God Bless You All and Me

03 November 2010

Pdt. Dr. Benny Giay : Gereja Kingmi Papua Harus Berbenah Diri

Gereja Kemah Injil (KINGMI) Papua kini tengah berupaya untuk berbenah diri baik lembaga gereja maupun para petugas teras Sinode Papua. Hal itu dilakukan oleh pihak gereja Kingmi setelah melihat perkembangan Modernisasi yang mengancam eksistensi nilai-nilai agama dan kekhasan manusia Mee pada umumnya.

Ketua Sinode Kingmi Papua, Dr. Beny Giay pada pidato pembukaan Konfrensi Kingmi papua Koordinator Deiyai IX yang berlangsung selama tiga hari yakni 24-26 Oktober 2010 di Onago.

Dikatakan Benny, seluruh petugas gereja yang dimulai dari Majelis gereja hingga petugas wilayah sinode agar dapat mempertahankan eksistensi sebagai jemaat yang percaya kepada Tuhan sebagai Sang Pencipta. “Pemekaran kabupaten/kota ataupun provinsi merupakan suatu ancaman terhadap seluruh kehidupan.”ujarnya dihadapan ribuan jemaat.

Diakuinya, sejak 70-an tahun silam Kingmi Papua sudah berkembang akan tetapi, belum mewujudkan adanya perubahan-perubahan dalam kelembagaan agama itu, “termasuk manusia-manusia yang berkualitas dalam upayanya menciptakan sumber daya manusia (SDM)”ungkapnya, seraya mengharapkan setiap keluarga menjadi basis pendidikan, ekonomi, dan pemerintahan untuk menuju perubahan Papua secara utuhnya. (cr-17/jga)

seLENgkapnya......

Konferensi Kingmi Papua di Deiyai Menjadi Wahana Bangun Diri

Untuk membangun sebuah kabupaten adalah tangungjawab bersama semua komponen yang ada di wilayah ini. Sebab kabupaten yang baru dimekarkan seperti Deiyai adalah belum banyak yang dibangun oleh pemerintah. Sebab itu kami mengajak semua pihak termasuk pihak gereja agar memperhatikan pemerintah.

Sekretaris Daerah kabupaten Deiyai, Basilius Badii, BA yang membuka Konfrensi mewakili bupati itu mengajak agar pihak gereja memberikan kontribusi pikiran terkait dengan kemajuan wilayah ini. “saya sangat mengharapkan agar pihak gereja ikut menciptakan manusia Kingmi Papua yang mampu memperhatikan seluruh aspek kehidupan manusia termasuk kemajuan gereja,”kata badii.

Sementara itu Koordinator Klasis wilayah Deiyai Ev. Silas Pekey, mengutarakan kegiatan Konferensi ini harus menjadi wahana untuk membangun diri agar menata kembali gereja Kingmi Papua setelah mengalami perubahan. Untuk menata kembali agenda Sinode Papua dimana melalui kegiatan ini meletakkan pandangan-pandangan untuk mewujudkan gereja yang mandiri. 20 ribu jemaat yang ada di wilayah Deiyai dalam lima Klasis ini mesti memahami akan pentingnya membangun jemaat dari basis keluarga.

“Keluarga harus menjadi basis agama, pendidikan, kesehatan, ekonomi serta basis menanamkan pendidikan dan nilai agama dan budaya,”paparnya kepada media ini disela-sela acara pembukaan Konfrensi di Onago Senin (25/10) lalu.
Menurut Pekey, upaya membangun gereja yang memiliki fondasi manusia yang kuat, maka langkah awal yang dilakukan adalah membinaan terhadap petugas-petugas gereja. “Saya sangat mengharap sekali agar gereja Kingmi menjadi basis yang bisa memproduksi manusia yang bisa bertangungjawab,”cetusnya dengan serius.

Sementara itu menurut ketua Panitia Konferensi IX GKIP Koordinator Deiyai, Ateng Edoway, S.Pak, mengungkapkan 700 peserta itu adalah duta-duta dari lima Klasis yang ada diwilayah Deiyai, diantaranya, Klasis Yawamo, Klasis Tigi, Klasis Tigi Utara, Klasis Tigi Barat dan Klasis Yatamo. Mengawali kegiatan gerejani ini sebelum telah di laksanakan seminar-seminar yang dibawahkan oleh kaum intelektual Kingmi, semisal Drs. Menase Kotouki, MA, Amos Edoway, SE, Yosias Pakage, S.Sos.

Selain itu, kata Ateng Edoway yang Ketua Sementara DPRD Kabupaten Deiyai itu mengatakan, telah melakukan ujian terhadap 260 hamba Tuhan yang sebelumnya berstatus gembala jemaat. Dan setelahnya akan ditahbiskan menjadi Pendeta. 260 gembala jemaat itu memimpin 66 gereja yang tersebar di lima Klasis di wilayah Deiyai. (cr-17/jga)

seLENgkapnya......

02 November 2010

Sekilas Kabupaten Deiyai

Kabupaten Deiyai adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Papua, Indonesia. Wilayah Kabupaten ini dulu tercakup dalam Kabupaten Paniai. Pusat Pemerintahan Kabupaten ini secara definitif berada di Enarotali, Distrik Paniai Timur. Kabupaten ini di bentuk pada Tanggal 16 September 2009 berdasarkan UU No. 8 tahun 2008, bersama-sama dengan pembentukan 5 Kabupaten lainnya di Papua. Peresmiannya dilakukan oleh Mentri Dalam Negeri (Mendagri) RI, Mardianto pada tanggal 28 Juli 2009 di Jakarta.

Berikut ini adalah daftar Kampung/Desa per Distrik di Kabupaten Deiyai berdasarkan master wilayah skema 456 kabupaten/kota (keadaan Desember 2009) terbitan Badan Pusat Statistik, dengan beberapa penyesuaian pada saat itu wilayah yang kini menjadi Kabupaten Deiyai masih berada dalam jurisdiksi Kabupaten Paniai, beberapa Distrik baru masih belum terbentuk yakni Distrik Debei dan Distrik Tigi Utara, beberapa distrik itu masih menjadi bagian dari Distrik Tigi Barat.

Distrik desa/kampung Tigi yakni, Waghete, Bomou I, Yaba Dimi, Yaba Mugouda, Okomo, Okomo Butu, Bomou II, Bomou III, Bomou IV, Atouda, Ugiya. Tigi Timur, Watiyai, Edarotali, Dagokebo, Damagabata, Kokobaiya, Dakebo, Bagou. Bouwobado, Kopai I, Kopai II. Kapiraya, Kapiraya & Komanog Kokomau. Tigi Barat, Ayatei, Diyai Onago, Tenedagi, Meiyapa, Yinudoba, Widuwakiya, Demago, Pudu Puyai, Gakokebo, Yagu.

Pembangunan di pioritaskan pada bidang prasarana wilayah (insfratruktur) dimaksudkan untuk mensejahterakan masyarakat serta memaju pertumbuhan daerah terpencil agar berkembang lebih cepat untuk mengejar ketinggalan dengan daerah lainnya serta mengembangkan kreatifitas dan persaingan antar wilayah sesuai kemampuannya.

Prasarana wilayah dapat ditangani secara baik dengan tujuan dapat penyesuaian tentang kendali manajemen pemerintah, pelaksanaan pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan, juga untuk memperpendek jangkauan pelayanan dan pendekatan kepada masyarakat yang kini masih memerlukan pertolongan dan kasih sayang dari Aparat Pemerintah

Kehadiran Penjabat Bupati Deiyai

Penjabat Bupati Deiyai, Drs. Blasius Pakage diantar Bupati Paniai, Naftali Yogi, S.Sos pada Kamis (11/06-2009) dan disambut meriah oleh masyarakat Deiyai dan Suku Nusantara serta Pemerintah Local dari 5 Distrik yakni, Tigi, Tigi Timur, Tigi Barat, Kapiraya dan Bouwobado.

Sejak menjabat Bupati Deiyai, dua bulan kemudian atau tepatnya pada bulan september 2010 kabinetnya dalam hal ini pimpinan dan staf satuan kerja perangkat daerah (SKPD) baik eselon II, III dan IV di lantik. Beberapa poin inti yang akan di lakukan dalam kepemimpinannya yakni, (1). Penyiapan perangkat kerja organisasi pemerintah daerah (pemda-red) atau yang lazimnya di sebut SKPD yang akan membantunya dalam pemerintahaan di awal masa perintisan ini, karena tanpa adanya SKPD maka sulitnya menunjang birokrasi pemerintahan di daerah ini; (2). Membentuk anggota Legislative serta membangun Kantor Legislative (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah-DPRD Kabupaten Deiyai-red); (3). Menetapkan “MORATORIUM” dengan kata lain menertibkan keamanan, menyiapkan aparat pemerintahaan dan menciptakan situasi yang aman dan tentram, serta menciptakan kebersamaan, kekompakan dan kerja sama dari semua pihak-pihak yang berkompoten di daerah Deiyai ini.

Selain itu juga, hadirnya pemerintah di Deiyai ini merupakan salah satu alat control yang mampu dan siap mengedepankan pembangunan di daerah ini, dari semua Segi, baik itu segi Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi Kerakyatan dan terlebih mempercepat Pembangunan Infrastruktur, baik melalui darat maupun udara.

Pada kesempatan itu Bupati Kabupaten induk Paniai, Naftali Yogi, S.Sos menegaskan bahwa ketika pemilihan Figur Calon Bupati dan Wakil Bupati Definitiv pada tahun mendatang di harapkan agar figur yang telah di pilih oleh masyarakat itu sudah sepatutnya harus di dukung sepenuhnya, dan jangan lagi ada tuntutan-tuntutan dari setiap figur lainnya yang kalah dalam pemilihan, supaya hal-hal demikian itu tidak menghalangi jalannya pembangunan khususnya di negeri Deiyai yang penuh dengan susu dan madu (sumber daya alam-red) ini.
Masyarakat suku Mee yang ada di Deiyai sangat mengharapkan agar dengan kehadiran kabupaten Deiyai ini akan memberikan angin segar untuk menuntaskan secara bertahap dari ketertinggalan, keterpinggirkan, keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan dan lain-lainnya.

Masyarakat Mee di Deiyai juga tidak ingin kalau saja, adanya perdagangan minuman keras (miras-red), perdagangan Pekerja Seks Komersial (PSK), dan perdagangan Narkoba. Juga masyarakat tidak ingin pemimpin itu kerjanya disini (Deiyai), tetapi akhirnya melakukan Tanam, Panen dan Mengambil Hasilnya di tempat lain. Dan masyarakat dengan senang hati memberikan Tanah, Air, Hutan, Sumber Daya Alam (SDA) kepada pemerintah.

Pemimipin Berjiwa Membangun, Itulah Pilihan Masyarakat Mee di Deiyai

Sebenarnya pemimpin yang di sukai masyarakat Mee di Deiyai adalah pemimpinan yang berjiwa membangun. Kaca mata media ini, bahwa apa yang di inginkan masyarakat Mee yakni suatu hari nanti ada terjadi perubahaan dari banyak segi. Baik, pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, infrastruktur dan bahkan industri pertambangan yang akan memberikan masa depan yang cerah bagi Deiyai dan masyarakatnya.

Daerah pemekeran Deiyai sangat dan sangat sekali membutuhkan figur yang berjiwa membangun, bukan yang berjiwa pecundang, bahkan terlebih koruptor. Sebab adanya pemekaran daerah khususnya hadirnya Kabupaten Deiyai adalah aspirasi benar dari masyarakat akar rumput yang di dasari pada rasa ketidakpuasan atas berbagai kesenjangan pembangunan, seperti kesenjangan wilayah, pendapatan, kesempatan kerja, kesempatan memperoleh pendidikan, kesehatan dan lain-lainnya.

Selain itu pula, diindentifikasikan bahwa selama ini hasil-hasil pembangunan yang sudah dilaksanakan, dirasakan belum memenuhi rasa keadilan atau belum merata ke seluruh pelosok-pelosok wilayah termasuk yang ada di daerah ini (Deiyai-red).

Akankah ada pemimpin yang siap merubah nasib Deiyai ini kah..? ataukah pemimpin yang telah di lantik oleh Pemerintah Pusat Akhir bulan Mei 2009 lalu, yakni Blasius Pakage bisakah membangun atau merintis daerah Mee ini menjadi daerah yang maju secara pesat dengan daerah-daerah lainnya yang sudah lebih dulu maju, ataukah sebaliknya..?? Apakah dengan hadirnya pemimpin Carateker di Deiyai ini benar-benar kelak akan mengurangi berbagai kesenjangan-kesenjangan. Ataukah sebaliknya..? Jawabannya ada pada Pemimpin itu sendiri dan juga masyarakat setempat.

Perlu di ketahui bahwa, kabupaten Deiyai telah di sahkan oleh DPR RI pada tanggal 29 Oktober 2008. Jika melihat kondisi geografis Papua pada umumnya dan lebih khususnya di Kabupaten Deiyai itu sendiri dimana luas wilayah dan kondisi geografis sangat mudah untuk dibangun asalkan ada kemauan keras dari pihak-pihak yang berkompoten yakni pejabat birokrat. Pasalnya untuk membangun kabupaten Deiyai, tidak akan bisa dibangun oleh satu pihak saja, dan memang membutuhkan uluran tangan dari pihak-pihak lainnya, baik Kabupaten Induk (Paniai-red), Provinsi dan Pemerintah Pusat.

Kesenjangan Deiyai

Keterlambatan kemajuan daerah ini juga kerena minimnya sarana dan prasarana transportasi, menyebabkan pelayanan pemerintah belum menjangkau ke seluruh masyarakat khususnya di daerah terpencil dan terisolasi, disamping terbatasnya dana dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan, mengakibatkan kondisi sosial masyarakat masih memprihatinkan, tertinggal dan terbelakang.

