena dampaknya krisis keuangan global. Ternyata ketika saya duduk dan merenung kemudian meminta petunjuk kepada Tuhan, persoalan kekayaan itu masalah kedua, masalah yang paling prioritas yakni harga pasaran tambang dan lain-lain di dunia menurun secara drastis.
Akhir tulisan ini, saya tidak akan menjelaskan panjang lebar, tetapi yang pastinya persoalan krisis keuangan global ini, semuanya kita serahkan kepada sang pencipta, dan biarlah Sang Pencipta-lah yang beracara baki kita semua, sehingga apapun yang kita hadapi saat ini, dalam waktu yang tidak begitu lama secara global pula ekonomi akan kembali baik dan normal.......Semoga....!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
04.48
0
komentar
Label: EDITORIAL, SOSIAL BUDAYA
26 November 2008
Uskup & Asisten I Paniai Hadiri Kegiatan Muspas di Distrik Sugapa: "Di Lapter Sugapa, Sempat Terdengar Bunyi Tembakan"
Kedatangan Uskup Jhon Philip, S.Pr, Asisten I setda Pemkab Paniai, Budi Setiawan bersama rombongan di distrik sugapa, Kabupaten Paniai Provinsi Papua adalah untuk menghadiri undangan panitia kegiatan musyawarah pastoral beberapa pecan lalu. Rombongan Uskup dan Asisten I tiba di lapangan terbang (lapter) Sugapa pada, Rabu (19/11/2008) belum lama ini, melalui jasa penerbangan yang berbeda.
Rombongan uskup menumpangi pesawat AMA (Chesna) dari Timika, sementara rombongan Asisten I menumpangi pesawat Avia Star dari Enarotali-Paniai. Ketika Uskup beserta rombongannya tiba di lapter Sugapa, sempat di kagetkan dengan bunyi tembakan jenis M 16. Tembakan itu dilakukan oleh salah satu anggota koramil sugapa yang berinisial KS kearah kanan dan kiri dari salah satu pemuda asli Desa Titigi, yakni Alpius Agisimizau (korban).
Aksi tembak menembak tanpa mengena kearah korban ini, awalnya bermula dari korban AA tidak mengubris akan teguran yang di lontarkan oleh KS (anggota koramil-red). Pasalnya, saat itu (beberapa waktu lalu-red) KS menyuruh AA Cs untuk tidak membawah serta memegang alat tajam seperti panah dan busur disaat penjemputan setiap tamu yang dating, hentah itu tamu yang datang dari Enarotali, Nabire bahkan dari dari Timika. Terkecuali penari yang bisa diizinkan untuk membawah panah dan busur.
Namun, rupanya penuturan dari KS tidak di gubris oleh AA dan kawan-kawannya, dan malah sebaliknya AA Cs mengambil batu serta beberapa alat-alat tajam lainnya dan menyodorkan kearah KS. Disitulah, membuat KS tidak sabar lagi untuk mengeluarkan tembakan. Maksud dari KS hanya untuk menjaga diri dari serangan lemparan AA Cs.
Tembakan dari KS tidak menyentuh kearah AA Cs namun jauh di sebelah kanan ataupun kiri AA Cs. Karena merasa ketakutan dengan adanya bunyi tembakan tersebut, AA Cs mencoba melarikan diri yang tidak jauh dari lapter. Apa yang terjadi, kaki kiri AA tertanam di salah satu parit yang tepatnya disebelah lapter bilogai.
Syukur, karena dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa, namun AA harus menderita kaki kirinya akibat terjeblos ke dalam parit sekitar lapter bilogai. Selang beberapa menit kemudian, AA di larikan ke rumah sakit Nabire, untuk mendapatkan pertolongan pertama. Hingga berita ini naik cetak, AA masih di rawat di salah satu rumah sakit yang ada di Kota Singkong Nabire.
Akibat bunyi letusan senjata api, membuat saat itu tidak ada aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan, seperti salah satunya pembangunan Base Camp baru begitu pun juga dengan tahap finishing pembangunan TK Pesat.
Umat Kembali Menari
Tragedy yang tidak memakan korban jiwa ini, akhirnya pulih kembali. Dimana umat katolik tidak nyerah sampai disitu, tari-tarian pun kembali dilakukan lagi oleh bapa, mama dan semua umat yang hadir saat itu di lapter Sugapa, pertanda persoalan itu telah usai. Usai mendapat atraksi tarian adapt suku moni di lapter, rombongan Uskup Jhon dan Asisten I setda Pemkab Paniai berkonfoi menuju lapangan bola kaki bilogai, yang sebagaimana di lanjutkan dengan ibadah Ekaristi alias Ibadah Misa. Kegiatan Muspas ini, di bawah tema “Maju Bersama Untuk Membangun dan Meningkatkan Kesejahteraan Hidup”.
Seperti kata Uskup. Jhon Philip dalam petikan firmannya yang saya kutip dari awal hingga akhir khotbanya yakni membangun daerah Sugapa ini sangatlah di butuhkan kerja sama dan kekompokan antara sesama suku baik suku Moni, Nduga, Dani dan suku-suku lainnya. Sehingga kelak, apa yang rakyat cita-citakan dapat terwujud dan tercapai. Untuk sampai kearah itu, saat ini (bukan besok atau lusa-red) di Sugapa atau Kabupaten Intan Jaya ini dalam mewujudkan tema Muspas tidak lain dan tidak bukan adalah kita semua membutuhkan seorang Figure atau Pemimpin yang punya hati untuk membangun serta merubah daerah ini dari keterpurukan baik pembangunannya, masyarakatnya serta alamnya di daerah ini. Tidak terlepas juga seorang Pemimpin sudah sewajibnya selalu dan selalu menghadirkan Tuhan dalam dirinya bahkan kinerjanya.
