Kerusakan lingkungan seringkali seperti konversi lahan pertanian ke non pertanian serta berkurangnya kawasan hutan lindung juga disebabkan oleh ketidak pedulian terhadap pelestarian lingkungan. Hal ini seringkali diperparah oleh ketimpangan pola hubungan antara perempuan dan laki-laki.
Kenapa demikian? Masih banyak perempuan yang dikesampingkan dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan, sebagai contoh kehadiran revolusi hijau yang menggunakan alat-alat berat juga menyebabkan partisipasi perempuan berkurang, padahal perempuan mempunyai keunggulan dalam pemilahan benih, penyimpanan hasil pertanian dan pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang berwawasan lingkungan.
Pada masyarakat tradisional di pedalaman maupun pesisir khususnya di Tanah Papua dimana perempuan merupakan pengelola dan sumber pengetahuan akan potensi keanekaragaman hayati sebagai bahan makanan sehari-hari maupun yang berkhasiat sebagai obat.
Alam sudah menyediakan segala sesuatu lengkap adanya, moyang juga sudah wariskan pengetahuannya bahkan obat-obat medical yang disediakan di apotek dan rumah sakit juga terbuat dari bahan obat tradisonal. Artinya, setiap manusia mempunyai pengetahuan tradisional tentang tumbuhan-tumbuhan yang terwariskan dari zaman nenek-moyangnya, tinggal bagaimana kita gunakan untuk menjawab kebutuhan manusia.
Perlu ditegaskan pada generasi muda saat ini adalah pentingnya menjaga kelestarian hutan serta dimanfaatkan secara baik. Karena di Tanah Papua, segala sesuatu sudah disediakan oleh Sang Pencipta, untuk dijaga dan dilestarikan selamanya.
Sesuai analisa penulis, di Indonesia telah dikenal dengan sebutan mengenal kebijakan lingkungan seperti pada UU. No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, UU No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi SDA. Pada umumnya kebijakan-kebijakan tersebut secara formal mengakui keberadaan masyarakat hukum adat serta budaya dan kearifan lokalnya, bahkan pada setiap kebijakan lingkungan hidup di Indonesia tidak membedakan peran perempuan dan laki-laki.
Namun kenyatannya, seringkali tidak ada akses dan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan atau kebijakan pembangunan di sekelilingnya, oleh karena itu kaum perempuan tidak terwakili kebutuhannya serta tidak mempunyai control terhadap perkembangan pembangunan.
Sebagai contoh, perempuan yang seharusnya dapat mengatur sendiri keberadaan dapur tradisionalnya, terkadang harus menunggu keputusan orang lain dalam menentukan kondisi dapurnya. Hal ini berarti bahwa ”Pembangunan di Indonesia sangat bias gender”, dan tidak menghormati hak akses kaum perempuan dalam proses-proses pembangunan, terutama dalam pengelolaan sumber daya hutan. Padahal, segala suku bangsa di dunia, termasuk orang Papua mengakui bahwa ”Tanah adalah Ibu Kandung” bagi suku bangsa yang hidup dan mendiami suatu wilayah tertentu di bumi ini.
Sangat penting mendorong peran perempuan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan, sehingga hak akses kaum perempuan dalam pengelolaan SDA pun terakomodir dalam sejarah pembangunan di Indonesia, termasuk di Papua pada masa Otonomi Khusus ini.
Dalam kerangka pemikiran konseptual, perjuangan kaum perempuan Indonesia sejak periode sebelum kemerdekaan sampai sekarang nampak seperti terjadi pasang surut.
Di zaman perjuangan kemerdekaan perjuangan perempuan Indonesia lebih nyata dan berani bersama kaum laki-laki dalam mendeklarasikan Sumpah Pemuda (sebutan pemuda-pemudi) dilanjutkan dengan pelaksanaan Kongres Perempuan I (22 Desember) dan seterusnya sehingga ditetapkan sebagai Hari Ibu Nasional.
Setelah kemerdekaan, arah kegiatan perjuangan perempuan semakin mendapat peluang tetapi lebih mengkristal pada kaum perempuan tanpa bermitra dengan laki-laki sehingga muncul organisasi seperti KOWANI, PKK, Dharma Wanita, Dharma Pertiwi, Muslimat NU, Aisyiah, dan sebagainya.
Gerakan itu sejalan dengan konsep Women in Development (WID) secara internasional 1970-1985 yang bertujuan untuk memberikan peluang sebesar-besarnya bagi perempuan ikut dalam pembangunan. Akibatnya perempuan memperoleh beban ganda (di publik dan domestik) yang cukup berat di banding sebelumnya. Dunia internasional menggeser arah dan tujuan kebijakannya menjadi Women and Development (WAD) dengan lebih memberdayakan kaum perempuan agar bisa berperan aktif seperti laki-laki.
Kata pemberdayaan menunjukkan bahwa masalah kemampuan atau kompetensi menjadi prasyarat bagi perempuan agar bisa aktif dalam proses pembangunan, maka diperkenalkanlah konsep pemberdayaan perempuan (women empowerment).
Dengan dalih untuk mencapai kemajuan seperti yang diperlihat-kan melalui media massa baik elektronik, cetak atau internet kaum perempuan terutama anak-anak dan remaja memperoleh gambaran informasi yang kurang seimbang antara aspek materiel dengan perlindungan diri dari kemungkinan eksploitasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Pengiriman TKW sebagai pembantu rumah tangga, misi kesenian, bekerja di tempat hiburan, hotel, restoran, café, dan sebagainya ke luar daerah atau luar negeri dengan janji memperoleh gaji yang tinggi telah menggoda perempuan muda untuk sebagian menjadi korban trafficking (pemaksaan, penipuan, dan perdagangan atau eksploitasi) menyebabkan upaya pemberdayaan perempuan berubah menjadi perempuan diperdayakan.
Akhirnya terjadi suasana yang berbeda yaitu pada satu sisi ingin menggangkat derajat perempuan, sebaliknya hanya berupaya untuk merendahkan harkat dan martabat perempuan.
Lalu kepada siapa tumpuan kesalahan ini ditimpakan, apakah kembali kepada kaum laki-laki, pemerintah, orang tua, pemuka agama, pemuka masyarakat, politisi, penegak hukum, media massa, atau kaum perempuan itu sendiri.
Menurut penulis, perlu adanya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, serta adanya pelestarian lingkungan, sebab berbicara mengenai perempuan berarti ada kaitannya dengan lingkungan hidupnya.
Singkat kata, hak asasi kaum perempuan perlu diakomodir untuk dijadikan kekuatan dalam upaya peningkatan pembangunan demi mendorong perubahan-perubahan yang mengharusutamakan kaum perempuan di Tanah Papua secara merata tanpa ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan....... Semoga!!!! (Jemmy Gerson Adii)
Me
Stock Pengunjung...!!
My Mesages
Your Mesages..!!