Bahkan masih ada masyarakat terasing yang belum tersentuh oleh pemerintah, sebab luas wilayah yang sulit ditempuh menyebabkan pula terjadinya lepas kendali dan terbelangkahinya jangkauan pelayanan pemerintah kepada masyarakat serta lambannya pembangunan di wilayah tersebut akibat kesulitan transportasi.

Sehingga untuk meningkatkan pastisipasi dan menjawab semua persoalan tersebut, perlu adanya terobosan baru melalui suatu kebijakan khusus, antara lain melalui pembentukan satuan administrasi pemerintah baru, terutama di daerah-daerah yang masih tertinggal. Tetapi perlu juga di ingat bahwa bagaimana caranya yang tepat...???

Sebab untuk merubah kesenjangan pembangunan sangatlah di butuhkan Figur yang takut akan Tuhan, berjiwa besar dan benar-benar seorang Figur yang ingin mau merubah kesenjangan pembangunan kearah yang lebih baik, dan sebaliknya bukan Figur yang suka melakukan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Masyarakat Mee di Deiyai “Tolak Miras, Portitusi (PSK), Narkoba, Judi & KKN”

Sekarang banyak orang sedang membuka mata, telinga dan hati serta perhatihan penuh pada Kabupaten Deiyai, yang saat ini terletak tepat di jantung kota Distrik Tigi. Karena tentunya yang namanya Deiyai adalah barang baru alias Daerah Baru, yang di atas Kabupaten itu tertidur kekayaaan alam yang sangat melimpah ruah, mulai dari Emas, Hutan, Binatang serta tanah yang subur dengan di tumbuhi segala jenis tanaman pangan.

Apa yang di sepakati masyarakat akhirnya tercapai sudah, dimana akhir tahun 2008 Pempus mengeluarkan RUU (rancangan undang-udang) tentang pembentukan kabupaten baru di Kabupaten Induk Paniai yakni Deiya dan Intan Jaya. Selang beberapa bulan kemudian atau tepatnya pada hari Selasa, 26 Mei 2009, Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden Republik Indonesia telah melantik Penjabat Bupati Intan Jaya, Maximus Zonggonau dan Penjabat Bupati Deiyai, Drs. Blasius Pakage di Aula Sasana Bhakti Praja Departemen Dalam Negeri di Jakarta. Selanjutnya, ke dua Penjabat Bupati tersebut diantar secara terpisah pada hari yang berbeda oleh Bupati Induk Paniai, Naftali Yogi. Penjabat Bupati Deiyai diantar pada Kamis (11/6-09) ke Waghete Ibu Kota Kabupaten dan Penjabat Bupati Intan Jaya diantar pada Sabtu (13/6-09) di Sugapa, sebagai letak Ibu Kota Kabupaten.

Arti dari nama itu telah menjadi satu rahasia tersendiri bagi masyarakat setempat di Negeri ini, karena yang pastinya Deiyai merupakan sebuah kata indah dari kekayaan yang masih sampai dengan saat ini terpendam di dalam tanah yang sebagaimana di sebut orang Papua pada umumnya yakni sebagai “MAMA”.

Sudah barang tentu, ketika mata, telinga, hati dan perhatian mulai di manfaatkan tidak lain dan tidak bukan adalah hanya untuk akan melihat, mendengar, merasakan dan menunjukan pada hal-hal yang baru pula. Misalnya saja, Kabupaten Deiyai ini, yang sebagaimana merupakan daerah pemekaran baru dari Kabupaten Induk Paniai, yang telah di mekarkan pada tahun 2009 lalu, dan kabupaten ini sudah memiliki seorang pemimpin yang akan merintis daerah ini dengan satu pondasi yang kuat, sehingga kelak tidak lagi rubuh atau rusak ketika di saat badai atau tantangan datang silih berganti.

Artinya siapapun dia, baik orang asli Mee, orang Papua bahkan orang non Papua akan datang berbondong-bondong ke daerah ini, dengan berbagai kepentingan masing-masing. Terutama menyangkut investasi besar-besaran di daerah ini. Sebenarnya, adanya hal-hal itu sangat sekali di kehendaki oleh masyarakat setempat, karena sudah saatnya daerah inipun juga harus secara pesat berubah dari Keterpurukan, Ketertinggalan, Keterpinggirkan, Keburukan, Kemiskinan, Kebodohan dan bahkan hal-hal negative lainnya.

Tetapi jangan harap kalau saja ada orang, baik orang local Mee, orang Papua bahkan orang pendatang (non Papua), yang datang ke daerah ini dan melakukan investasinya seperti Perdagangan Minuman Keras (Miras), Perdagangan Pekerja Seks Komersial (PSK), Perdagangan Narkoba, Bisnis Judi atau Kupon Putih (Kupu) bahkan yang paling tidak diinginkan oleh masyarakat Mee di Deiyai yakni di lakukannya Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) oleh semua Pejabat. Beberapa poin-poin tersebut merupakan hal terpenting yang harus mulai di berantas dari sekarang, atau saat-saat daerah ini masih di bilang dalam tahap pondasi atau kata lainnya lagi masih berusia seumur jagung ini.

Hal demikianlah, secara konkrit memang sangat diharapkan terelebih kepada Tokoh-Tokoh Intelektual, Tokoh Pemuda, Tokoh Perempuan, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, juga pimpinan-pimpinan pemerintah, baik Kepala Kampung, Kepala Distrik bahkan juga Penjabat Bupati, terkait dengan penolakan segala macam bisnis yang hanya dapat merugikan Tanah, Daerah, serta Masyarakat setempat dari virus-virus ini “Miras, PSK, Narkoba, Judi bahkan KKN”.

Apa itu Miras, PSK, Narkoba, Judi dan KKN

“MIRAS”. Perlu di ketahui bahwa ketika kelak hadirnya Miras di Negeri Deiyai ini akan berdampak pada Perkelahian, Pembunuhan, Pemerkosaan, Pencurian, Penganiayaan, Pembodohan, Malas, dan Tidak Kreatif, Apatis, Asosial. Itulah beberapa dampak-dampak negative yang akan terjadi kelak, apabila perdagangan Miras seperti (Brendi, Mension, Wiski, Bir, Anggur, Arak, Baram, Tuak, Topi Miring, Cap Tikus bahkan minuman-minuman lokal lainnya seperti Bobo, Saguer dan lain-lain) di izinkan atau di Perdakan oleh Pemerintah Daerah setempat.

Kalau di daerah yang sudah berusia tua, tentunya masalah Miras semakin sulit untuk diberantas karena banyak invisible hands yang menjalin mata rantai pemasaran dan pengamanannya. Pasalnya, hingga saat ini memang sering kita baca di Koran dan nonton di TV bahwa pemusnahan terhadap sejumlah Miras hasil sitaan pihak berwajib, namun tampaknya tidak menyurutkan peredaran Miras, malah semakin merajalela di mana-mana. Hal ini disebabkan karena yang dilakukan oleh aparat hanyalah menyita sebagian saja dari beberapa Toko tertentu yang tidak memiliki ijin dan penyelundupan Miras, tapi tidak memangkas mata rantainya dan menegakkan aturan yang berhubungan dengan Miras.

Sebenarnya peraturan hukum tentang Miras ini sudah cukup memadai dalam KUHP, misalnya pasal 536,538,539 semuanya telah mengatur tentang Miras, hanya saja menurut hemat saya perlu direvisi dan dipertegas lagi agar betul-betul mengenai sasarannya. Berdasarkan informasi dari salah seorang ahli hukum, keraguan menindak orang yang berhubungan dengan Miras ini, salah satunya adalah karena pasal-pasal yang mengatur tentang Miras itu masih rancu dan kurang jelas dan banyak tidak mengenai sasarannya. Sehingga itu sulit di berantas karena sudah tentunya daerah-daerah itu telah berusia tua, kebanding daerah Deiyai ini, yang mana saat ini masih belum bisa berjalan sehingga apa salahnya kalau pihak-pihak yang berkompoten di daerah ini mulai mempertegas kearah yang lebih baik.

“PSK”. Begitu juga jika kalau di daerah ini di izinkan Pemerintah Daerah untuk adanya perdagangan PSK, maka dampak negative kedepan yang akan terjadi di daerah ini adalah meningkatnya penyakit HIV-AIDS, karena sudah barang tentu bahwa setiap PSK yang datang 100 persen sesuai degan hemat saya adalah positif HIV-AIDS.

“Narkoba”. Masalah lainnya yakni masalah Narkoba, jika di izinkan lagi oleh pihak-pihak yang berkompoten maka yang akan menjadi sasaran utama dampak negative adalah anak-anak muda (pelajar SLTP, SLTA dan Mahasiswa). Semua jenis Narkoba mempunyai efek yang sangat berbahaya bagi pemakainya, misalnya kematian langsung, kanker, ketergantungan terhadap obat-obat terlarang, pemalas, menjadi bodoh, tidak kreatif, pendiam, suka melawan, dan kurang nafsu makan. Begitu juga dampak penyalahgunaan Narkoba yakni “Merusak hubungan kekeluargaan; Menurunkan kemampuan belajar; Ketidak mampuan membedakan mana yang baik dan buruk; Perubahan perilaku menjadi asosial; Merosotnya produktivitas kerja; Dan gangguan kesehatan”.

Dengan demikian penyalah gunaan Narkoba mempunyai dampak yang sangat besar pada Tatanan social keluarga dan masyarakat sehingga dapat terjadi tindakkan criminal dan gangguan ketertiban dan keamanan. Pokoknya Narkoba adalah pembunuhan secara perlahan namun pasti terhadap semua pemakainannya atau dengan kata lain “Generation Cleansing“ atau pemusnahan generasi.

Mengapa ? Karena Narkoba merupakan jaringan bisnis yang besar dan global dengan memiliki satu tujuan politik mendasar, yaitu menghancurkan generasi yang akan datang dengan cara membodohkan mereka. Hal ini ada hubungannya dengan persaingan antar Negara-negara di dunia ini untuk muncul sebagai Negara adikuasa. Untuk tujuan itu, maka generasi muda beberapa Negara yang menjadi saingan tadi harus “dihancurkan” agar gampang dikuasai.

Pasalnya, ada banyak alasan mengapa orang mengkomsumsi Narkoba, diantaranya: “Karena gampang diperoleh (availability), ingin tahu dan mencoba (Curiosity and Experiment) mencari identitas diri (Self – Identity), akibat depresi (depression) perlawanan (rebellion) akibat rumah tangga yang berantakkan/orang tua super sibuk (lack of love and attention), agar dapat diterima dikalangan teman-teman sejawat (Accepted bypeer group) dan upaya untuk menghilangkan stress, kebosanan hidup dan rasa sakit (as a way of relaxor cope with stress, boredom and pain)”.

Ciri-ciri seseorang yang mengkomsumsi Narkoba dapat dilihat karena; “Rasa Gembira yang berlebihan meskipun tidak wajar. (Karena fungsi kendali otak menjadi lemah); Rasa harga diri meningkat sehingga pemakai merasa diri hebat namun semuanya semu belaka; Dan banyak bicara walaupun alur bicaranya sukar diikuti”.

Menurut berita-berita di surat khabar, sasaran Narkoba bukan saja anak-anak muda tapi juga orang dewasa dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk pula pegawai negri dan polisi. Narkoba bukan saja beredar di kota-kota, tapi juga di desa-desa, termasuk “Deiyai”, hal itu jika saat ini tidak di kontrol baik oleh semua komponen yang berkompoten di Negeri ini. Pasalnya, sudah bukan rahasia umum bahwa Narkoba adalah sebuah bisnis yang besar dan global serta memiliki mata rantai yang sangat rapih dari berbagai unsur terkait mulai dari produsen, pengedar, konsumen, aparat hukum, aparat keamanan dan bahkan elit politik, itulah sebabnya Narkoba sulit diberantas hingga saat ini sekalipun Undang-Undang yang mengatur tentang hal itu sudah ada. Misalnya UU NO 5/1997 tentang Psikotropika dan UU no 22/1997 tentang Narkotika.

“Judi”. Masalah lainnya, yakni Judi. Dimana perkembangan Judi Kupu ini khususnya di kota-kota besar, tumbuh bagaikan jamur dimusim hujan. Berdasarkan hasil update saya melalui salah satu LSM bahwa ekses yang kurang baik dari Kupu ini yaitu mulai dari system tertutup, sekarang sudah terbuka dapat disaksikan di mana-mana. Informasi utama yang ditanyakan oleh setiap pegawai saat pergi ke kantor adalah informasi tentang nomor Kupu yang berhubungan dengan ekor, puluhan, ratusan, dan ribuan. Kemudian apakah ekor dan puluhan tersebut ganjil atau genap. Disamping di utak-atik melalui rumus, ada yang mencoba menganalisis berbagai mimpi. Dampak negative yang lain, yaitu takkala tidak ada uang untuk membeli Kupu, utang pada temanpun jadi.

Yang lebih parah lagi, sering uang belanja, uang untuk beli susu, uang untuk koperasi, uang untuk Harisan, harus di korbankan untuk membeli Kupu ini. Pernah suatu hari ditempat orang mati, seseorang harus segera pulang dengan alasan takut terlambat memasang buntut. Memang sulit untuk menyimpulkan apakah Judi Kupu ini lebih banyak merugikan atau bahkan menguntungkan bagi para pecandunya karena hingga saat ini belum pernah ada penelitian mendalam tentang hal itu. Yang sering terjadi adalah perkelahian antara Sub Bandar dengan pemenangnya, karena tidak bisa membayar semua kemenangannya. Kehancuran rumah tangga atau pencurian terhadap Kupu ini masih belum terdengar.

