Bertempat di lapangan bola kaki Desa Yokatapa Distrik Sugapa, Jumat (9/01/2009) beberapa waktu lalu dilangsungkannya kegiatan pesta bakar batu. Kegiatan itu di hadiri lebih kurang 1000-an masyarakat Moni, Nduga, Dani dan Suku nusantara. Sementara dari lima distrik hanya yang hadir dua kepala distrik yakni Kepala Distrik Sugapa, Bartolomius Mirip, S.pd dan Kepala Distrik Wandae, Markus Miagoni.
Ucapan syukur yang di rayakan masyarakat Moni dan pimpinan pemerintah distrik yakni sebagai tanda hadirnya Kabupaten Intan Jaya yang di sahkan oleh DPR RI pada tanggal 29 Oktober 2008 silam. Dimana, UU. NO. 54 untuk pemekaran Kabupaten Intan Jaya dan UU. NO. 55 untuk pemekaran Kabupaten Deiya.
Untuk diketahui kegiatan yang sama pula juga di lakukan oleh masyarakat moni, baik yang ada di Jawa-Bali, Manado, Jayapura, Timika bahkan Paniai.
Kali ini atas inisiatif dari masyarakat lima distrik maka di rayakannya kegiatan pengucapan syukur yang sesuai kebiasaan setempat yakni melalui pesta bakar batu di laksanakan kegiatan ini di ibu kota kabupaten, dengan jumlah masyarakat yang hadir lebih kurang 1000-an yang tinggal dan mendiami di 14 Desa Distrik Sugapa diantaranya, Bilogai, Puyagia, Yokatapa, Joparu, Mamba, Titigi, Eknemba, Ugimba, Bilondoga, Emondi, Mindau, Jalae, juga hadir pula masyarakat dari empat distrik lainnya yakni Distrik Hitadipa, Distrik Agisiga, Distrik Homeo, Distrik Wandae.
Kegiatan pesta bakar batu ini di pimpin oleh Kepala Distrik Sugapa, Bartolomius Mirip, S.Pd di awali dengan penyampaian kisah perjuangan hadirnya Kabupaten Intan Jaya ini.
Sebagai awal kata dalam penyampaian kisah perjuangan, Kepala Distrik Sugapa, Bartolomius Mirip, S.Pd mengatakan bahwa hadirnya Kabupaten Intan Jaya itu atas kerja sama semua pihak tanpa terkecuali termasuk masyarakat Moni, Ndauga dan Dani yang ada di sini (Sugapa-red).
“29 Oktober 2008 lewat DPR RI sahkan RUU pemekaran Kabupaten Deiya dan Kabupaten Intan Jaya menjadi UU”kisahnya. Dikatakannya, untuk perjuangan ini sangat banyak hambatan dan halangan, tetapi kita sebagai suku moni bisa melewati itu dengan sendirinya, serta juga tidak terlepas dari penyertaan sang Bapa di Sorga kepada kita.”ungkapnya dan mendapat aplaus dari semua masyarakat yang ada di tempat kegiatan itu.
Selanjutnya, kegiatan ini di awali dengan Doa Syukuran yang di bawakan oleh Pdt. Timotius Miagoni.
Dalam sambutannya Kepala Distrik Sugapa, Bartolomius Mirip, S.Pd mengatakan dengan dilanghsungkannya syukuran ini kita dapat membagi rasa sukacita diantara semua pihak, sebab untuk memperjuangkan segala sesuatu memanglah sangat berat. Untuk itu Ia menghimbau agar semua komponen masyarakat perlu terus membina serta menjaga kesatuan dan persatuan, sebaliknya tanpa ada hal itu (kesatuan dan persatuan-red) berarti tidak ada damai diantara kita.
Sekarang UU sudah ada di tangan Bupati beberapa waktu lalu yang mana diantar langsung oleh Max Aruri (Biro Pemerintah Provinsi Papua), di rencanakan dalam waktu dekat UU tersebut akan di serahkan dari pemerintah kabupaten Paniai kepada Deiyai dan Intan Jaya.
Sementara itu ditempat yang sama, Danramil Sugapa, George T dengan mengatakan dengan tegas bahwa jika semua intelek dan masyarakat inginkan kabupaten, nah sekarang saat lagi untuk kita tinggalkan perang marga/suku. Tetapi marilah kita jemput kabupaten ini dengan damai, serta pentingnya anak-anak generasi di sekolahkan.
Di tempat yang sama, mewakili Pastor Paroki Bilogai, Frater Yudhy mengatakan Tanah ini adalah tanah terberkati, oleh sebab itu kalau Intan Jaya hadir disini bukan hasil usaha 1 atau 2 orang saja tetapi hasil usaha kita semua, dan jangan lagi membuat hal-hal yang tidask di kehendaki Tuhan di tanah yang sudah di berkati ini.
Di kesempatan yang sama pula, Dewan Adat Sugapa, Manfred Sondegau, Kaum Intelektual, Saul Sondegau dan utusan dari Timika, Apolos Bagau tentang pentingnya bergandengan tangan antara satu dengan yang lainnya, sebab satu untuk semua tanpa memandang suku, ras dan agama, dan di haruskan untuk bekerja sama demi tercapainya kesejahteraan yang baik di negeri yang penuh dengan susu dan madu ini.
Komentar Masyarakat
Kepala Desa Titigi, Rafael Agizimijau menegaskan bahwa pejabat dan intelektual harus bersatu, karena masyarakat sudah bersatu selama ini. Penuturan lainnya juga di sampaikan oleh Kepala Desa Joparu, Andreas Tipagau bahwa ketika kabupaten Intan Jaya ada dan sudah ada karateker di harapkan jangan ada mobil kaca gelap dalam artian tidak boleh ada pekerja seks komersial (PSK) yang masuk ke Intan Jaya, dan harus juga ada kerja sama dari semua pihak terutama bapa-bapa pejabat dan intelektual, dimana jangan saling baku hantam dan baku jatuhkan karena jabatan dan kepentingan belaka……..!!! (Jemmy Gerson Adii)
Me
Stock Pengunjung...!!
My Mesages
Your Mesages..!!
Category
My Site
-
PSD Demak - Rekor musim ke musim ← Revisi sebelumnya Revisi per 4 Februari 2026 10.21 Baris 61: Baris 61: * 2022 [[Liga 3]] Peringkat 3 Grup M (Regional Jateng) * 2...13 jam yang lalu
-
Termasuk Williams Bersaudara, 4 Bintang Athletic Bilbao Dipastikan Absen Lawan MU - Athletic Bilbao telah mengumumkan daftar pemain mereka yang berangkat ke Inggris untuk menghadapi Manchester United.8 bulan yang lalu
-
Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Bekasi Tembus 20 Ribu - *Liputan6.com, Bekasi -* Jumlah kumulatif kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, saat ini tembus di atas 20.000 kasus. Be...4 tahun yang lalu
-
Grosir pakaian Anak - mangga dua merupakan di antara pusat perbelanjaan yang ada di ibukota jakarta, letak dari pusat perbelanjaan ini ada di tempat jakarta utara. dapat disebut...10 tahun yang lalu
-
JOKOWI SETUJU PAPUA REFERENDUM - Sebuah berita cukup menarik termuat di www.gebraknews.com dengan judul “JOKOWI SETUJU REFERENDUM PAPUA MERDEKA” menjadi berita yang perlu dicermati , ka...11 tahun yang lalu
-
48 Orang Terjangkit HIV/Aids - *Solopos.com*, 26 Agustus 2013 *WONOGIRI *-- Sebanyak 48 orang di terjangkit virus HIV/Aids. Tiga orang di antaranya adalah penderita baru atau baru diket...12 tahun yang lalu
-
VISI TUHAN UNTUK GEREJA KINGMI PAPUA - VISI TUHAN UNTUK GEREJA KEMAH INJIL (KINGMI) DI TANAH PAPUA “BEKAS ANAK –ANAK PENGUASA BUMI PEGUNUNGAN PAPUA” Suatu Penglihatan Dari Ev. Petrus Giay 29 Mar...16 tahun yang lalu
-
-
-
-
-
-
-
-
-
My Arsip Blog
- Nov 23 (1)
- Nov 24 (4)
- Nov 25 (1)
- Nov 26 (1)
- Des 02 (1)
- Des 08 (2)
- Des 20 (1)
- Des 23 (1)
- Des 27 (1)
- Des 28 (2)
- Feb 08 (3)
- Feb 09 (7)
- Feb 14 (1)
- Feb 16 (6)
- Feb 18 (2)
- Feb 24 (3)
- Feb 28 (1)
- Mar 06 (1)
- Mar 08 (1)
- Mar 09 (1)
- Apr 13 (2)
- Apr 19 (1)
- Apr 27 (1)
- Mei 06 (1)
- Jun 08 (2)
- Jun 10 (1)
- Jul 06 (3)
- Jul 12 (1)
- Jul 14 (1)
- Jul 17 (1)
- Agu 29 (1)
- Sep 11 (1)
- Sep 17 (1)
- Okt 31 (1)
- Nov 01 (1)
- Jan 11 (1)
- Mar 01 (12)
- Mar 30 (1)
- Mar 31 (1)
- Apr 14 (1)
- Apr 18 (1)
- Mei 07 (1)
- Mei 10 (1)
- Mei 12 (2)
- Mei 28 (3)
- Jun 02 (1)
- Jun 24 (1)
- Jul 07 (1)
- Jul 30 (1)
- Jul 31 (1)
- Agu 10 (2)
- Agu 21 (1)
- Agu 22 (2)
- Sep 12 (1)
- Okt 15 (6)
- Okt 25 (3)
- Okt 27 (3)
- Okt 29 (2)
- Nov 02 (1)
- Nov 03 (2)
- Nov 17 (1)
- Des 22 (1)
- Jan 16 (2)
- Feb 04 (1)
- Mar 15 (3)
- Mar 20 (4)
- Mar 23 (1)
- Mar 27 (4)
- Mei 25 (1)
- Jun 17 (1)
- Jul 14 (2)
- Agu 04 (4)
- Agu 05 (1)
- Agu 07 (1)
- Agu 14 (1)
- Agu 17 (3)
- Sep 04 (3)
- Sep 06 (4)
- Sep 27 (3)
- Okt 13 (1)
- Okt 22 (3)
- Nov 09 (1)
- Nov 26 (3)
- Mar 23 (15)
- Mei 16 (1)
- Jun 05 (2)
- Jun 13 (1)
- Jun 24 (2)
- Sep 16 (1)
- Okt 11 (2)
- Agu 11 (1)
- Sep 16 (1)
- Sep 29 (1)
- Mar 23 (5)
- Jul 27 (13)
- Agu 27 (37)
- Agu 29 (4)
- Mei 28 (1)
- Nov 26 (1)
News from Detik
God Bless You All and Me
09 Februari 2009
Masyarakat Moni Rayakan Ucapan Syukur atas Hadirnya Kabupaten Intan Jaya
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
03.52
0
komentar
Label: SOSIAL BUDAYA
Semangat Memberantas Korupsi Tumbuh Bagaikan Jamur di Musim Hujan…..!!!
Semangat memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) memang tumbuh bagai jamur di musim hujan. Meski harus diakui yang tampak masih baru sebatas pertarungan retorika. Sejumlah pernyataan hangat meruak saling bersahutan.
Salah seorang bisa saja tergelincir sebelum pedang melumpuhkan lawan. Asas praduga tak bersalah memang harus dijunjung. Namun reaksi dan tanggapan terhadap kecurigaan KKN tidak boleh mematikan proses dan dinamika pencarian kebenaran. Penghakiman masa lalu seperti bergulir di atas cermin yang sangat bening.
Setiap harinya kita tiada henti-hentinya mendengar teriakan orang-orang yang menuntut keadilan dengan kemarahan yang meluap-luap, baik melalui mata ketika kita melihat, melalui telinga ketika kita mendengar. Sedangkan bagi masa lalu dari orang-orang yang dahulu perkasa, cermin tersebut seakan begitu buramnya. Hujatan dilontarkan bertubi-tubi terhadap masa lalu mereka. Kontroversial demi kontroversial terus saja hadir di tengah kita.
Para pejabat negara yang seharusnya mencerdaskan, justru semakin mengaburkan persoalan. Orang-orang pemerintah yang seharusnya bersuara satu, malah hiruk-pikuk dengan kesibukan saling membantah. Motif komunikasi memang selalu terkait dengan konsepsi kebahagian seseorang. Seseorang yang konsepsi kebahagiaannya terganggu, mulai mencari strategi untuk merumuskan tindak komunikasi yang seseuai motifnya.
Bukan tidak mungkin seseorang yang terlibat KKN, justru berteriak paling nyaring mengenai kasus KKN orang lain. Ini semata agar konsepsi kebahagiaannya tak terganggu. Memang, berbicara tentang korupsi di Indonesia adalah berbicara tentang hijaunya pepohonan di pegunungan. Kepekatan warna hijau hanya bisa dilihat oleh mereka yang jauh dari pegunungan.
Penghuni gunung memandang pepohonan sebagai bagian dari keseharian yang tidak perlu diperdebatkan. Tak perlu membantah berlebihan, memang langkah bijak. Sebab, psikologi sosial masyarakat kita sudah terbentuk sedemikian rupa sehingga apa yang dibantah itulah yang diyakini sebagai kebenaran. Dalam situasi demikian, reaksi-reaksi berlebihan justru merugikan, karena hanya akan menguatkan sinyalemen dan tudingan.