“Apapun yang di lakukan oleh siapa saja, henta itu pemerintah ataupun perusahaan patutlah didukung sepenuhnya oleh masyarakat setempat. Bukan dengan persoalan tuntut menuntut kulit bia, senowi, atau dengan adanya perang antar marga yanag satu dengan marga yang lain, barulah kita beroleh kesejahtaraan. Sama sekali bukan seperti begitu, yang pastinya semua itu di kembalikan pada pribadi lepas pribadi kita masing-masing, jika kita ingin Sugapa ini maju dan berkembang pesat sama seperti dengan di daerah lainnya.”tegas Uskup Jhon di lapangan bola kaki bilogai belum lama ini.
Bakar Batu, Akhiri Kegiatan Muspas
Setelah beberapa hari lamanya, umat katolik di Sugapa melangsungkan kegiatan Muspas, akhirnya berakhir dengan kegiatan bakar batu bersama. Kegiatan penutupan muspas ini berlangsung tepat pada, Minggu (23/11/2008) lalu. Bakar batu (barapen-red) merupakan tradisi masyarakat Papua yang ada di daerah pedalaman, khususnya di sugapa. Hal ini menunjukkan adanya suatu kekompakan antara keluarga, marga bahkan tetangga yang satu dengan yang lainnya.
Diakhir tulisan ini, saya berharap kiranya dengan adanya kegiataan Muspas di Desa Bilogai, Distrik Sugapa, Kabupaten Paniai selama 3 hari 3 malam ini, kelak dapat membuahkan hasil yang baik dan berguna bagi daerah ini. Karena dengan adanya kegiatan ini merupakan suatu moment penting tersendiri bagi masa depannya masyarakat untuk bisa hidup mandiri serta dapat mengatasi beberapa hal buruk diantaranya “Kebodohan, Kemiskinan, Ketertinggalan dan Keterpinggirkan” terutama pada aspek pembangunan fisik, sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam yang sangat melimpah ruah di tanah Papua pada umumnya dan lebih khusus di daerah suku Moni, Nduga dan Dani ini ……..Semoga.!!!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
14.41
0
komentar
Label: HUKUM DAN HAM, SOSIAL BUDAYA
25 November 2008
Ketika Kita Di Nilai Sebagai Pengacau, Apa Reaksi Kita.....?
Kadang kita keliru dalam menilai sesuatu hal yang tidak kita duga, didalam berasumsi sering kita di sebut dan di nilai sebagai orang terhormat sehingga kita berpandangan kearah jauh terhadap tindakan-tindakan kriminal. Kerap kali selalu saja kita menuding bahwa oknum-oknum seperti preman, anak jalanan, pelacur, rakyat jelata merupakan sumber segala kejahatan dan sangat hina.
Apa mungkin demikian….? Alasan yang bisa saya paparkan dalam tulisan ini adalah karena mereka-merekalah yang selalu melakukan hal-hal yang tidak berkenang dimata orang-orang terhormat bahkan dimata penegak hukum serta pemerintah. Pasalnya, orang-orang terhormat sendiri telah melihat dan menilai mereka adalah pengacau.
Sungguh disesali karena selalu saja kita menggangap mereka adalah buruk, namun dibalik dari itu orang-orang terhormatlah yang selalu memperalat mereka demi kepentingan dan jabatan. Kalau kita menggangap diri kita terhormat dan mempunyai kodrat melebihi mereka itu dianggap sangatlah keliru.
Saya belum tahu, apa sih sebenarnya yang menjadi pemikiran dari pembaca, tetapi menurut tanggapan saya bahwa hentah itu preman atau anak-anak jalanan yang selama ini membuat kekacauan adalah orang-orang terhormat seperti pejabat-pejabat negara, penegak hukum dan elit-elit politik yang rakus akan kepentingan pribadi (ego) dalam menguasai suatu jabatan tertentu.
Sebuah contoh konkrit bahwa orang yang menggugurkan kandungan, orang yang melakukan konspirasi politik dan menghancurkan rakyat, orang yang menjual belikan hukum, orang yang melakukan korupsi, kolusi dan Nepotisme (KKN) serta orang yang melakukan pembantaian terhadap masyarakat sipil di pelosok bumi pertiwi ini semuanya itu adalah orang baik-baik.
Alasannya, karena melegalkan produk dalam memberikan peluang kepada hal-hal yang haram seperti minuman keras (miras), pelacur dan sejumlah siasat untuk melenyapkan orang yang dianggap dapat membahayakan orang baik-baik adalah orang baik-baik itu sendiri. Yang bisa saya simpulkan dalam tulisan ini adalah bahwa akar dari seluruh kejahatan bukan bersumber dari preman, pelacur dan anak-anak jalanan, tetapi dari orang-orang terhormat. Mengapa..? Karena mereka tidak mampu mengkoordinir kepentingan politik dengan jalur menciptakan lapangan kerja yang baik bagi mereka (seperti sebagaiman yang telah saya paparkan diatas).
Harapan saya cuma satu hingga dua pepatah kata yakni terlebih kepada seluruh preman, pelacur dan anak-anak jalanan, jangan mudah terpancing serta ditipu dan termakan arus gelombang oleh orang-orang tua yang memposisikan diri sebagai elit politik dan orang terhormat untuk selalu memperalat kita sebagai akal demi memperjuangkan kepentingan politik mereka semata. Mulai saat ini kita harus bangkit serta menunjukkan kepada dunia bahwa kita bukan biang keladi dari semua persoalan tersebut.
Kejahatan dan kekacauan yang terjadi selama ini jika tidak kita sadari maka sampai kapan pun kita akan dianggap sebagai pencetus kekacauan dan kejahatan, sebab akar kejahatan perlu dibersihkan. Salah satu contoh, beberapa tahun silam terjadi eksekusi mati Tibo cs, hal itu jangan sampai terulang lagi atau jangan sampai kita yang jadi sasaran berikutnya, akibat akibat ulah dari orang-orang baik yang selalu menggangap mereka adalah orang terhormat tanpa ada noda di baju mereka……Semoga (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
08.55
0
komentar
24 November 2008
Sekilas Pengalaman Saya.....!!!
