Permasalahan kemiskinan dari hari keharinya tidak akan dapat diselesaikan semudah membalikkan telapak tangan. Banyak faktor yang mempengaruhi hingga kemiskinan sampai pada hari ini masih saja ditemukan di tengah-tengah masyarakat yang seharusnya dianggap oleh sebagian kalangan sebagai masyarakat mampu atau kaya.
Sebagai contoh adalah Heterogenitas masyarakat Papua khususnya di Sorong membuat paradigma masyarakat yang terbentuk bahwa tidak ada masyarakat miskin di daerah yang memiliki daya konsumtif yang tinggi ternyata ada betulnya.
Dimana pola pikir atau mind set yang telah tertotok erat dalam benak masyarakat bahwa miskin adalah ‘papa’ alias tidak memiliki materi atau tidak berlimpah harta benda sudah menjadi kebiasan turun temurun yang beranak pinak. Padahal banyak penyebab yang mengakar sehinngga munculnya kata ‘miskin’ tersebut.
Sebagai contoh adanya nilai kemanusian yang telah luntur adalah, semakin maraknya bangunan infrastruktur di sana-sini namun kemiskinan masih saja ditemukan di berbagai pelosok wilayah baik di perkotaan maupun di perkampungan. Serta contoh, masih banyaknya koruptor dinegara ini yang terus berkembang bak ‘bisul’ yang enggan pecah di tengah-tengah masyarakat yang terlihat kaya ternyata ‘miskin’ akan nilai kemanusiaan.
Apakah miskin hanya sebatas tidak memiliki uang, tidak memiliki pendapatan, tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki jabatan serta tidak memiliki lainnya adalah bentuk kemiskinan yang sesungguhnya, adalah pertanyaan besar yang wajib dijawab oleh semua insan Tuhan bukan hanya pemerintah sebagai alat pelayanan masyarakat.
Ternyata mind set yang telah menjadi paradigma setiap individu mengenai kemiskinan membuat masyarakat Indonesia berpikir sesempit paradigma yang dibentuk. Apabila dilihat, faktor utama dari problema kemiskinan sebenarnya terletak dari masing-masing individu insan Tuhan Yang Maha Esa yang telah melupakan nilai-nilai diri sebagai manusia.
Jika miskin hanya sebatas memenuhi pendapatan materi, mengapa pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan pembuat kebijakan tidak mensubsidi terus menerus masyarakat miskin dengan cara membagikan uang tiap hari kepada masyarakat yang dianggap miskin. Namun sampai kapan dana pemerintah akan mencukupi membiayai masyarakat miskin Indonesia yang kompleks memandang penegertian mengenai ‘miskin’.
Ada baiknya, pembangunan pola pikir kita sebagai anak bangsa perlu melakukan perubahan dari pola pikir lama menjadi pola pikir yang lebih kreatif dan luas perlu ditingkatkan sejak dini. Tentunya dengan mengharapkan agar nilai kemanusian yang ternyata telah luntur ditengah masyarakat yang cukup ‘madani’ dapat terpenuhi dan dibentuk.
Mari kita mulai berpikir bahwa jangan takut ‘miskin’ karena tidak memiliki uang, jabatan, rumah mewah, hand phone 3 G, dan alat kapitalis lainnya, melainkan mari merubah cara pandang kita bahwa kita seharusnya takut ‘miskin’ kehilangan nilai luhur kita sebagai manusia yang mencintai kedamaian, gotong royong, kebersamaan, peka terhadap sesama dan lain sebagainya dengan tujuan bahwa ‘miskin’ yang sesungguhnya adalah takut akan bersifat individualistis…..Semoga..!!! (Jemmy Gerson Adii-olha)
Asmara Gen Z
-
Episode count updated. (26 March 2026)
← Revisi sebelumnya Revisi per 26 Maret 2026 12.26
Baris 35: Baris 35:
| language = Bahasa Indonesia
| language =...
9 jam yang lalu
0 komentar:
Posting Komentar