Category
My Site
-
Dayung Sampan - Popularitas di luar Indonesia: menambahkan rujukan #1Lib1Ref #1Lib1RefID ← Revisi sebelumnya Revisi per 5 Februari 2026 00.28 Baris 7: Baris 7: == Popu...4 jam yang lalu
-
Termasuk Williams Bersaudara, 4 Bintang Athletic Bilbao Dipastikan Absen Lawan MU - Athletic Bilbao telah mengumumkan daftar pemain mereka yang berangkat ke Inggris untuk menghadapi Manchester United.8 bulan yang lalu
-
Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Bekasi Tembus 20 Ribu - *Liputan6.com, Bekasi -* Jumlah kumulatif kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, saat ini tembus di atas 20.000 kasus. Be...4 tahun yang lalu
-
Grosir pakaian Anak - mangga dua merupakan di antara pusat perbelanjaan yang ada di ibukota jakarta, letak dari pusat perbelanjaan ini ada di tempat jakarta utara. dapat disebut...10 tahun yang lalu
-
JOKOWI SETUJU PAPUA REFERENDUM - Sebuah berita cukup menarik termuat di www.gebraknews.com dengan judul “JOKOWI SETUJU REFERENDUM PAPUA MERDEKA” menjadi berita yang perlu dicermati , ka...11 tahun yang lalu
-
48 Orang Terjangkit HIV/Aids - *Solopos.com*, 26 Agustus 2013 *WONOGIRI *-- Sebanyak 48 orang di terjangkit virus HIV/Aids. Tiga orang di antaranya adalah penderita baru atau baru diket...12 tahun yang lalu
-
VISI TUHAN UNTUK GEREJA KINGMI PAPUA - VISI TUHAN UNTUK GEREJA KEMAH INJIL (KINGMI) DI TANAH PAPUA “BEKAS ANAK –ANAK PENGUASA BUMI PEGUNUNGAN PAPUA” Suatu Penglihatan Dari Ev. Petrus Giay 29 Mar...16 tahun yang lalu
-
-
-
-
-
-
-
-
-
My Arsip Blog
- Nov 23 (1)
- Nov 24 (4)
- Nov 25 (1)
- Nov 26 (1)
- Des 02 (1)
- Des 08 (2)
- Des 20 (1)
- Des 23 (1)
- Des 27 (1)
- Des 28 (2)
- Feb 08 (3)
- Feb 09 (7)
- Feb 14 (1)
- Feb 16 (6)
- Feb 18 (2)
- Feb 24 (3)
- Feb 28 (1)
- Mar 06 (1)
- Mar 08 (1)
- Mar 09 (1)
- Apr 13 (2)
- Apr 19 (1)
- Apr 27 (1)
- Mei 06 (1)
- Jun 08 (2)
- Jun 10 (1)
- Jul 06 (3)
- Jul 12 (1)
- Jul 14 (1)
- Jul 17 (1)
- Agu 29 (1)
- Sep 11 (1)
- Sep 17 (1)
- Okt 31 (1)
- Nov 01 (1)
- Jan 11 (1)
- Mar 01 (12)
- Mar 30 (1)
- Mar 31 (1)
- Apr 14 (1)
- Apr 18 (1)
- Mei 07 (1)
- Mei 10 (1)
- Mei 12 (2)
- Mei 28 (3)
- Jun 02 (1)
- Jun 24 (1)
- Jul 07 (1)
- Jul 30 (1)
- Jul 31 (1)
- Agu 10 (2)
- Agu 21 (1)
- Agu 22 (2)
- Sep 12 (1)
- Okt 15 (6)
- Okt 25 (3)
- Okt 27 (3)
- Okt 29 (2)
- Nov 02 (1)
- Nov 03 (2)
- Nov 17 (1)
- Des 22 (1)
- Jan 16 (2)
- Feb 04 (1)
- Mar 15 (3)
- Mar 20 (4)
- Mar 23 (1)
- Mar 27 (4)
- Mei 25 (1)
- Jun 17 (1)
- Jul 14 (2)
- Agu 04 (4)
- Agu 05 (1)
- Agu 07 (1)
- Agu 14 (1)
- Agu 17 (3)
- Sep 04 (3)
- Sep 06 (4)
- Sep 27 (3)
- Okt 13 (1)
- Okt 22 (3)
- Nov 09 (1)
- Nov 26 (3)
- Mar 23 (15)
- Mei 16 (1)
- Jun 05 (2)
- Jun 13 (1)
- Jun 24 (2)
- Sep 16 (1)
- Okt 11 (2)
- Agu 11 (1)
- Sep 16 (1)
- Sep 29 (1)
- Mar 23 (5)
- Jul 27 (13)
- Agu 27 (37)
- Agu 29 (4)
- Mei 28 (1)
- Nov 26 (1)
News from Detik
God Bless You All and Me
16 Februari 2009
Perempuan dan Lingkungan Hidupnya
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
22.31
0
komentar
Label: EDITORIAL, SOSIAL BUDAYA
Papua Zona Darurat dan Ulah Otsus
Sebenarnya sebelum UU No 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus (Otsus) untuk Papua diberikan oleh pemerintah pusat kepada rakyat Papua, sudah sangat banyak reaksi yang rakyat Papua lakukan untuk menolak itu. Mulai dari penolakan yang dilakukan oleh kaum awam atau orang-orang yang tidak menempuh pendidikan tinggi (maaf saya pakai istilah orang awam), kemudian yang berikut datangnya dari kaum intelektual atau orang yang sudah menempuh pendidikan tinggi (mahasiswa dan pelajar—Red). Pada umumnya mereka telah paham, kalau Otsus hanya akan menciptakan zona darurat atau Tanah Darurat di Papua.
Sangat beragam cara-cara penolakan yang mereka lakukan. Mulai dari aksi turun ke jalan dengan berdemonstrasi, sampai pada cara-cara sadis seperti penolakan yang berbuntut pada perkelahian dengan aparat keamanan.
Pada intinya semua mereka menyanyi berlainan lagu namun punya satu suara di sertai dengan satu tekad kuat yaitu: menolak dengan tegas hadirnya Otsus di Papua. Bagi mereka, Otsus hadir hanya membuat mereka keluar dari mulut harimau kembali masuk lagi ke mulut serigala. Yang pada intinya menolak untuk masuk kembali ke mulut serigala karena lebih mencekam lagi masuk kesana.
Di tengah nyanyian merdu yang rakyat Papua sedang alunkan, hanya satu golongan yang mentutup mulut mereka dengan rapat bak orang “bisu” yaitu: para pejabat Papua. Mereka lupa daratan, hal ini bisa diistilahkan kepada mereka (pejabat—Red) yang duduk di birokrat yang sedang menikmati indahnya segala fasilitas yang diberikan oleh rakyat Papua secara cuma-cuma tanpa bekerja karena tidak ada kualitas kerja yang pejabat Papua capai.
Para pejabat beranggapan, suara yang rakyat Papua sedang nyanyikan hanya akan menghambat mimpi-mimpi indah mereka. Sehingga manipulasi suarapun mereka lakukan. Keadaan di Papua pasca pemberian Otsus tak seperti yang dilaporkan, Pemerintah Pusat beranggapan suara beberapa pejabat Papua pada saat itu adalah suara rakyat Papua, padahal sangatlah tidak.
Implementasi Otsus sudah 7 tahun merumput di bumi Papua, namun Otsus sangat terbukti tidak “manjur” untuk memajukan orang asli Papua dari berbagai ketertinggal yang ada. Malahan dengan hadirnya Otsus membuat orang asli Papua Papua semakin dikucilkan yang ujung-ujungnya membuat rakyat Papua sendiri semakin termarginalkan.
Saat hadirnya Otsus, dimana diharapkan dapat merubah wajah Papua yang sudah sangat
carut marut, seperti “Si Cebol yang merindukan jatuhnya bulan” kata John J. Boekoisiom dalam tulisannya di JUBI beberapa waktu lalu.
Otsus Membuat Orang Papua Makin Tersesat
Otsus hadir membuat orang Papua semakin “tersesat”. Pemimpin Besar Papua Barat Theys Hiyo Elluay dalam perbincangan singkatnya dengan Journeyman Pictures sebelum dirinya dibunuh militer Indonesia pernah mengatakan jahat dan buruknya bangsa ini. “Kalau saya mau hitung keburukan Pemerintah Indonesia mungkin Jepang lebih baik, Vietnam lebih baik, Jerman dibawah pimpinan Hitler juga lebih baik. Berapa lama waktu Belanda jajah kami, tak pernah orang Papua di tembak di muka umum. Ini bangsa yang sangat jahat,” terang Theys seperti dikutip Journeymen Pictures dengan geram.
Otsus hanya jadi topeng untuk membuat Papua Zona Darurat atau tanah darurat, Perdasi serta Perdasus yang dibentuk oleh DPRP hanyalah menguntungkan kaum birokrat. Tujuan Otsus diberikan adalah memberdayakan orang asli Papua secara menyeluruh, namun nyatanya tidak. Ke-7 Perda yang disetujui hanyalah untuk kepentingan dan perut para birokrat. Inikah bukan pemberdayaan, malahan pelecehan. Otsus hanya jadi bahan pertimbangan untuk orang asli Papua dan Pemerintah Indonesia “baku” bunuh, orang asli Papua dan pejabat Papua “baku” bunuh serta orang asli Papua dan beberapa lembaga asing yang membantu Papua “baku” bunuh.