Lembaga legislatif boleh jadi kini menjadi tempat paling pas dalam menyampaikan pendapat. Maklum, lembaga yang kini memiliki sebagian besar darah segar, tampak begitu enerjik dalam melakukan kontrol terhadap jalannya pemerintahan. Upaya pemberantasan KKN bergaung keras dari DPR, meski belakangan terdengar tudingan yang menyatakan ada anggota DPR justru terlibat KKN. Tekad bulat DPR dalam memberantas KKN ini, bisa menjadi mimpi buruk bagi pelaku KKN di masa lalu, sekarang dan akan datang.
Legislatif jelas bukan yudikatif, persoalan yang mengemuka di lembaga wakil rakyat itu jelas tak dapat diselesaikan secara hukum. Apa pun yang dikemukakan di sana, lebih banyak berdampak politis. Jalur hukum memang merupakan cara penyelesaian paling fair. Tetapi masyarakat telah terlampau lelah menunggu penyelesaian kasus-kasus KKN. Apalagi selama ini telah terbukti kita lamban dalam memberantas, tapi cekatan dalam membantah.
Persoalan yang selalu terjadi antara pihak yang satu dengan pihak yang lain ini telah cukup lama bergulir di tengah masyarakat. Data yang disampaikan pun berbeda. Tak tahu mana yang benar. Karena itu, bagaimana bila KITA tampil bersama di muka umum. Berdebatlah secara jantan dengan berlatar data masing-masing, sebab masyarakat ingin melihat kebenaran berbicara sendiri dari siapa saja…….Semoga…!!! (Jemmy Gerson Adii/Ediya Moralia)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
03.49
0
komentar
Bilogai-Sugapa, Pasti Menjadi Perhatihan Banyak Pihak
Sekarang ini banyak orang menaruh perhatian pada Bilogai distrik Sugapa (Sekarang Sudah Menjadi Kabupaten Intan Jaya-red), karena salah satu distrik yang dahulu merupakan bagian dari Kabupaten Paniai Papua, suatu saat nanti akan memberi Kado Istimewa dari tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain kepada berbagai lapisan dan golongan manusia di seluruh Dunia termasuk Indonesia seperti salah satunya di Tembagapura selama ini yang di lakukan oleh PT. Freeport Indonesia.
Sesuai hemat penulis, ketika orang lain mau bepergian kewilayah Sugapa ini yang berada di atas ketinggian kaki gunung itu memang masih sangat sulit sekali, sebab belum ada jalan-jalan trans. Meskipun sudah mulai dikerjakan, tetapi orang sudah hampir bisa sampai kemana-mana dengan pesawat terbang sejenis AMA, PILATUS, SUSI AIR dan TWIN OTHER dan dengan berjalan kaki.
Akan tetapi hal yang paling menarik bagi para Investor Ilmuwan Asing, Mahasiswa dan para Pemerintah adalah kenyataan bahwa disana (Sugapa-red) pada satu pihak, telah terlihat PT. FI COW “B” telah melakukan survey-eksplorasi selama sembilan ( 9 ) tahun dan sudah ditemukannya sumber cadangan kandungan mineral emas terbesar di dunia setelah Cadangan Kadar Emas-di Kucing Liar Amolle Tembagapura.
Khusus di Bilogai/Sugapa sendiri juga terdapat cadangan emas sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh PT. FI berdasarkan Kontrak Karya Generasi II tahun 1989-1990 itu berpusat di Gunung Wabu (Gunung Bula-red) tepatnya di bagian sebelah selatan Ibu Kota Distrik Sugapa yang saat ini sudah menjadi salah satu Kabupaten Otonom itu. Pasalnya, saat ini masyarakat suku moni dan beberapa suku lainnya mendambahkan agar suatu kelak nanti negeri ini akan berkembang pesat sama dengan daerah-daerah lainnya yang sudah lebih dahulu maju.
Sementara pada pihak lain, masih terdapat daerah pedalaman atau masih ditemukan sisa-sisa zaman batu. Daerah ini di kenal dengan banyak sekali terdapat gunung-gunung yang sangat sulit sekali di tanjaki serta diiringi pengunungan salju yang membentangi amat luas hutan rimba pada berbagai tingkat ketinggian serta pelbagai jenis dataran tanah tinggi yang amat subur. Wilayah sugapa Kabupaten Intan Jaya ini memiliki beraneka ragam Flora dan Fauna, yang sesuai dengan khas sifatnya. Maka daerah ini menjadi suatu Firdaus untuk penelitian lapangan bagi para ahli ilmu alam dan ahli ilmu lain.
Hal ini dengan sendirinya menjadi lebih kuat lagi bagi penelitian para Antropologi dan Ahli Bahasa yang akan menemukan variasi bahasa dan kebudayaan suku-suku yang terdapat di tempat-tempat ini. Justru paling menarik adalah kenyataan bahwa orang-orang Sugapa melalui kebudayaan-kebudayaan mereka sekarang tengah mengalami perubahan dan atau perkembangan yang tahap-tahap perkembangannya diberbagai wilayah dapat dengan mudah dibaca dan diperbandingkan antara satu dengan yang lainnya. Di wilayah Sugapa Kabupaten Intan Jaya ini, masih banyak terdapatlah bivak-bivak, gubuk-gubuk, dusun-dusun, desa-desa yang berkotak-kotak serta terdapat pula pusat-pusat pemukiman kecil yang mulai sedang berkembang.
Apa yang sekarang bisa terjadi lagi dalam gerak perkembangan lebih jauh di dalam proses semakin terbukanya pelbagai daerah, ketika ada hasilnya menuju produksi kelak…….Semoga..!!! (Jemmy Gerson Adii & Elias Japugau)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
03.47
0
komentar
Label: EDITORIAL, POLITIK, SOSIAL BUDAYA
Lebih Baik Bekerja di Lapangan, Ketimbang Dikantor
Bekerja di belakang meja sepertinya lebih aman ketimbang harus berjibaku di lapangan atau proyek konstruksi. Namun jangan salah! Kerja di kantor yang nyaman dengan duduk berlama-lama di depan komputer atau laptop bisa membunuh Anda pelan-pelan.
Hal yang paling diwaspadai dari dampak pola kerja sedentari atau kurang aktif ini adalah meningkatnya kemungkinan mengalami risiko pembekuan pembuluh vena dalam (Deep Vein Thrombosis/DVT) hingga dua kali lipat.
Professor Richard Beasley dari Wellington Hospital di Selandia Baru seperti dilansir The Sun menyatakan bahwa ancaman bahaya akan menghampiri Anda bila kerja delapan jam tiap hari dengan hanya berkutat di sekitar meja atau menghabiskan tiga jam berturut-turut dengan sekedar duduk mengoperasikan laptop.
Kasus DVT biasanya sering dikaitkan dengan penerbangan jarah jauh yang memerlukan waktu berjam-jam. Pembekuan darah terjadi di pembuluh vena dan biasanya pada bagian betis. Jika pembekuan ini tidak dicairkan dengan obat pengencer darah, biasanya akan pecah dan terbawa ke paru-paru dan berujung pada emboli paru-paru yang mematikan.
Beasley menganjurkan pekerja kantoran untuk rutin melakukan peregangan otot untuk mempertahankan kelancaran aliran darah. Sebuah riset di Italia pun mengindikasikan peregangan dan relaksasi menurunkan kasus sakit kepala para karyawan hingga 40 persen.
Risiko lain yang mengintai para pekerja kantoran adalah bakteri dan virus mematikan yang berada di tempat kerja. Permukaan dan sela-sela keyboard komputer bisa menjadi sumber penyakit karena menyimpan kuman berbahaya yang jumlahnya bahkan mungkin melebihi kloset di kamar mandi Anda.
Sebuah penelitian di Inggris belum lama ini melaporkan beberapa keyboard di sebuah perkantoran LIMA KALI menyimpan lebih banyak jumlah kuman ketimbang sebuah kamar kecil. Penelitian ini diungkap seorang ahli yang disewa oleh Majalah Which? Computing di mana mereka menemukan beragam jenis bakteri berbahaya seperti Escherichia coli, coliform, staphylococcus aureus yang menyebabkan beragam infeksi mulai dari masalah diare, kulit hingga radang paru-paru atau pneumonia.
Bakteri juga tidak hanya sembunyi di keyboard namun juga pada meja, telepon dan alat lain. Peneliti dari University Of Arizona menyatakan keyboard masih cukup bersih ketimbang kursi yang duduki. Para ahli mikrobiologi menemukan sebuah kursi bisa menyimpan 10 juga mikroba, sedangkan rata-rata sebuah kantor bisa menyimpan 20.000 mikroba pada setiap permukaan 1 inci persegi. Begitu banyaknya jumlah mikroba ini tentu tidak terlepas dari kebiasaan buruk karyawan dalam memperlakukan tempat kerja.
Sindrom Mata
Selain pembekuan darah dan mikroba, ancaman lainnya adalah sindrom mata akibat komputer yang baru-baru ini diperingatkan American Optometric Association. Gejala sindrom ini adalah mata perih, sensitif terhadap cahaya, nyeri di leher dan punggung.
Dr Kent Daum, dari Illinois College Of Optometry di Chicago mengatakan: "Bekerja di depan komputer membuat mata bekerja keras karena tuntutan pergerakan mata dan fokusing yang baik. Re-focusing menyebabkan stres pada otot mata yang bisa berakibat pada gangguan mata.
Kerusakan Paru-paru
Hal lain yang juga dicemaskan adalah bahaya Printer Laser terhadap kesehatan paru-paru karyawan. Peneliti dari Australia's Queensland University Of Technology menemukan dampak alat ini mirip asap rokok. Satu dari tiga printer yang diteliti mengeluaran semacam partikel merugikan. Partikel ini bisa terhirup dan masuk paru-paru dan memicu masalah pernafasan.
Di samping laser printer, asap elektronik juga bisa menjadi ancaman. Tim ahli dari London's Imperial College menyatakan medan listrik yang timbul dari alat-alat kantor bisa memicu sakit kepala dan masalah lainnya.
Salah satu peneliti, Keith Jamieson, menjelaskan : "Medan listrik punya pengaruh kuat terhadap udara. Itulah sebabnya di belakang monitor komputer selalu dikotori debu. Hal sama juga berlaku pada kulit dan paru-paru manusia. Ini dapat meningkatkan penyerapan racun yang harus dinetralisir tubuh," paparnya.
Yang terakhir, ancaman di tempat kerja adalah Sick Building Syndrome. Menurut WHO, gejalannya adalah iritasi pada mata , hidung dan tenggorokan, selain juga pusing dan sakit kepala. Hal ini dapat terjadi akibat buruknya ventilasi, tingginya temperatur dan buruknya pencahayaan…….Semoga !!! (Jemmy Gerson Adii & Jamal)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
03.45
0
komentar
Label: EDITORIAL, SOSIAL BUDAYA
Kebosanaan Kerja adalah Budaya Malas dan Perlu di Atasi Bersama
Setiap individu pasti pernah mengalami kebosanan. Kebosanan bisa terjadi di dalam berbagai aspek kehidupan individu seseorang, seperti misalnya pekerjaan, sekolah, bahkan perkawinan. Biasanya rasa bosan ditandai dengan kelelahan, miskin kreativitas, hilangnya minat atau ketertarikan pada sesuatu yang dahulu disukai, malas, lesu, dan berbagai perasaan tidak enak yang jika tidak ditangani dengan cepat dapat menyebabkan individu tersebut mengalami stress bahkan depresi.
Dalam dunia kerja, kebosanan kerja menjadi sangat penting untuk mendapat perhatian mengingat bahwa hal tersebut akan dapat mempengaruhi produktivitas kerja pegawai. Kebosanan kerja bisa terjadi bukan saja pada pekerja di tingkat bawah (Frontliner) tetapi juga bisa melanda para pekerja di tingkat atas (Managerial Level). Oleh karena itu banyak perusahaan yang melakukan berbagai tindakan pencegahan dengan cara melakukan rotasi kerja, melibatkan pekerja dalam pengambilan keputusan, melaksanakan Company Gathering, memberikan kesempatan untuk melakukan cuti, dan masih banyak lagi hal lainnya.
Semua kegiatan tersebut bertujuan untuk membuat para pekerja tidak merasa bosan dan jenuh dengan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan sehari-hari. Dari sisi individu, hal-hal apa saja yang harus dilakukan agar dapat terbebas dari kebosanan kerja tersebut?
Beberapa alasan mengapa bisa terjadi kebosanan kerja dapat dibagi dalam beberapa penyebab, yaitu; Pekerjaan Tidak Menarik atau Tidak Menantang Otak manusia membutuhkan stimulasi dan tantangan terus-menerus. Artinya dalam konteks pekerjaan maka otak manusia cenderung membutuhkan tugas-tugas baru yang menantang atau menarik.
Setiap saat menemukan tugas atau tantangan baru maka otak akan berusaha untuk menguasai tugas tersebut, dan sesudah berhasil menguasainya maka otak membutuhkan stimulasi baru. Jika stimulasi atau tantangan baru tersebut tidak ada dan otak hanya mengulang apa yang telah dikuasai maka tugas atau pekerjaan yang telah dikuasai tersebut menjadi tidak menarik sehingga timbul kebosanan.
Kita bisa lihat dengan mata telanjan misalnya di daerah mana saja termasuk di Tanah Papua sendiri, banyak orang yang dengan menggenakan pakai dinas Pemda masih harus nongkron di pasar, depan Toko/kios atau tempat keramaian lain. Para Pekerja akan sangat mudah menjadi bosan setelah menjalani pekerjaan tersebut dalam waktu seminggu duaminggu dan minggu lain sudah bosan. Selain itu pekerjaan yang dianggap terlalu mudah atau tidak sesuai dengan tingkatan pengetahuan, kemampuan dan atau disiplinm Ilmu yang diraih si pekerja akan cenderung membuat ia mengalami kebosanan kerja, karena tidak memiliki otonomi.