"...Apapun yang saya lakukan tentunya untuk negeri ini. Walaupun saya terus dan terus di tindas melalui berbagai cara diantarnya teror, intimidasi bahkan lainnya. Saya saat itu di harapkan untuk meninggalkan kota bintuni oleh rekan dan keluarga saya, tetapi saya tetap bersikeras untuk harus dan harus tinggal di Bintuni, dan dengan tantangan itu tidak mematahkan semangat kerja saya sebagai koresponden dari salah satu media lokal di kota minyak sorong dan di tempatkan di Kabupaten Bintuni...."
Selanjutnya, saya akan menceritakan sedikit perjalanan karier saya sebagai Journalis selama 2 tahun lebih di Kabupaten Teluk Bintuni. Saya berterimakasih dan memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah menjaga, memelihara serta menyelamatkan saya dari segala teror, intimidasi bahkan hal-hal negative lainnya yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab kepada saya bahkan pula istri serta keluarga saya.
Perlu diketahui bahwa bekerja berdasarkan kebenaran dan keadilan di Negeri ini (Tanah Papua) sangatlah tidak mudah membalikan telapak tangan, sesuai dengan yang kita fikirkan bersama-sama. Dalam artian bahwa ketika kebenaran dan keadilan di tegakkan maka dampak-dampak negative yang tentunya diterima oleh kita semua adalah penindasan, terror dan intimidasi.
Seperti halnya yang saya terima di tanah suku Sougb, Moskona dan Meyah Kabupaten Teluk Bintuni, ketika kala itu saya dipercayakan oleh Sang Pencipta melalui PT. Fajar Papua (Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang percetakan Koran di Kota dan Kabupaten Sorong sekitarnya)yakni Harian Umum Fajar Papua. Saya bertugas di Sorong, dengan fokus peliputan yakni Pendidikan dan Kesehatan selama 5 bulan terhitung dari 17 Oktober 2005 hingga 15 Maret 2006. Selanjutnya saya di tugaskan sebagai koresponden di Kabupaten Teluk Bintuni menjadi Kepala Biro Perwakilan Teluk Bintuni, tertanggal 16 Maret 2008.
Ketika saya menginjakkan kaki pertama kali di tanah Sougb, Moskona dan Meyah Teluk Bintuni, rasa prihatin bercampur sedih timbul di benak pikiran saya ketika melihat perkembangan Kabupaten Teluk Bintuni yang kala itu sangat dan sangat sekali tertekan degan persoalan perpolitikan. Hal itulah yang akhirnya membuat pembangunan di Kabupaten Teluk Bintuni di Tahun Pertama masa kerja 100 hari di bawah kepemimpinan drg. Alfons Manibuy, DESS dan Drs. H. Akuba Kaitam sebagai Bupati dan Wakil Bupati terpilih periode 2005-2010 belum menunjukkan suatu pembangunan yang nyata, lantaran protes sesama pejabat yang kala itu kalah dalam PILKADA 2005.
Sehingga persoalan pembangunan saat itu tidak benar-benar direalisasikan sesuai dengan apa yang menjadi target dari 100 hari kerja bupati dan wakil bupati serta para kabinetnya. Namun yang paling dominan lebih banyak waktu berada pada persoalan politik atau berjuang untuk meredamkan isu politik yang semakin panas itu. Disitulah timbul rasa kepedulian saya sebagai Journalis Putra Papua ingin memberikan sejumlah kritikan membangun sesuai dengan proffesi Journalis sebenarnya yakni (Sebagai fungsi control social dalam setiap pembangunan baik yang sudah, sedang dan akan terus dilakukan oleh para pejabat public atau sering dikenal dengan nama 'Public Figure').
Sebab bagi saya bekerja sebagai PERS, berarti bekerja untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat luas, yang tentunya pada ujung-ujungnya pula saya sebagai PERS sangat membutuhkan data dari masyarakat, juga perusahaan dan pemerintah. Namun sangat disayangkan, semua komponen masyarakat termasuk pejabat public di Kabupaten Teluk Bintuni hampir sebagian besar belum mengerti dan memahami apa sebenarnya tugas serta fungsi dari PERS atau yang dikenang sebagai “Kuli Tinta” itu.
Sehingga selama hampir dua tahun sejak saya mulai bertugas di Bintuni yakni tahun 2006 hingga tahun 2008, ternyata semua pihak yang berkompoten belum menyadari arti dari tugas dan fungsinya PERS, sehingga membuat saya dan teman-teman di bintuni selalu kelabakan atau mengalami kesulitan dalam arti memberitakan atau menyajikan informasi terkait dengan kepentingan masyarakat. Ketika ada masalah atau persoalan, para pengambil kebijakkan di daerah ini sangat susah untuk ditemui atau di konfirmasi, disaat wartawan melakukan pemberitaan sesuai fakta dilapangan, ternyata pihak-pihak terkait itu tidak menerima hal nyata menjadi kenyataan yang semata pula atau dengan kata lain menjadi bahan kajian atau masukan untuk menuju kearah perubahaan.
Namun yang diterima wartawan adalah terror, intimidasi bahkan penindasan secara halus-halusan, inilah realita kami wartawan yang bertugas di kabupaten teluk bintuni. Dengan lahirnya realita tersebut membuat saya dan rekan-rekan seprofesi yang bertugas di Bintuni seperti wartawan Radio Merbau, Wartawan Harian Umum Cahaya Papua, Wartawan Tabloid Mingguan Bintuni Pos, Wartawan Harian Pagi Papua Barat Pos, Wartawan Harian Umum Fajar Papua, Wartawan Harian Pagi Radar Sorong serta Wartawan tabloid Suaru Pesisir bersepakat melalui pertemuan singkat di rumahnya salah satu rekan Wartawan Papua Barat Pos yang beralamat di Jalan Raya Bintuni Kampung Sibena Wesiri Kelurahan Bintuni Barat Distrik Bintuni membentuk satu wadah yang akhirnya disepakati Forum Journalis Bintuni (Forjubin) dan diketuai oleh saya sendiri (Jemmi Gerson Adii) sedangkan sekretarisnya Alexander F. Rahayaan dan beranggotakan kurang lebih lima orang anggota pengurus.