Otsus dibuat tak berdaya dan terpasung ketika PP No. 77/2008 tentang “Simbol dan Lambang Daerah” dicetuskan oleh pemerintah pusat. Sebenarnya pemerintah pusat harus paham betul tentang hal ini, tak bisa sebuah keputusan gombal dibuat asal-asal untuk melawan atau melebihi aturan yang lebih awal atau lebih diatas, kecuali adanya persetujuan dari para pembuat. Entahlah, lagi-lagi taktik dan cara yang dilakukan untuk membuat Papua Zona Darurat atau tanah darurat.
Otsus dibuat tak berdaya dan terpasung muluk ketika PP No. 77/2008 tentang “Simbol dan Lambang Daerah” dicetuskan oleh pemerintah pusat. Sebenarnya pemerintah pusat harus paham betul tentang hal ini, tak bisa sebuah keputusan gombal dibuat asal-asal untuk melawan atau melebihi aturan yang lebih awal atau lebih diatas kecuali adanya persetujuan dari para pembuat. Entahlah, lagi-lagi taktik dan cara yang dilakukan untuk membuat Papua Zona Darurat atau tanah darurat.
Otsus telah membuat pejabat Papua buta mata hatinya terhadap berbagai kerinduan dan tangisan rakyat. Dana miliaran rupiah dari dana Otsus menguap begitu saja tanpa kontrol yang jelas. Kakak Bas (Barnabas Suebu) dan wakilnya sudah membuat berbagai tindakan untuk tetap menjaga melubernya dana itu kemana-mana, toh tak bisa di bendung seenaknya. Karena pemerinta pusat lebih licik dan jahat. Beberapa kasus besar yang melibatkan pejabat Papua dalam korupsi dana rakyat di biarkan berjalan-jalan tanpa adanya proses lebih lanjut.
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Azhari hanya jadi dewi yang sepertinya akan melindungi rakyat Papua dari berbagai tikus yang selalu menyolong uang milik rakyat Papua. Prestasi yang didapat oleh KPK hanyalah prestasi level Nasional, bukan prestasi berskala daerah di Papua. Proses pembiaran di Papua tetap terus di lakukan bisa di istilahkan mereka (KPK—-Red) biarkan orang Papua tetap pelihara maling.
“Masa Pace Soleman Betawi korupsi dana 1 miliar saja, tak mungkin itu. Pembangunan di Yapen Waropen sejak ada sampai saat ini tak ada perubahan, pastinya yang di korupsi lebih banyak lagi dari itu. KPK periksa dia bagaimana kha,” terang salah satu warga Yapen Waropen yang hidup di Jayapura-Papua beberapa saat lalu pasca pemerikasaan Bupati Soleman Betawi oleh KPK Pusat.
Otsus membuat pendidikan di Papua jauh tertinggal. Dana pendidikan yang di kabarkan paling sedikit pengalokasiannya sempat mendapat kecaman dari berbagai kalangan. Beberapa bulan lamanya pendidikan di Paniai macet total, ulah beberapa pejabat Departemen Pendidikan Nasional yang tak “jujur” dalam pengalokasian dana untuk para pendidik. Anak-anak didik di Paniai yang diharapkan dapat merubah wajah daerah sana harus nganggur melulu karena tak ada kegiatan belajar mengajar di sekolah. Kemarahan yang terpupuk sekian lama akhirnya terkuak, ketika beberapa lembaga pendidikan yang peduli terhadap nasib guru mendatangi Pemerintah Daerah Paniai untuk meminta kejelasan hal ini.
Raja-Raja Kecil
Selain di Paniai, di Kabupaten Timika di lokasi PT Freeport Indonesia beroperasipun mengalami nasib serupa. Tapi sayangnya, pemogokan mengajar yang di lakukan oleh guru-guru setempat tak berbuntut panjang karena ditanggapi serius oleh pemerintah daerah setempat. Kedua hal diatas sengaja diciptakan oleh “raja-raja” kecil di Papua dan pemerintah pusat yang ujung-ujung membuat generasi muda di Papua rusak. Selain itu, hal ini diciptakan juga untuk membuat hubungan antara guru dan siswa semakin tak akur sehingga menciptakan mental siswa yang bobrok dan rusak.
Zona darurat dan darurat terus menerus diciptakan Pemerintah Indonesia dengan status Otsus yang telah gagal. Ribuan pejalan kaki yang melintasi berkilo-kilo meter dari Abepura ke Pusat Kota Jayapura beberapa tahun lalu adalah gambaran umum bahwa Otsus tak mendorong majunya rakyat Papua. Papua Emergency dan Land Emergency hal ini di gambarkan sekarang dimana-mana saat Papua sedang membesarkan diri menuju kedewasan yang akan ada puncaknya suatu saat nanti.
Tidak selamanya Papua akan menjadi Zona Darurat, beberapa permainan yang ada seperti Otsus dan kawan-kawannya hanyalah sebuah penghalang yang semu, sifatnya tidak selamanya. Permainan yang ada hanya menguji kita orang Papua untuk tetap menjadi yang dewasa dalam menembus batas dunia yang kata orang sukar untuk kita orang Papua lewati. (Oktovianus Pogau-Siswa SMA Kristen Anak Nabire Papua dan Jurnalis Muda Papua)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
22.23
0
komentar
Label: EDITORIAL, HUKUM DAN HAM, POLITIK
14 Februari 2009
Mau jadi Apa Bangsa Ini, Kelak……???
Mau jadi apa bangsa ini kelak, kalau saja di akhir tahun 2008 dan memasuki tahun 2009 ini bukan malah semakin mengurangnya pengganguran tetapi sebaliknya semakin meningkatnya pengganguran. Hal itu bisa di buktikan dengan beberapa contoh konkrit yakni, dimana hampir di semua perusahaan yang bergerak di bidang eksport, mulai dari tambang-tambang bahkan lainnya merumahkan para tenaga kerja, akibat krisis ekonomi global yang tidak tahu sampai berakhir pada tahun berapa..? Dan kita sudah tahu juga bahwa melalui pergantiannya “People Number One” di pemerintahaan USA, dari Josh Bush kepada Barak Obama, menjadi akar persoalan utama dari meningkatnya pengganguran dimana-mana termasuk di Indonesia.
Apakah perusahaan-perusahaan raksasa yang ada di semua Negara termasuk Indonesia tidak ada solusi lainkah..? selain merumahkan TK atau dengan kata lain memutus hubungan kerja bagi buruh atau tenaga kerja itu. Hal inilah yang mulai hinggap di otak saya, sehingga tulisan ini dapat di tulis berdasarkan kondisi yang ada saat ini.
Di satu sisi masih juga sangat banyak pula para PENCAKER yang menungguh-nungguh lowongan kerja dimana-mana, baik di pemerintahaan maupun di perusahaan-perusahaan besar yang masuk ke Indonesia. Sementara fakta di lapangan, khususnya di perusahaan-perusahaan besar sendiri justru malah melakukan pengurangan tenaga kerjanya. Jika demikian mau jadi apa bangsa ini kelak, kalau setiap tahun malah tambah semakin sulit dan rumit untuk semua lowongan kerja bahkan hal-hal negativ lainnya.
Pada tulisan ini saya tidak akan menjelaskan panjang lebar persoalan mengenai penggangguran, karena sebelum tulisan ini di tulis siapapun dia sudah mengetahui pasti terkait dengan meningkatnya pengganguran di mana-mana termasuk di Negara kita Indonesia ini.