Penindakkan terhadap pecandu Kupu masih belum ada, kecuali pada bandarnya, namun dilepas kembali mungkin karena pasal dan ayat KUHP yang khusus menyebut tentang hal itu belum ada. Sebenarnya beberapa pasal dan ayat dalam KUHP sudah ada menyinggung tentang Judi, namun tampaknya masih lemah dan kabur, sehingga perlu direvisi dan dipertegas lagi tentang jenis-jenis Judi yang dilarang dan bentuk tindakkan dan hukumannya.

“KKN”. Masalah terakhir yakni tentang KKN. Perlu kita ketahui bahwa, jika di daerah ini (Intan Jaya) di awal-awal perintisan bermula dengan KKN, maka apa yang di cita-citakan oleh masyarakat Moni, seperti adanya perubahaan pembangunan di daerah ini yang saat ini masih di bilang sangat jauh dari daerah-daerah lain misalnya, Keterpurukan, Ketertinggalan, Keterpinggirkan, Keburukan, Kemiskinan, Kebodohan dan bahkan hal-hal negative lainnya, tidak akan tercapai.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa Miras, PSK, Narkoba, Judi dan KKN adalah salah satu perbuatan yang melanggar hukum dan membawa dampak negative yang sangat besar dibanding positifnya. Apalagi bila dilihat dari sisi agama, lebih banyak masalah dari pada manfaatnya, dan semua agama dengan tegas melarang umatnya untuk mengkonsumsi Miras, Narkoba, Jajan Seks sembarangan, bermain Judi bahkan melakukan KKN.

Oleh sebab itu, saat ini adalah saat yang tepat untuk meningkatkan upaya penanggulangannya agar berbagai dampak negative dari Miras, PSK, Narkoba, Judi dan KKN tidak dapat terjadi di daerah Deiyai yang di kenal dengan melimpahnya kekayaan alam ini. Melalui kebersamaan dari semua komponen yang berkompoten, misalnya Pemda Kabupaten Deiyai, Pengusaha-pengusaha (Investor), Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, Tokoh Perempuan, LSM-LSM, dan lain sebagainya di awal-awal pelaksanaan kegiatan pembangunannya, dan tidak perlu lagi ada izin melalui PERDA dan lain-lainnya...!!! (jga)

seLENgkapnya......

29 Oktober 2010

Alex Pekei : “Monitoring dan Evaluasi Keuangan SKPD di lakukan bulan November 2010”

Kepala Inspektorat Kabupaten Deiyai melalui Sekretarisnya, Alex Pekei, S.Pd kepada media ini, Jumat (29/10) lalu ketika dikonfirmasi terkait dengan kegiatan monitoring dan Evaluasi data administrasi keuangan oleh pihak Inspektorat di lingkungan pemerintah kabupaten Deiyai. Kepada media ini, Ia mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan monitoring dan evaluasi data administrasi keuangan yang dimulai dari tingkat Distrik.

Pasalnya, ada sebanyak 5 distrik di Deiyai, yang mana beberapa Distrik seperti Distrik Tigi, Tigi Timur dan Tigi Barat telah di lakukan audit oleh pihaknya, sementara 2 distrik yang jauh dari Ibu Kota Kabupaten seperti Distrik Bouwobado dan Kapiraya sedang dilakukan audit.

“Setelah dua distrik itu kami lakukan audit, barulah kami akan melakukan audit di semua satuan kerja perangkat daerah (SKPD) seperti Dinas, Badan dan Kantor di lingkungan pemerintah kabupaten Deiyai,”ujarnya.

Dikatakannya, sementara ini, pihak Inspektorat lagi fokus untuk melakukan audit administrasi keuangan di tingkat Distrik, setelah itu baru ke Dinas, Badan dan Kantor di Lingkup Kabupaten Deiyai.

Untuk itu, kata Alex kepada semua SKPD diharapkan sudah bisa menyiapkan data administrasi keuanganya dari sekarang, karena tidak lama lagi (pada bulan november minggu pertama atau kedua-red) staf dari Inspektorat sudah mulai turun kelapangan (turlap-red) guna melakukan kegiatan audit data administrasi keuangan.

“Tetapi yang jelasnya, satu minggu sebelum pelaksanaan audit, akan kami bagikan undangan kepada semua SKPD di lingkup Kabupaten Deiyai, supaya biar jelas agar semua SKPD tidak keliru dalam persiapan pelaksanaan audit yang dilakukan oleh staf-staf dari Inspektorat.”tandasnya. (jga)

seLENgkapnya......

Biak Juara Umum Festival Kreasi Seni se Papua

Kontingen Kabupaten Biak Numfor ditetapkan sebagai juara umum festival kreasi seni XI se-Papua dan merebut piala bergilir Gubernur Papua Barnabas Suebu SH, Minggu malam. Empat jenis lomba festival kreasi seni XI, kabupaten Biak Numfor merebut dua juara satu, di antaranya kategori cerita rakyat (sosio drama) dan Pop singer putra.

Sementara di kategori lomba jenis penataan stand pameran Biak dan pop singer putri, kabupaten Biak Numfor sebagai juara harapan satu serta harapan dua tari balada Cenderawasih. Gubernur Papua Barnabas Suebu, dalam sambutan yang dibacakan Sekretaris Daerah Biak Drs Johanis Than MM mengatakan, festival seni itu sebagai upaya meningkatkan kreasi seniman daerah ini.


Melalui ajang festival kreasi seni se-Papua ini diharapkan menghasilkan seniman-seniman Papua berkualitas dan sanggup bersaing dengan seniman daerah lain di Indonesia bahkan seluruh dunia. Pelaksanaan kegiatan ini di tahun mendatang harus lebih baik penataannya sehingga setiap kabupaten/kota dapat berpartisipasi mengirim peserta mengikuti festival kreasi tersebut.

Gubernur Suebu menyampaikan selamat kepada para pemenang lomba sementara bagi peserta yang belum berhasil dapat menjadikan motivasi untuk mencapai keberhasilan di masa mendatang.“Kegagalan adalah sukses yang tertunda. Saya juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada tuan rumah kabupaten Biak Numfor yang meraih juara umum pada festival kreasi seni se-Papua 2010,” ujar Gubernur Suebu.

Selain juara umum direbut kabupaten Biak Numfor, panitia pelaksana festival kreasi seni XI se-Papua juga menetapkan kabupaten Paniai sebagai tim favorit dalam festival kreasi seni 2010.uara setiap jenis lomba masing-masing, tari balada Cenderawasih juara I (Asmat), juara II (Yapen Kepulauan) dan juara III (Yakukimo), harapan I, II dan III direbut Paniai, Biak Numfor dan kabupaten Waropen.

Lomba cerita rakyat (sosio drama) juara I ( Biak Numfor), juara II (Supiori) dan juara III (Asmat), sementara juara harapan I, II dan III direbut kabupaten Yahukimo, kabupaten Yapen Kepulauan serta kabupaten Waropen. Kategori pop singger putra, juara I Biak, juara II kabupaten Yapen Kepulauan dan juara III Supiori, sedangkan juara harapan I, II dan III masing-masing kabupaten Asmat, Yahukimo dan Yapen kepulauan.

Untuk jenis lomba pop singger putri, juara I (Biak), juara II (Yahukimo), juara III (Asmat) sedangkan harapan I, II dan III direbut kontingen Biak, Supioiri dan kabupaten Waropen.

Kategori lomba penataan stand pameran, juara I (kabupaten Yapen kepulauan), juara II (Waropen), juara III (Supiori) sementara juara harapan I, II dan III masing-masing disabet kabupaten Biak, Yahukimo dan kabupaten Asmat. [jga-Antara]

seLENgkapnya......

27 Oktober 2010

Boaz Menangkan Persipura, Ketika melawan Persibo Bojonegoro

Trend positif tim ‘Mutiara Hitam’ Persipura Jayapura di ISL musim ini terus berlanjut. Setelah sukses menekuk Persijap Jepara dengan skor 3-1, anak –anak asuh Jacksen F Tiago kembali menuai poin penuh usai menaklukkan tuan rumah, Persibo Bojonegoro dengan skor tipis 1-0, Rabu (27/10), di Stadion Brawijaya Kediri.

Sejak babak pertama dimulai kedua tim bermain dalam tempo lambat. Walau demikian tim tuan rumah sempat memperoleh beberapa pelung mencetak gol. Dimenit ke-24 sebuah tendangan keras Cucu Hidayat dari luar kotak penalti masih mampu digagalkan penjaga gawang Persipura, Yoo Jea Hoon. Begitu juga dengan peluang yang diperoleh Victor da Silva di menit ke-27 dan Samsul Arif pada menit ke-30 belum mampu menebus gawang Persipura.

Tim ‘Mutiara Hitam’ sendiri nyaris tanpa peluang yang berarti sepanjang babak pertama berlangsung. Skor 0-0 akhirnya bertahan hingga jeda.

Memasuki babak kedua Persibo Bojonegoro tetap mengendalikan permainan. Beberapa kali tim asuhan Sarto Anwar ini mengancam gawang Persipura. Merasa kalah agresif dalam penyerangan, pelatih Jacksen F Tiago akhirnya menarik keluar Gerald Pangkali dan Titus Bonay yang digantikan oleh Lukas Mandowen dan Ricardo Salampessy. Masuknya kedua pemain ini cukup efektif. Terbukti dua kali Lukas memperoleh peluang namun masih gagal menembus jala Persibo yang dikawal Wahyudi.

Sejak itu Persipura mulai mengambil alih serangan. Permainan dari kaki ke kaki yang menjadi ciri khas Persipura mulai terlihat. Hasilnya berkali-kali tim ‘Mutiara Hitam’ merepotkan barisan pertahanan tuan rumah. Sayang tak satupun gol mampu tercipta.

Gol yang dinanti-nantikan oleh kubu Persipura akhirnya terjadi juga di menit ke-88 melalui Boaz Solossa. Boaz yang menerima umpan terobosan Zah Rahan berhasil mengecoh penjaga gawang Wahyudi sebelum melepaskan tendangan menyusur tanah ke sisi kiri gawang Persibo. 1-0 Persipura unggul. Gol ini sekaligus menjadi gol ke-9 Boaz dimusim ini dan makin memantapkan psosinya sebagai top skor sementara ISL.

Meski Persibo Bojonegoro masih terus berusaha menyamakan skor dimenit-menit akhir pertandingan, namun hingga wasit meniupkan pluit panjang tanda pertandingan berakhir skor 1-0 untuk kemangan Persipura tetap tak berubah.

Dengan tambahan tiga angka ini Persipura Jayapura masih memimpin klasmen sementara ISL dengan torehan 16 poin dari 6 laga yang telah dilakoninya. Persipura Jayapura akan kembali bertandingan, Minggu (31/10), di Stadion Mandala Jayapura menghadapi Deltras Sidoarjo. (Arjuna)

seLENgkapnya......

Bantuan Pendidikan masih ditangani Sekda bagian Sosial

Terkait dengan adanya pertanyaan yang dilontarkan oleh mahasiswa deiyai se-Indonesia terkait dengan bantuan dana pendidikan (Beasiswa), kepada media ini, Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Kabupaten Deiyai, Johanis Adii, S.Pd, Rabu (27/10) lalu mengatakan bahwa hingga sampai dengan tahun 2010 (tahun pertama hadirnya pemerintahaan Kabupaten Deiyai-red) ini tidak ada pos dana dalam Daftar Perincian Anggaran (DPA) Dinas Dikbudpora Kabupaten Deiyai.

Pasalnya, kata Adii. Sementara pos dana bantuan pendidikan seperti beasiswa dan lain-lainnya itu ditangani langsung oleh Sekda bagian Sosial, jadi sekarang tidak lagi ada pemikiran yang bukan-bukan dari anak-anak mahasiswa Deiyai se-Indonesia bahwa dana bantuan pendidikan ada di dinas Dikbudpora.

“Sudah sangat jelas sekali, bahwa ditahun pertama pemerintahaan Deiyai dana bantuan pendidikan tidak ada di dalam DPA Dinas Dikbudpora. Kalaupun ada pastinya akan di usulkan untuk tahun-tahun berikutnya,”tegasnya.

Ditambahkannya, perlu juga anak-anak mahasiswa ketahui bahwa Deiyai merupakan kabupaten baru tidak sama dengan Kabupaten Induk Paniai atau kabupaten-kabupaten lainnya sudah maju dan mandiri. Kita di deiyai saja sampai saat ini, dengan dana sedikit kita gunakan untuk pembangunan seadanya. Misalnya, untuk dinas pendidikan, pembangunan yang dilakukan diantaranya Pembangunan Gedung Perpustakaan di beberapa sekolah, Pembangunan 4 Ruang Kelas Belajar dan pengadaan Meubelair.

Sementara intensif yang didapatkan oleh 14 SMP dan SMA/SMK di Deiyai, kata Kadin “Itu langsung dikucurkan dari Dirjen Pusat ke rekening sekolah-sekolah. Ya, yang jelasnya tahun-tahun berikut akan di usahakan, supaya Dinas Dikbudpora bisa menangani langsung bantuan pendidikan tersebut seperti sebagaimana yang di tanyakan oleh anak-anak mahasiswa Deiyai se-Indonesia itu dan begitupun juga dengan Dinas Sosial Kabupaten Deiyai…!!! .(jga)

seLENgkapnya......

Menuju “Deiyai Baru” di Butuhkan Kerja Keras

Demikian beberapa kata sederhana yang dapat saya paparkan dalam kop atau judul diatas ini. Dalam artian bahwa untuk mewujudkan 'Deiyai Baru' yang sejahtera, aman dan damai, sangatlah di butuhkan kerja keras dengan penuh kesadaran, ketulusan serta penuh pengorbanan dari semua pihak yang berkompoten di negeri ini.