Tidak Melakukan Apa-apa
Dalam suasana di kantor-kantor Pemerintah manapun biasanya sangat sepi dan tidak melakukan apa-apa. Sehingga sesuai pantaun penulis di lapangan ada masyarakat yang pegawai yang menjinjin sekop keladang, ada juga terlihat yang lainnya memegang Map ditangan dan masuk keluar di kantor. Di saat-saat kondisi seperti itu, tentunya ada banyak argument yang muncul, misalnya saja seperti ini: “Enak sekali hidupnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), dimana punya pekerjaan tetap untuk menjamin keluarga, punya jabatan tinggi, tiap hari hanya tinggal makan dan tidur saja, tetapi masih juga melakukan hal-hal yang sama seperti kayak orang yang tidak punyak kerja, pada itu di saat-saat jam kerja. Tidak seperti saya yang setiap harinya harus bekerja membanting tulang dari subuh sampai tengah malam untuk bisa makan"demikian lontaran kata-kata emosional itu belum tentu benar atau salah.
Karena dalam kehidupan ini banyak sekali individu yang justru merasa bosan karena tidak lagi memiliki kesempatan untuk melakukan tugas-tugas tertentu karena sudah dikerjakan oleh orang lain.
Ada banyak manager yang akhirnya tidak bertahan di suatu perusahaan meski menyandang jabatan sangat tinggi karena ia merasa tidak dapat berbuat apa-apa. Jadi dalam hal ini datang ke kantor dan duduk-duduk saja sambil memberi perintah belum tentu akan membuat seseorang tidak mengalami kebosanan. Pasalnya, kebosanan kerja bukan saja memberikan dampak yang negatif bagi kinerja individu dalam perusahaan/organisasi, tetapi juga dapat menyebabkan berbagai dampak psikologis yang dapat mengganggu kesejahteraan jiwa individu tersebut.
Dampak psikologis tersebut misalnya timbulnya rasa hampa dalam diri individu tersebut, meragukan kemampuan diri sendiri atau sebaliknya justru bersikap arogan karena merasa semua tugas dapat dikerjakan tanpa kesulitan, hilangnya motivasi kerja, dan sebagainya.
Dengan melihat dampak-dampak tersebut maka kebosanan kerja perlu segera ditangani agar tidak sampai menyebabkan stress atau depresi. Beberapa cara berikut ini mungkin layak anda pertimbangkan jika kebetulan anda merasa bosan dengan pekerjaan anda saat ini, bisa saja terjadi kebosanan kerja. Sehingga banyak management baik yang ada di pemerintah dan terlebih di perusahaan-perusahaan besar memberlakukan waktu kerja dan waktu untuk beristirahat atau Cuti, seperti yang saya alami, yakni saya bekerja selama enam minggu dan dua minggunya cuti, hal demikian supaya tidak lagi ada kebosanan kerja bagi setiap kita……Semoga !!! (Jemmy Gerson Adii & Elias Japugau)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
03.43
0
komentar
Label: EDITORIAL, SOSIAL BUDAYA
Sekilas Gambaran Papua Dulu, Sekarang dan Akan Datang…..!!!
Populasi 4 juta Pada tahun 1545, penjelajah Spanyol yang bernama Ynigo Ortiz de Retes, menemukan hamparan pulau di pesisir utara di dunia yang merupakan pulau terbesar kedua dan diberi nama "Nueve Guinea". Pada tahun 1973 propinsi ini berubah nama menjadi "Irian Jaya". "Irian" adalah kata Indonesia untuk New Guinea, dan "Jaya" artinya kejayaan atau kemenangan. Namun penduduk asli lebih menyukai nama Papua Barat. Tahun 1999 Presiden Indonesia, abdurrachman Wahid, mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua Barat. Papua Barat memiliki etnis asli sama dengan orang-orang di Papua Timur, (Papua New Guinea/PNG) dan juga sama dengan orang-orang Malenesia lainnya di Pasifik.
Jayapura sebagai ibukota propinsi, berlokasi di pesisir sebelah utara, diperkirakan terdapat 249 bahasa di Papua Barat. Puncak Gunung Jaya Wijaya dengan ketinggian lebih dari 16.000 kaki adalah gunung tertinggi ke-3 di dunia yang berada pada lintasan garis khatulistiwa yang terletak di antara pegunungan Himalaya dan Andes.
Papua Barat adalah suatu tempat yang spektakuler dengan beragam keindahan; lereng-
lereng gunung yang curam dan hutan-hutan lebat dengan satwa yang unik di dunia. Banyak tempat yang belum dapat dijamah dan dimasuki oleh dunia luar, peradaban jaman batu juga masih dapat ditemukan di sini.
Gagasan pemerintah RI untuk memekarkan Papua Barat menjadi tiga Propinsi menimbulkan pro dan kontra di antara orang-orang asli Papua. Suasana rawan ini perlu diwaspadai dari para provokator yang dapat menyusup untuk mengacaukan. Terbunuhnya tokoh Papua, Theys Eluay, seakan memadamkan kecerahan hari depan mereka (Orang Papua-red).
Kekayaan tambang, bumi, hutan dan laut diangkut meninggalkan bumi Papua dan menyisakan kemiskinan, kemelaratan, dan ketertinggalan bagi masyarakat asli. Mereka mengalami ketidakadilan di tanah kelahiran mereka sendiri. Ribuan orang Papua menjadi pengungsi di Timur Awin di kamp-kamp yang berbatasan dengan PNG tanpa menerima bantuan.
Papua Barat menerima pelayanan kesehatan yang sangat rendah di Indonesia. Hanya ada satu rumah sakit untuk 400.000 orang dengan 70 tempat tidur. Hanya ada satu dokter untuk daerah seluas 53.000 km persegi. Penyakit kusta sangat tinggi, dari 10.000 orang, 88 orang terjangkit di daerah yang sama. Dalam lima tahun menjadi pembawa angka HIV tertinggi di Indonesia.
25% kematian bayi yang disebabkan radang paru-paru menempati angka tertinggi di dunia. Diperkirakan 20% lainnya menderita kekurangan gizi. Di bawah program transmigrasi pemerintah pusat, orang-orang asli Papua Barat berkurang menjadi minoritas. Lebih dari 10.000 keluarga muslim tinggal di kota-kota pesisir.
Konflik di antara mereka dengan militer Indonesia, telah menelan banyak jiwa. Ratusan tenaga guru mogok mengajar karena rendahnya gaji pengajar dan mahalnya biaya hidup. Semua ketertinggalan dan ketidakadilan ini terkesan disengaja, akibatnya orang-orang asli Papua Barat semakin tak berdaya menghadapi perkembangan…….Semoga..!!! (Jemmy Gerson Adii/Berbagai Sumber)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
03.40
0
komentar
Label: EDITORIAL, POLITIK, SOSIAL BUDAYA
Mengintip Soal Pendidikan di Sugapa
Persoalan yang dialami masyarakat di Distrik Sugapa (sekarang Kabupaten Intan Jaya-red) memang cukup beragam. Bukan hanya kendala pendidikan yang menghambat segala aktivitas masyarakat di wilayah itu, tetapi sudah pasti faktor prinsipil lain yang melilit masyarakat suku Moni dan beberapasuku lainnya di Sugapa umumnya adalah masalah pendidikan.
Boleh dikatakan, pendidikan karena umumnya wilayah Moni yang terdiri dari 6 Distrik masih terbelakang. Keterbelakangan ini terlihat dari kondisi SD-SD Inpres yang ada di Distrik Sugapa yang serba kekurangan. Bukan fasilitas saja melainkan tenaga Pengajar. Pasalnya, fasilitas yang tidak layak dipakai karena gedung sebagain roboh, siswa juga tidak datang karena guru tidak datang mengajar, tenaga guru tidak ada, jumah Guru hanya pas-pas yang bertugas.
Saat ini jumlah sekolah yang ada di wilayah distrik Sugapa sebanyak 8 buah sekolah dasar, satu SMP, satu SMAN. Namun beberapa SD sudah di tutup total karena tidak ada guru sah (Guru yang ber-NIP-red). Misalnyasaja, SD Inpres Pesiga dan SD-SD yang lainnya. Semua SD di wilayah Sugapa bisa di Bantu mengajar hanya oleh tenaga-tenaga Bantu tamatan SMP dan SMA yang tidak dapat pekerjaan. Dimana mereka membantu sekolah/siswa di masing-masing sekolah sesuai dengan kebutuhannya.
Sedangkan SD YPPK Bilogai sudah lengkap guru, baik Guru Bantu maupun Guru ber-NIP, 13 Guru yang memiliki 320 siswa. SD Inpres Yogatapa memiliki 6 Guru pengajar ini merupakan satu persoalan yang dihadapi kedua sekolah itu.
Sementara sesuai data yang di terima penulis di lapangan, SD Inpres Mamba memiliki 2 Guru tetap, 3 Guru suka relah tamatan SMP. SD Yoparu memiliki satu Guru tetap dan 3 Guru suka rela. SD YPPK Titigi memiliki 3 Guru Suka relah. SD YPPGI memiliki 3 Guru suka relah, SD YPPK Jalae memiliki satu Guru tetap dan 3 guru suka relah, sedangan di desa-desa lain, seperti Desa Ugimba, Desa Emondi, Desa Mindau, Desa Nanggasiga yang seharusnya di bangun SD oleh pemerintah tetapi, kenyataannya sampai sekarang belum ada tanda-tanda kearah itu, mudah-mudahan dengan adanya pemekaran Kabupaten Intan Jaya ini, ada sedikit peningkatan khususnya di bidang pendidikan.
Untuk itu dengan demikian, sangatlah di butuhkan adanya penambahan guru. Walaupun demikian, pengabdian bagi beberapa guru yang bias di hitung dengan jari itu dalam pengabdiannya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa itu tidak pernah surut.
Bahkan dari tahun ke tahun mereka dengan penuh tabah menjalaninya. Selama pengabdian itu, mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi para siswa yang haus akan ilmu, biar pun dengan segala kekurangan yang ada. Semuanya itu, kata mereka, demi mencerdaskan generasi penerus bangsa ini. Dilihat dari minat dan semangat masyarakat Moni untuk menuntut ilmu, sebenarnya sangat tinggi. Di samping itu guru-guru dari daeah Sugapa dan Homeo asal kedua daerah itu juga sering berlamaan di kota-kota, akhirnya setiap siswa SD tidak dapat pendidikan dengan baik.
Hal serupa dialami SD Inpres Sugapa. Sekolah yang dibuka tahun 1987 sejak tahun lalu telah dibuka hingga kelas V. Sebelumnya hanya melayani sampai kelas IV saja. Jika ingin melanjutkan hingga tamat, para siswa di sekolah itu terpaksa melanjutkan di SD YPPK Bilogai. SD tersebut dibuka, hanya ada empat ruang kelas dan dilayani 6 orang Guru, dua diantaranya putera asli di Sugapa, sudah kabur ke kota, jata beras, gaji tetap diterima utuh, mengajarnya tidak pernah ada.
“SD Inpres Yogatapa sebanyak 60 siswa angkatan, pertama asal SD tersebut kini sudah merai gelar kesarjanaan, kalau mereka rajin belajar”tutur salah satu Tokoh Pemerhati Pendidikan di daerah itu…Semoga…!!! (Jemmy Gerson Adii/Elias Japugau)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
03.21
0
komentar
Label: PENDIDIKAN
08 Februari 2009
Pentingnya Ada Penghijauan Kembali di Negeri Ini
Bangsa Indonesia tergolong urutan ketiga pulau yang terbesar di dunia sehingga untuk tanggung jawab pemerintah terhadap lingkungan hidup diberbagi pulau dari Sabang sampai Merauke sangat minim. Namun Masa era moderensasi ini sebagian besar kehidupan lingkunan hidup sudah semakin kritis, hal itu disebabkan karena ulah dari manusia itu sendiri, dalam artian manusia secara sengaja maupun tidak sengaja melakukan penebangan pohon yang satu dengan pohon-pohon yang lainnya, dengan tujuan untuk menunjang pembangunan Infrastruktur kepada masyarakat umum termasuk proyek-proyek pemerintah, bangunan umum, jembatan, perumahan sosial, pembuatan jalan umum melalui kontraktor-kontraktor proyek dan lain-lainnya.
Kegiatan pekerjaan pohon-pohonan alami kecil maupun besar yang tumbuh dijalan maupun dihutan-hutan mulai di tebang habis dan tidak dapat tumbuh kembali seperti dulunya, sebab dulunya tanah subur, namun sayangnya dimasa sekarang dapat terlihat mulai kritis dan tidak bisa dapat tumbuh seperti biasanya.
Pasalnya, merusak lingkungan tidak saja dilakukan oleh Aktivitas dari pihak pemerintah namun juga dari perusahaan-perusahaan swasta yang bisnis maupun non bisnis pun mulai menggangu lingkungan hidup serta ulah manusia yang tidak bertanggungjawab dalam melakukan penebangan hutan secara liar yang mana terjadi ditanah air Indonesia ini.