Dengan satu komitmen, ketika forum itu dibentuk yakni bersepakat, berkompak dan bersilaturahmi adalah hal-hal penting yang perlu dilakukan oleh setiap wartawan yang tergabung dalam forum journalis. Forum tersebut dibentuk tepat pada tanggal 26 November 2007 tahun lalu. Perjalanan pengurus Forjubin yang dibilang baru berusia seumur jagung atau 3 bulan itu, mulai tersendat-sendat ketika beberapa anggota lainnya dengan tanpa alasan yang jelas mengundurkan diri dari keanggotaannya, misalnya seperti wartawan papua barat pos yang kini sudah sah menjadi wartawan tabloid suara pesisir (Koran milik pemkab teluk bintuni-red) dan wartawan cahaya papua yang juga sama lebih dulu bergabung dengan Koran tabloid suara pesisir.Atas pengunduran diri dari satu bahkan dua anggota tersebut tidak menghalangi jalannya kepengurusan Forjubin yang ada saat ini, misalnya wartawan fajar papua, bintuni pos, wartawan RRI Merbau, wartawan radar sorong dan wartawan cahaya papua yang selalu dan selalu eksis dalam menjalankan tugas dan fungsi PERS di bintuni.
Pengalaman Pahit Beberapa ancaman terus dilancarkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab misalnya disaat motor saya terjadi kebakaran tepatnya pada hari rabu tanggal 2 Mei 2007. Aksi-aksi terror melalui kuasa kegelapan “OKULTISME” terus dan terus dilakukan oleh pihak-pihak terkait tanpa ada rasa penyesalan apapun dari mereka terhadap apa yang mereka lakukan. Di bulan september antara tanggal-tanggal belasan pada jam setengah tujuh pagi saya di hadang oleh salah satu pemegang suanggi di bintuni (namanya tidak di tulis) dengan tak sadarkan diri atau dirinya saat itu sedang dalam konsumsi miras, dan bahkan pula sebotol ceper miras dipegangnya di tanggan kanan mencoba hendak menumpangi motor saya, namun atas pertolongan Tuhan saya boleh dapat diselamatkan lewat salah satu pemuda yang juga pada saat itu ada di tempat kejadian.
Proses terror terus mulai dilancarakan, ketika salah satu pemberitaan yang pernah di muat oleh saya yakni terkait dengan masalah penemuan bom pra paskah di bintuni, begitu juga terjadi pengrusakan motor lewat kuasa gelap, sehingga ketika motor milik saya dipakai oleh teman atau siapa saja, sudah tentunya hal-hal buruk seperti kecelakaan lalu lintas dan lain-lainnya akan terjadi. Salah satu fakta yang terjadi ketika salah satu teman yakni Afstan Rumander mengendarai motor tepatnya hari selasa tanggal 25 Maret 2008 lalu, harus berhubungan dengan pihak rumah sakit bintuni disebabkan karena terjadi lakalantas tunggal, dalam artian kecelakaan tanpa ada ketabrakan karena akibat hasutan roh jahat. Intimidasi terus berlanjut, ketika saya memberitakan pemberitaan menyangkut persoalan berita hasil pengumuman testing CPNS Formasi 2007, dengan secara tidak resmi pihak pemerintah daerah kabupaten teluk bintuni memberhentikan langganan Koran harian umum fajar papua.
Dari kejadian itu, rupanya ada oknum-oknum tertentu yang sengaja memperkaya dirinya dengan melakukan terror baik lewat roh jahat yang dikirimnya guna menghasut istri saya dan mengaku sebagai "Penguasa Kalajengkin", bahkan berencana penuh ingin membunuh istri saya bahkan juga saya sendiri dan beberapa teman-teman lainnya seperti Anes Akuan, Afstan Rumander dan Darius Tukan Lein. "Hal itu dikatakan penguasa kalajenkin bintuni disaat merasuki istri saya pada tanggal 10 Mei 2008 di rumah kost bintuni.Selang empat hari kemudian atau tepatnya hari rabu tanggal 14 Mei 2008 sekitar jam 04.00 WPB, saya menerima sorth message system (SMS)terror atau intimidasi dari manusia setan atau oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Isi pesan SMS itu dikirim sebanyak tujuh kali.
Hingga sampai dengan saat ini berbagai cara-cara yang tidak berkenan terus ditingkatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab kepada saya dan teman-teman. "Inilah lika-liku hidup saya ketika menjadi Journalis di Teluk Bintuni"
Akhirnya, satu penolong yang setia yakni Tuhan Yesus. Dia adalah taruhan hidupku, dan saya percaya kepada Yesus yang memberikan nafas kehidupan kepada saya sehingga saya masih bisa bekerja di tanah Sougb, Moskona dan Meyah Kabupaten Teluk Bintuni sebagai Journalis, kala itu. Hal diatas (SMS TEROR), adalah tantangan bagi ku, ketika kuhidup bersama Yesus dan bekerja demi kepentingan masyarakat Papua khususnya di Kabupaten Teluk Bintuni. (Edit, 22 November 2008. Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
22.47
0
komentar
Label: PENGALAMAN
Apakah Budaya Papua Harus di Angkat Kembali..?
Apa yang saya paparkan dalam tulisan ini, memanglah tidak sesuai dengan apa yang saya pakai. Sebetulnya, sewaktu saya dilahirkan pada 24 tahun silam sudah sepantasnya saya harus dan harus menggunakan pakaian adat saya yaitu “Koteka” (bagi kaum laki-laki) dan “Sally” bagi kaum perempuan.