Satu hal keberhasilan yang belum bisa saya buktikan sebagai contoh, karena sudah tentu semua kita telah mengetahui bahwa Kabupaten Deiyai ini masih di bilang berusia seumur jagung atau dengan kata lain masih berada pada tahap pembangunan pondasi.

Singkat kata, dalam tulisan ini saya belum bisa mengungkapkan panjang lebar menyangkut apa-apa saja yang sudah berhasil dalam artian dari sisi keberhasilan pembangunan, karena semua kita sudah tahu bahwa daerah ini adalah daerah baru yang di mekarkan dari daerah induk kabupaten Paniai, yang hingga kini masih membutuhkan banyak hal pembangunan dari berbagai sector yang pula juga tidak terlepas dari point-point penting yang terdapat dalam UU No. 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus (Otsus-red) Papua, diantaranya, Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi Kerakyatan dan Infrastruktur.

Menurut saya, untuk menuju pada tahap-tahap keberhasilan kedepan sangat perlu di tentukan dari sekarang ini, karena maju atau tidaknya pembangunan di suatu daerah di tentukan hari ini, sebaliknya bukan besok, lusa, minggu depan, bulan depan atau bahkan tahun depan. Sebab suatu kelak nanti, ketika daerah ini maju merupakan usaha bersama dari berbagai pihak-pihak yang berkompoten di daerah ini, misalnya saja “Pihak eksekutif, legislatif, aparatur, keamanan, lembaga-lembaga swadaya masyarakat, media massa, seluruh tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan serta seluruh komponen masyarakat lainnya, yang akan berperan pada Rencana Pembangunan Jangka Pendek Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangkah Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Pembangunan Jangkah Panjang Daerah (RPJPD)”, dan sebaliknya bukanlah hasil usaha satu pihak semata.

Yang menjadi penekanan penting dari saya dalam tulisan ini yakni bahwa semua pihak yang akan menduduki jabatan-jabatan penting di daerah ini, di harapkan perlu merenungkan kembali sebelum melaksanakan tugas-tugas pemerintahaan yang di berikan oleh Pemerintah Pusat (Pempus), sebagaimana yang melantik putra dan putri terbaik untuk menduduki jabatan pada Eselon I, II, III dan IV khususnya di pemerintahan baru Kabupaten Deiyai, dan apapun yang di lakukan tentulah di lakukan dengan benar dan sesuai dengan baju Otsus.

Secara filosofis bahwa Otsus ada di tanah Papua kurang lebih 10 tahun, ternyata belum didukung dan dilandasi aturan pelaksanaannya seperti Perdasi/Predasus. Akibatnya, gerbang Otsus yang telah berjalan cukup lama ini ternyata tidak berjalan pada rel besi sebagai landasannya. Untuk itulah merupakan tugas dari semua pihak yang sebagaimana telah saya sebutkan diatas pada alinea kedua, tidak lain adalah menjalankan Otsus secara sungguh-sungguh dan benar serta perlu dijabarkan dalam program-program priotitas seperti pendidikan, kesehatan, peningkatan infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya di kampung-kampung.

Dengan demikian apapun yang akan di lakukan kelak dalam tahap demi tahap pembangunan dapat benar-benar berpihak kepada masyarakat akar rumput di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat pada umumnya, dan lebih khususnya di Kabupaten Deiyai yang tercinta ini, sesuai dengan payung Otsus.

Masyarakat Papua khususnya di Kabupaten Deiyai ini perlu bersyukur karena untuk mencapai visi Deiyai Baru seperti yang dicita-citakan saat ini ketika daerah ini yang sebelumnya masih berstatus Distrik dan kini telah menjadi Kabupaten Pemekaran yang masih di jabat oleh Penjabat Carateker ini telah dikarunia sumber daya alam (SDA) yang berlimpah ruah sebagai modal dasar pembangunan daerah yang potensial untuk dikelolah dan dikembangkan. Seperti yang telah kita ketahui bahwa, potensial-potensial yang akan di kembangkan diantaranya seperti sektor pertambangan, pertanian, peternakan, pariwisata dan lain-lainnya yang semuanya bisa dikelolah demi untuk kesejahteraan masyarakat setempat di kemudian waktu.

Sesuai hasil input data dari berbagai sumber menyebutkan bahwa angka harapan hidup, angka rata-rata lama sekolah, angka melek huruf, angka kemampuan pengeluaran rill perkapita umumnya masih berada dibawah angka rata-rata nasional. Menghadapi tantangan itu, secara umumnya di Papua dan Papua Barat serta lebih khususnya di Kabupaten Deiyai sedikitnya ada 6 program prioritas yang perlu dilakukan. Keenam poin tersebut, diantaranya: “Peningkatan ketahanan pangan, Pengentasan kemiskinan, Pembangunan sarana/prasarana dan Peningkatan pelayanan dasar masyarakat di bidang pendidikan dan kesehatan, terutama kesehatan ibu dan anak serta kecukupan gizi, perumahan/pemukiman, pembanguan jaringan irigasi, dan pemberatasan HIV/AIDS serta penyakit social lainnya”.

Juga yang perlu di perhatikan lagi kedepan yakni, masalah penataan lingkungan hidup serta program pengurangan ketimpangan pembangunan antar wilayah/kawasan daerah perbatasan melalui pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan untuk membuka keterisolasian-keterisolasian dan fasilitas umum lainnya.

Yang menjadi usulan saya yakni, kiranya daerah-daerah yang baru di mekarkan, salah satunya “Deiyai” ini memerlukan anggaran yang besar, karena itu sudah berdasarkan fakta di lapangan, sehingga hal ini juga tidak terlepas dari adanya dukungan atau bahkan kerja sama dari pihak kedua bahkan ketiga, supaya apa yang di harapkan masyarakat Mee saat ini untuk menuju Deiyai baru dapat tercapai.

Dengan demikian, diakhir tulisan saya ini, yang bisa saya sampaikan yakni tentunya semua kita mempunyai satu tekad dan harapan untuk kedepan adalah pentingnya ada keterpaduan dan persatuan oleh seluruh komponen masyarakat di Papua pada umumnya dan lebih khususnya di daerah Deiyai ini dengan satu tujuan dalam melakukan penggalangan (satukan-red) kekuatan dan semangat untuk membangun daerah ini dari berbagai kesenjangan-kesenjangan menuju Deiyai Baru, yang di capai pada taraf meningkatnya kesejahteraan rakyat…….Semoga !!! (Jemmy Gerson Adii_Penulis adalah Pemuda asli Tigi Timur_Kabupaten Deiyai)

seLENgkapnya......

25 Oktober 2010

14 Sekolah Menengah Terima Dana Insentif dari Dirjen Pusat

Kepala Dinas pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olaharaga (Kadin Dikbudpora) Kabupaten Deiyai, Johanis Adii, S.Pd kepada media ini, Jumat (22/10) di Waghete mengatakan bahwa sesuai informasi Direktur Jenderal (Dirjen) Manajemen Pedidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional ketika memberikan keterangan kepada semua Kepala Dinas Kabupaten/Kota se-Indonesia bahwa pada akhir September atau awal Oktober 2010 ini rencana dari Dirjen akan mentransfer Bantuan dana Insentif sebesar 50 juta untuk per sekolah khususnya di tingkat menengah baik SMP, SMA/SMK se-Indonesia.

Khususnya di Lingkungan Pendidikan Kabupaten Deiyai, kata Adii. Ada 14 Sekolah Menengah yang ikut terlibat mendapatkan bantuan ini. Sekolah-sekolah tersebut diantaranya, SMP Negeri 1 Tigi, SMP Negeri Tigi Timur, SMP Negeri Tigi Barat, SMP YPPK Waghete, SMP YPPK Diyai, SMP YPPGI Bomou, SMP YPPGI Gakokebo, SMTK Waghete, STP Gakokebo, SMA Negeri 1 Tigi, SMA YPPGI Waghete, SMA Negeri 2 Tigi Barat, SMK Negeri 1 Tigi dan SMK Ipaiye Onago.

“Terkait dengan bantuan ini telah kami lakukan sosialisasi dengan 14 Kepala Sekolah dilingkupn Pendidikan kabupaten Deiyai pada tanggal 29 September 2010 bulan lalu. Kami harapkan bantuan Insentif dari Dikdasmen itu harap disimpan untuk menungguh Juknis dan juga MOU antara Dirjen dengan Kepala Dinas Kabupaten/Kota se-Indonesia.

setelah ada Juknis dan MOU akan ada pertemuan satu kali lagi untuk sosialisasikan tentang penggunaan dana yang sudah diluncurkan dari Dirjen, dan dana akan dipakai untuk kegiatan-kegiatan seperti : Intrakurikuler dan ekstrakurikuler, pembinaan guru melalui KKG/MGB dan kegiatan-kegiatan guru serta juga kegiatan siswa di sekolah. Contohnya, olahraga, kesenian dan persiapan-persiapan bahan ujian bentuk Les dan juga kegiatan-kegiatan lainnya yang mendukung proses belajar mengajar (PBM) dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di setiap sekolah”jelas Adii.

Lebih jauh dikatakan, pihaknya berharap kepada 14 sekolah menengah yang menerima dana bantuan insentif dari Dirjen khususnya tingkat menengah harus digunakan seefisien mungkin sesuai petunjuk Dirjen, karena akhir dari penggunaan dana bantuan ini akan ada Pertanggungjawabannya, dan pertanggungjawabannya langsung kepada Dirjen Pusat Jakarta, sementara dalam penggunaan pembinaannya dari Dinas dalam hal ini Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/kota setempat. Pasalnya penyaluran dana langsung dari Dirjen pusat ke rekening sekolah.

“Kepada semua Kepala Sekolah khususnya di lingkungan Dinas Dikbudpora Kabupaten Deiyai bahwa perlu libatkan guru-guru bantu SMP, SMA/SMK sehingga ada niat kerja mereka untuk membina murid di sekolah masing-masing, sehingga penggunaan dana ini akan tertata dan muda juga untuk pertanggung jawabannya. Dana ini diperuntukan untuk 5 bulan, yakni dari Bulan September 2010 hingga sampai Januari 2011, dan pada bulan Februari 2011 tahap pertanggung jawaban dana ke Dirjen,”tegasnya.

Ditambahkannya, bagi sekolah yang menggunakan dana sesuai petunjuk Dirjen dan juga pertanggungjawabannya sesuai petunjuk pusat berarti tahap kedua bisa diperoleh dan juga bisa ditingkatkan. !!! (jga)

seLENgkapnya......

Merumuskan Arah Pendidikan di Daerah Baru

PENDIDIKAN merupakan tanggung jawab bersama seluruh komponen manusia. Setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab terhadap pendidikan dengan kadar dan kapasitasnya yang berbeda-beda. Guru berperan sebagai tenaga pendidik, yang menentukan kwalitas dan mutu lulusan sekolah; pemerintah (Eksekutif dan Legislatif) berperan sebagai pengambil kebijakan dan pengawas; masyarakat berperan sebagai pelaksana, pengawas dan penyelenggara. Hingga kini peran masing-masing komponen ini belum maksimal diwujudkan, sehingga sangat jelas mutu dan kwalitas pendidikan masih merendah.

Artinya, kebijakan yang merakyat dan berpihak pada pendidikan belum dirasakan sepenuhnya dilaksanakan di negeri ini. Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Deiyai dan Kabupaten Intan Jaya merupakan kabupaten-kabupaten pemekaran yang baru hadir diantara kabupaten baru lain di seluruh tanah air Indonesia.

Kabupaten-kabupaten ini dalam konteks bidang pemerintahan dikatakan baru hadir, sedangkan pendidikan sudah sejak 1936-an mulai terjadi, khusus daerah Mee dan Moni. Keberlanjutan proses penyelenggaran pendidikan itu terus akan berjalan beriringan dengan perjalanan waktu tanpa ada batasan waktu dan tempat.

Tingkat ketercapaian pendidikan banyak yang sudah dicapai, namun masih banyak juga meninggalkan tugas yang harus dilaksanakan di daerah atau kabupaten baru. Sebagai kabupaten-kabupaten yang baru dan di dalam kabupaten-kabupaten yang baru itu hadir tugas-tugas yang baru dan dipandang berat. Tugas dan tanggungjawab semakin berat dan besar pula. Untuk mengorganisasi dan mempertanggungjawabkan tugas-tugas tersebut harus diawali dengan langkah-langkah pertama di masa awal pemerintahan yang baru di segala bidang, terutama bidang pendidikan.

Itulah sebabnya, peran setiap komponen tadi dianggap dan dipandang penting dalam keterlibatannya untuk merumuskan arah dunia pendidikan di daerah. Arah pendidikan yang harus dirumuskan bersama adalah merupakan langkah awal dan pertama dalam membangun dan menyelenggarakan pendidikan yang bermutu dan berkwalitas. Dalam mengakomodir peran-peran seluruh komponen masyarakat dan terutama stakeholder pendidikan, termasuk pemerintah daerah dan lembaga swasta, maka mestinya dilakukan dialog, diskusi dan komunikasi bersama untuk merumuskan arah pendidikan di daerah-daerah pemekaran baru tersebut.

Hal ini dengan maksud agar aspirasi setiap komponen masyarakat tersalur dan sebagai bahan dasar pengawasan penyelenggaraan pendidikan di sana. Merumuskan visi atau arah pendidikan adalah sebuah agenda penting dan mutlak harus dilakukan di daerah pemekaran oleh daerah itu sendiri. Daerah memiliki kewenangan dalam merumuskan visi pendidikannya dengan perhitungan dan pertimbangan visi dan misi serta tujuan pendidikan yang berskala nasional dan provinsi serta keunikan, potensi dan karakteristik daerah dimana pendidikan diselenggarakan dan visi yang hendak dirumuskannya.