Kesuburan tanah diberbagi pulau tanah air Indonesia sangat berbeda antara pulau satu dengan pulau yang lain disebabkan karena perbedaan Iklim, Cuaca, Suhu, Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM), maupun lingkungan hidup yang berbeda. Masalah-masalah tersebut diatas juga dialami oleh beberapa kabupaten yang ada di Provinsi Papua dan Papua Barat, dimana begitu banyak pulau-pulau dan gunung-gunung sehingga lebih sulit diatasi masalah lingkungan hidup, maka itu diberbagi Kabupaten pada umumnya dan pada khususnya di Tanah Papua banyak kasus yang terjadi, diantaranya seperti Illegal Loging, Penebangan Hutan, kebakaran dan lain-lainnya itu akibat dari kurang adanya kepedulian serta perhatian khusus dari semua pihak terkait dengan masalah penghijauan kembali (reboisasi-red) dilingkungan masyarakat, kabupaten, kecamatan maupun di jalan raya yang begitu dapat di lihat baik namun keindahan kota masih minim.
Oleh sebab itu pemerintah daerah di mana saja, penulis sarankan sebagai perencanaan pembangunan dan pengatur daerah perlunya ada pengadaan bibit-bibit pohon-pohonan yang ekonomis untuk menanami kembali dipingiran jalan raya, di ibu kota kecamatan, maupun ditempat-tempat yang longsor, tandus, kritis untuk keperluan program penghijauan kembali.
Lingkungan yang begitu indah, bersih, sehat, berarti pembangunan daerah itu akan lebih maju dan di perhatikan oleh berbagai pihak. Sehingga dengan kegiatan penghijauan kembali kedepan akan bertujuan untuk untuk generasi sekarang maupun yang akan datang, untuk menarik perhatian dari berbagai pihak dan juga untuk mengatasi bahaya timbulnya erosi……Semoga !!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
22.53
0
komentar
Label: EDITORIAL, SOSIAL BUDAYA
Perempuan adalah Bagian dari Laki-Laki
Dia yang diambil dari tulang rusuk. Jika Tuhan mempersatukan dua orang yang berlawanan sifatnya, maka itu akan menjadi saling melengkapi. Dialah penolongmu yang sepadan, bukan sparing partner yang sepadan.
Ketika pertandingan dimulai, dia tidak berhadapan denganmu untuk melawanmu, tetapi dia akan berada bersamamu untuk berjaga-jaga di belakang saat engkau berada di depan atau segera mengembalikan bola ketika bola itu terlewat olehmu, dialah yang akan menutupi kekuranganmu.
Dia ada untuk melengkapi yang tak ada dalam laki-laki, misalnya seperti perasaan, emosi, kelemahlembutan, keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim untuk melahirkan, mengurusi hal-hal sepele...??? hingga ketika laki-laki tidak mengerti hal-hal itu, dialah yang akan menyelesaikan bagiannya...sehingga tanpa kau sadari ketika kau menjalankan sisa hidupmu... kau menjadi lebih kuat karena kehadirannya di sisimu.
Jika ada makhluk yang sangat bertolak belakang, kontras dengan lelaki, itulah perempuan. Jika ada makhluk yang sanggup menaklukkan hati hanya dengan sebuah senyuman, itulah perempuan.
Ia tidak butuh argumentasi hebat dari seorang laki-laki... tetapi ia butuh jaminan rasa aman darinya karena ia ada untuk dilindungi.... tidak hanya secara fisik tetapi juga emosi.
Ia tidak tertarik kepada fakta-fakta yang akurat, bahasa yang teliti dan logis yang bisa disampaikan secara detail dari seorang laki-laki, tetapi yang ia butuhkan adalah perhatiannya... kata-kata yang lembut... ungkapan-ungkapan sayang yang sepele... namun baginya sangat berarti... membuatnya aman di dekatmu....
Batu yang keras dapat terkikis habis oleh air yang luwes, sifat laki-laki yang keras ternetralisir oleh kelembutan perempuan. Rumput yang lembut tidak mudah tumbang oleh badai dibandingkan dengan pohon yang besar dan rindang... seperti juga di dalam kelembutannya di situlah terletak kekuatan dan ketahanan yang membuatnya bisa bertahan dalam situasi apapun.
Ia lembut bukan untuk diinjak, rumput yang lembut akan dinaungi oleh pohon yang kokoh dan rindang. Jika lelaki berpikir tentang perasaan wanita, itu sepersekian dari hidupnya.... tetapi jika perempuan berpikir tentang perasaan lelaki, itu akan menyita seluruh hidupnya...Karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, karena perempuan adalah bagian dari laki-laki... apa yang menjadi bagian dari hidupnya, akan menjadi bagian dari hidupmu. Keluarganya akan menjadi keluarga barumu, keluargamu pun akan menjadi keluarganya juga.
Sekalipun ia jauh dari keluarganya, namun ikatan emosi kepada keluarganya tetap ada karena ia lahir dan dibesarkan di sana.... karena mereka, ia menjadi seperti sekarang ini. Perasaannya terhadap keluarganya, akan menjadi bagian dari perasaanmu juga... karena kau dan dia adalah satu....dia adalah dirimu yang tak ada sebelumnya. Ketika pertandingan dimulai, pastikan dia ada di bagian lapangan yang sama denganmu…Semoga..!!! (Jemmy Gerson Adii/berbagai sumber)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
22.52
0
komentar
Label: EDITORIAL, SOSIAL BUDAYA
Deiya & Intan Jaya, Butuhkan Figur yang Berjiwa Membangun
Di Kabupaten Paniai sendiri telah memekarkan dua kabupaten, diantaranya Kabupaten Deiyai dan Intan Jaya, dan hadirnya kedua kabupaten itu sesuai informasi yang penulis terima di lapangan adalah harga mati dari rakyat yang ada di kedua kabupaten tersebut.
Seperti sebagaimana diketahui bahwa di sana sini mulai marak dan ramai di bicarakan terkait dengan adanya pemekaran wilayah pada beberapa tahun silam, hal itu juga tidak terlepas setelah adanya reformasi pada tahun 1998, dimana pemekaran di era reformasi itu sendiri muncul dan didasari pada rasa ketidakpuasan atas berbagai kesenjangan pembangunan, seperti kesenjangan wilayah, pendapatan, kesempatan kerja, kesempatan memperoleh pendidikan, kesehatan dan lain-lain.
Selain itu pula, diindentifikasikan bahwa selama ini hasil-hasil pembangunan yang sudah dilaksanakan, dirasakan belum memenuhi rasa keadilan atau belum merata ke seluruh pelosok-pelosok wilayah termasuk yang ada di daerah ini.
Dalam benak penulis, hingga sampai di awal tahun 2009 ini masih bertanya-tanya apakah Deiya dan Intan Jaya hadir karena rakyat ataukah hanya oleh kepentingan beberapa pejabat atau bahkan beberapa intelektual..? Apakah dengan hadirnya Deiya dan Intan Jaya benar-benar kelak akan mengurangi berbagai kesenjangan-kesenjangan. Ataukah sebaliknya..?
Kedua kabupaten itu telah di sahkan oleh DPR RI pada tanggal 29 Oktober 2008, tetapi bagi penulis pertanyaan itu selalu ada tiap saat dalam benak penulis, yang tidak tahu kapan baru ada jawabannya.
Ada isu atau kabar yang berbisik di telinga penulis bahwa tuntutan pemekaran ini adalah keinginan dan aspirasi masyarakat murni bukan kerena intern kepentingan politik para penguasa daerah ini beberapa tahun lalu.
Memang penulis sadari kalau melihat kondisi geografis Papua pada umumnya dan lebih khususnya di Paniai sendiri dimana luas wilayah dan kondisi geografis sulit dan sangat berat, sehingga tidak akan bisa dibangun oleh satu kabupaten saja, dan memang salah satu alternative adalah Paniai mau dan tidaknya harus memekarkan daerahnya.
Pasalnya, keterlambatan kemajuan daerah ini juga kerena minimnya sarana dan prasarana transportasi, menyebabkan pelayanan pemerintah belum menjangkau ke seluruh masyarakat khususnya di daerah terpencil dan terisolasi, disamping terbatasnya dana dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan, mengakibatkan kondisi sosial masyarakat masih memprihatinkan, tertinggal dan terbelakang.
Bahkan masih ada masyarakat terasing yang belum tersentuh oleh pemerintah, sebab luas wilayah yang sulit ditempuh menyebabkan pula terjadinya lepas kendali dan terbelangkahinya jangkauan pelayanan pemerintah kepada masyarakat serta lambannya pembangunan di wilayah tersebut akibat kesulitan transportasi.
Sehingga untuk meningkatkan pastisipasi dan menjawab semua persoalan tersebut, bagi penulis perlu adanya terobosan baru melalui suatu kebijakan khusus, antara lain melalui pembentukan satuan administrasi pemerintah baru, terutama di daerah-daerah yang masih tertinggal. Tetapi perlu juga di ingat bahwa bagaimana caranya yang tepat.
Sebab untuk merubah kesenjangan pembangunan sangatlah di butuhkan Figur yang takut akan Tuhan, berjiwa besar dan benar-benar seorang Figur yang ingin mau merubah kesenjangan pembangunan kearah yang lebih baik, dan sebaliknya bukan Figur yang suka melakukan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN)……Semoga..!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
22.46
0
komentar
28 Desember 2008
“Seputar Lahirnya Mars Sinode GKI (KINGMI) Papua”
1. Latar Belakang Lahirnya Mars Sinose Kingmi: (a. Semangat roh kembalinya Sinode Kingmi Papua. b. Membangun kesatuan dan persatuan dalam organisasi gereja Kingmi. c. Membangun cirri khas gereja Kingmi). 2. Tim Pengarang Lagu Mars Sinode; (a. Bpk Fredy Kusen. b. Drs. Dody Siwabesy, MP. c. Pdt.Yance Nawipa, M.Th).
Nawipa, Yance lahir di Kagokadagi Paniai Propinsi Papua pada tanggal 05 Januari 1968. Anak pertama dari alm Pdt. Lukas Nawipa dan alma Lea Gobai sebagai pelayan Tuhan di pedalaman Paniai. Saya menyelesaikan Sekolah Dasar (SD) YPPGI di Obaipugaida. Pada bulai Mei 1982 saya menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) YPK di Wamena. Kemudian melanjutkan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) YPPGI pada tahun dan kota yang sama, dan menyelesaikan pada bulan Mei 1987, sesudah itu melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Teologi Jaffray (STTJ) Ujungpandang pada bulan Agustus 1987 dan menyelesaikan pada bulan Mei 1992.
Saya, pernah melayani di beberapa tempat, antara lain: menjadi Guru pada Sekolah Teologi Atas (STA) Bozeman dan mengajar pada Akademi Agama Kristen di Wamena tahun 1992-1993. Setelah itu melanjukna pendidikan Program Pasca Sarjana pada Institut Filsafat Theologi dan Kepemimpinan Jaffray (IFTKJ) Jakarta dan menyelesaikan 1995. Menikah dengan Ny.Mince T. Nawipa pada tanggal 15 April 1995 di Jakarta. Telah di karuniai Tuhan dua orang putri, yaitu Febrin Visi Irka Nawipa (SMP) dan Sela Almenda Nawipa (TK).
Melayani Tuhan pada Sekolah Tinggi Teologi GKIP Sorong dan menjadi Gembala sidang Pos Pelayanan Km 12 Sorong dari tahun 1995—1999. Kemudian membuka Sekolah Tinggi Teologi Walter Post Kampus II Nabire tahun 1999 dan sedang melayani sebagai Ketua Sekolah. Pernah menjadi Gembala Sidang GKI (Kingmi) Jemaat Sejahtera Nabire sejak tahun 2000—2004. Kemudian tahun 2006/2007 telah menyelesaikan Program Pascasarjana Jurusana Kepemimpinan Konsentrasi Manajemen Gereja pada IFTK Jaffray Jakarta, dengan Judul Tesis: “Model-Model Kepemimpinan Para Hamba Tuhan dari Sejak 1938—2005 Sebagai Suatu Acuan bagi Kepemimpinan Gereja Kemah Injil Menuju Kemandirian di Tanah Papua.”
Berkaitan dengan kembalinya Sinode Kingmi Papua, maka saya menulis judul tesis ini untuk memberikan kontribusi pikiran kepada pihak gereja untuk mengembangkan diri menjadi mandiri di Tanah Papua. Dengan semangat roh sinode Kingmi ini, maka saya diberi kesempatan oleh Panitia Konferensi Wilayah ke-VIII untuk menyusun teks lagu Mars Sinode Kingmi Papua.
Lagu Mars Sinode ini dikarang dalam suasana yang penuh semangat, untuk membangun Sinode Kingmi di Tanah Papua sebagai sebuah lembaga gereja yang kuat, sehat, hidup dan mandiri.
3. Tujuan Lahirnya Mars Sinode: Di dalam Syair lagu Mars Sinode Kingmi Papua terdapat gambaran visi, misi, tujuan, dan falsafah pelayanan organisasi Gereja Kingmi. Dengan menghayati dan mengamalkan isi syair lagu agar seluruh warga Gereja Kingmi memiliki sehati, sepikir, seroh, seiman untuk melayani Tuhan bersama-sama di Tanah Papua ini dalam Kuat Kuasa Kebangkitan Kristus untuk menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah dan menciptakan Zona Damai di Tanah Papua.
4. Penjelasan Istilah: (4.1. Lagu Mars. 4.2. Sinode. Sinode (juga dikenal sebagai konsili) adalah sebuah dewan dari sebuah Gereja Kristen, yang biasanya dihimpun untuk mengambil keputusan tentang suatu masalah doktrin, administrasi atau aplikasi. Sebuah konsili ekumenis dinamai demikian karena ia merupakan sinode dari seluruh Gereja (ekumene) atau, lebih tepatnya, dari semua yang menganggapnya sebagai seluruh Gereja.Kata "sinode" berasal dari kata Yunani συνοδος yang berasal dari kata συν (sun=bersama-sama) dan όδος (hodos=jalan) yang berarti "berjalan bersama".