Apa boleh dikata, perkembangan zaman sejak tahun 80-an sewaktu saya melihat langit dan bumi ini bahkan pula saya belum bisa memastikan kalau saja tahun-tahun sebelumnya Koteka dan Sally sudah tidak di fungsikan lagi oleh tong pu tete, nene, mamade, bapade, tanta dan paman. Walaupun, kala itu tentunya tidak seberapa orang tua seperti yang saya sebuatkan diatas (tete, nene, paman, bapade, tanta dan mamade-red) khususnya di daerah pedalaman Papua masih menggunakan Koteka dan Sally.
Dari kota dingin Bilogai Distrik Sugapa, Kabupaten Paniai, saya sangat, sangat dan sangat terpukul ketika melihat suasana di kota dingin ini berubah. Apa yang saya lihat dan saksikan juga di saksikan oleh rekan-rekan lainnya yang juga berbondong-bondong datang kelapangan terbang Sugapa, untuk menyaksikan atraksi tarian adat “Suku Moni” (salah satu suku yang ada di pedalaman papua-red) disaat para tamu dan undangan tiba dengan pesawat, MAF, Avia Star, Merpati, Trigana dan Airfast.
Saya belum tahu pasti apa yang mereka pikirkan dengan atraksi yang dilakukan oleh masyarakat Suku Moni di daerah ini (sugapa-red), yang sebagaimana telah di persiapkan sebelumnya secara matang oleh panitia musyawarah pastoral setempat.
Ketika saya melihat dan menyaksikan atraksi tersebut, saya terus dan terus berfikir apakah saya bisa kembali menggunakan pakaian adat (koteka) ataukah saya akan terus dan terus menggunakan celana dan baju saja, dari tahun ke tahun hingga ajal tiba (dipanggil pulang oleh Bapa di sorga)…? Tentunya saya secara pribadi merasa sangat tidak bisa sekali, bukannya saya gengsi dengan adanya perkembangan zaman saat ini tetapi sewaktu saya injakan kaki pertama di dunia ini, pada waktu itu bukannya saya di pakaikan Koteka, namun malah saya di pakaikan baju dan celana.
Apakah saat itu saya harus memohon kepada mama saya untuk harus menggantikan baju dan celana dengan Koteka..? Tentunya tidak mungkin sebab saya tinggal ikut saja apa yang dilakukan oleh mama yang menjaga dan mengasuh saya sejak bayi, anak kecil hingga usia saya saat ini mencapai 24 tahun.
Saat ini saya berfikir kapankah saya bisa kembali menggunakan pakaian adat pedalaman Papua. Ataukah Koteka dan Sally hanya berakhir dengan di petieskan..? Ataukah di belasan hingga puluhan tahun kedepan anak cucu akan dapat berfikir seperti yang saya fikirkan saat ini…? Ataukah dengan perkembangan zaman yang selalu maju tiap ganti abad membuat anak dan cucu lupa akan Koteka dan Sally sebagai pakaian adat orang pedalaman Papua…? Inilah pertanyaan hari-hari saya saat ini.
Tahun lalu, ketika saya berada di salah satu kota yang ada di Provinsi Papua Barat saya membeli salah satu Koran local di daerah itu dan membaca. Dari banyaknya topic berita yang disajikan hanya satu topic yang membuat otak saya berputar untuk berfikir. Tidak lain dan tidak bukan terkait menyangkut hilangnya budaya Papua secara umum dan lebih khususnya budaya orang gunung Papua. Hal itu tentunya tidak keluar dari pakaian adat orang gunung (Koteka dan Sally).
Di akhir tulisan ini, saya ingin memberikan beberapa masukan dan saran kepada semua pihak yang berkompoten di negeri Papua ini dan terlebih bagi kakak, adik, paman, bapade, mamade, tanta, kakek dan nenek khususnya asli pedalaman Papua, sudah saatnya untuk tong berfikir dan malakukannya, sebab ketika tong tidak berfikir dan melakukannya tentunya tidak menutup kemungkinan tong punya budaya pasti akan di petieskan atau punah, dan beberapa puluh tahun kedepan jika kita masih ada atau saat itu yang ada di negeri ini tong pu anak dan cucu saja, hanya mendengarkan cerita dongen saja tentang negeri Papua ini.
Saya belum tahu pasti apa yang menjadi tanggapan dan pemikiran dari kakak, adik, tanta, mamade, bapade, kakek dan nenek terkait dengan tulisan ini. Kalau menurut pemikiran dan tanggapan saya budaya Papua harus di angkat dan dilestarikan kembali saat ini. Seperti salah satu kata yang saya kutip di tulisan ini yakni “Kalau bukan sekarang kapan lagi, dan kalau bukan kitong semua orang gunung siapa lagi.”
Ingat dan camkan baik-baik, hingga tahun 2008 ini di Papua sendiri khususnya di daerah pedalaman ada beberapa daerah yang dimekarkan menjadi kabupaten sendiri (definitive), sudah tentunya yang akan bermunculan atau menanamkan investor adalah daerah budaya luar, sehingga tong punya budaya dengan sendirinya akan hilang, dan turut di pengaruhi oleh budaya luar. Apa yang menjadi budayanya kitorang orang gunung harus dan harus di angkat kembali atau di lestarikan kembali.
Kepada adik-adik yang masih duduk di bangku pendidikan mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi (PT) baik yang ada di daerah pedalaman, daerah pesisir pantai bahkan di daerah jawa dan beberapa provinsi lainnya, saya sangat harapkan agar tong harus berfikir untuk melestarikan dan mengangkat kembali budaya kita yang saat ini sudah mulai punah…..Semoga…!!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
22.39
0
komentar
Label: EDITORIAL, SOSIAL BUDAYA
Dengan Otsus, Masyarakat Papua di Pasaran Patut di Berdayakan
Istilah orang papua harus menjadi tuan diatas negerinya sendiri, bukan berarti hanya berada pada masalah kepemimpinan di dalam pemerintahaan saja, melainkan sekecil apapun bidangnya tentunya wajib dikedepankan orang papua untuk menjadi tuan di atas tanahnya sendiri. Seperti sebagaimana yang di amanatkan dalam undang-undang (UU) Otonomi Khusus (Otsus) Papua Nomor 21 Tahun 2001.