Disini ada tiga cara perumusan visi pendidikan di daerah baru, seperti Kabupaten Intan Jaya, Deiyai dan Dogiyai, yang didahului dengan mempelajari keunikan, potensi dan karakteristik. Pertama, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga mengajukan rumusan visi pendidikan kepada pemerintah (Eksekutif dan Legislatif) untuk selanjutnya dimasukan kedalam Rencana Strategis Pembangunan Daerah (Renstra) melalui Rapat Kerja Daerah (Rakerda). Jika hal ini terjadi, maka perumusannya melibatkan seluruh stakeholder pendidikan di daerah itu sebelum diajukan ke Pemerinta Daerah.

Jadi, orang Dinas Pendidikan tidak berhak merumuskan visinya dengan keinginannya sendiri. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama, maka harus dirumuskan bersama. Kedua, sebelum Renstra dibuat dan dirumuskan, pemerintah (Eksekutif dan Legislaif) menawarkan visi pendidikan di kabupatennya kepada dinas terkait di daerah itu. Visi pendidikan yang ditawarkan pemerintah dikomunikasikan dan didiskusikan oleh seluruh stakeholder pendidikan untuk mengambil keputusan akhir atas visi tersebut di tingkat pelaksana dan penyelenggara pendidikan.

Diskusi untuk membahas visi pendidikan tersebut difasilisi Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga. Keputusan akhir daripada rumusan visi pendidikan dikembalikan lagi kepada pemerintah daerah untuk dijadikan sebagai arah pendidikan daerah itu. Ketiga, pemerintah memfasilitasi dan menghadirkan seluruh elemen masyarakat untuk merumuskan visi pendidikan. Visi pendidikan di daerah dirumuskan bersama dan dijadikan sebagai arah perjalanan pendidikan di daerah. Pemerintah dalam hal ini adalah Komisi Pendidikan di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga atau oleh Bupati langsung memimpin proses perumusannya.

Untuk memilih cara dan jalan yang mana merupakan hak dan kewenangan daerah. Visi pendidikan yang dirumuskan di tingkat ini adalah visi pendidikan di daerah. Perumusan visi pendidikan dengan cara dan jalan seperti diatas merupakan sebuah konsensus bersama antara Eksekutif, Legislatif, Dinas Pendidikan dan Stakeholder Pendidikan yang ada, terutama dengan melibatkan organisasi sekolah.

Jika hal ini terjadi di Kabupaten Deiyai, Dogiyai dan Intan Jaya sebagai kabupaten baru, berarti kebijakan Top Down Planning dibalik menjadi sebuah kebijakan yang aspiratif, populis dan melembaga sekaligus merakyat. Tujuan utama dilakukan demikian dengan harapan ada dan terjadi satu kesatuan tindakan dan aksi karena seluruh elemen penyelenggara pendidikan mudah memahami ide-ide dasar dari visi, misi, dan tujuan yang hendak dicapai. (jga-David Goo, S.Pd _Penulis tinggal di Makewapa-Idakebo)

seLENgkapnya......

Terkait dengan Penggunaan Anggaran. Bupati: “Semua SKPD diminta segera siapkan Pertanggung Jawaban Keuangan“

Beberapa kegiatan khususnya di lingkungan Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Kabupaten Deiyai, misalnya seperti Kegiatan Ujian Nasional (Unas), Kegiatan Pesparawi di Manokwari, Kegiatan Pramuka di Jayapura, Kegiatan Ujian Paket A, B dan C tahap Pertama dan Kegiatan Festival di Biak Numfor agar segera memberikan pertanggungjawaban keuangannya kepada Bendahara pengeluaran (BP) Dinas Dikbudpora Kabupaten Deiyai,”demikian di tegaskan Kepala Dinas Dikbudpora Kabupaten Deiyai, Johanis Adii, S.Pd kepada media ini Jumat (22/10) lalu di waghet.

Dikatakannya, ini merupakan keputusan dan Instruksi dari bapak Bupati. Jadi setiap dana yang sudah di gunakan di harapkan dapat menyiapkan pertanggungjawaban oleh setiap Panitia dari kegiatan-kegiatan tersebut. Jadi kegiatan-kegiatan ini harap di laporkan lengkap dengan pertanggungjawaban bukti-bukti fisik kegiatan kepada BP Dinas Dikbudpora Kabupaten Deiyai, supaya dalam pemeriksaan kedepan akan lebih muda untuk di audit pihak terkait.

Sebelumnya, kata Adii. Pada Jumat minggu lalu semua pimpinan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) Kabupaten Deiyai dalam rapat terbatas dengan Bupati. Pada keputusan akhir yang disampaikan oleh Bupati bahwa setiap dana dari daftar perincian anggaran (DPA) yang sudah dicairkan pada Triwulan Pertama dan kegiatannya sudah dilakukan oleh masing-masing SKPD harap disiapkan bukti fisik untuk pertanggungjawabannya nanti, sehingga muda juga untuk adanya pencairan dana triwulan dua, tiga dan empat dari pihak keuangan daerah.

“Dana yang ada di DPA bulan November 2010 segera dikeluarkan, henta itu dana proyek atau dana rutin, selanjutnya diharapkan kepada BP setiap Dinas harap menyiapkan pertanggung jawaban untuk dana-dana yang sudah digunakan dalam DPA masing-masing Dinas,”jelasnya.

Sementara itu, ditambahkannya. Khusus untuk dana kegiatan pembangunan fisik Pendidikan, diundurkan tahap kedua, karena pada tahap pertama mengalami kendala yakni Panitia Lelang dan PPTK ulur-ulur waktu guna menandatangani. Jadi PPTK dan Panitia Lelang itu melaksanakan tugas berdasarkan SK Kepala Dinas, namun Triwulan Pertama dan kedua itu sudah tertunda sampai triwulan ketiga, akhirnya bulan November ini akan dicairkan untuk triwulan tiga, dan satu triwulan lagi akan dicairkan bulan November 2010…!!! (jga)

seLENgkapnya......

15 Oktober 2010

20 Anggota DPRD Deiyai Resmi Dilantik

Sebanyak 20 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Deiyai, pada Sabtu (16/10) lalu, resmi dilantik. Pelantikan sekaligus pengambilan sumpah/janji anggota DPRD Deiyai hasil Pemilu Legislatif 2009 oleh Ketua Pengadilan Negeri Nabire ini sesuai Keputusan Gubernur Papua Nomor 94 Tahun 2010 tanggal 19 Agustus 2010 tentang Peresmian Keanggotaan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Deiyai Periode 2009 sampai dengan 2014.

Pelantikan lewat rapat paripurna istimewa dalam rangka peresmian, pengucapan sumpah/janji anggota DPRD Deiyai bertempat di Aula Kaboudabi Proki St. Yohanes Pemandi Waghete Deiyai ini turut dihadiri Bupati Nabire, Isaias Douw, S.Sos, perwakilan dari Pemerintah Daerah (Pemda) Paniai, Wakapolres Paniai, pejabat di lingkungan Pemda dan sejumlah elemen masyarakat Deiyai.

Pantauan media ini, acara pelantikan yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini berjalan aman dan lancar dibawa pengamanan jajaran Kepolisian Resor (Polres) Paniai dan anggota Koramil Waghete. Adapun keduapuluh anggota dilantik ini, diantaranya Silas Pigai dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Zet Yeimo dari Gerindra, Rufus Dou dan Yohanes Adii, S.Hut masing-masing dari Partai Barisan Nasional (Barnas).

Selanjutnya, Piter Pekei dan Nataniel Yatipai dari Partai Persatuan Daerah (PPD). Amos Edowai, SE dari Partai Kebangkitan Bangsa, Yunias Edoway dari Partai Pemuda Indonesia, Piet Badii dari Partai Demokrasi Pembaharuan, Akulian Bobi dan Demianus Pekei, keduanya dari Partai Karya Perjuangan dan Aten Edowai, S.Pak dan Wilem Giyai dari Partai Pelopor.

Kemudian, anggota atas nama Yosep Pekei, SE dan Simon Takimai dari Partai Golongan Karya (Golkar), Akulian Douw dari Partai Persatuan Pembangunan, Maksimus Takimai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Paulus Tobai dari Partai Indonesia Sejahtera (PIS), Anton Pakage dari Partai Kebangsaan Nasional Ulama dan terakhir Agusten Anou yang juga dari Partai Kebangsaan Nasional Ulama. Keseluruhan anggota dewan yang dilantik ini berada pada Daerah Pemilihan (Dapil) Deiyai.

Usai pengambilan sumpah dan janji oleh Ketua Pengadilan Negeri Nabire, diwakili langsung Wakil Ketua, Nelson Panjaitan, SH, Sekretaris Dewan (Sekwan) Deiyai, Drs.Willem Y. Keiya mengumumkan Ketua dan Wakil Ketua DPRD Deiyai sementara, kemudian dilanjutkan penyerahan palu/tongkat pimpinan DPRD Deiyai, yang diterima Ketua DPRD sementara, Aten Edowai, S.Pak.

Pada kesempatan tersebut, Penjabat Bupati Deiyai, Drs. Blasius Pakage dalam sambutannya mengatakan masyarakat memberikan kepercayaan kepada anggota dewan untuk memangku jabatan lembaga legislative dewan selama kurun waktu 5 tahun. Oleh karena itu, para anggota dewan yang baru dilantik harus berupaya semaksimal mungkin melaksanakan tugas, kewajiban, fungsinya yang akan diemban sesuai dengan peraturan Perundang-undangan berlaku.

Tugas dan kewajiban ini, lanjut penjabat bupati, diantaranya pertama kerja sama menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta pembahasan anggaran untuk setiap tahun anggaran. Kedua ketetapan dan keputusan dewan tentang Peraturan Daerah (Perda) yang dihasilkan bersama-sama dengan pihak eksekutif.

Ketiga, orientasi tugas mementingkan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi, golongan dan kelompok tertentu, keempat, kata Blasius, mengembangkan dan mengali sumber-sumber pendapatan asli daerah bersama pemerintah daerah, meningkatkan wawasan, pengetahuan dan kemampuan guna memenuhi dan melaksanakan fungsi, tugas, tanggung jawab dan wewenang dewan serta terakhir mendukung program unggulan pemerintah Provinsi Papua dan Pemda Deiyai meliputi sektor utama yang merupakan program Pemda seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Tambah Blasius, selama kurun waktu 5 tahun ke depan para anggota DPRD tentunya melaksanakan fungsi control dewan, sehingga diperlukan koordinasi dan konsulatasi dengan pemerintah daerah dalam hal ini bupati serta pula dengan para pejabat di lingkungan Setda Deiyai dalam menunjang dan mendukung tugas-tugas kedepan akan terjamin.

Akhirnya, diluar itu para anggota dewan terhormat ini bersama masyarakat untuk dapat mendukung pemerintah daerah dalam rangka menyukseskan program pembangunan daerah dapat berjalan dengan baik untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di kawasan Kabupaten Deiyai pada umumnya.

Aten Edowai Nakodai DPRD Deiyai Sementara

Aten Edowai, S.Pak, dari Partai Pelopor Kabupaten Deiyai untuk sementara waktu menakodai atau menjabat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Deiyai. Sementara untuk jabatan Wakil Ketua sementara dipegang Agusten Anou dari Partai Kebangsaan Nasional Ulama.

Kedua anggota DPRD Deiyai, menjabat pimpinan sementara lembaga legislatif Kabupaten Deiyai berdasarkan perolehan suara terbanyak pada Dapil Deiyai (meskipun data peroleh suaranya belum diterima media ini secara lengkap)…….(jga-wan-papuaposnabire)

seLENgkapnya......

Cyntia Warwe: Poligami untuk Generasi, Mengapa Tidak?

Akhir-akhir ini, wacana poligami banyak dibicarakan orang di tanah Papua. Mereka berbicara di berbagai tempat dan melalui berbagai media. Beberapa bulan lalu, tepatnya 30 Oktober 2009 wacana poligami didiskusikan cukup serius dengan melibatkan berbagai pihak. Mereka yang dilibatkan adalah Aprila Wayar (wartawati Tabloid Jubi), Rinny Soegiyoharto (Psikolog, lulusan UI Jakarta), Heni Lani (Aktivis HAM), Ryan Andrew Adriana Saroy (Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Hukum Universitas Janabadra Jogjakarta), Puput Daryo (Mahasiswa FT. Arsitektur Unika Soegiyapranata Semarang), Seniora Papua, Marice Katem (Alumnus Santa Maria Jogjakarta), Binangko Moiwend (SKP Jayapura), Octavianus Pogau (Siswa SMA di Nabire), Green Emerald (Sekred Tabloid JUBI), Miosindi Abubar (Wartawan Tabloid JUBI), Pdt Jessy Leimena (Alumnus Fak. Teologi UKDW), John Pakage (Wartawan Reuters untuk Papua), Emmy Sahertian (Aktivis HAM dan Juga Pendeta), Imbir Charles (Aktivis Lingkungan-CII-Sorong), Farsijana (Dosen UKDW), Yermias Degei (Guru SMA Adhi Luhur Nabire dan sekretaris LPP-edPaPaS), Donald Heipon (Aktivis HAM), Budi Hernawan (SKP Jayapura n Bruder), Kalfin Carles (Aktivis HAM-Mantan Ketua PKMFP Yogyakarta, Theus Rumere (Aktivis Lingkungan Hidup), Lucky Ir (Pimpinan Redaksi Cenderawasih Pos). Diskusi itu tidak berakhir dengan sebuah kesimpulan. Melalui, webblognya, Oktopianus Pogau juga menulis tentang poligami.