Dengan demikian, kata "sinode" juga berarti "persidangan" atau "pertemuan" yang menekankan kebersamaan. Kata ini sinonim denagn kata Latin concilium — "konsili". Pada mulanya, sinode adalah pertemuan yang dihadiri oleh para uskup, dan kata ini masih dipergunakan dalam pengertian ini di lingkungan Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur.
Kadang-kadang ungkapan sinode umum atau konsili umum merujuk kepada suatu konsili ekumenis. Kata sinode juga merujuk kepada dewan para uskup yang berkedudukan tinggi, yang membawahi sejumlah Gereja Ortodoks yang mempunyai pimpinan sendiri (otosefalus).
Penggunaan di berbagai denominasi Gereja.
Gereja Ortodoks. “Di lingkungan Gereja-gereja Ortodoks, sinode terdiri atas para uskup dan merupakan sarana utama untuk pemilihan uskup dan penetapan hukum-hukum gerejawi antar-diosis”.
Gereja Katolik Roma. “Sinode local. Di lingkungan Gereja-gereja ritus Timur sinode mempunyai pengertian yang sama dengan di lingkungan Gereja-gereja Ortodoks. Di lingkungan Gereja-gereja ritus Latin mempunyai pengertian berikut: Konsili-konsili tertentu, Sinode diosis (keuskupan), Konferensi uskup nasional.”
Konsili-konsili tertentu adalah sinode-sinode yang tidak permanen dari para uskup ritus Latin di wilayah-wilayah tertentu. Konsili ini mempunyai dua bentuk: konsili atau sinode lengkap, yang terdiri atas para uskup dari suatu negara dan yang dihimpunkan oleh dua pertiga suara dari konferensi uskup nasional, dan dewan provinsial, yang terdiri atas para uskup dari suatu provinsi gerejawi dan yang dihimpunkan oleh metropolitan dengan persetujuan dari mayoritas uskup yang ada di bawahnya.
Para uskup wilayah (termasuk uskup pembantu serta mereka yang bukan uskup yang mengepalai gereja-gereja tertentu di wilayah (misalnya, kepala biara teritorial) dan vikar apostolik) mempunyai hak suara dalam konsili-konsili pleno atau provinsial, meskipun beberapa anggota lainnya dari wilayah yang bersangkutan (seperti misalnya presiden universitas Katolik dan para pejabat gereja curia setempat diundang dan berpartisipasi sebagai penasihat.
Sinode diosis adalah sebuah pertemuan yang tidak permanen dari para rohaniwan dan awam dari suatu gereja di wilayah tertentu, yang diundang oleh uskup diosis sebagai suatu dewan penasihat tentang masalah-masalah legislatif. Hanya seorang uskup (uskup diosis) yang mempunyai hak suara, dan di diosis-diosis yang tidak mempunyai uskup pembantu, ia mungkin merupakan satu-satunya uskup yang menghadiri sinode ini. Para anggota lain dari sinode diosis, termasuk para uskup pembantu yang hadir, hanya bertindak sebagai penasihat, sementara segala keputusan untuk mengeluarkan keputusan hukum diserahkan kepada uskup diosis.
Konferensi uskup nasional adalah sebuah lembaga permanen yang terdiri atas semua uskup ritus Latin di sebuah negara. Para uskup dari gereja-gereja sui juris lainnya dan utusan nuncio Paus menurut hukum tidak termasuk dalam konferensi para uskup, meskipun konferensi itu sendiri dapat mengundang mereka untuk menghadirinya sebagai penasihat atau dengan hak suara (Hukum Kanon 450).
Baik sinode partikular (kan. 445) dan sinode keuskupan (kan. 391 & 466) mempunyai kekuasaan legislatif penuh atas anggota-anggotanya. Hal ini berbeda dengan kekuasaan konferensi uskup nasional, yang hanya mengeluarkan hukum-hukum pelengkap hanya bila diberikan wewenang untuk hal itu oleh dekrit Takhta Suci. Setiap hukum pelengkap harus pula dikukuhkan oleh Takhta Suci (kan. 455).
Sinode Umum. “Gereja Katolik Roma juga mempunyai dua sinode yang terdiri atas anggota-anggota dari seluruh Gereja: Sinode para Uskup dan Konsili ekumenis. Sinode Para Uskup adalah sesuatu yang baru dari Konsili Vatikan II, yang diperkenalkan lewat dekrit Christus Dominus. Sinode ini adalah sebuah dewan penasihat Paus, yang anggota-anggotanya terdiri atas para uskup terpilih dari seluruh dunia. Paus berfungsi sebagai presidennya atau menunjuk seseorang sebagai presidennya, menetapkan agendanya, menghimpun, menunda, dan membatalkan sinode, dan dapat pula mengangkat anggota-anggota tambahan ke dalamnya (kan. 344).
Para anggota sinode mengungkapkan pandangan-pandangannya mengenai masalah-masalah secara pribadi (artinya, sinode tidak mengeluarkan dekrit atau resolusi), tetapi Paus, atas keputusannya sendiri, dapat memberikan kuasa itu. Dalam hal ini, dekrit-dekrit atau resolusinya disetujui dan dirumuskan oleh Paus sendiri (kan. 343). Sinode Para Uskup ini ditunda apabila Takhta Suci kosong.
Gereja Katolik Roma percaya bahwa sebuah konsili ekumenis adalah sebuah sinode non-permanen dari semua uskup yang ada dalam persekutuan dengan Paus dan yang, bersama-sama dengan Paus, menjadi pemimpin tertinggi di dunia atas seluruh Gereja Kristen (kan. 336). Paus sendirilah yang mempunyai hak untuk menghimpunkan, menunda, dan membubarkan sebuah konsili ekumenis. Ia sendiri pula yang memimpinnya atau memilih seseorang yang lain untuk mewakilinya dan menentukan agendanya (kan. 338). Apabila Takhta Suci kosong, maka otomatis sebuah konsili ekumenis akan ditunda.
Sebelum hukum-hukum dikeluarkan oleh sebuah konsili ekumenis diberlakukan atau sebelum ajaran-ajaran yang dikeluarkan oleh sebuah konsili ekumenis dianggap otentik, semuanya itu harus dikukuhkano leh Paus, yaitu orang satu-satunya yang berhak merumuskannya (kan. 341). Harus dicatat bahwa pandangan tentang konsili ekumenis ini sangat berbeda dengan pandangan-pandangan yang dipegang oleh denominasi-denominasi Kristen lainnya.
Gereja Anglikan. “Di lingkungan Komuni Anglikan, sinode dipilih oleh para rohaniwan dan awam. Di kebanyakan gereja-gereja Anglikan, ada hierarkhi sinode yang dibagi menurut geografinya, dengan Sinode Umum di puncaknya; para uskup, rohaniwan dan kaum awam bertemu sebagai "kelompok" di dalam sinode. Sinode diosis dihimpun oleh seorang uskup di dalam diosisnya, dan terdiri atas rohaniwan dan anggota awam yang terpilih. Sinode dekanat dihimpun oleh Dekan rural (atau Dekan Wilayah) dan terdiri atas semua rohaniwan yang ditunjuk ke masing-masing paroki di lingkungan dekanan, ditambah anggota-anggota awam yang diangkat”.
Gereja Lutheran. “Dalam tradisi Lutheran sinode dapat merupakan suatu wilayah administratif setempat yang serupa dengan sebuah diosis, seperti misalnya Sinode Daerah Minneapolis dari Evangelical Lutheran Church in America (Gereja Lutheran Injili di Amerika), atau menunjuk kepada keseluruhan tubuh gereja, seperti misalnya Lutheran Church - Missouri Synod (Gereja Lutheran - Sinode Missouri, sebuah denominasi Lutheran yang konservatif). Kadang-kadang kata ini juga digunakan untuk pertemuan para pendeta dari sebuah diosis. Dalam hal ini, kata tersebut tidak mengandung makna administratif.”
Gereja Presbyterian. “Dalam sistem pemerintahan Gereja Presbyterian kata sinode adalah tingkat administrasi antara klasis setempat dan General Assembly (Persidangan Umum), sebagai lembaga tertinggi pemerintahannya. Beberapa denominasi menggunakan kata sinode, seperti misalnya Presbyterian Church in Canada (Gereja Presbyterian di Kanada), Uniting Church in Australia (Gereja Bersatu di Australia), dan Presbyterian Church (USA) (Gereja Presbyterian di AS). Namun, sebagian gereja lainnya tidak menggunakan kata sinode sama sekali, dan Gereja Skotlandia membubarkan sinodenya pada tahun 1980-an, lihat Daftar Sinode dan klasis Gereja Skotlandia”.
Gereja-gereja Reformasi. “Di Swiss dan Gereja-gereja Reformasi Jerman Selatan Gereja-gereja Reformasi ditata sebagai gereja-gereja mandiri yang dinamai menurut wilayahnya (mis. Gereja Reformasi Injili Zürich, Gereja Reformasi Berne), sinode mempunyai kedudukan sejajar dengan Persidangan Umum dari Gereja-gereja Presbyterian. Di Belanda, Gereja-gereja Reformasi (dan di kalangan Gereja-gereja Reformasi orang-orang Belanda di Amerika Utara), "sinode" adalah persidangan denominasi yang dihadiri oleh wakil-wakil dari masing-masing klasis setempat”.
Penggunaan di Kongo oleh Protestan. “Di Republik Demokratik Kongo, sebagian besar denominasi Protestan telah bergabung dalam sebuah institusi keagamaan yang dinamai Gereja Kristus di Kongo atau CCC, yang di Kongon sendiri biasa dirujuk sebagai Gereja Protestan. Dalam struktur CCC, sinode nasional adalah persidangan umum dari berbagai gereja yang membentuk CCC. Dari Sinode ini dibentuk sebuah Komisi Eksekutif, dan sekretariat. Ada pula sinode-sinode CCC di setiap provinsi Kongo, yang disebut sebagai sinode provinsi. CCC terdiri atas 62 denominasi Protestan”.
4.3. GKI (Kingmi) Papua. “Nama Gereja Kemah Injil pada awalnya adalah “Gospel Tabernacel,” Nama ini lahir dari pengalaman pelayanan DR AB.Simpson pendiri Gereja Kemah Injil sedunia. Lebih khusus konteks pelayanan misi C&MA di Tanah Papua, setelah organisasi gereja berdiri sendiri maka pihak C&MA dan para pelayan pribumi bersepakan memberi nama: “Kamah Injil Gereja Masehi Indonesia dan disingkat menjadi KINGMI Irian jaya. Karena adanya kebutuhan pelayanan misi C&MA maka KINGMI bergabung dengan KINGMI lain di Indonesia. Kemudian nama KINGMI Irian Jaya berubah menjadi Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII). Mengingat pelayanan gereja yang sangat kompleks, rumit dan luas maka GKII Wilayah Papua mengusulkan untuk menggunakan Sinode Kingmi Papua seperti model pemerintahan gereja yang dahulu”.
Isi Lagu Mars Sinode GKI (KIMGMI) Papua
1. Visi Gereja. “Visi adalah gambaran besar yang nampak secara samar-samar yang ada didepan, untuk dikejar melalui kerja keras sampai menjadi kenyataan. Visi organisasi itu datang dari Tuhan. GKI (Kingmi) Papua menerima visi dari Allah, yaitu: “Menghadirkan Nilai-Nilai Kerajaan Allah di Tanah Papua.”. Nilai-nilai Kerajaan Allah itu terdiri dari Nilai-nilai yang berhubungan dengan Allah dan nilai-nilai yang berhubungan dengan manusia. Gereja Kingmi berusaha menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah yang berhubungan dengan Allah sendiri adalah: memancarkan kesucian hidup, kejujuran, hidup benar, bersekutu, menyembah Allah, dll. Sedangkan nilai-nilai Kerajaan Allah yang berhubungan dengan manusia adalah: menghormati hak-hak orang lain, menghargai martabat manusia, memandang dan menghargai orang lain sebagai gambar Allah, mempercayai orang lain, mengasihi orang lain, melayani orang lain, membela nasib orang-orang miskin, dll.
2. Misi Gereja. “2.1. Misi gereja adalah pelaksanaan atau pemenuhan dari tugasnya yang penting dan utama yaitu menegakkan, melayani, dan memberitakan Injil Kerajaan Allah, dan pengutusan yang bertujuan untuk mengabdi danmelayani manusia. 2.2. Misi juga berarti keluar melewati batas gereja yang telah didirikan dan mengarahkan diri kepada manusia-manusia yang berada di luar gereja. Misi berarti suatu perjumpaan atau pertemuan antara Gereja dan manusia-manusia yang berada dalam situasi yang tidak bersifat Kristen. 2.3. Gereja Kemah Injil (Kingmi) mendapat misi dari Allah, yaitu: 2.3.1. Misi penginjilan bersasarkan Amanat Agung Yesus Kristus (Matius 28:18-20). 2.3.2. Misi Sosial (pelayanan kemanusiaan) dalam (Lukas 4:17-18). 2.3.3. Misi Pendidikan berdasarkan Amanat Agung Yesus Kristus (Matius 28:18-20). 2.3.4. Misi Diakonal 2.3.5. Misi Penggembalaan”.
3. Tujuan Gereja. “Tujuan Pelayanan GKI (Kingmi) Papua adalah: 3.1. Supaya seluruh unsure, komponen dan anggota gereja memuliakan Allah melalui hidup kudus, setia melayani dan Tuhan dan sesame; 3.2. Supaya seluru unsure, komponen dan anggota jemaat menikmati hidup aman, tentram dan damai sejahtera dalam Yesus Kristus di bumi ini”.