Jika di cermati satu per satu, bidang-bidang itu meliputi Pendidikan, Kesehatan, Infrastruktur dan Ekonomi Kerakyatan. Pada tulisan ini, bagian yang dirasa perlu untuk dikaji serta di teliti secara baik oleh semua pihak yang berkompoten tanpa terkecuali seperti pemerintah adalah menyangkut bidang Ekonomi Kerakyatan.
Salah satu masalah yang hingga kini masih menjadi bahan dasar yang perlu di perhatikan khususnya pada peningkatan ekonomi kerakyatan dapat dilihat secara nyata, hampir di semua daerah di dua provinsi paling tertimur ini baik Provinsi Papua maupun Provinsi Papua Barat, dimana masyarakat local khususnya mama-mama papua secara kaca mata penulis di lapangan, dimana disaat mereka (masyarakat pribumi-red) hendak menjual atau memasarkan hasil pangannya di pasar, sangat nampak sekali tidak mendapatkan tempat yang layak, malah hasil pangannya hanya bisa dijual di dasar tanah. Sedangkan, jika dilihat justru malah hampir sebagian besar masyarakat non local-lah, seperti trans Jawa-Manado dan Makasar menempati tempat jualan yang sangat strategis.
Hal inilah yang patut dibilang menjadi tuan diatas tanahnya sendiri, sedangkan fakta dan keadaan di lapangan masih saja seperti begitu dari waktu ke waktu hingga detik ini. Jika perlu bukti, bisa saja di amati hampir di seluruh pasar di Tanah Papua baik kabupaten atau kota di Provinsi Papua maupun Provinsi Papua Barat. Salah satu tempat atau pasar sesuai pantauan penulis beberapa pekan lalu, yakni di Pasar Lama Bintuni Distrik Bintuni Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat dan Pasar Baru Sentani, Distrik Sentani Kabupaten Jayapura Provinsi Papua.
Dua tempat pasar tersebut menjadi contoh dari keseluruhan pasar di Tanah Papua. Dimana, hampir sebagian besar masyarakat local menjual hasil pangannya di tempat-tempat yang secara kasar dibilang kurang strategis, misalnya saja berjualan di dasar tanah.
Hal demikian, tentunya membuahkan pertanyaan besar bagi masyarakat papua lebih khusus mama-mama papua tersebut. Sampai kapan kegiatan aktivitas oleh masyarakat local di pasar dalam berdagang di tempat yang lebih nyaman, dan sampai kapan pula mama-mama tersebut bisa mendapatkan tempat yang layak di pasar....?
Sedangkan kalau dilihat Otsus Papua sudah bergulir selama lebih kurang 7 tahun. Dari bergulirnya otsus hingga sekarang ini, masih saja terlihat orang papua tidak diberdayakan sesuai UU Otsus tersebut untuk menjadi tuan di atas tanahnya sendiri, khususnya di bidang ekonomi kerakyatan.
Banyak orang berargumen bahwa menjadi tuan diatas tanahnya sendiri hanya berlaku pada tingkat atas atau dengan kata lain di pemerintahaan saja. Tetapi tidak beranggapan secara positif bahwa dalam berdagang itu juga salah satu dari sekian banyak yang terkandung pada bagian dari bidang ekonomi kerakyatan, yang terasa sangat perlu diberdayakan.
Seperti sebagaimana, menurut beberapa mama-mama asli suku Sougb yang berada di kawasan Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat, diantaranya Hana Iba dengan suara setengah kecewa membeberkan bahwa hasil pangan yang dikelolah oleh mereka dalam memasarkan di pasar, mengalami kesulitan. Kesulitan itu, rupanya tidak lain dan tidak bukan adalah tempat penjualannya di pasar. “Saya serta mama-mama lain selalu memilih diam, sebab ketika berkata tentunya tidak ada orang yang bisa mendengarkan suara kami, pada hal kami tahu bahwa ketika kami bersuara pasti anak-anak kami yang ada duduk di Wakil Rakyat (DPRD) bisa memperjuangkan suara kami.”ujar mama Hana.
Dirinya sangat kesal, walau ada Wakil Rakyat serta juga ada Bantuan Dana Otsus yang di kucurkan oleh pemerintah yang tengah berjalan lebih kurang tujuh tahun, tetapi tidak membuahkan hasil yang baik, terutama bagi masyarakat local di bidang ekonomi kerakyatan.
Ia mengatakan, coba anak (penulis-red) lihat sendiri sekarang kita berjualan harus duduk di lantai dasar pasar, sedangkan tempat-tempat yang strategis paling banyak di dapatkan oleh orang seberang (non local-red). Jika demikian, sudah tentunya Otsus bukan milik kitorang orang papua tetapi miliknya orang non papua. “Jika kalau otsus milik orang papua, kenapa kami bisa berjualan di lantai pasar, sebenarnya tempat-tempat yang sangat strategis itulah yang harus dimiliki oleh orang-orang papua, supaya menjadi tuan di atas tanahnya sendiri dapat tercapai.”sambungnya lagi dengan nada serius.
Penuturan mama-mama di Bintuni Provinsi Papua Barat, juga sama halnya dengan apa yang diutarakan oleh beberapa mama-mama yang tengah berjualan di pasar baru Sentani di Provinsi Papua. Salah satu mama yang sempat di tanyai penulis, menuturkan dengan berjualan di lantai dasar pasar, adalah bagian tempat mereka yang nyaman dan abadi.
Menurut mama tersebut, prioritas masyarakat local terutama mereka yang berjualan di pasar perlu di perhatikan secara serius oleh pihak penentu kebijakkan, dalam hal ini para pimpinan nomor satu di pemerintahaan.