Terkait isu poligami tersebut, Majalah Selangkah menemui salah satu aktivis perempuan Papua, Cyntia Warwe dari Garda-Papua di Jayapura beberapa waktu lalu. Wawancara itu terkait tulisannya yang berjudul “Filosofis Poligami untuk Generasi” yang sempat dipublikasikan melalui facebook dan mendapat respon beragam dari berbagai pihak. Berikut petikannya.

Sebenarnya, apa itu poligami?

Dalam antropologi sosial, poligami merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari satu suami atau istri (sesuai dengan jenis kelamin orang bersangkutan) sekaligus pada suatu saat. Kemudian monogami adalah seseorang memiliki hanya satu suami atau istri pada suatu saat. Ada tiga bentuk poligami, yaitu poligini (seorang pria memiliki beberapa istri sekaligus), poliandri (seorang wanita memiliki beberapa suami sekaligus), dan pernikahan kelompok (bahasa Inggris: group marriage, yaitu kombinasi poligini dan poliandri).

Bagaimana sejarahnya?

Laki-laki pada hakikatnya adalah poligami. Namun, seiring dengan perkembangan zaman mulai muncul kesadaran bahwa kalau akhirnya tidak bias menjamin keluarga dari sisi ekonomi dan kasih sayang tidak penting untuk poligami. Budaya poligami di Jawa sudah biasa. Salah satu teman saya cerita, bapak kosnya di Yogyakarta beristri tiga. Seorang teman dari Nabire menceritakan bahwa moyangnya beristri tujuh. Di Wamena, Obahorok beristri puluhan. Di Intan Jaya juga ada yang beristri puluhan. Masih banyak juga. Di luar negeri, Milton Mbhele di Weenen, Afrika Selatan menikahi empat perempuan bersamaan, yang mana Hukum di Afsel membolehkan pria seperti Mbhele untuk melakukan pernikahan poligami atau lebih dari satu istri. Aturan itu berlaku bagi mereka yang berasal dari suku tradisional Afsel, yaitu Zulu dan Swazi. Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma bahkan memunyai 3 istri. Masih banyak lagi. Jadi, poligami bukan menjadi suatu masalah di Afrika Selatan.

Sejarah poligami masa lalu berbeda dengan masa kini. Dulu, selain untuk generasi juga dia (orang tua) melihat beban kerja. Ketika dia punya kekayaan banyak dan istrinya kerja seorang diri, maka dia akan mencari istri baru untuk kurangi beban kerja. Dia akan menikah. Kalau sekarang, ketika kita lihat uang banyak, kekuasaan besar merasa diri dia bias miliki saja. Apakah mau istri limakah-enamkah terserah, tapi sekarang lebih banyak bukan dalam rangka gererasi. Lebih banyak nafsu dan gengsi maka beristri Jawa, Manado, Sumatra, dan lain-lain. Jadi, bukan untuk generasi yang rambut keriting dan kulit hitam.

Kapan dan oleh siapa wacana poligami dalam konteks generasi itu mulai dimunculkan?

Dalam konteks generasi, sebenarnya makna poligami sudah dibicarakan mahasiswa Papua di Jawa untuk meningkatkan keturunan masyarakat asli Papua. Selanjutnya, pada diskusi Mambesak News di Hollandia (Jayapura: red), saya terhentak saat mendengar saudari Justicia dan Hypocrite mengatakan bahwa ’’tong harus poligami’’. Dan, pada saat itu Geel dan Eva menyetujui itu. Saya dengan Che hanya memberikan senyuman saat mendengar ungkapan ’’poligami’’, karena mahasiswa Papua di wilayah Makassar berpikir pun tidak pernah apalagi berdiskusi mengenai poligami.

Lalu, sebenarnya mengapa kebanyakan orang terus membicarakan pentingnya poligami?

Wacana poligami mulai dibicarakan karena ada sebuah keprihatinan akan eksistensi penduduk asli Papua. Tingkat populasi penduduk asli Papua tidak sebanding dengan penduduk non-Papua. Dr. Jim Elmslie, seorang peneliti dari Universitas Sidney pada akhir tahun 2007 dalam sebuah sebuah konferensi di Australia mengatakan bahwa pertumbuhan penduduk Papua hingga tahun 2030 lebih didominasi oleh pertumbuhan penduduk non-Papua. Ia memberikan perbandingan tentang penduduk asli Papua dan non-Papua sejak tahun 1971. Perbandingan ini dapat dilihat dalam tulisan saya di internet dengan judul “Filosofis Poligami untuk Generasi”.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, pada tahun 2030 Dr. Jim memprediksikan penduduk asli Papua hanya 15,2% dari total 15,6 juta jiwa penduduk Papua. Dengan kata lain, perbandingan antara penduduk asli Papua dan non-Papua pada tahun 2030 akan mencapai 1 : 6,5. Data BPS Papua pada tahun 2000 menunjukan jumlah penduduk asli Papua adalah sebanyak 1.460.846 jiwa. Hanya mengalami pertambahan jiwa sebanyak 560.843 dalam kurun waktu 1970 - 2000 (30 tahun).

Jadi, data lain seperti yang ditulis Tabloid Jubi, 3 April 2008, di masa yang sama, penduduk Papua New Guinea bertambah dari 2.554.000 pada tahun 1969, menjadi 5.299.000 jiwa pada tahun 2000. Jadi ada pertambahan sebanyak 2.745.000 jiwa. Pertambahan penduduk asli Papua di Indonesia tidak sampai 50% sedangkan di PNG penduduknya bertambah lebih dari 100%.

Bagaimana cara melakukan?

Ini adalah wacana umum. Jadi, ide poligami ini dapat dibicarakan secara serius melalui diskusi. Ide ini dikembangkan dan dibicarakan untuk generasi Papua ke depan. Poligami merupakan sesuatu yang dibolehkan, namun bukan sesuatu yang diharuskan. Artinya, seseorang boleh saja berpoligami dengan catatan dia dapat memenuhi syarat yang ditentukan melalui diskusi yang lebih serius. Memang secara logika, poligami terkesan tidak adil, sebab tidak memperbolehkan poliandri (wanita bersuami banyak). Namun, aturan yang muncul juga harus disesuaikan dengan logika, sebab logika manusia itu terbatas.

Pandangan saya, kita dapat melihat dari hikmah poligami ini dengan menguji keikhlasan. Dan, menurut saya layak untuk jadi catatan adalah ‘menguji kemampuan kita dalam berbagi sesuatu yang kita cintai’’. Ya tentunya, berbagi sesuatu yang dicintai, karena mencintai sesuatu bukan berarti kita harus memiliki sesuatu itu. Sebab, jika kita masih merasa harus memiliki sesuatu yang kita cintai berarti kita masih menjadi orang yang egois. Orang egois adalah orang yang hanya mencintai dirinya sendiri.

Mencintai sesuatu dapat dibuktikan dengan membiarkan orang lain merasakan manfaat dari yang kita cintai. Selain itu, membiarkan yang kita cintai dapat mencintai yang dia cintai. Pusingkah? Jika pusing berarti Anda masih berpikir.

Memikirkan konsep ini tidak menjadi rumit, apabila diri kita sendiri berpikir untuk generasi, untuk memperbanyak keturunan dan dapat dilihat dari faktor umur perempuan dan tingkat kedewasaan pemikiran perempuan untuk generasi Papua ke depan. Saya sangat mengharapkan ide ini dikembangkan secara riil dan melihat dalam konteks Papua 30 tahun ke depan. Ideologi untuk generasi Papua ke depan sangat dibutuhkan, kesadaran intelektual kita diuji dalam hal ini.

Bagaimana dengan ajaran agama yang melarang poligami?

Saya tidak ingin membedah poligami ini dalam ajaran agama, karena banyak sudah membahas orang. Beberapa bulan lalu sempat dibicarakan di kampus STT Kijne, Abepura tetapi dalam diskusi tersebut hal ini tidak dilihat dari sudut pandang agama. Mereka lebih melihat dari segi proteksi identitas orang Papua, hitam dan keriting yang beberapa tahun ke depan mungkin hanya akan akan ada di museum untuk di kunjungi. Jadi, poligami itukan kebudayaan orang Papua dan perlu diwacanakan untuk proteksi.

Dalam diskusi itu dibicarakan bahwa dasar kebutuhan manusia adalah kebahagiaan yang artinya menyangkut landasan ekonomi. Adat dan orang tua dulu sudah mengajarkan hal-hal yang positif, yaitu tentang poligami. Mereka mampu menunjukkan kewibawaan dalam mengambil kebijakan dalam lingkungan sosial dan mereka mampu menyakinkan komunitas adat (Mambri, Tonawi, Ondoafi/Ondofolo ’BigMan’ dan menunjukkan kematangan dalam mengambil sikap untuk melakukan poligami. Sebenarnya, sejarah nabi-nabi juga membuktikan bahwa poligami itu hal yang wajar dan diakui. Jadi, yang penting tanggung jawab untuk membagikan kebahagian secara bijak.

Tapi, kaitan konflik agama saat ini dengan poligami Abraham adalah tidak benar. Konflik agama itu bukan karena poligami tetapi itu lebih karena ideologi.

Bagaimana konsep Anda tentang pemenuhan kebutuhan dalam keluarga?

Dalam konteks kebutuhan dalam berpoligami juga harus memenuhi hirarki kebutuhan menurut konsep Abraham Maslow (pelopor aliran psikologi humanistic). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Ini yang harus dijalankan oleh suami-istri yang ingin menjalankan konsep poligami unutuk generasi. Kalau tidak diperhatikan, kebutuhan gizi anak dari menyusui dini hingga besar dan kecerdasan otak tidak berkembang sebagaimana baiknya.

Ini juga harus dilihat dalam konteks masyarakat Papua kelas bawah yang standar kemiskinan masih mendominasi. Apa salahnya jika suatu keluarga ingin poligami namun taraf kehidupannya masih rendah dan keluarga tersebut meminta jaminan ke pemerintah. Itupun kalau sudah ada aturan oleh pemerintah/seperti yang terjadi di Jepang.

Apa yang terjadi di Jepang?

Yang terjadi di Jepang menarik. Menteri Kesehatan Jepang Hakuo Yanagisawa, yang melihat angka kelahiran yang rendah di Jepang mengatakan, sebuah keluarga memiliki anak lebih dari lima anak, maka akan diberikan jaminan oleh negara untuk kelangsungan pertumbuhan seorang anak tersebut. Dan, Perdana Menteri Shinzo Abe berjanji akan mengeluarkan Undang-Undang untuk mendorong perusahaan bersifat lebih fleksibel dalam menghadapi kebutuhan keluarga karyawan mereka. Angka kesuburan Jepang jatuh di bawah 1.26 bayi per ibu dalam tahun 2005. Informasi ini dapat dibacara di voanews.com, 29/01/2007.

Memang Yanagisawa dikecam karena menggambarkan wanita sebagai mesin pencetak anak. Tetapi, di depan parlemen dia sudah meminta maaf karena ‘’melukai perasaan perempuan’’. Hal ini dilakukan karena melihat angka kelahiran paling rendah di Jepang, yang menimbulkan kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi dan kemampuan mendanai penggelembungan biaya pension.

Bagaimana dengan nikah dini?

Menikah dini tentunya kita melihat dari faktor umur perempuan juga menjadi pertimbangan, dalam menerapkan konsep poligami ini, tanggapan sdri, selly mambor dalam komunitas papua (Mari memulai dari diri kita. Kita harus jaga organ reproduksi kita bila kita mau menyelamatkan orang Papua dari genosida melalui rencana "bikin anak banyak". Jadi mari setia dengan satu perempuan. Saya sepakat bila solusinya nikah dini dan bikin anak banyak. Satu orang Papua dengan satu istri bisa melahirkan 15 anak berkualitas dalam umur 40 tahun, ditambah lagi bila anak-anaknya dinikahkan dini, maka sudah pasti punya cucu yang banyak.

Setelah pasangan suami istri sudah tidak produktif atau meninggal, dia bangga bisa mempersembahkan 20 atau 30 anak dan cucu selama ia hidup. Kalau kita semua mulai sadar dengan cara ini, 10 tahun kedepan kita sudah bisa mengatasi bahaya genosida), menikah dini juga kita harus memikirkan kematangan dari pola pikir perempuan, kalau pun menikah dini dengan konsep untuk generasi tentunya tidak akan menjadi masalah. Namun, terkadang dalam menikah dini pasti masih banyak terjadi ke egoisan dalam diri perempuan (konteks saya).

Ngomong-ngomong, bagaimana kalau suami Anda nanti ingin poligami?

Untuk generasi, saya berpikir tidak ingin egois dan memakai perasaan. Bila suatu saat saya mendapat lelaki Papua yang ingin menerapkan konsep poligami dan siap memberikan kebutuhan secara manusiawi, kalaupun dalam pemenuhan kebutuhan tidak bisa terpenuhi tentunya saya juga diberikan kebebasan bekerja/berkarir (untuk menghasilkan kebutuhan) dalam keluarga. Tentunya lelaki Papua yang akan menjadi pilihan saya nantinya tidak egois dalam hal membagi jatah ekonomi/kebutuhan dalam rumah tangga.

Bagaimana tanggapan Anda untuk kaum feminis dan aktivis perempuan yang memperjuangkan kesetaraan gender?