Tetapi lewat tulisan ini saya mencoba untuk membuka mata bagi para penentu kebijakkan yang ada di pemerintahaan mulai dari Pusat hingga Daerah, apa sih kejelihan atau kepedulian yang mau di angkat ke permukaan, ataukah sudah dengar kemudian masih mikir-mikir dulu, ataukah malas tahu dengan tong punya putra-putri terbaik yang sudah di rumahkan itu..? Saya tidak tahu pasti, tetapi coba kita sama-sama mencari alternative dan solusi yang pas untuk mereka.
Tawaran yang dapat saya sampaikan untuk semua kita yakni bagaimana kita harus melihat hal ini sebagai beban moril, ataukah sebaliknya. Yang terpenting harapan saya para Publik Figur (Pejabat Public-red) sudah saatnya dapat mencari solusi dalam mengatasi persoalan ini, sehingga dengan demikian kedepan kita bisa tahu arah tujuan dari Negara Indonesia ini serta juga tidak akan mempengaruhi hal-hal yang negatif, misalnya terjadinya tindakan-tindakan yang memburukkan citra, martabat dan bangsa ini yakni dengan melakukan pencurian, pembunuhan, pemerkosaan dan masih banyak lagi tindakan-tindakan lainnya yang akan terjadi kelak, hal itu tidak lain dan tidak bukan akibat karena masalah meningkatnya pengganguran.
Saya belum tahu pasti apa sih yang menjadi buah pikir bagi setiap kita yang sempat membaca tulisan ini, tetapi yang saat ini ada dalam benak saya sehingga saya menulis tulisan ini hanya singkat saja yakni bagaimana pemerintah membuka Balai Latihan Kerja (BLK) di semua daerah yang ada di negeri ini dan juga saya harapkan pula, kalau bisa setiap tahun ada peluang kerja (lapangan kerja-red), tolong para penentu kebijakkan mulai dari Pusat hingga Daerah dalam setiap ada lowongan pekerjaan harus memprioritaskan putra dan putri bangsa ini termasuk putra dan putri Papua.
Sebenarnya masih banyak yang menjadi ide dan masukan dari saya, tetapi biarlah satu dan dua poin itu yang dapat saya sampaikan lebih awal di dalam tulisan ini, semoga siapapun dia, ketika melihat blognya saya dan membaca tulisan ini, kiranya tulisan ini dapat bermanfaat baginya dan bagi kita semua…..Semoga..!!!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
05.07
0
komentar
09 Februari 2009
Masyarakat Moni Rayakan Ucapan Syukur atas Hadirnya Kabupaten Intan Jaya
Bertempat di lapangan bola kaki Desa Yokatapa Distrik Sugapa, Jumat (9/01/2009) beberapa waktu lalu dilangsungkannya kegiatan pesta bakar batu. Kegiatan itu di hadiri lebih kurang 1000-an masyarakat Moni, Nduga, Dani dan Suku nusantara. Sementara dari lima distrik hanya yang hadir dua kepala distrik yakni Kepala Distrik Sugapa, Bartolomius Mirip, S.pd dan Kepala Distrik Wandae, Markus Miagoni.
Ucapan syukur yang di rayakan masyarakat Moni dan pimpinan pemerintah distrik yakni sebagai tanda hadirnya Kabupaten Intan Jaya yang di sahkan oleh DPR RI pada tanggal 29 Oktober 2008 silam. Dimana, UU. NO. 54 untuk pemekaran Kabupaten Intan Jaya dan UU. NO. 55 untuk pemekaran Kabupaten Deiya.
Untuk diketahui kegiatan yang sama pula juga di lakukan oleh masyarakat moni, baik yang ada di Jawa-Bali, Manado, Jayapura, Timika bahkan Paniai.
Kali ini atas inisiatif dari masyarakat lima distrik maka di rayakannya kegiatan pengucapan syukur yang sesuai kebiasaan setempat yakni melalui pesta bakar batu di laksanakan kegiatan ini di ibu kota kabupaten, dengan jumlah masyarakat yang hadir lebih kurang 1000-an yang tinggal dan mendiami di 14 Desa Distrik Sugapa diantaranya, Bilogai, Puyagia, Yokatapa, Joparu, Mamba, Titigi, Eknemba, Ugimba, Bilondoga, Emondi, Mindau, Jalae, juga hadir pula masyarakat dari empat distrik lainnya yakni Distrik Hitadipa, Distrik Agisiga, Distrik Homeo, Distrik Wandae.
Kegiatan pesta bakar batu ini di pimpin oleh Kepala Distrik Sugapa, Bartolomius Mirip, S.Pd di awali dengan penyampaian kisah perjuangan hadirnya Kabupaten Intan Jaya ini.
Sebagai awal kata dalam penyampaian kisah perjuangan, Kepala Distrik Sugapa, Bartolomius Mirip, S.Pd mengatakan bahwa hadirnya Kabupaten Intan Jaya itu atas kerja sama semua pihak tanpa terkecuali termasuk masyarakat Moni, Ndauga dan Dani yang ada di sini (Sugapa-red).
“29 Oktober 2008 lewat DPR RI sahkan RUU pemekaran Kabupaten Deiya dan Kabupaten Intan Jaya menjadi UU”kisahnya. Dikatakannya, untuk perjuangan ini sangat banyak hambatan dan halangan, tetapi kita sebagai suku moni bisa melewati itu dengan sendirinya, serta juga tidak terlepas dari penyertaan sang Bapa di Sorga kepada kita.”ungkapnya dan mendapat aplaus dari semua masyarakat yang ada di tempat kegiatan itu.
Selanjutnya, kegiatan ini di awali dengan Doa Syukuran yang di bawakan oleh Pdt. Timotius Miagoni.
Dalam sambutannya Kepala Distrik Sugapa, Bartolomius Mirip, S.Pd mengatakan dengan dilanghsungkannya syukuran ini kita dapat membagi rasa sukacita diantara semua pihak, sebab untuk memperjuangkan segala sesuatu memanglah sangat berat. Untuk itu Ia menghimbau agar semua komponen masyarakat perlu terus membina serta menjaga kesatuan dan persatuan, sebaliknya tanpa ada hal itu (kesatuan dan persatuan-red) berarti tidak ada damai diantara kita.
Sekarang UU sudah ada di tangan Bupati beberapa waktu lalu yang mana diantar langsung oleh Max Aruri (Biro Pemerintah Provinsi Papua), di rencanakan dalam waktu dekat UU tersebut akan di serahkan dari pemerintah kabupaten Paniai kepada Deiyai dan Intan Jaya.
Sementara itu ditempat yang sama, Danramil Sugapa, George T dengan mengatakan dengan tegas bahwa jika semua intelek dan masyarakat inginkan kabupaten, nah sekarang saat lagi untuk kita tinggalkan perang marga/suku. Tetapi marilah kita jemput kabupaten ini dengan damai, serta pentingnya anak-anak generasi di sekolahkan.
Di tempat yang sama, mewakili Pastor Paroki Bilogai, Frater Yudhy mengatakan Tanah ini adalah tanah terberkati, oleh sebab itu kalau Intan Jaya hadir disini bukan hasil usaha 1 atau 2 orang saja tetapi hasil usaha kita semua, dan jangan lagi membuat hal-hal yang tidask di kehendaki Tuhan di tanah yang sudah di berkati ini.
Di kesempatan yang sama pula, Dewan Adat Sugapa, Manfred Sondegau, Kaum Intelektual, Saul Sondegau dan utusan dari Timika, Apolos Bagau tentang pentingnya bergandengan tangan antara satu dengan yang lainnya, sebab satu untuk semua tanpa memandang suku, ras dan agama, dan di haruskan untuk bekerja sama demi tercapainya kesejahteraan yang baik di negeri yang penuh dengan susu dan madu ini.
Komentar Masyarakat
Kepala Desa Titigi, Rafael Agizimijau menegaskan bahwa pejabat dan intelektual harus bersatu, karena masyarakat sudah bersatu selama ini. Penuturan lainnya juga di sampaikan oleh Kepala Desa Joparu, Andreas Tipagau bahwa ketika kabupaten Intan Jaya ada dan sudah ada karateker di harapkan jangan ada mobil kaca gelap dalam artian tidak boleh ada pekerja seks komersial (PSK) yang masuk ke Intan Jaya, dan harus juga ada kerja sama dari semua pihak terutama bapa-bapa pejabat dan intelektual, dimana jangan saling baku hantam dan baku jatuhkan karena jabatan dan kepentingan belaka……..!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
03.52
0
komentar
Label: SOSIAL BUDAYA
Semangat Memberantas Korupsi Tumbuh Bagaikan Jamur di Musim Hujan…..!!!