“Ini kami berbicara atas dasar UU Otsus Nomor 21 Tahun 2001, jika kalau kami tidak diberdayakan, kenapa Otsus hingga masuki tahun ke tujuh masih terus bergulir. Sedangkan pemberdayaan masyarakat local saja belum begitu nampak dipermukaan,”tukasnya............Semoga!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
22.25
0
komentar
Label: EDITORIAL, SOSIAL BUDAYA
Kebudayaan Manusia Terus Berubah Akibat Pengaruh Luar
Kebudayaan manusia dari waktu ke waktu selalu berubah atau bersifat dinamis. Perubahan-perubahan yang terjadi itu disebabkan oleh dua factor yakni, perubahan dari dalam dan perubahan dari luar. Perubahan dari dalam sesuai analisi saya yaitu manusia dalam hidupnya selalu menginginkan sesuatu yang baru, lebih baik dan sempurna serta dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga menyebabkan ia (manusia) dengan kemampuan akalnya akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Misalnya kebutuhan akan tempat tinggal (rumah) dan beberapa hal-hal lainnya. Sementara, perubahan dari luar yakni dengan masuknya pengaruh asing seperti system pengetahuan dan teknologi karena adanya pertemuan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Dimana manusia yang satu bertindak sebagai pemberi unsur-unsur kebudayaan dan manusia yang lainnya bertindak sebagai penerima kebudayaan tersebut.
Kebudayaan masyarakat Papua juga sama seperti yang telah di kemukakan diatas. Sebelum kebudayaan Papua dipengaruhi oleh kebudayaan dari luar, kebudayaan masing-masing masyarakat setempat didaerah pantai maupun pedalaman tidaklah bersifat statis tanpa mengalami perubahan.
Meskipun perubahan secara tidak nyata bolehlah dikatakan bahwa setiap generasi mewujudkan sejumlah hasil pemikiran yang tidak didapati pada kebudayaan yang diwujudkan oleh generasi yang mendahuluinya. Dalam kenyataan terlihat bahwa masyarakat-masyarakat setempat di papua mewujudkan tata cara kehidupan yang berbeda, system kekerabatan yang berbeda.
Pengetahuan mengenai alat-alat yang terbuat dari besi dan logam oleh masyarakat daerah di pedalaman Papua, diketahui setelah adanya pengaruh dari luar, yaitu dengan masuknya orang Eropa yang datang selain untuk mencari daerah penghasil rempah-rempah juga usaha untuk memperoleh kekayaan.
Begitu pula dengan penggunaan uang yang di buat Pemerintah Jajahan Belanda sebagai alat penukar untuk memperoleh barang-barang tertentu, sehingga mendorong sejumlah individu berusaha memperoleh uang yang di pertukarkan dengan barang-barang keinginannya.
Keadaan sebagaimana dijelaskan diatas terjadi pula hampir di semua daerah yang ada di dua Provinsi ini yakni Papua dan Papua Barat. Dimana sebelum masyarakat lokal menerima pengaruh dari luar, adat sangat berperan dalam kehidupan masyarakat setempat. Setelah masuknya pengaruh dari luar mengakibatkan peranan adat semakin berkurang (merosot-red), seperti masuknya pengaruh agama Kristen yang menyebabkan adanya pembakaran rumah-rumah tradisional serta hal-hal lain yang dilihat bertentangan dengan agama Kristen.
Masuknya system pemerintahaan formal turut juga mempengaruhi system pemerintahaan tradisional. Seperti semakin menurunnya dinamika gotong royong pada masyarakat. Selain itu terdapat pula perubahan pada rumah yang meliputi; bentuk, ukuran, dan bahan serta lokasi rumah tersebut.
Telah dijelaskan dimuka bahwa kebudayaan bersifat dinamis, sekarang muncul pertanyaan bila kebudayaan bersifat dinamis, apakah unsur-unsurnya juga bersifat dinamis? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu kita ketahui apa saja unsur-unsur kebudayaan itu. Sesuai data yang di input penulis, ada sebanyak tujuh unsur kebudayaan yang universal diantaranya yakni, Bahasa, Sistem Pengetahuan, Organisasi Sosial, Sistem Peralatan hidup dan Teknologi, Sistem Mata Pencaharian Hidup, Sistem Religi dan Kesenian.
Dari ketujuh unsur tersebut saya lebih memperhatikan unsur teknologi, secara khusus adalah teknik pembuatan rumah.
Mengapa teknik pembuatan rumah itu penting ? Alasan karena rumah mempunyai arti tertentu bagi pemiliknya. Rumah merupakan salah satu hasil kebudayaan yang terdapat pada semua masyarakat atau manusia di dunia.
Rumah dibangun dengan mempunyai bentuk, motif dan arsitektur dalam kebudayaan, selain itu selama ini sejumlah referensi yang berhubungan dengan teknik membuat rumah belum terungkap. Hal ini penting untuk diteliti sebelum punah, berubah dan menghilang.
Bagian pertama, fungsi sosial yaitu rumah tempat tinggal keluarga kecil atau keluarga besar, rumah suci, rumah pertahanan, dan rumah tempat berkumpul umum. Bagian kedua, fungsi pemakaian yaitu tenda atau gubuk yang segera dapat dilepas dan rumah untuk menetap.
Rumah juga berfungsi untuk menunjukkan wilayah klen tertentu (marga tertentu). Kondisi persoalan ini dipersulitkan oleh munculnya kecenderungan dari petuah-petuah itu sendiri untuk memilih rumah modern, karena tidak mempertahankan bentuk rumah tradisional. Keadaan ini juga berakibat pada menurunnya partisipasi dari sejumlah fungsionaris adat dalam rumah.....Semoga..!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
00.12
0
komentar
Label: EDITORIAL, SOSIAL BUDAYA
23 November 2008
Dalam Pemilihan Harus Demokrasi......!!!