Untuk kaum feminis atau pun aktivis perempuan, tampaknya lebih mementingkan perasaan (atau lebih tepat egonya), dari pada logika dan kecerdasannya. Lihat saja sikap mereka terhadap kesetaraan gender. Sebenarnya apa yang ingin diangkat dalam isu ini (poligami), yaitu (1) apakah keinginan untuk mengangkat martabat wanita? (2) apakah hanya ingin menunjukkan bahwa wanita itu bisa sama seperti laki-laki?

Apa yang mau katakana di akhir wawancara ini?

Saya mau mengucapkan terima kasih untuk tulisan Okto Pogau yang menceritakan konsep poligami adalah sebuah jawaban dalam konteks proteksi orang asli Papua. Pada intinya, kalau untuk generasi dan ideologi apa yang tidak mungkin. Ide ini dikembangkan ke depan. Jangan hanya menjadi konsumsi publik dan menjadi perdebatan semata dan sebatas menjadi mengawang atau pun mimpi. Saya senang dengan tulisan “cewe mogee” (perempuan Papua Barat), yaitu ’’zaman boleh berubah, budaya jangan dirubah’’.

’’Kesadaran akan hal ini sangat penting di tengah kaum perempuan. kehadiran anak dalam sebuah keluarga ditentukan oleh perempuan, apakah banyak atau sedikit mau lahir berapa tergantung perempuan. Sementara kita lihat bahwa jumlah orang Papua sekarang sedikit dibandingkan dengan negara tetanggga kita PNG. Kalau kita tidak berpikir ini, kita tunggu saja saatnya nanti, orang Papua hanya akan ditemukan di museum.

Saya menyambung lagi ungkapan Cewe Mogee, yaitu perempuan Papua harus menjaga diri. Perempuan harus sehat maka perempuan akan melahirkan anak-anak Papua yang pintar yang suatu saat akan memegang dunia…tidak percaya…terserah…. Sehat berarti tidak sakit atau tidak ada ganguan fungsi tubuh maupun gangguan mental dan kejiwaan. Untuk menjaga agar semuanya stabil maka seorang perempuan harus menyadari dan berubah dari sekarang.....belum terlambat…to?

Apakah ada saran khusus untuk perempuan Papua?

Perempuan Papua harus mengerti sejarah perkembangan setiap suku, sehingga bisa dikaitkan dengan teori–teori kontemporer. Pendidikan dan kesehatan menjadi acuan untuk perempuan Papua lebih produktif. Untuk poligami harus selesai dalam konteks berpikir bukan sebagai teori–teori yang menjadi perdebatan kosong di antara perempuan Papua. Sehingga penerapan harus di mulai dari ‘’SIAP dan SADAR’’, bahwa ini bukan ‘NAFSU dan PENINDASAN’’, terhadap perempuan Papua sendiri. Tentunya ini sebuah opini yang coba dibangun untuk membantu perempuan Papua berpikir dari segi kecerdasan intelektual untuk sesuatu yang obyektif untuk Papua. Tidak ada sesuatu yang sulit jika kita ingin jalani ini, tidak ada sesuatu yang sulit juga”jika’’ kita tidak ingin menjalaninya. Toh, untuk Generasi, kondisi subyektif perempuan harus kuat, tentunya itu kembali ke pribadi diri sendirilah yang harus bertanya ‘’sa siap ka tidak ee, untuk poligami’’…….(jga-Yermias Degei-Sumber: Majalah SELANGKAH Edisi Januari-Maret 2010)

seLENgkapnya......

Pemkab Deiyai cairkan 250 Juta untuk kegiatan Festival dan Dana pembinaan Kebudayaan

Ketua Panitia Festifal Kabupaten Deiyai, Yunus Pekei melalui Sekretarisnya, Bruno M. Adii, kepada media ini, Jumat (8/10) beberapa aktu lalu mengatakan bahwa melalui proses yang panjang, pihak Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Deiyai telah menfasilitasi kami berupaya dana lebih kurang 180 juta untuk digunakan dalam kegiatan Festifal yang berlangsung di Biak Numfor 13-17 Oktober 2010 mendatang.

Dikatakan lebih lanjut, bahwa Tim yang akan berangkat mewakili Kabupaten Deiyai dengan jumlah personil 40 orang, dan akan berangkat hari ini juga ke Nabire, dan selanjutnya ke Biak dengan Kapal Laut atau Pesawat (jika kalau ada kapal atau tidak ada halangan). Jumlah materi yang akan dibawah ada 7 materi yakni, Tari Pergaulan, Yosim Pancar, Balada Cenderawasih, sosok drama, pop singgers, lukis dan lomba stan pameran.

“Jadi kategori materi telah kami siapkan untuk mewakili kabupaten Deiyai dalam rangkah mengikuti festifal di Kabupaten Biak Numfor tahun 2010”ujarnya.

Dikatakannya, sebagai kesan yang dialami mereka sebagai kontingen ini yakni penyiapkan persiapan dari segi administrasi kita mengalami hambatan, tetapi sampai pada sekarang ini pemda sudah dapat menfasilitasi, walaupun dalam kondisi yang kurang baik di kabupaten ini, namun dalam kesempitan itu pemda sudah bisa dapat melihat pembinaan di dewan kesenian, sehingga melalui dinas teknis akan diberangkatkan dan akan dilepas langsung oleh kepala dinas dikbudpora di Waghete.

“Kami kabupaten deiyai ini merupakan kabupaten baru apapun yang kami akan tampil merupakan pengalaman, karena itu kami sangat perlu dukungan doa dari seluruh masyarakat kabupaten deiyai, karena kami mewakili bukan atas pribadi tetapi kami berangkat atas nama daerah, pemerintah dan masyarakat.

Sementara itu, perlu diketahui bahwa dana sebanyak 70 Juta disisihkan untuk dana Pembinaan Kebudayaan Dinas Dikbudpora Kabupaten Deiyai.

Kadin Lepaskan Peserta Kontingen Deiyai

Bertempat di Gedung SMP Negeri I Tigi, Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Deiyai, Johanis Adii, S.Pd dan didampingi Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Dikbudpora Deiyai, Pabianus Pekei mewakili Pemkab Deiyai menyerahkan dana kegiatan Festifal kepada Panitia sebesar Rp. 180 juta secara langsung di terima oleh Ketua Panitia Festifal, Yunus Pekei dan disaksikan oleh Sekretaris, Bruno Mote, Bendara, Andi Mote dan Aparat Keamanan, dan sekitar 70 juta disisihkan dana untuk pembinaan kebudayaan di dinas Dikbudpora Deiyai.

Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Dikbudpora Kabupaten Deiyai, Johanis Adii, S.Pd berpesan bahwa dengan sedikit dana yang di berikan oleh Pemkab Deiyai melalui DPA Dinas Dikbudpora dapat digunakan dengan baik oleh Panitia dan Peserta selama kegiatan di Biak Numfor. Dan diharapkan setelah sekembalinya dari sana harus ada pertanggung jawaban.

“Hati-hati dijalan, dan manfaatkanlah sedikit dana itu dengan baik dan harap digunakan sesuai kebutuhan, dilarang keras memanfaatkan uang untuk konsumsi miras atau lain-lainnya,”tandasnya berharap.….(jga)

seLENgkapnya......

Alex Rumaseb : Kinerja Kabupaten Deiyai Perlu Ditingkatkan

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Papua, Drs. Alex Rumaseb, MM mengatakan melalui forum Musrenbang ini kita berharap kesamaan pandangan dan harapan dari seluruh pelaku pembangunan dalam memadukan strategi, kebijakan, program dan kegiatan prioritas pemerintah kabupaten Deiyai untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya di Kabupaten Deiyai dan pada umumnya di Provinsi Papua.

“Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dalam Psal 20 ayat (2) menugaskan Kepala Bappeda untuk menyiapkan rancangan awal rencana kerja pemerintah daerah (RKPD) sebagai penjabaran RPJM Daerah. Berdasarkan rancangan awal RKPD tersebut, SKPD menyusun rancangan rencana kerja (renja-SKPD), yang selanjutnya berdasarkan rancangan renja-SKPD menjadi bahan dalam pemutakhiran rancangan awal RKPD menjadi rancangan RKPD. Rancangan RKPD ini selanjutnya akan menjadi bahan utama dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (MUSRENBANGDA).”jelasnya.

Dikatannya lebih lanjut, jika ditinjau dari tahun rencana, penyusunan RKPD Provinsi Papua tahun 2011 amatlah strategis karena merupakan perencanaan tahun kelima atau tahun terakhir dari pelaksana Peraturan Daerah Nomor 10 tahun 2006 tentang RPJMD Provinsi Papua tahun 2006-2011. Dimana dalam RPJMD telah ditetapkan empat agenda Pembangunan yaitu : Pertama, agenda menata Kembali pemerintah Daerah; Kedua, agenda Membangun Tanah Papua yang Damai dan Sejahtera; Ketiga, agenda Membangun Tanah Papua yang Aman dan Damai; dan Keempat, agenda Meningkatkan dan Mempercepat Pembangunan Prasarana dan Sarana Dasar (Infrastruktur).

Pasalnya, keempat agenda tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya dan merupakan pilar pokok untuk mencapai visi pembangunan daerah. Keberhasilan pelaksanaan satu agenda akan ditentukan oleh kemajuan pelaksanaan agenda lainnya, yang dalam pelaksanaan tahunan dirinci ke dalam RKPD. Dalam pertimbangan itu maka, yang diarahkan untuk mendorong pencapaian target-target pembangunan dalam RPJMD Provinsi Papua.

Dengan mempertimbangkan perkembangan yang telah dicapai serta masalah dan tantangan yang dihadapi pada masing-masing agenda pembangunan, selanjutnya ditetapkan prioritas pembangunan daerah tahun 2011 dan dijabarkan ke dalam program dan kegiatan pokok pembangunan.

Penentuan prioritas pembangunan Provinsi papua tahun 2011 disusun berdasarkan kriteria sebagai berikut : Pertama, memiliki dampak yang besar terhadap masyarakat yang berada di kampung-kampung; Kedua, mendesak dan penting untuk segera dilaksanakan; dan Ketiga, realistis untuk dilaksanakan dan diselesaikan dalam kurun waktu satu tahun.

Kinerja Pembangunan

Kinerja pembangunan dalam tiga tahun periode pelaksanaan Pemerintahan Gubernur Barnabas Suebu dan Wakil Gubernur Alex Hesegem, telah banyak perkembangan kemajuan pembangunan dalam empat agenda pembangunan.

Secara garis besar, pelaksanaan agenda menata kembali pemerintahan daerah serta agenda mewujudkan aman dan damai sudah menunjukkan hasil yang cukup baik, ditunjukkan terciptanya sistim kelembagaan pemerintahaan yang efisien, efektif dan akunyabel serta perkembangan pembangunan hukum dan penghormatan HAM yang lebih baik. Namun tentunya masih diperlukan pemantapan sistem pemerintahan daerah dan hukum yang lebih optimal.

Selanjutnya, dalam agenda damai dan sejahtera serta meningkatkan dan mempercepat pembangunan prasarana dasar juga sudah menunjukkan hasil yang cukup baik, yang ditunjukkan meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia ekonomi daerah, namun untuk agenda ini masih terdapat kendala dalam upaya pencapaiannya secara optimal, sebabkan oleh kondidi perekonomian yang kurang kondusif serta keterbatasan pendanaan daerah.

Pagu Indikatif

Kelima prioritas pembangunan daerah dalam rancangan RKPD Provinsi Papua tahun 2011 tersebut selanjutnya akan dilaksanakan oleh berbagai program SKPD Provinsi Papua dan Kabupaten/kota serta di dukung oleh program dari kementerian dan Lembaga di tingkat Pusat dalam bentuk dana Dekonsentrasi, DAK dan tugas pembantuan. Untuk itu telah disusun pagu indikatif untuk masing-masing Urusan atau SKPD dari sumber dana APBD Provinsi Papua. Pagu indikatif ini masih ada kemungkinan untuk berubah berdasarkan prioritas yang ditetapkan. Pagu indikatif ini disusun dengan memperhitungkan perkiraan ketersediaan pendanaan APBD pada tahun 2011, yang saat ini masih dalam proses perhitungan bersama oleh Badan Keuangan, Aset Daerah dan Bappeda Provinsi Papua…..(jga)

seLENgkapnya......

Alex Rumaseb : Isu Strategis dan Masalah untuk Papua

“Dari evaluasi terhadap kinerja pembangunan dalam berbagai bidang pembangunan, telah diintrodusir berbagai permasalahan yang menjadi hambatan dalam mewujudkan target-target yang telah direncanakan. Adapun isu strategis dan masalah mendesak untuk tahun 2011 adalah : Pertama, masih tingginya jumlah penduduk Miskin dan Kesenjangan Pembangunan; Kedua, rendahnya Aksesesibilitas dan kualitas Pelayanan Pendidikan; Ketiga, rendahnya Aksesesibilitas dan Kualitas Pelayanan Kesehatan; Keempat, rendahnya Partisipasi Pemuda dan Prestasi Olahraga; Kelima, rendahnya Kualitas pelayanan Publik; Keenam, belum optimalnya penataan kelembagaan, ketatalaksanaan, serta Sistem pengawasan dan Akuntabilitas; Ketuju, lemahnya ketahanan pangan; Kedelapan, semakin meningkatnya kerusakan lingkungan; Kesembilan, Belum optimalnya implementasi Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otsus; Kesepuluh, rendahnya tingkat kemajuan Ekonomi Daerah; Kesebelas, terbatasnya Sarana Prasarana Infrastruktur; dan Keduabelas, belum optimalnya penegakan supremasi Hukum dan HAM serta Ketentraman dan Ketertiban,”demikian dikatakan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Papua, Drs. Alex Rumaseb, MM dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh salah satu stafnya saat menghadiri kegiatan Musrenbangda Kabupaten Deiyai beberapa waktu lalu di Waghete.