Semangat memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) memang tumbuh bagai jamur di musim hujan. Meski harus diakui yang tampak masih baru sebatas pertarungan retorika. Sejumlah pernyataan hangat meruak saling bersahutan.
Salah seorang bisa saja tergelincir sebelum pedang melumpuhkan lawan. Asas praduga tak bersalah memang harus dijunjung. Namun reaksi dan tanggapan terhadap kecurigaan KKN tidak boleh mematikan proses dan dinamika pencarian kebenaran. Penghakiman masa lalu seperti bergulir di atas cermin yang sangat bening.
Setiap harinya kita tiada henti-hentinya mendengar teriakan orang-orang yang menuntut keadilan dengan kemarahan yang meluap-luap, baik melalui mata ketika kita melihat, melalui telinga ketika kita mendengar. Sedangkan bagi masa lalu dari orang-orang yang dahulu perkasa, cermin tersebut seakan begitu buramnya. Hujatan dilontarkan bertubi-tubi terhadap masa lalu mereka. Kontroversial demi kontroversial terus saja hadir di tengah kita.
Para pejabat negara yang seharusnya mencerdaskan, justru semakin mengaburkan persoalan. Orang-orang pemerintah yang seharusnya bersuara satu, malah hiruk-pikuk dengan kesibukan saling membantah. Motif komunikasi memang selalu terkait dengan konsepsi kebahagian seseorang. Seseorang yang konsepsi kebahagiaannya terganggu, mulai mencari strategi untuk merumuskan tindak komunikasi yang seseuai motifnya.
Bukan tidak mungkin seseorang yang terlibat KKN, justru berteriak paling nyaring mengenai kasus KKN orang lain. Ini semata agar konsepsi kebahagiaannya tak terganggu. Memang, berbicara tentang korupsi di Indonesia adalah berbicara tentang hijaunya pepohonan di pegunungan. Kepekatan warna hijau hanya bisa dilihat oleh mereka yang jauh dari pegunungan.
Penghuni gunung memandang pepohonan sebagai bagian dari keseharian yang tidak perlu diperdebatkan. Tak perlu membantah berlebihan, memang langkah bijak. Sebab, psikologi sosial masyarakat kita sudah terbentuk sedemikian rupa sehingga apa yang dibantah itulah yang diyakini sebagai kebenaran. Dalam situasi demikian, reaksi-reaksi berlebihan justru merugikan, karena hanya akan menguatkan sinyalemen dan tudingan.
Lembaga legislatif boleh jadi kini menjadi tempat paling pas dalam menyampaikan pendapat. Maklum, lembaga yang kini memiliki sebagian besar darah segar, tampak begitu enerjik dalam melakukan kontrol terhadap jalannya pemerintahan. Upaya pemberantasan KKN bergaung keras dari DPR, meski belakangan terdengar tudingan yang menyatakan ada anggota DPR justru terlibat KKN. Tekad bulat DPR dalam memberantas KKN ini, bisa menjadi mimpi buruk bagi pelaku KKN di masa lalu, sekarang dan akan datang.
Legislatif jelas bukan yudikatif, persoalan yang mengemuka di lembaga wakil rakyat itu jelas tak dapat diselesaikan secara hukum. Apa pun yang dikemukakan di sana, lebih banyak berdampak politis. Jalur hukum memang merupakan cara penyelesaian paling fair. Tetapi masyarakat telah terlampau lelah menunggu penyelesaian kasus-kasus KKN. Apalagi selama ini telah terbukti kita lamban dalam memberantas, tapi cekatan dalam membantah.
Persoalan yang selalu terjadi antara pihak yang satu dengan pihak yang lain ini telah cukup lama bergulir di tengah masyarakat. Data yang disampaikan pun berbeda. Tak tahu mana yang benar. Karena itu, bagaimana bila KITA tampil bersama di muka umum. Berdebatlah secara jantan dengan berlatar data masing-masing, sebab masyarakat ingin melihat kebenaran berbicara sendiri dari siapa saja…….Semoga…!!! (Jemmy Gerson Adii/Ediya Moralia)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
03.49
0
komentar
Bilogai-Sugapa, Pasti Menjadi Perhatihan Banyak Pihak
Sekarang ini banyak orang menaruh perhatian pada Bilogai distrik Sugapa (Sekarang Sudah Menjadi Kabupaten Intan Jaya-red), karena salah satu distrik yang dahulu merupakan bagian dari Kabupaten Paniai Papua, suatu saat nanti akan memberi Kado Istimewa dari tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain kepada berbagai lapisan dan golongan manusia di seluruh Dunia termasuk Indonesia seperti salah satunya di Tembagapura selama ini yang di lakukan oleh PT. Freeport Indonesia.
Sesuai hemat penulis, ketika orang lain mau bepergian kewilayah Sugapa ini yang berada di atas ketinggian kaki gunung itu memang masih sangat sulit sekali, sebab belum ada jalan-jalan trans. Meskipun sudah mulai dikerjakan, tetapi orang sudah hampir bisa sampai kemana-mana dengan pesawat terbang sejenis AMA, PILATUS, SUSI AIR dan TWIN OTHER dan dengan berjalan kaki.
Akan tetapi hal yang paling menarik bagi para Investor Ilmuwan Asing, Mahasiswa dan para Pemerintah adalah kenyataan bahwa disana (Sugapa-red) pada satu pihak, telah terlihat PT. FI COW “B” telah melakukan survey-eksplorasi selama sembilan ( 9 ) tahun dan sudah ditemukannya sumber cadangan kandungan mineral emas terbesar di dunia setelah Cadangan Kadar Emas-di Kucing Liar Amolle Tembagapura.
Khusus di Bilogai/Sugapa sendiri juga terdapat cadangan emas sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh PT. FI berdasarkan Kontrak Karya Generasi II tahun 1989-1990 itu berpusat di Gunung Wabu (Gunung Bula-red) tepatnya di bagian sebelah selatan Ibu Kota Distrik Sugapa yang saat ini sudah menjadi salah satu Kabupaten Otonom itu. Pasalnya, saat ini masyarakat suku moni dan beberapa suku lainnya mendambahkan agar suatu kelak nanti negeri ini akan berkembang pesat sama dengan daerah-daerah lainnya yang sudah lebih dahulu maju.
Sementara pada pihak lain, masih terdapat daerah pedalaman atau masih ditemukan sisa-sisa zaman batu. Daerah ini di kenal dengan banyak sekali terdapat gunung-gunung yang sangat sulit sekali di tanjaki serta diiringi pengunungan salju yang membentangi amat luas hutan rimba pada berbagai tingkat ketinggian serta pelbagai jenis dataran tanah tinggi yang amat subur. Wilayah sugapa Kabupaten Intan Jaya ini memiliki beraneka ragam Flora dan Fauna, yang sesuai dengan khas sifatnya. Maka daerah ini menjadi suatu Firdaus untuk penelitian lapangan bagi para ahli ilmu alam dan ahli ilmu lain.
Hal ini dengan sendirinya menjadi lebih kuat lagi bagi penelitian para Antropologi dan Ahli Bahasa yang akan menemukan variasi bahasa dan kebudayaan suku-suku yang terdapat di tempat-tempat ini. Justru paling menarik adalah kenyataan bahwa orang-orang Sugapa melalui kebudayaan-kebudayaan mereka sekarang tengah mengalami perubahan dan atau perkembangan yang tahap-tahap perkembangannya diberbagai wilayah dapat dengan mudah dibaca dan diperbandingkan antara satu dengan yang lainnya. Di wilayah Sugapa Kabupaten Intan Jaya ini, masih banyak terdapatlah bivak-bivak, gubuk-gubuk, dusun-dusun, desa-desa yang berkotak-kotak serta terdapat pula pusat-pusat pemukiman kecil yang mulai sedang berkembang.
