Masyarakat pedalaman dan pesisir di tanah Papua pada umumnya menginginkan sumber daya alam (SDA) yang semakin melimpah ruah ini agar bisa dikelolah dengan baik, sehingga di waktu kelak kemudian adanya peningkatan ekonomi kerakyatan.
Untuk itu perlu adanya organisasi atau kelompok yang di bangun di tingkat basis guna menjadi pendamping atau fasilitator membangun bersama masyarakat untuk mendorong perubahan melalui kelompok usaha bersama (KUBE) serta lain-lainnya.
Keinginan masyarakat ini timbul karena mengingat SDA di tanah papua melimpah ruah, namun masyarakat sulit untuk mengelolahnya. Dari kesulitan itu salah satunya yang paling strategis menurut penulis pentingnya mendorong perubahaan melalui KUBE.
Sebab keinginan masyarakat akan perubahan melalui KUBE tersebut sebagai wadah ekonomi kerakyatan, karena secara harafiah KUBE dibentuk dan didirikan untuk mengimplementasikasikan isu pemberdayaan ekonomi kerakyatan pada masyarakat kecil oleh pihak-pihak yang memiliki keprihatinan serta kepedulian terhadap perekonomian masyarakat lemah (modal, ketrampilan dan pemasaran), umumnya yang mendirikan media tersebut adalah Organisasi Non Pemerintah di Indonesia, diantaranya adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang konstituentnya adalah kelompok masyarakat bawah.
Selain sebagai media organisasi ini diaplikasikasikan sebagai alat perjuangan masyarakat kecil untuk memperoleh akses dan pelayanan dari pemerintah atau pihak swasta lainnya sebagai tanggungjawab moral dalam mengembangkan mikro ekonomi guna menopang perekonomian nasional.
Terkait dengan hal tersebut, salah satu LSM yang bergerak di bidang lingkungan hidup yakni YALHIMO Manokwari sebagai salah salah Ornop yang konstiuent-nya adalah masyarakat adat Papua, Khususnya di kawasan Kepala Burung, turut serta mengimplementasikan keprihatinan dan kepeduliannya terhadap perekonomian masyarakat kampung dampingan melakukan pengorganisasian pada kelompok-kelompok swadaya masyarakat dengan sebutan KUBE pada beberapa kampung dampingan di 3 kawasan (Wi ma Rawana, Bin Madag Hom dan Manimpur).
Dari catatan penulis, sejarah singkat tentang KUBE pada kampung dampingan YALHIMO bermula dari keprihatinan lembaga terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di tingkat kampung. Kampung yang didorong dengan KUBE untuk usaha kecil ini meliputi; 1) Yariyari 2) Isenebuay, 3) Yembekiri dengan aktifitas pendampingan berupa stimulant untuk kegiatan nelayan, 4) Werabur berupa kegiatan stimulant untuk kelompok peramu minyak Lawang kecamatan Ransiki Kabupaten Manokwari pada waktu itu. Khususnya untuk kampung Yembekiri pendiriannya pada tahun 2005.
Cerminan kelembagaannya terlihat pada struktur organisasinya yang dominant menggunakan system lini atau garis lurus yang dipadukan dengan system staffing, artinya secara internal dalam tubuh organisasi KUBE komunikasi antar struktur dan anggota berdasarkan komando dari ketua atau pimpinan KUBE. Sedangkan komunikasi antara organsiasi KUBE dengan YALHIMO cenderung menerapkan jalur komunikasi melalui kordinasi atas komando dari pimpinan YALHIMO.
Penerapan kelembagaanya dari dari sisi administrasi belum memperlihatkan kejelasan dan proses dari mekanisme implementasi fungsi eksekutif (pelaksanaan), konstitusi (aturan) dan monitoring (pengawasan). Hal ini disebabkan Organsiasi dan kelembagaan KUBE yang difasilitasi oleh YALHIMO sampai dengan saat ini belum memiliki metode yang dibakukan dalam regulasi internal pt. YALHIMO, prosesnya berjalan atas dasar “sosial feeling”, artinya variasi pendampingannya beragam menurut pengetahuan, pemahaman dan pengalaman yang minim dari staf lapangan.
Kelembagaan KUBE yang difasilitasi oleh YALHIMO merupakan lembaga informal ekonomi masyarakat yang dibentuk berdasarkan keprihatinan sosial pada masyarakat adat yang memiliki potensi Sumber Daya Alam, namun belum memiliki akses pemanfaatan dan kontrol yang baik terhadap potensi tersebut.
Dari sisi advokasi kelembagaan KUBE sebagai media gerakan masyarakat ekonomi lemah untuk memperjuangkan “ketidakadilan” dalam perekonomian yang cenderung kapiltalis yang polanya mengikuti ritme mekanisme pasar dan kekuatan modal.
Akhir tulisan ini, sebagai kesimpulan masyarakat akar rumput jika kalau di dorong dengan KUBE maka tingkat ekonomi kerakyatan akan membaik, asal saja ada pendampingan………..!!!!!! (Jemmy Gerson Adii/Yalhimo)
Dayung Sampan
-
Popularitas di luar Indonesia: menambahkan rujukan #1Lib1Ref #1Lib1RefID
← Revisi sebelumnya Revisi per 5 Februari 2026 00.28
Baris 7: Baris 7:
== Popu...
1 jam yang lalu
0 komentar:
Posting Komentar