Dengan memperhatikan isi dan masalah tersebut, kata Rumaseb “Mengacu pada arah pembangunan RPJMD Provinsi Papua (2006-2011) maka sementara telah dirumuskan rancangan Tema RKPD Provinsi Papua tahun 2011 yaitu Percepatan “PEMANTAPAN PEMBANGUNAN BERBASIS KAMPUNG DAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT”. Tema ini kemudian dijabarkan ke dalam enam prioritas pembangunan, yaitu : Pertama, peningkatan pembangunan kampung serta peningkatan kesejahteraan masyarakat; Kedua, peningkatan aksesibilitas dan kualitas pendidikan dan kesehatan; Ketiga, pengembangan perekonomian rakyat yang didukung oleh revitalisasi pertanian, perikanan, kehutanan, perkebunan serta daya tarik investasi dan pengembangan pariwisata; Keempat, percepatan pembangunan infrastruktur dan pengelolaan energi; Kelima, penguatan otonomi khusus, pembenahan sistem pemerintahan daerah, dan peningkatan upaya anti korupsi; dan Keenam, peningkatan ketentraman, supremasi hukum dan penegakan HAM.”

Untuk lebih mengarahkan kegiatan pembangunan, masing-masing prioritas pembangunan tersebut dijabarkan ke dalam Arah Kebijakan pembangunan ada enam prioritas yang dilakukan oleh pemerintah diantaranya:

Prioritas pertama, yaitu peningkatan pembangunan kampung serta peningkatan kesejahteraan masyarakat, dengan arah kebijakan yaitu peningkatan keberdayaan masyarakat kampung; kesejahteraan sosial dan masyarakat terisolir; peningkatan ekonomi lokal; peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan serta kesejahteraan dan perlindungan perempuan dan anak serta peningkatan pelayanan infrastruktur kampung.

Prioritas kedua, yaitu Meningkatkan pembinaan SDM dengan memberikan perhatihan luas pada upaya Peningkatan aksesibilitas dan kualitas pendidikan dan kesehatan, dengan arah kebijakan yaitu melaksanakan pendidikan anak usia dini; mempercepat penuntasan pelaksanaan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun; peningkatan mutu dan layanan pendidikan menengah umum dan kejuruan, melalui peningkatan sarana dan prasarana serta pembebasan biaya sekolah bagi siswa asli Papua; peningkatan kesempatan belajar ke perguruan tinggi yang bermutu melalui kerjasama dan pemberian beasiswa; meningkatkan kuantitas dan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan disemua jenjang pendidikan; meningkatkan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah; melaksanakan penuntasan buta aksara; penyediaan sarana prasarana perpustakaan; mengoptimalkan peran pemuda dalam pembangunan; meningkatkan pemasyarakatan dan prestasi olahraga; peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat secara merata sampai ke kampung-kampung terpencil, melalui revitalisasi fungsi Posyandu, pelayanan kesehatan gratis bagi penduduk miskin asli Papua disemua jenjang pelayanan kesehatan, peningkatan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan; mendukung tersedianya makanan dan gizi yang mengjangkau masyarakat kampung, melalui penanganan gizi kurang dan gizi buruk pada ibu hamil dan menyusui, bayi dan anak balita; peningkatan pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak; meningkatkan upaya pencegahan penyakiut menular; Meningkatkan kuantitas dan kualitas tenaga medis dan paramedis terutama untuk pelayanan kesehatan di Puskesmas dan jaringannya, pemenuhan tenaga dokter specialis di RS yang ada; peningkatan pemanfaatan obat melalui penyediaan obat generik esensial (buffer stock).

Prioritas ketiga, yaitu Pengembangan Perekonomian Rakyat dengan komoditas-komoditas berorientasi pasar yang didukung oleh Revitalisasi Pertanian, Perikanan, Kehutanan, Perkebunan dan Daya Tarik Investasi, dengan arah kebijakkan Peningkatan Daya Tarik Investasi, Perdagangan, Pariwisata serta Peningkatan Kesempatan Kerja; Pemberdayaan koperasi, usaha Mikro Kecil dan Menengah; Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan.

Prioritas keempat, yaitu Percepatan pembangunan infrastruktur dan pengelolaan energi, dengan arah kebijakkan pembangunan/Peningkatan jalan dan jembatan; Mengembangkan prasarana dan fasilitas perhubungan laut; Peningkatan pelayanan angkatan laut melalui Meningkatkan fasilitas Perhubungan Udara; Pembangunan prasarana air bersih; pengadaan solar cell dan mikro hydran (PLTA mini) untuk kebutuhan masyarakat di kampung-kampung; Pembangunan PLTA skala besar untuk memenuhi kebutuhan pembangunan industri dan energi murah.

Priooritas kelima, yaitu Penguatan Otonomi Khusus, pembenahan sistem pemerintah daerah, dan peningkatan upaya anti korupsi, dengan arah kebijakkan peningkatan pengawasan dan akuntabilitas; peningkatan profesionalme tenaga pemeriksa dan aparatur pengawasan; peningkatan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan; peningkatan kualitas pelayanan melalui mengembangkan standar kinerja pelayanan publik; peningkatan dan pengembangan pengelolaan keuangan daerah dan peningkatan sistem pengadaan barang dan jasa.

Prioritas keenam, yaitu Peningkatan ketentraman, supremasi hukum dan Penegakan HAM, dengan aray kebijakkan peningkatan pengawasan dan akuntabilitas; peningkatan ketentraman dan ketertiban masyarakat dan pencegahan tindak kriminal; peningkatan perlindungan hak-hak khusus penduduk asli Papua…….(jga)

seLENgkapnya......

Pertimbangan Provinsi Papua untuk Kabupaten Deiyai

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Papua, Drs. Alex Rumaseb, MM melalui sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh stafnya belum lama ini di Deiyai mengatakan bahwa yang menjadi pertimbangan Provinsi Papua dalam penyusunan prioritas pembangunan di Kabupaten Deiyai untuk tahun 2011 yakni melihat kinerja pembangunan manusia yang diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2008, Kabupaten Deiyai berada pada daerah dengan kategori IPM yang rendah di Provinsi Papua.

Pasalnya, hal-hal tersebut menunjukkan bahwa pembangunan manusia di Kabupaten Deiyai harus tetap menjadi perhatihan utama dalam penyusunan prioritas program dan kegiatan pembangunan daerah.

“Peningkatan IPM ini dapat dilakukan dengan cara lebih meningkatkan pelayanan dasar kesehatan dan pendidikan. Untuk meningkatkan kualitas kesehatan dengan semakin mendekatkan pelayanan kesehatan ke masyarakat kampung dengan memberi perhatihan serius pada kesehatan ibu dan anak serta masalah endemi Malaria dan HIV/AIDS. Dengan demikian partisipasi pendidikan harus tetap ditingkatkan dengan menghilangkan hambatan anak didik untuk mendapat pendidikan baik hambatan yang muncul karena jarak maupun biaya.”ujarnya.

Dikatakan lebih lanjut bahwa kinerja Kabupaten Deiyai dalam mengatasi kemiskinan masih perlu ditingkatkan. Pengurangan pengangguran dan kemiskinan harus tetap menjadi prioritas utama bagi Pemerintah Kabupaten Deiyai. Untuk mempercepat penurunan angka kemiskinan yang sejalan dengan kebijakkan provinsi dan nasional, pelaksanaan berbagai program pembangunan perlu diarahkan ke distrik-distrik dan kampung-kampung, serta dilakukan dengan pola Respek. Dengan demikian, pelaksanaan program pembangunan dapat meningkatkan ketersediaan dan perbaikan serta pemeliharaan prasarana dan sarana fisik dan berbagai sarana pelayanan dasar, serta sekaligus menciptakan kesempatan kerja dan pendapatan bagi masyarakat.

“Berbagai persoalan spesifik yang dihadapi masyarakat Papua khususnya masyarakat Kabupaten Deiyai, hendaknya dapat ditangani secara terkoordinasi dan terintegrasi antara pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Hal inilah yang menjadi esensi dalam melaksanakan pembangunan dan diupayakan dapat sejalan dengan fokus pelaksanaan agenda RPJMD Provinsi Papua tahun 2006-2011 dan RKPD tahun 2011.

Dengan demikian, dalam rencana tahun 2011 kami berharap dapat memperhatikan pencapaian sasaran dari keempat agenda pembangunan di Provinsi Papua, terutama bagi program yang relevansinya pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, yaitu : pengurangan kemiskinan dan peningkatan ketahanan pangan, peningkatan kualitas pendidikan, peningkatan pelayanan kesehatan, pengembangan sarana dan prasarana wilayah dalam rangka mengatasi isu terkini Provinsi Papua diatas, dan kebijakkan yang memihak (affirmative policy) pada putra-putri asli Papua,”jelasnya.

Selanjutnya, kita juga perlu mengantisipasi perubahan iklim global yang merupakan ancaman nyata bagi kehidupan manusia pada saat ini dan di masa yang akan datang. Adanya perubahan iklim akan berdampak pada perubahaan siklus musim panas dan hujan, terjadinya banjin dan badai, serta bermunculannya wabah penyakit endemik. Bencana tersebut dapat mengancam pencapaian target pembangunan daerah dan tujuan pembangunan milenium. Oleh sebab itu, kita harus mengantisipasi sejak dini dan dampat perubahan iklim tersebut.

Masih dikatakanya, pemerintah kabupaten di harapkan lebih mengenal dan memahami dampat perubahan iklim yang terjadi di daerah, dan menjadikan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sebagai isu stratagis dan prioritas pembangunan daerah pula. Mengenai penyelenggaraan penataan ruang di Kabupaten Deiyai diharapkan meningkatkan pengaturan, pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan tata ruang daerah guna mewujudkan kualitas penyelenggaraan penataan ruang serta pembangunan yang berkelanjutan dan dilaksanakan secara terpadu.

“Demikianlah beberapa hal yang dapat saya sampaikan mengenai permasalahan dan tantangan pembangunan daerah kita, arah kebijakkan, rancangan prioritas untuk tahun 2011 di tingkat Provinsi serta beberapa pendangan kami khususnya mengenai pembangunan di Kabupaten Deiyai melalui perspektif Provinsi. Kiranya hal-hal tersebut dapat menjadi pertimbangan dan masukan dalam penyusunan RKP Daerah Kabupaten Deiyai 2011 mendatang. Saya harapkan juga musrenbang Kabupaten ini dapat menghasilkan keluaran berupa kesepakatan usulan-usulan program dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan diajukan kepada Pemerintah Provinsi (c.q. Bappeda) paling lambat minggu pertama bulan April 2010, untuk menjadi bahan Musrenbang Provinsi Papua.

Guna lebih meningkatkan daya guna atas keluaran dari Musrenbang Provinsi Papua 2010, pada kesempatan ini saya minta kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Deiyai untuk dapat menetapkan isu-isu strategis sesuai prioritas Kabupaten serta lebih menajamkan usulan-usulan dari SKPD untuk dibahas dalam Musrenbangdaprov 2010. Penajaman tersebut mengacu pada kelima prioritas pembangunan Provinsi dalam rancangan RKPD 2011, dengan memberikan bobot prioritas sesuai tingkat kebutuhan di Kabupaten Deiyai. Selanjutnya dalam acara musrenbang ini pada pembahasan-pembahasan setiap bidang pembangunan akan didampingi oleh Tim Asistensi Bappeda Provinsi Papua.”tandasnya…..(jga)

seLENgkapnya......

My Number NPWP

NPWP : 58.996.735.5-953.000 Terdaftar : 12 Desember 2008

My Daily

Lahir di Karang Mulia Nabire, 17 Januari 1984. Alumni dari Perguruan Tinggi STIE PORT NUMBAY JAYAPURA WEST PAPUA pada Jurusan Managemen Program Study Management Keuangan Tahun 2004. Pernah bekerja sebagai Journalis di Media lokal di kota Minyak Sorong dan lewat pekerjaan itu saya di tugaskan sebagai KABIRO Journalis perwakilan di Kab. TelBin. Hingga kini saya masih menulis tulisan dan dimuat di web bloger www.jemmyadii.blogspot.com, www.wikimu.com. Selain itu juga, pernah bekerja sebagai Aktivis di LSM Bin Madag Hom anak cabang Yalhimo Manokwari selama lebih kurang 2,5 tahun. Juga pernah bekerja sebagai sebagai GovRell & CommRell pada PT. MineServe International Timika, loker di Bilogai, Sugapa, Kab. Paniai (kini menjadi Kabupaten Intan Jaya). Sekarang bekerja sebagai Staf PNS pada Bappeda & di Mutasi ke Dinas Keuangan Kab. Deiyai Tahun 2014 hingga 2017. Tahun 2017 hingga tahun 2020 saya dimutasi lagi ke BAPPEDA. Pada tahun 2020 hingga seterusnya saya di mutasi lagi ke Sekretariat Daerah Deiyai dengan Jabatan sebagai Kasubag Analisis Jabatan (ANJAB) Bagian Organisasi Sekretariat Daerah Kabupaten Deiyai. Status saya sudah berkeluarga, dalam keluarga saya sebagai anak sulung dari empat bersaudara. Asal kampung saya di Puteyato, Komopa dan Amago Kabupaten Deiyai & Paniai........Kuasa Ugatame sangat Dasyat. Mujizat Ugatame itu Nyata. Dapat Ugatame Dapat Semuanya. Bagi Ugatame tidak ada yang Mustahil. Ugatame ini enaimo.(Matius 6:33;7:7; I Tesalonika 5:16, 17 & 18; Filipi 4:6; Wahyu 1:17b & 18; 2:10;dll)_PKAZ-adiibo
Template by : kendhin x-template.blogspot.com