Apa yang sekarang bisa terjadi lagi dalam gerak perkembangan lebih jauh di dalam proses semakin terbukanya pelbagai daerah, ketika ada hasilnya menuju produksi kelak…….Semoga..!!! (Jemmy Gerson Adii & Elias Japugau)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
03.47
0
komentar
Label: EDITORIAL, POLITIK, SOSIAL BUDAYA
Lebih Baik Bekerja di Lapangan, Ketimbang Dikantor
Bekerja di belakang meja sepertinya lebih aman ketimbang harus berjibaku di lapangan atau proyek konstruksi. Namun jangan salah! Kerja di kantor yang nyaman dengan duduk berlama-lama di depan komputer atau laptop bisa membunuh Anda pelan-pelan.
Hal yang paling diwaspadai dari dampak pola kerja sedentari atau kurang aktif ini adalah meningkatnya kemungkinan mengalami risiko pembekuan pembuluh vena dalam (Deep Vein Thrombosis/DVT) hingga dua kali lipat.
Professor Richard Beasley dari Wellington Hospital di Selandia Baru seperti dilansir The Sun menyatakan bahwa ancaman bahaya akan menghampiri Anda bila kerja delapan jam tiap hari dengan hanya berkutat di sekitar meja atau menghabiskan tiga jam berturut-turut dengan sekedar duduk mengoperasikan laptop.
Kasus DVT biasanya sering dikaitkan dengan penerbangan jarah jauh yang memerlukan waktu berjam-jam. Pembekuan darah terjadi di pembuluh vena dan biasanya pada bagian betis. Jika pembekuan ini tidak dicairkan dengan obat pengencer darah, biasanya akan pecah dan terbawa ke paru-paru dan berujung pada emboli paru-paru yang mematikan.
Beasley menganjurkan pekerja kantoran untuk rutin melakukan peregangan otot untuk mempertahankan kelancaran aliran darah. Sebuah riset di Italia pun mengindikasikan peregangan dan relaksasi menurunkan kasus sakit kepala para karyawan hingga 40 persen.
Risiko lain yang mengintai para pekerja kantoran adalah bakteri dan virus mematikan yang berada di tempat kerja. Permukaan dan sela-sela keyboard komputer bisa menjadi sumber penyakit karena menyimpan kuman berbahaya yang jumlahnya bahkan mungkin melebihi kloset di kamar mandi Anda.
Sebuah penelitian di Inggris belum lama ini melaporkan beberapa keyboard di sebuah perkantoran LIMA KALI menyimpan lebih banyak jumlah kuman ketimbang sebuah kamar kecil. Penelitian ini diungkap seorang ahli yang disewa oleh Majalah Which? Computing di mana mereka menemukan beragam jenis bakteri berbahaya seperti Escherichia coli, coliform, staphylococcus aureus yang menyebabkan beragam infeksi mulai dari masalah diare, kulit hingga radang paru-paru atau pneumonia.
Bakteri juga tidak hanya sembunyi di keyboard namun juga pada meja, telepon dan alat lain. Peneliti dari University Of Arizona menyatakan keyboard masih cukup bersih ketimbang kursi yang duduki. Para ahli mikrobiologi menemukan sebuah kursi bisa menyimpan 10 juga mikroba, sedangkan rata-rata sebuah kantor bisa menyimpan 20.000 mikroba pada setiap permukaan 1 inci persegi. Begitu banyaknya jumlah mikroba ini tentu tidak terlepas dari kebiasaan buruk karyawan dalam memperlakukan tempat kerja.
Sindrom Mata
Selain pembekuan darah dan mikroba, ancaman lainnya adalah sindrom mata akibat komputer yang baru-baru ini diperingatkan American Optometric Association. Gejala sindrom ini adalah mata perih, sensitif terhadap cahaya, nyeri di leher dan punggung.
Dr Kent Daum, dari Illinois College Of Optometry di Chicago mengatakan: "Bekerja di depan komputer membuat mata bekerja keras karena tuntutan pergerakan mata dan fokusing yang baik. Re-focusing menyebabkan stres pada otot mata yang bisa berakibat pada gangguan mata.
Kerusakan Paru-paru
Hal lain yang juga dicemaskan adalah bahaya Printer Laser terhadap kesehatan paru-paru karyawan. Peneliti dari Australia's Queensland University Of Technology menemukan dampak alat ini mirip asap rokok. Satu dari tiga printer yang diteliti mengeluaran semacam partikel merugikan. Partikel ini bisa terhirup dan masuk paru-paru dan memicu masalah pernafasan.
Di samping laser printer, asap elektronik juga bisa menjadi ancaman. Tim ahli dari London's Imperial College menyatakan medan listrik yang timbul dari alat-alat kantor bisa memicu sakit kepala dan masalah lainnya.
Salah satu peneliti, Keith Jamieson, menjelaskan : "Medan listrik punya pengaruh kuat terhadap udara. Itulah sebabnya di belakang monitor komputer selalu dikotori debu. Hal sama juga berlaku pada kulit dan paru-paru manusia. Ini dapat meningkatkan penyerapan racun yang harus dinetralisir tubuh," paparnya.
Yang terakhir, ancaman di tempat kerja adalah Sick Building Syndrome. Menurut WHO, gejalannya adalah iritasi pada mata , hidung dan tenggorokan, selain juga pusing dan sakit kepala. Hal ini dapat terjadi akibat buruknya ventilasi, tingginya temperatur dan buruknya pencahayaan…….Semoga !!! (Jemmy Gerson Adii & Jamal)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
03.45
0
komentar
Label: EDITORIAL, SOSIAL BUDAYA
Kebosanaan Kerja adalah Budaya Malas dan Perlu di Atasi Bersama
Setiap individu pasti pernah mengalami kebosanan. Kebosanan bisa terjadi di dalam berbagai aspek kehidupan individu seseorang, seperti misalnya pekerjaan, sekolah, bahkan perkawinan. Biasanya rasa bosan ditandai dengan kelelahan, miskin kreativitas, hilangnya minat atau ketertarikan pada sesuatu yang dahulu disukai, malas, lesu, dan berbagai perasaan tidak enak yang jika tidak ditangani dengan cepat dapat menyebabkan individu tersebut mengalami stress bahkan depresi.
Dalam dunia kerja, kebosanan kerja menjadi sangat penting untuk mendapat perhatian mengingat bahwa hal tersebut akan dapat mempengaruhi produktivitas kerja pegawai. Kebosanan kerja bisa terjadi bukan saja pada pekerja di tingkat bawah (Frontliner) tetapi juga bisa melanda para pekerja di tingkat atas (Managerial Level). Oleh karena itu banyak perusahaan yang melakukan berbagai tindakan pencegahan dengan cara melakukan rotasi kerja, melibatkan pekerja dalam pengambilan keputusan, melaksanakan Company Gathering, memberikan kesempatan untuk melakukan cuti, dan masih banyak lagi hal lainnya.
Semua kegiatan tersebut bertujuan untuk membuat para pekerja tidak merasa bosan dan jenuh dengan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan sehari-hari. Dari sisi individu, hal-hal apa saja yang harus dilakukan agar dapat terbebas dari kebosanan kerja tersebut?
Beberapa alasan mengapa bisa terjadi kebosanan kerja dapat dibagi dalam beberapa penyebab, yaitu; Pekerjaan Tidak Menarik atau Tidak Menantang Otak manusia membutuhkan stimulasi dan tantangan terus-menerus. Artinya dalam konteks pekerjaan maka otak manusia cenderung membutuhkan tugas-tugas baru yang menantang atau menarik.
Setiap saat menemukan tugas atau tantangan baru maka otak akan berusaha untuk menguasai tugas tersebut, dan sesudah berhasil menguasainya maka otak membutuhkan stimulasi baru. Jika stimulasi atau tantangan baru tersebut tidak ada dan otak hanya mengulang apa yang telah dikuasai maka tugas atau pekerjaan yang telah dikuasai tersebut menjadi tidak menarik sehingga timbul kebosanan.