4. Fokus hidup Gereja. “Gereja GKI (Kingmi) ada hadir di Tanah Papua untuk: 4.1. belajar hidup terfokus, yaitu terus-menerus berusaha hidup berpadanan dengan Injil Yesus Kristus dan menjadi keserupaan dengan gambar-Nya; 4.2. agar gereja mencerminkan Yesus Kristus di dalam dunia ini melaui kehidupan sehari-hari kapan dan dimana saja. 4.3. Gereja selalu berfokus pada pelayanan, yaitu melayani Tuhan dan sesama manusia melalui kobaran karunia-karunia yang Allah berikan kepada setiap orang percaya.
5. Landasan Kerja Gereja. “Pelayanan GKI (Kingmi) Papua berlandaskan pada: 5.1. Lambang Injil Empat Berganda, yaitu Yesus Kristus Juruselamat, Pengudus, Tabib dan Raja yang akan datang. 5.2. Allah Tritunggal, yaitu Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. 5.3. Alkitab sebagai Firman Allah yang telah diilhamkan oleh Roh Kudus”.
6. Bentuk Pemerintahan Gereja. “Dalam bentuk Pemerintahan gereja Presbyterial Sinodal, maka Presbyter (tua-tua) gereja tergabung menjadi majelis jemaat bersama-sama memimpin dan memerintah jemaat setempat (lokal). Presbyter (majelis jemaat) berjalan bersama-sama dalam sinode.Bentuk pemerintahan ini, bukan saja menghormati pendeta dan juga menghargai pemimpin-pemimpin rohani. Di dalam kepemimpinan sebagai jemaat awam diikutsertakan dengan lebih dulu dilantik. Sebagai penatua gereja, mereka bersama-sama dengan pendeta mengatur roda kehidupan pendeta. Pada umumnya gereja di Indonesia yang sudah mengkombinasi struktur organisasi, menyebut penatua ini sebagai majelis. Jika jemaat ini sudah berkembang, sehingga menjadi beberapa atau puluhan gereja, maka bentuk pemerintahan gereja ini mendidrikan suatu wadah yang dinamakan sinode. Melalui sidang sinode ini, secara periodik dapat diadakan rapat. Dalam sinode ini akan menghasilkan keputusan-keputusan penting yang akan menentukan arah jalannya gereja. Gereja Kingmi menganut bentuk pemerintahan sinodal-presbiterial ini”.
7. Sistem Kerja Gereja. “Gereja dilambangkan sebagai tubuh Kristus. Tubuh mempunyai banyak anggota. Setiap anggota tubuh berbeda namun dalam menegrjakan seatu pekerjaan mereka harus bersatu dan bekerja bersama-sama, saling bergantung, saling melayani, saling menghargai dan saling menopang. Pelayanan dalam organisasi GKI (Kingmi) Papua sangat diharapkan agar seluruh komponen, unsure, tingkatan dan anggota jemaat mengembangakn system kerja: 7.1. Bulatkan Tekad Tekad kerja yang bulat maka tidak ada kemungkinan kesempatan bagi oknum yang lain. 7.2. Pelihara Persatuan. Bersatu dalam perbedaan (karunia, umur, pendidikan, dan jenis kelamin dan suku/ras) untuk melayani Tuhan. Perbedaan adalah asset bagi organiasi jika ditata dengan baik. 7.3. Berjiwa Besar dalam Tuhan. Gereja didirikan atas dasar Yesus Kristus. Kepala Gereja juga Yesus Kristus. Dasar dan Kepala Gereja GKI (Kingmi) di Tanah Papua adalah Yesus Kristus sendiri. Untuk itu, seluruh warga gereja Kingmi di Tanah Papua dalam pelayanan harus berjiwa besar dan selalu berpikir posif. Capailah hal apa yang Sinode Kingmi idamkan kesejahteraan hidup, pangaruh dan kekuasaan, hubungan kemanusiaan, kehidupan yang berhasil atau sukses nikmatilah semua itu dalam Tuhan.
Bagaimana menggunakan keajaiban berpikir dan berjiwa besar? 7.3.1. Ketika orang yang kecil berusaha menjatuhkan anda, Berpikirlah Besar, 7.3.2. Ketika perasaan “Saya belum mencapai tujuan saya” Muncul Berpikir Besar, 7.3.3. Ketika terlihat ada perselisihan atau pertengkaran yang tersembunyi, Berpikirlah Besar. 7.3.4. Ketika romantisme (cinta-kasih) memudar, Berpikirlah Besar, 7.3.5. Ketika merasa diri anda kalah, Berpikirlah besar, 7.3.6. Ketika anda merasa perkembangan anda dalam pekerjaan menurun, Berpikirlah Besar. Ingatlah ini: Orang Bijak akan menjadi Penguasa dari pikirannya, Orang bodoh akan menjadi budak dari pikirannya. Orang Benar, Berpikir dan Berjiwa Besar dalam TUHAN. 7.4. Melawan Kuasa Gelap dengan Kuasa Roh. Tanah Papua harus menjadi Tanah damai. Gereja hadir untuk membawa damai itu. Berbahagialah bagi mereka yang membawa damai karena mereka akan melihat Kerajaan Allah. Iblis tidak senang kalau umat Tuhan di Tanah Papua hidup dalam kerukunan dan kedamaian, sehingga Iblis selalu melakukan serangan dengan kata-kata dusta kepada oknum-oknum dan kepada kelompok-kelompok tertentu. Gereja harus melawan dusta Iblis atau kuasa gelap dengan kauat kuasa Roh Kudus”.
8. Strategi Pelayanan Gereja. “Tugas Pelayanan GKI (Kingmi) Papua dijabarkan dalam program kerja Sinode berikut ini, yaitu program pelayanan Doa, Daya, Data dan Dana (D4)”.
9. Tema : Berubah untuk Menjadi Kuat, sehat, hidup dan mandiri
Kesimpulan Akhir:
"Sebuah organisasi gereja yang merindukan sehat, kuat, hidup dan mandiri perlu dilakukan pengembangan organisasi berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar organisasi gereja itu sendiri. Dari penggunaan GKII Wilayah kembali menjadi Sinode GKI (Kingmi) adalah juga sebuah proses perubahan untuk gereja yang mandiri tanpa bergantung pada pihak-pihak lain untuk membangun dirinya sendiri dan membangun yang lain."
"Organisasi GKI ( Kingmi) di Tanah Papua perlu dilakukan pengembangan organisasi tiap priodik (jika satu priode selesai), yaitu menambah atau memangkas departemen, biro-biro yang sesuai kebutuhan pelayanan gereja setelah mengamati perubahan-perubahan". (Jemmy Gerson Adii/ Fredy Kusen, Drs. Dodi Siwabesy, MP and Pdt. Yance Nawipa M.TH)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
20.27
0
komentar
Label: RENUNGAN
“Hiduplah dengan Bijaksana, Adil, dan Beribadah; Titus 2:12"
Kepada segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada,salam sejahtera dalam Kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
1. Dalam suasana sukacita Natal yang menyinggahi ruang-ruang kehidupan, kita Mengucap syukur kepada Allah atas kelahiran Yesus Kristus, Juruselamat kita,karena dalam Dialah “kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (Titus 2:11). Yesus Kristus datang ke dunia supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Kasih karunia Allah yang tampak dalam diri Yesus Kristus itu pertama-tama membuat kita sanggup meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi (Titus 2:12), lalu mendidik kita untuk “hidup bijaksana, adil dan beribadah” (Titus 2:12).
Kasih karunia Allah itu mendidik kita untuk menjadi bijaksana dan penuh penguasaan diri. Kita telah dipanggil untuk mengikuti Kristus dan telah menyatakan kesediaan untuk mengikuti-Nya. Dalam setiap saat dan kesempatan, kita diajar mendengarkan firman Allah dan hidup sesuai dengan firman itu, seperti Kristus sendiri hidup dalam ketaatan penuh kepada Bapa.
Kebijaksanaan Kristiani ini haruslah memancar dalam hubungan dengan sesama. Dalam diri Anak-Nya Allah memberikan keselamatan kepada semua manusia, tanpa memandang suku, status sosial, dan agama. Allah menjadi manusia untuk menebusnya dari segala cela dan dosanya. Seperti Allah mengasihi semua orang, kita pun dipanggil untuk mengasihi sesama manusia, lebih-lebih sesama yang dipertemukan oleh Allah dengan kita dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Ketika kita mengasihi sesama tanpa memandang suku, agama, dan status sosial, maka kita telah berlaku adil. Kita telah menerima kasih dari Allah, dan Allah menghendaki agar kita mampu membawa kasih itu kepada sesama.
Kehendak Allah hanya dapat kita mengerti bila kita sendiri memiliki hubungan yang akrab dengan-Nya. Dalam ibadah yang kita lakukan, kita mendengarkan firman Allah, merayakan karya penyelamatan Allah, dan membina hubungan dengan Allah. Ibadah yang sejati membawa manusia pada kebahagiaan karena hakikat kehidupan beragama adalah hidup dalam hubungan pribadi dengan Allah dan ikut mengambil bagian dalam karya Allah untuk mengasihi manusia dan dunia.
2. Rakyat telah memilih orang-orang yang dipercaya untuk memperhatikan dan melayani kepentingan umum demi terwujudnya kesejahteraan bersama. Walaupun ada di antara mereka yang dipilih itu justru sibuk mengurusi kepentingan sendiri dan lebih mempedulikan kekuasaan daripada kesejahteraan bersama, tidak bisa disangkal bahwa ada banyak orang yang penuh kesungguhan hati melayani sesama.
Dengan dukungan pemerintah atau dengan usaha sendiri, mereka telah berjuang membantu sesama warga bangsa untuk mencapai kesejahteraan dan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Menurut kemampuan masing-masing, banyak anggota masyarakat, baik secara pribadi maupun dalam kelompok, telah berjuang memajukan pendidikan bagi anak-anak bangsa karena sadar bahwa kemajuan bangsa ini sangat ditentukan oleh pendidikan mereka di masa sekarang.
Kita berusaha dengan tidak henti-hentinya agar seluruh warga bangsa dapat hidup dengan rukun dan damai. Dalam hubungan itu, kita berupaya untuk terus menerus melakukan dialog dengan berbagai kelompok agama dan masyarakat supaya setiap warga dapat menjalankan kehidupan imannya secara lebih penuh tanpa rasa takut dan curiga satu sama lain. Berbagai hambatan dan kesulitan dalam usaha dialog ini telah kita lalui dan tidak perlu membuat kita patah semangat.
Kita patut bersyukur oleh karena bangsa kita telah sanggup bertahan menghadapi berbagai bencana yang silih berganti melanda negeri kita. Berbagai bencana itu tidak membuat kita putus asa dan berhenti berusaha. Masih banyak warga bangsa yang turut berbela rasa dan membantu meringankan beban sesama yang ditimpa bencana dan malapetaka sehingga mereka tidak terhimpit dalam penderitaan yang berkepanjangan.
3. Dalam segala usaha untuk memajukan kesejahteraan masyarakat, memajukan Pendidikan, dan menciptakan kerukunan itu baiklah kita ingat akan kasih karunia Allah yang telah dinyatakan dalam diri Kristus. Kasih karunia itu telah mendidik kita
dan memberi kita kemampuan agar sanggup hidup secara bijaksana, adil, dan beribadah. Untuk mewujudkan hal itu kami mengajak seluruh umat Kristiani Indonesia mewujudkan hal-hal berikut:
Tekun mendengarkan firman Allah yang tertulis dalam Kitab Suci agar kebijaksanaan ilahi meresapi pikiran dan hati kita. Kita menyadari bahwa kemajuan zaman merupakan tantangan tersendiri bagi kehidupan iman kita. Sebab itu, anak-anak, remaja, dan kaum muda hendaknya sejak dini diajar untuk mendengarkan firman Allah dan menaatinya.
Tetap melibatkan diri dalam usaha-usaha untuk memajukan kesejahteraan umum dan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Dengan cara ini, secara nyata kita menjalankan perintah Allah untuk berlaku adil kepada semua orang dan mengasihi sesama tanpa memandang suku, agama, ataupun golongan. Dalam segala usaha ini marilah kita memohon bantuan Tuhan agar Ia menganugerahkan kesejahteraan bagi bangsa kita, kebijaksanaan bagi para pemimpin bangsa kita, dan keamanan bagi negeri kita.
Terus-menerus menjalankan dengan setia ibadah sejati kepada Allah demi pemantapan iman kepada Tuhan dan menghindarkan diri dari ibadah yang basabasi. Ibadah sejati tidak dijalankan untuk memamerkan kesalehan tetapi untuk membina hubungan pribadi dengan Allah sehingga benar-benar menghasilkan buah nyata dalam tindakan. Oleh karena itu, hendaknya kita menjauhkan diri dari segala tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah seperti korupsi, penyalahgunaan narkoba, tindak kekerasan, dan sebagainya. Kita dipanggil untuk mengembangkan dan memelihara kebebasan yang bertanggung jawab agar semua warga bangsa dapat menjalankan ibadah dengan leluasa sesuai dengan tatacara agama masing-masing dan kekayaan budaya para pemeluknya.
Akhirnya, marilah kita memohon kebijaksanaan Allah agar kita sanggup memahami firman Allah dan hidup menurut firman itu, sebagaimana Kristus sendiri hidup dalam ketaatan penuh kepada Bapa. (Jemmy Gerson Adii/Aweidakai)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
19.55
0
komentar
Label: RENUNGAN
27 Desember 2008
Kisah "BOB" & "BIB"
Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama. Uniknya, dikiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.
Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis, maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya. Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah permen lolipop.
Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat." Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, "Saya lupa makan permennya!"
Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. "Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya." "Kenapa kamu memanggil saya?" tanya Bob. "Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali!" Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. "Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama." Bib menambahkan.
Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.
Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia." Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali." Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.
Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja.
Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup.
Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.
Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia?
Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka menjawab, "Saya akan bahagia nanti...nanti pada waktu saya sudah menikah...nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri...nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya...nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya...nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar... "
Pemikiran 'nanti' itu membuat kita bekerja sangat keras di saat sekarang'.
Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa 'nanti' bahagia. Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa 'nanti' bahagia.
Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa 'nanti' bahagia itu.
Ritme hidup yang sangat cepat... target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu...
tetapi semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan. Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita;
pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi lebih indah.
Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran; memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita,
berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri. Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang.
Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukurkepada Tuhan seperti Bib yang melewati perjalanan dan pengalaman spektakulernya di lembah permen lolipop.
Kita pasti bisa jika kita memiliki komitmen untuk menyiapkan waktu untuk Tuhan setiap hari dalam keseharian kita dan tidak melupakan kebaikan Tuhan yang telah dianugerahkan-Nya di sepanjang tahun 2008 ini...Tuhan Yesus Memberkati…
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
20.44
0
komentar
Label: RENUNGAN
23 Desember 2008
Bagaimana Korupsi Bisa di Atasi…? Kalau Tanpa Adanya Kepedulian dari Semua Pihak
Korupsi harus dilihat sebagai ancaman, lebih bahaya dari HIV-AIDS”itulah sebuah topik berita yang saya kutip dari salah satu koran lokal yang di terbitkan di Tanah Papua pada edisi selasa 23 Desember 2008.
Ketika saya melihat dan membaca topic berita tersebut, saya pun mempunyai ide sehingga menulis tulisan ini. Sebenarnya saya tidak bisa dan mampu untuk menulis tulisan ini, tetapi dengan hati yang terkesan demi mengangkat persoalan korupsi di negeri tertimur ini, sehingga saya pun tergerak hati untuk menuangkan satu, dua kata yang mungkin bagi saya sangat tidak bermanfaat, tetapi yang saya sangat harapkan melalui buah pikiran ini dapat menjadi manfaat dan berguna bagi semua pihak terutama yang sempat membaca tulisan ini……!!!
Bagaimana caranya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) itu bisa di atasi secara bersama-sama oleh semua pihak yang berkompoten di Negeri Papua yang penuh Damai ini. Bukan di atasi oleh satu atau dua orang atau pun pihak-pihak tertentu saja, tetapi yang saya maksudkan adalah semua unsur elemen mulai dari bawah hingga sampai atas harus duduk dan sama-sama menyatukan presepsi dengan tujuan untuk memberantas penyakit tersebut itu (Korupsi-red). Ingat harus ada kepedulian dari semua pihak juga tanpa terkecuali, jika mau benar-benar penyakit korupsi mau di sembuhkan 100 persen.
Menurut pikiran saya, apagunanya kalau ada wakil rakyat yang duduk di dewan mulai dari daerah hingga pusat, tetapi kalau kasus korupsi ini tidak pernah tuntas. Apa gunanya putra-putra terbaik orang Papua yang saat ini menduduki posisi-posisi terpenting di kursi empuk pemerintahaan baik di Kota, Kabupaten, Provinsi bahkan Pusat, tetapi yang namanya kasus korupsi masih saja terus ada dari tahun ke tahun hingga semakin mendekatnya kedatangan sang Juru Selamat (diakhir penghujung akhir zaman ini-red).
Apakah perlu adanya keterlibatan dari Tokoh Masyarakat (Tomas), Tokoh Pemuda (Topem), Tokoh Agama (Toga) dalam memberantas kasus ini…? Kalau menurut tanggapan saya, sangat perlu sekali untuk adanya keterlibatan semua unsur elemen yang di sebutkan diatas itu untuk sama-sama duduk berbicara, berfikir dan bertindak untuk mencari solusi akhir.
Sesuai dengan kaca mata saya, sejak saya di lahirkan, bersekolah dari TK, SD, SMP, SMU hingga Perguruan Tinggi dan sampai saat ini saya bekerja, hal yang namanya korupsi masih terus dirasakan oleh hati saya, terlihat oleh mata saya dan terdengar oleh telinga saya. Henta itu melalui informasi lewat rekan-rekan kerja, masyarakat akar rumput, dan melalui berita-berita yang di ekspos atau di publikasi oleh media elektronik bahkan media cetak.
Yang bisa saya lakukan hanyalah berdoa bagi mereka yang terus melakukan korupsi dan menulis tulisan ini, agar suatu kelak nanti harapan saya siapapun orangnya pasti akan bertobat dan kembali ke jalan yang tepat sesuai dengan apa yang diinginkan oleh kita semua terutama oleh masyarakat akar rumput di negeri PAPUA ini.
Sehingga setiap anggaran yang ada di pemerintahaan baik yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), dana Otonomi Khusus (OTSUS), Dana Perimbangan dan dana-dana lainnya bisa benar-benar terpakai untuk kepentingan “Rakyat Papua”.
Perlu diketaui bahwa Pemerintah ada karena adanya Rakyat, tanpa kehadiran rakyat maka apa gunanya ada Pemerintah, begitu pun sebaliknya. Disisi lainnya kesejahteraan rakyat itu bisa tercapai demi adanya perubahan yang akan terjadi khususnya di Tanah Papua ini kedepan misalnya saja di daerah-daerah terpencil, lembah, gunung, rawah-rawah dan pegunungan bisa lebih cepat maju dalam hal pembangunannya, sama seperti daerah-daerah lainnya yang sudah lebih dulu maju.
Satu hal yang membuat saya harus berfikir dan menulis tulisan ini yakni jika uang rakyat dikorupsi oleh para birokrat, maka kesejahteraan rakyat sudah tentunya tidak akan meningkat bahkan membuat rakyat semakin melarat, sehingga korupsi harus dilihat sebagai ancaman. Karena korupsi lebih bahaya dari penyebaran HIV-AIDS, sebab korupsi itu dilakukan oleh oknum-oknum dan korupsi itu bisa terjadi kapanpun karena tidak mengenal agama, suku, etnis maupun partai.
Apakah korupsi itu bisa kita jadikan sebagai musuh bersama dan harus kita bertindak bersama-sama untuk memberantas korupsi…??
Memang saya sadari bahwa korupsi adalah ancaman dan malapetaka yang lebih jahat dari HIV-AIDS. Dimana papua soal HIV-AIDS itu termasuk tinggi, tetapi korupsi lebih bahaya lagi dari HIV-AIDS.
Sebenarnya jika semua pihak yang berkompoten bersatu dan mengatasi hal ini dengan baik, tentunya penyakit yang namanya korupsi ini dengan sendirinya dapat teratasi, tetapi sayangnya semua komponen yang berkompoten di negeri ini, misalnya seperti aparat pemerintahan (kota, kabupaten, provinsi hingga pusat), anggota dewat termasuk wartawan tidak semuanya mempunyai idealisme yang baik, sehingga perlu jaringan yang luas untuk upaya pemberantasan korupsi dan perlu saling mengoreksi.
Diakhir tulisan ini, saya sangat harapkan sekali jika satu wadah jaringan yang di bentuk oleh Papua Corruption Watch (PCW) yakni Gerakan Rakyat Tangkap Koruptor (GERTAK) bisa bekerja dengan baik dan idealisme dalam membungkam setiap koruptor-koruptor nakal di negeri yang sudah di meteraikan oleh Sang Pencipta menjadi Tanah Pilihan Tuhan di “Akhir Zaman” ini….Semoga…!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
19.58
0
komentar
20 Desember 2008
Apa Untungnya Mengkonsumsi : “Miras, Narkoba, Ganja & Rokok”
“Ada apa di balik mengkonsumsi minuman keras (miras-red), narkoba, ganja, rokok bahkan lainnya.” Itulah beberapa kata yang dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan bahkan tahun berganti tahun selalu timbul dalam benak saya di manapun saya berada dan beraktivitas.
Sebetulnya ada arti dan manfaat sekali bagi saya dan rekan-rekan yang masih bernaung di dalam lingkaran miras, narkoba, ganja dan rokok. Khusus untuk saya keadaartian itu beranjak ketika kala itu saya masih menkonsumsi miras dari berbagai jenis mulai dari jenis BIR, Alkohol, Kosongan, Vodka, Mensen, Wisky Robinson, CT, Jenever (minuman tokoh, MINTO-red), Air Nenas, Saguer, Bobo (minuman local, MILO-red) serta lainnya juga menkonsumsi rokok (sorry pada tulisan ini mengenai narkoba, ganja dan jenis lainnya secara transparan saya belum pernah mengkonsumsi jangankan mengkonsumsi, memegang bahkan melihat pun tidak pernah. Tetapi saya mencoba untuk mengaitkan semua hal itu kedalam tulisan ini). Pasalnya, dengan berbuat seperti itu semuanya bisa terjamin baik dan pula juga punya teman sangat banyak serta terlebih bisa berbuat apa saja.
Tetapi sayangnya ketika saat ini saya sudah tidak lagi beradaptasi dengan berbagai hal itu. Hal positif yang muncul dalam benak saya saat ini adalah “Tidak ada Artinya untuk semuanya itu”. Dengan mengkonsumsi miras, narkoba, ganja bahkan lainnya sudah tentunya ujung-ujungnya sebagai dampak negative yang terjadi adalah “Pertikaian, Pembunuhan, Pemerkosaan, Kecelakaan lalu lintas dan berbagai masalah lainnya”, itupun ketika air kata-kata alias miras bahkan lainnya menguasai kita.
Kadang kala banyak anggapan yang muncul. Ada yang berargumen bahwa dengan menkonsumsi miras, narkoba, ganja dan rokok serta lainnya adalah jalan terbaik bagi mereka atau siapa saja yang masih bersahabat dengan miras, narkoba, ganja, rokok dan lainnya, atau dengan tafsiran lainnya dapat saya sampikan bahwa dengan mengkonsumsi miras supaya dapat mudah menyelesaikan sesuatu masalah bahkan sebaliknya dengan menkonsumsi miras akan dapat memudahkan setiap orang dalam melakukan aksi-aksi apa saja.
Saya belum tahu pasti apa sih yang menjadi pendapat dan pandangan orang-orang yang sudah berpengalaman dari saya tentang hal ini. Kalau menurut pemikiran saya cara melalui teori dan praktek itu merupakan tanggapan yang sia-sia belaka. Sebab bukan dengan cara menkonsumsi miras atau lainnya dapat menyelesaikan segala macam permasalahan, tetapi yang jadinya malah sebaliknya akan tambah besar permasalahan bahkan tidak bisa untuk di selesaikan.
Berdasarkan fakta yang terjadi saat ini di seantero dunia pada umumnya, seperti yang saya cermati dan tonton dalam berbagai media local, nasional bahkan international. Baik melalui media cetak maupun media elektronik, banyak kasus di sana-sini yang ditayangkan bahkan di ekspos ke meja publik, henta itu kasus yang kecil, sedang bahkan sampai kasus-kasus yang besar pula.
Tentunya, secara tidak terperinci saya dapat kalkulasikan bahwa hampir berkisar antara 75 persen atau lebih terjadinya akibat kasus konsumsi miras atau lainnya. Belum hilang di ingatan saya, dalam beberapa Koran local di Tanah Papua menyebutkan secara berturut-turut selang beberapa tahun terakhir ini ada begitu banyak kasus orang yang meninggal dengan cepat akibat ulah penyakit alcohol alias miras bahkan lainnya.
Saya sangat peduli sekali dengan tragadi-tragedi tersebut itu, yang hingga kini masih terekam dalam benak bantin saya, sehingga yang menjadi usulan dan saran saya yakni perlu adanya kesadaran yang keluar dari diri pribadi kita masing-masing, tanpa adanya ajakan dan paksaan dari orang lain. Kepada semua pihak yang berkompoten tanpa terkecuali di pelosok Tanah Air Indonesia ini, perlu kita perangi bersama-sama.
Bukan berarti kita juga ikut terjerumus dalam lingkaran miras dan teman-temannya, melainkan kita harus tetap waspada dan waspada, sebab dengan kita waspada sudah tentunya merupakan salah satu solusi terbaik yang patut kita lakukan bersama-sama di manapun kita berada. Karena saya dan anda (pembaca) tidak akan pernah mengetahui secara pasti hari ini, besok atau lusa di panggil pulang oleh Sang Pencipta. Apa yang harus saya dan anda jawab kelak ketika Tuhan menanyakan, tentang aktivitas yang saya dan anda lakukan selama masih ada NAFAS di muka bumi ini..? (fikir dan renungkan sendiri)
Kepada para penentu kebijakan, saya sangat berharap agar tolong dapat mempertimbangkan hal ini. Tujuan inti dari akhir tulisan ini adalah suatu kelak nanti pada umumnya di seluruh pelosok tanah air Indonesia bahkan luar negeri dan lebih khususnya di semua Kabupaten yang ada di Indonesia bagian timur ini yakni Papua dan Papua Barat dapat bebas dari miras, narkoba, ganja bahkan yang lainnya.