Demokrasi merupakan bentuk perwujudan menuju suatu tatanan yang demokratis terhadap perwujudan suatu bangsa dan negara dimana tugas penyelenggara negara bertugas untuk menfasilitasi terwujudnya masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur.
Dengan demikian maka, tugas dari wakil rakyat adalah sebagai representatif rakyat untuk melayani kepentingan rakyat dan bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan semata. Karena negara ada karena ada rakyat, dan sebaliknya juga rakyat ada karena adanya Negara. Untuk itu hal ini yang harus diperhatikan oleh anggota DPRD sebagai wakil rakyat mulai dari Pusat, Provinsi Kabupaten dan Kota di seluruh Indonesia pada umumnya dan lebih khususnya di Negeri Papua ini.
Pasalnya, pesta demokrasi suatu negara tentunya akan berjalan baik apabila segenap rakyatnya terlibat aktif dalam mensukseskan pesta tersebut. Tetapi sayangnya sesuai defakto dilapangan, dimana masyarakat di negeri ini yang tersebar, di daerah pesisir pantai, daerah berawah, daerah gunung daerah berbukit dan daerah-daerah yang memang sulit di akses oleh kendaraan roda dua, roda empat tentunya akan mulai berargumen bahwa tidak mau terlibat dalam mengikuti pemilihan anggota DPRD tahun 2009 mendatang.
Kalau memang hal ini muncul dikalangan masyarakat kelompok akar rumput, bias saja saya secara pribadi menyimpulkan bahwa keterwakilan masyarakat di DPRD tidak sering memperjuangkan kepentingan rakyat. Hal ini jangan dilihat sepeleh, tetapi sangat dituntut untuk pihak terkait harus secara jelih melihat kondisi ini dan segera mengambil langkah-langkah konkrit untuk mengantisipasi apa yang direncanakan masyarakat untuk turut mensukseskan pemilihan anggota DPRD di tahun yang akan datang.
Untuk itu, kepada setiap partai-partai politik di seluruh Tanah Papua pada khususnya agar diharapkan saat ini telah berada di pintu akhir tahun 2008, dan tinggal beberapa saat lagi akan masuk di tahun 2009 agar dapat setiap partai sudah harus menyiapkan seorang figure yang benar-benar berjiwa nasionalisme atau berjiwa besar ketika kelak di pilih menjadi wakil rakyat dapat mengaspirasikan apa yang menjadi tuntutan dan hak-hak serta kebutuhan masyarakat akar rumput di negeri ini.
Sehingga kedepan, negeri Papua yang begitu luas dan begitu kaya raya akan kekayaan alam ini, menjadi negeri yang sejahterah. Ketika itu tercapai, maka manusia papua yang ada di negeri ini akan tidak lagi disebut masuk dalam lingkaran 4 K “Ketertinggalan, Keterbelakangan, Kemiskinan dan Kebodohan”. Ketika saya menjadi peserta pemilih, tentunya yang saya akan pilih dan coblos adalah seorang figure atau pemimpin yang betul-betul hadir untuk kepentingan rakyat dan negeri Papua ini.
Papua yang sudah ada sekitar ratusan tahun silam, yang kini membutuhkan seorang pemimpin yang betul-betul serius untuk melihat persoalan daerah dan mau berfikir keras untuk mengembangkan ide untuk melindungi kepentingan masyarakat terkait hak politik, ekonomi, sosial budaya dan pengormatan terhadap nilai-nilai demokrasi dan HAM di Tanah Papua pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Pesta demokrasi tentang pemilihan anggota DPRD di seluruh Indonesia, termasuk Tanah Papau sudah sampai di titik pertengahaan dan akhir, maka sudah saatnya mari kita berikan kesempatan kepada masyarakat adat untuk menduduki jabatan-jabatan strategis guna mengatur dan membangun negeri Papua yang kita cintai ini, dengan demikian akan ada kemampuan untuk membangun daerah ini, dan selanjutnya tugasnya kita sebagai para intelektual harus hadir untuk memberikan buah yang terbaik bagi mereka (masyarakat adapt-red) sesuai komitmen untuk membangun manusia dan negeri Papua ini melalui lingkaran “4 K” serta dari manusia Papua yang saat ini masih dipinggirkan dari sisi Ekonomi, Budaya dan Politik menuju manusia yang sejahterah.
Satu hal yang perlu saya tambahkan di akhir tulisan ini yakni pada pemilu legislatif 2009 mendatang masyarakat harus dapat memilih kader-kader terbaik dari partai apa saja dengan hati nurani dan sebaliknya bukan karena diiming-iming melalui memberikan uang dan sebagainya. Karena, sudah saatnya setiap figur yang mencalonkan diri wajib memberikan pembelajaran politik yang baik kepada masyarakat dan juga harus tinggalkan cara-cara lama yang mengobral janji-janji yang ujung-ujungnya akhirnya menjadi korban politik dan kemudian berdampak pada penderitaan masyarakat itu sendiri. Sementara elit-elit politik keenakan menari-nari diatas penderitaan masyarakat, sedangkan masyarakat hanya tinggal bersuara, sampai kapan penderitaan itu akan berakhir………Semoga…!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
23.49
0
komentar
My Number NPWP
My Daily
About Me
Blog Organisasi
-
Rapat Kerja Sinode GKII Wilayah I Papua - Rapat Kerja I Sinode GKII Wilayah I Papua akan dilaksanakan pada hari Selasa 11-14 Juli 2017 bertempat di Gedung Serba Guna GKII Bethesda yang terletak di ...8 tahun yang lalu
-
Mari Rebut Kembali Pasar. - Peningkatan kehidupan ekonomi masyarakat Papua hingga sampai saat era modern ini perlu mendapat perhatian penuh. Selama ini orang Papua asli hanya menjadi...16 tahun yang lalu
-
-
-
-
Please Your Respon..?
Peta Kunjungan