Kita bisa lihat dengan mata telanjan misalnya di daerah mana saja termasuk di Tanah Papua sendiri, banyak orang yang dengan menggenakan pakai dinas Pemda masih harus nongkron di pasar, depan Toko/kios atau tempat keramaian lain. Para Pekerja akan sangat mudah menjadi bosan setelah menjalani pekerjaan tersebut dalam waktu seminggu duaminggu dan minggu lain sudah bosan. Selain itu pekerjaan yang dianggap terlalu mudah atau tidak sesuai dengan tingkatan pengetahuan, kemampuan dan atau disiplinm Ilmu yang diraih si pekerja akan cenderung membuat ia mengalami kebosanan kerja, karena tidak memiliki otonomi.
Tidak Melakukan Apa-apa
Dalam suasana di kantor-kantor Pemerintah manapun biasanya sangat sepi dan tidak melakukan apa-apa. Sehingga sesuai pantaun penulis di lapangan ada masyarakat yang pegawai yang menjinjin sekop keladang, ada juga terlihat yang lainnya memegang Map ditangan dan masuk keluar di kantor. Di saat-saat kondisi seperti itu, tentunya ada banyak argument yang muncul, misalnya saja seperti ini: “Enak sekali hidupnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), dimana punya pekerjaan tetap untuk menjamin keluarga, punya jabatan tinggi, tiap hari hanya tinggal makan dan tidur saja, tetapi masih juga melakukan hal-hal yang sama seperti kayak orang yang tidak punyak kerja, pada itu di saat-saat jam kerja. Tidak seperti saya yang setiap harinya harus bekerja membanting tulang dari subuh sampai tengah malam untuk bisa makan"demikian lontaran kata-kata emosional itu belum tentu benar atau salah.
Karena dalam kehidupan ini banyak sekali individu yang justru merasa bosan karena tidak lagi memiliki kesempatan untuk melakukan tugas-tugas tertentu karena sudah dikerjakan oleh orang lain.
Ada banyak manager yang akhirnya tidak bertahan di suatu perusahaan meski menyandang jabatan sangat tinggi karena ia merasa tidak dapat berbuat apa-apa. Jadi dalam hal ini datang ke kantor dan duduk-duduk saja sambil memberi perintah belum tentu akan membuat seseorang tidak mengalami kebosanan. Pasalnya, kebosanan kerja bukan saja memberikan dampak yang negatif bagi kinerja individu dalam perusahaan/organisasi, tetapi juga dapat menyebabkan berbagai dampak psikologis yang dapat mengganggu kesejahteraan jiwa individu tersebut.
Dampak psikologis tersebut misalnya timbulnya rasa hampa dalam diri individu tersebut, meragukan kemampuan diri sendiri atau sebaliknya justru bersikap arogan karena merasa semua tugas dapat dikerjakan tanpa kesulitan, hilangnya motivasi kerja, dan sebagainya.
Dengan melihat dampak-dampak tersebut maka kebosanan kerja perlu segera ditangani agar tidak sampai menyebabkan stress atau depresi. Beberapa cara berikut ini mungkin layak anda pertimbangkan jika kebetulan anda merasa bosan dengan pekerjaan anda saat ini, bisa saja terjadi kebosanan kerja. Sehingga banyak management baik yang ada di pemerintah dan terlebih di perusahaan-perusahaan besar memberlakukan waktu kerja dan waktu untuk beristirahat atau Cuti, seperti yang saya alami, yakni saya bekerja selama enam minggu dan dua minggunya cuti, hal demikian supaya tidak lagi ada kebosanan kerja bagi setiap kita……Semoga !!! (Jemmy Gerson Adii & Elias Japugau)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
03.43
0
komentar
Label: EDITORIAL, SOSIAL BUDAYA
Sekilas Gambaran Papua Dulu, Sekarang dan Akan Datang…..!!!
Populasi 4 juta Pada tahun 1545, penjelajah Spanyol yang bernama Ynigo Ortiz de Retes, menemukan hamparan pulau di pesisir utara di dunia yang merupakan pulau terbesar kedua dan diberi nama "Nueve Guinea". Pada tahun 1973 propinsi ini berubah nama menjadi "Irian Jaya". "Irian" adalah kata Indonesia untuk New Guinea, dan "Jaya" artinya kejayaan atau kemenangan. Namun penduduk asli lebih menyukai nama Papua Barat. Tahun 1999 Presiden Indonesia, abdurrachman Wahid, mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua Barat. Papua Barat memiliki etnis asli sama dengan orang-orang di Papua Timur, (Papua New Guinea/PNG) dan juga sama dengan orang-orang Malenesia lainnya di Pasifik.
Jayapura sebagai ibukota propinsi, berlokasi di pesisir sebelah utara, diperkirakan terdapat 249 bahasa di Papua Barat. Puncak Gunung Jaya Wijaya dengan ketinggian lebih dari 16.000 kaki adalah gunung tertinggi ke-3 di dunia yang berada pada lintasan garis khatulistiwa yang terletak di antara pegunungan Himalaya dan Andes.
Papua Barat adalah suatu tempat yang spektakuler dengan beragam keindahan; lereng-
lereng gunung yang curam dan hutan-hutan lebat dengan satwa yang unik di dunia. Banyak tempat yang belum dapat dijamah dan dimasuki oleh dunia luar, peradaban jaman batu juga masih dapat ditemukan di sini.
Gagasan pemerintah RI untuk memekarkan Papua Barat menjadi tiga Propinsi menimbulkan pro dan kontra di antara orang-orang asli Papua. Suasana rawan ini perlu diwaspadai dari para provokator yang dapat menyusup untuk mengacaukan. Terbunuhnya tokoh Papua, Theys Eluay, seakan memadamkan kecerahan hari depan mereka (Orang Papua-red).
Kekayaan tambang, bumi, hutan dan laut diangkut meninggalkan bumi Papua dan menyisakan kemiskinan, kemelaratan, dan ketertinggalan bagi masyarakat asli. Mereka mengalami ketidakadilan di tanah kelahiran mereka sendiri. Ribuan orang Papua menjadi pengungsi di Timur Awin di kamp-kamp yang berbatasan dengan PNG tanpa menerima bantuan.
Papua Barat menerima pelayanan kesehatan yang sangat rendah di Indonesia. Hanya ada satu rumah sakit untuk 400.000 orang dengan 70 tempat tidur. Hanya ada satu dokter untuk daerah seluas 53.000 km persegi. Penyakit kusta sangat tinggi, dari 10.000 orang, 88 orang terjangkit di daerah yang sama. Dalam lima tahun menjadi pembawa angka HIV tertinggi di Indonesia.
25% kematian bayi yang disebabkan radang paru-paru menempati angka tertinggi di dunia. Diperkirakan 20% lainnya menderita kekurangan gizi. Di bawah program transmigrasi pemerintah pusat, orang-orang asli Papua Barat berkurang menjadi minoritas. Lebih dari 10.000 keluarga muslim tinggal di kota-kota pesisir.
Konflik di antara mereka dengan militer Indonesia, telah menelan banyak jiwa. Ratusan tenaga guru mogok mengajar karena rendahnya gaji pengajar dan mahalnya biaya hidup. Semua ketertinggalan dan ketidakadilan ini terkesan disengaja, akibatnya orang-orang asli Papua Barat semakin tak berdaya menghadapi perkembangan…….Semoga..!!! (Jemmy Gerson Adii/Berbagai Sumber)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
03.40
0
komentar
Label: EDITORIAL, POLITIK, SOSIAL BUDAYA
Mengintip Soal Pendidikan di Sugapa
Persoalan yang dialami masyarakat di Distrik Sugapa (sekarang Kabupaten Intan Jaya-red) memang cukup beragam. Bukan hanya kendala pendidikan yang menghambat segala aktivitas masyarakat di wilayah itu, tetapi sudah pasti faktor prinsipil lain yang melilit masyarakat suku Moni dan beberapasuku lainnya di Sugapa umumnya adalah masalah pendidikan.