Sebab ketika miras masih terus merajalela di Tanah Papua pada khususnya dan umumnya di seluruh pelosok tanah air, maka sudah tentunya tong punya generasi penerus negeri dan bangsa Indonesia ini kedepan tidak akan ada lagi. “Jika demikian kedepannya siapa lagi yang mau membangun negeri ini kalau bukan saya dan anda punya generasi. Saat ini adalah saat yang tepat untuk saya dan anda melepaskan semuanya, terutama masalah miras, narkoba, ganja bahkan lainnya.”
Akhirnya, saya ingin sampaikan satu dua kata sebagai tulisan penutup yakni : “Kalau bukan saya dan anda semua, siapa lagi dan kalau bukan sekarang saya dan anda peduli dan waspada terutama kepada miras, narkoba, ganja dan lain-lainnya untuk membebaskan miras dari Tanah Papua dan sekitarnya kapan lagi”.
Mari tong berfikir baik-baik, untuk memulai menjauhkan diri dari berbagai jenis kejahatan yang merupakan beberapa poin negative yang di larang oleh “Sang Pencipta”. Kita berfikir dengan otak, melihat dengan mata, mendengar dengan telinga, merasakan dengan hati dan bertindak dengan seluruh tubuh kita saat ini, demi untuk menyelamatkan 1000 lebih jiwa manusia yang saat ini masih dalam cenkeraman lingkaran miras dan konco-konconya.……Semoga..!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
05.18
0
komentar
Label: EDITORIAL, POLITIK, SOSIAL BUDAYA
08 Desember 2008
3 Kekuasaan Besar : “Negara, Modal & Rakyat”
Tanah Papua merupakan wilayah bio-geografis terbesar ketiga di Indonesia, dengan kemajemukan suku, bahasa dan adat istiadat serta memiliki keanekaragaman sumber daya alam (SDA) hayati dan ekosistem baik di darat maupun perairan yang cukup tinggi. Salah satu bagian wilayah di Tanah Papua yang memiliki keanekaragaman suku dan budaya, serta keanekaragaman hayati yang cukup besar adalah wilayah Kepala Burung baik itu daratan dan perairan.
Pengelolaan SDA di Papua semakin kuat dan bakal jamur perusahaan akan lebih meningkat sebagai dampak dari lahirnya UU No. 21/2001 tentang status Otonomi Khusus bagi daerah Papua. Otonomi Khusus, secara politis merupakan strategi politis untuk menjawab kebutuhan masyarakat Papua, sehingga Otsus dapat menjadi peluang sekaligus tantangan bagi masyarakat adat Papua. Banyak investor dari dalam dan luar negeri yang tidak segan-segan menawarkan penanaman modalnya di Papua.
Salah satu kemudahan adalah Gubernur Kepala Daerah Provinsi Papua dengan legitimasi UU Otsus ini boleh mencari investor sendiri untuk mengembangkan daerah kekuasaannya. Peluang ini didukung dengan adanya UU. No. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan UU. No. 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan daerah. Dampak dari peluang OTSUS ini telah dibuktikan dengan adanya kehadiran Britiesh Petroleum Indonesia (BP-Indonesia) yang akan memproduksi Gas Alam Cair di Kawasan Teluk Bintuni dengan proyek LNG Tangguh.
Adalah defacto bahwa kekayaan SDA juga dapat menjadi pemicu konflik yang berdimensi HAM hingga melahirkan dasar perjuangan bagi masyarakat Papua untuk memisahkan diri dari NKRI. Hal ini karena sudah parah sakit hatinya orang Papua yang sudah terpendam secara turun-temurun, sehubungan dengan perlakuan pemerintah Indonesia sebagai penguasa dan para investor sebagai pemilik modal.
Karena itu tidak sedikit persoalan di Papua yang terkait dengan kehadiran perusahaan-perusahaan yang menjamur di Papua dan terutama kekuasaan negara dalam hal ini pemerintah yang selalu menang terhadap masyarakat dengan mengatasnamakan peraturan-perundangan, pembangunan negara, dan terutama dengan kekuatan aparat keamanan negara dengan alasan untuk stabilitas nasional. Padahal masyarakat Papua telah sadar akan tipu muslihatnya pemerintah dengan para investor itu.
Hanya jika mereka menuntut apa yang menjadi hak-hak dasarnya sebagai manusia, dan terutama hak ulayat atas tanah adatnya, mereka malah dituduh menghambat pembangunan dan mudah dikalahkan dengan pemberian stigma Separatis, OPM (Organisasi Papua Merdeka) dan GPK yang menurut pemerintah dan aparat keamanan negara harus ditindak tegas dan ditiadakan dari bumi Indonesia. Sehubungan dengan stigma tersebut, orang asli Papua pun kehilangan identitas dirinya dari segala dimensinya.
Analisis ini tidak dapat terlepas dari hubungan tiga kekuatan besar dalam proses kehidupan sosial kemasyarakatan yaitu Negara, Modal (pasar) dan Rakyat (Komunitas). Ketiga aktor besar tersebut tidak seimbang dalam realita hubungannya, sehingga terjadi penumpukan kekuatan yang hanya menguntungkan pada negara dan modal saja, sedangkan rakyat selalu dalam kondisi “Apa Adanya” dan terus terkalahkan serta termiskinkan.
Pertemuan kekuatan antara negara dan modal bermuara pada terciptanya kompromi yang menghasilkan pengaturan-pengaturan baru dalam memanfaatkan berbagai fasilitas kehidupan, seperti pengelolaan hasil hutan, penguasaan lahan, penguasaan laut, pertambangan, ternyata hanya mengutamakan kepentingan negara dan modal saja. Sementara rakyat terpinggirkan dan hanya menjadi korban dari ketimpangan perimbangan kekuatan ini. Pada kondisi yang lebih praktis, demikian jelas terlihat gejala dan peristiwa dimana posisi rakyat semata-mata hanyalah sebagai obyek dari gagasan dan kebijakan yang dibuat oleh kekuatan negara dan modal, baik keduanya bersatu maupun sendiri-sendiri.
Praktek-praktek dan pola hubungan tidak seimbang seperti di atas telah mendatangkan banyak kerugian bagi rakyat, yaitu di samping terjadinya kesenjangan sosial yang parah antara rakyat dan dua aktor lainnya, juga terjadi proses pembodohan dan pemiskinan secara struktural. Lebih lanjut, analisa sosial juga menghasilkan asumsi bahwa negara dan modal adalah sebuah kesatuan komunitas, kesatuan kepentingan yang saling bekerja-sama.
Walaupun didalam masing-masing sub komunitas itu sendiri, terdiri dari beberapa komponen, seperti : (1) Sub komunitas Negara merepresentasikan militer, departemen-departemen, birokrat dan lembaga-lembaga pemerintahan lainnya. (2). Sub komunitas modal memrepresentasikan investor, perusahaan-perusahaan transnasional dan atau multinasional, tuan tanah bahkan tengkulak tingkat kampung masuk kelompok ini. Sehingga perencanaan strategi dan taktik untuk melakukan perjuangan yang selalu dijalani oleh organisasi rakyat dan Ornop terfokus pada dua kekuatan, yaitu negara dan modal.
Pada dasarnya kekuatan komunitas negara dan modal baik bermain sendiri-sendiri maupun bersama-sama bertujuan untuk memperoleh keuntungan investasi sebesar-besarnya. Akibatnya, semua komponen dalam negara, pada berbagai tingkatan dan sektor ingin menjadi penguasa, begitu pula dalam modal, semua ingin mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Faktor kepentingan ini melahirkan pertikaian antar kepentingan politik dan persaingan antar pemilik modal yang sering terjadi. Pertikaian dan persaingan ini membutuhkan arena dan manifestasinya secara nyata di lapangan. Arena termaksud adalah rakyat.
Salah satu hal yang menjadi kenyataan ketika kala itu saya bersama-sama dengan rekan-rekan terlindung dalam sebuah komunitas yang di namakan “Bin Madag Hom” artinya “Mari Kita Bersatu”. Komunitas masyarakat dalam pandangan BmH adalah komunitas masyarakat adat yang bersinggungan langsung dengan SDA, sehingga akan sangat merasakan dampak dari pertikaian dan persaingan yang dilakukan oleh kedua kelompok aktor tersebut yakni modal dan negara. Hingga sekarang yang telah dikenal oleh para aktivis ORNOP (Organisasi Non Pemerintahaan-red).
Mengenai intisari pemikiran dalam Pengorganisasian Masyarakat adalah, bahwa: (a) masyarakat mempunyai daya dan upaya untuk membangun kehidupannya sendiri. (b) Masyarakat memiliki pengetahuan dan kearifan tersendiri dalam menjalani kehidupannya secara alami. (c) upaya pembangunan masyarakat akan efektif apabila masyarakat sebagai pelaku sekaligus penikmat pembangunan, serta (d) masyarakat memiliki kemampuan membagi diri sedemikian rupa dalam peran pembangunan mereka.........Semoga....!!! (Jemmy Gerson Adii/Jasoil Papua)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
07.35
0
komentar
Label: EDITORIAL, POLITIK, SOSIAL BUDAYA
Antara Pasca dan Masa Reformasi…..!!!
System kebijakan pembangunan di Negara Indonesia sudah menunjukkan perbaikan ke arah yang lebih demokratis ada pasca reformasi. Paling tidak ada masa reformasi ini, semua proses pembangunan baik pusat maupun daerah dituntut supaya harus melibatkan public dalam proses perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasannya.
Artinya partisipasi aktif masyarakat sipil sangat diperlukan dalam proses pembangunan negara baik di tingkat pusat maupun daerah provinsi, kabupaten/kota, distrik dan kampung. Hal ini menuntut kesadaran dan semangat masyarakat sipil seutuhnya sebagai warga Negara dan bangsa Indonesia yang turut bertanggung jawab dalam proses pembangunan.
Rancangan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2004-2009 memfokuskan pada upaya pencapaian agenda pembangunan nasional yaitu mewujudkan Indonesia yang aman dan damai, adil dan demokratis dan Indonesia yang sejahtera. RPJM ini dimaksudkan untuk menjamin peningkatan dan pemenuhan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Karena itu pemerintah sebagai penyelenggara Negara baik di pusat maupun daerah membuka ruang public bagi masyarakat sipil dalam proses-proses penetapan kebijakan pembangunan.
Organisasi masyarakat sipil memainkan peran penting dalam pencapaian agenda pembangunan nasional, termasuk agenda pembangunan daerah. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) juga dituntut perannya untuk ikut mendorong pembangunan ke arah yang lebih baik.
Prinsip-prinsip Good Governance menjamin bahwa dalam pelaksanaan system Otonomi Daerah/Otonomi Khusus Papua, pemerintah daerah tidak lagi bekerja sendiri, harus melibatkan peran masyarakat sipil. Dalam proses pembangunan, pemerintah lebih berperan sebagai fasilitator dan mengatur kebijakan/regulasi daerah bersama-sama denga berbagai constituent pembangunan yang ada di suatu wilayah otonom. Oleh karena itu, masyarakat sipil yang terorganisir dalam asosiasi atau kelompok-kelompok sektoral merupakan bagian yang penting dan merupakan elemen kunci dalam demokrasi dan upaya mewujudkan proses pembangunan yang baik dan dan efisien.
Untuk itu salah satu tanggung jawab masyarakat sipil adalah membantu mendorong perwujudan pemerintahan yang baik (good governance). Masyarakat juga seharusnya terfokus pada setiap moment pembuatan kebijakan yang menyangkut kepentingan public antara lain dalam penyusunan visi dan misi daerah, pembuatan peraturan daerah (PERDA), Perencanaan – Pelaksanaan - Pengawasan APBD. Partisipasi masyarakat sipil dapat dilakukan melalui kegiatan konsultasi public, hearing/dengar pendapat dengan DPRD, jajag pendapat umum, pooling, dialog interaktif, seminar, workshop, lokakarya dan lain sebagainya yang merupakan forum public.
Di akhir dari tulisan ini, apa yang kita buat untuk daerah dan manusia Papua di Negeri ini. Apakah solusinya untuk meningkatkan kesadaran kritis dan pemahaman masyarakat sipil dalam mengambil bagian pada setiap proses-proses pembangunan nasional maupun daerah, termasuk dalam pembuatan kebijakan public serta mendorong pemerintah daerah untuk memberi ruang public dalam setiap proses pembuatan kebijakan pembangunan daerah.
Atukah setiap pihak yang berkompoten perlu memberikan pemahaman tentang mekanisme dan ruang public dalam proses pembangunan daerah, serta bagaimanakah meningkatkan pemahaman dan kesadaran kritis bagi masyarakat sipil tentang mekanisme penyerapan aspirasi/konsultasi public melalui legislative/DPRD...? Dan Bagaimana pula meningkatkan pemahaman tentang peran masyarakat sipil dalam proses pengambilan kebijakan public/kebijakan daerah dan mendorong peran serta aktif masyarakat sipil dalam pengawasan implementasi kebijakan public/kebijakan daerah. semuanya itu kembali padapribadi lepas pribadi kita masing-masing.....Semoga!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
07.23
0
komentar
My Number NPWP
My Daily
About Me
Blog Organisasi
-
Rapat Kerja Sinode GKII Wilayah I Papua - Rapat Kerja I Sinode GKII Wilayah I Papua akan dilaksanakan pada hari Selasa 11-14 Juli 2017 bertempat di Gedung Serba Guna GKII Bethesda yang terletak di ...8 tahun yang lalu
-
Mari Rebut Kembali Pasar. - Peningkatan kehidupan ekonomi masyarakat Papua hingga sampai saat era modern ini perlu mendapat perhatian penuh. Selama ini orang Papua asli hanya menjadi...16 tahun yang lalu
-
-
-
-
Please Your Respon..?
Peta Kunjungan