Boleh dikatakan, pendidikan karena umumnya wilayah Moni yang terdiri dari 6 Distrik masih terbelakang. Keterbelakangan ini terlihat dari kondisi SD-SD Inpres yang ada di Distrik Sugapa yang serba kekurangan. Bukan fasilitas saja melainkan tenaga Pengajar. Pasalnya, fasilitas yang tidak layak dipakai karena gedung sebagain roboh, siswa juga tidak datang karena guru tidak datang mengajar, tenaga guru tidak ada, jumah Guru hanya pas-pas yang bertugas.
Saat ini jumlah sekolah yang ada di wilayah distrik Sugapa sebanyak 8 buah sekolah dasar, satu SMP, satu SMAN. Namun beberapa SD sudah di tutup total karena tidak ada guru sah (Guru yang ber-NIP-red). Misalnyasaja, SD Inpres Pesiga dan SD-SD yang lainnya. Semua SD di wilayah Sugapa bisa di Bantu mengajar hanya oleh tenaga-tenaga Bantu tamatan SMP dan SMA yang tidak dapat pekerjaan. Dimana mereka membantu sekolah/siswa di masing-masing sekolah sesuai dengan kebutuhannya.
Sedangkan SD YPPK Bilogai sudah lengkap guru, baik Guru Bantu maupun Guru ber-NIP, 13 Guru yang memiliki 320 siswa. SD Inpres Yogatapa memiliki 6 Guru pengajar ini merupakan satu persoalan yang dihadapi kedua sekolah itu.
Sementara sesuai data yang di terima penulis di lapangan, SD Inpres Mamba memiliki 2 Guru tetap, 3 Guru suka relah tamatan SMP. SD Yoparu memiliki satu Guru tetap dan 3 Guru suka rela. SD YPPK Titigi memiliki 3 Guru Suka relah. SD YPPGI memiliki 3 Guru suka relah, SD YPPK Jalae memiliki satu Guru tetap dan 3 guru suka relah, sedangan di desa-desa lain, seperti Desa Ugimba, Desa Emondi, Desa Mindau, Desa Nanggasiga yang seharusnya di bangun SD oleh pemerintah tetapi, kenyataannya sampai sekarang belum ada tanda-tanda kearah itu, mudah-mudahan dengan adanya pemekaran Kabupaten Intan Jaya ini, ada sedikit peningkatan khususnya di bidang pendidikan.
Untuk itu dengan demikian, sangatlah di butuhkan adanya penambahan guru. Walaupun demikian, pengabdian bagi beberapa guru yang bias di hitung dengan jari itu dalam pengabdiannya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa itu tidak pernah surut.
Bahkan dari tahun ke tahun mereka dengan penuh tabah menjalaninya. Selama pengabdian itu, mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi para siswa yang haus akan ilmu, biar pun dengan segala kekurangan yang ada. Semuanya itu, kata mereka, demi mencerdaskan generasi penerus bangsa ini. Dilihat dari minat dan semangat masyarakat Moni untuk menuntut ilmu, sebenarnya sangat tinggi. Di samping itu guru-guru dari daeah Sugapa dan Homeo asal kedua daerah itu juga sering berlamaan di kota-kota, akhirnya setiap siswa SD tidak dapat pendidikan dengan baik.
Hal serupa dialami SD Inpres Sugapa. Sekolah yang dibuka tahun 1987 sejak tahun lalu telah dibuka hingga kelas V. Sebelumnya hanya melayani sampai kelas IV saja. Jika ingin melanjutkan hingga tamat, para siswa di sekolah itu terpaksa melanjutkan di SD YPPK Bilogai. SD tersebut dibuka, hanya ada empat ruang kelas dan dilayani 6 orang Guru, dua diantaranya putera asli di Sugapa, sudah kabur ke kota, jata beras, gaji tetap diterima utuh, mengajarnya tidak pernah ada.
“SD Inpres Yogatapa sebanyak 60 siswa angkatan, pertama asal SD tersebut kini sudah merai gelar kesarjanaan, kalau mereka rajin belajar”tutur salah satu Tokoh Pemerhati Pendidikan di daerah itu…Semoga…!!! (Jemmy Gerson Adii/Elias Japugau)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
03.21
0
komentar
Label: PENDIDIKAN
08 Februari 2009
Pentingnya Ada Penghijauan Kembali di Negeri Ini
Bangsa Indonesia tergolong urutan ketiga pulau yang terbesar di dunia sehingga untuk tanggung jawab pemerintah terhadap lingkungan hidup diberbagi pulau dari Sabang sampai Merauke sangat minim. Namun Masa era moderensasi ini sebagian besar kehidupan lingkunan hidup sudah semakin kritis, hal itu disebabkan karena ulah dari manusia itu sendiri, dalam artian manusia secara sengaja maupun tidak sengaja melakukan penebangan pohon yang satu dengan pohon-pohon yang lainnya, dengan tujuan untuk menunjang pembangunan Infrastruktur kepada masyarakat umum termasuk proyek-proyek pemerintah, bangunan umum, jembatan, perumahan sosial, pembuatan jalan umum melalui kontraktor-kontraktor proyek dan lain-lainnya.
Kegiatan pekerjaan pohon-pohonan alami kecil maupun besar yang tumbuh dijalan maupun dihutan-hutan mulai di tebang habis dan tidak dapat tumbuh kembali seperti dulunya, sebab dulunya tanah subur, namun sayangnya dimasa sekarang dapat terlihat mulai kritis dan tidak bisa dapat tumbuh seperti biasanya.
Pasalnya, merusak lingkungan tidak saja dilakukan oleh Aktivitas dari pihak pemerintah namun juga dari perusahaan-perusahaan swasta yang bisnis maupun non bisnis pun mulai menggangu lingkungan hidup serta ulah manusia yang tidak bertanggungjawab dalam melakukan penebangan hutan secara liar yang mana terjadi ditanah air Indonesia ini.
Kesuburan tanah diberbagi pulau tanah air Indonesia sangat berbeda antara pulau satu dengan pulau yang lain disebabkan karena perbedaan Iklim, Cuaca, Suhu, Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM), maupun lingkungan hidup yang berbeda. Masalah-masalah tersebut diatas juga dialami oleh beberapa kabupaten yang ada di Provinsi Papua dan Papua Barat, dimana begitu banyak pulau-pulau dan gunung-gunung sehingga lebih sulit diatasi masalah lingkungan hidup, maka itu diberbagi Kabupaten pada umumnya dan pada khususnya di Tanah Papua banyak kasus yang terjadi, diantaranya seperti Illegal Loging, Penebangan Hutan, kebakaran dan lain-lainnya itu akibat dari kurang adanya kepedulian serta perhatian khusus dari semua pihak terkait dengan masalah penghijauan kembali (reboisasi-red) dilingkungan masyarakat, kabupaten, kecamatan maupun di jalan raya yang begitu dapat di lihat baik namun keindahan kota masih minim.
Oleh sebab itu pemerintah daerah di mana saja, penulis sarankan sebagai perencanaan pembangunan dan pengatur daerah perlunya ada pengadaan bibit-bibit pohon-pohonan yang ekonomis untuk menanami kembali dipingiran jalan raya, di ibu kota kecamatan, maupun ditempat-tempat yang longsor, tandus, kritis untuk keperluan program penghijauan kembali.
Lingkungan yang begitu indah, bersih, sehat, berarti pembangunan daerah itu akan lebih maju dan di perhatikan oleh berbagai pihak. Sehingga dengan kegiatan penghijauan kembali kedepan akan bertujuan untuk untuk generasi sekarang maupun yang akan datang, untuk menarik perhatian dari berbagai pihak dan juga untuk mengatasi bahaya timbulnya erosi……Semoga !!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
22.53
0
komentar
Label: EDITORIAL, SOSIAL BUDAYA
Perempuan adalah Bagian dari Laki-Laki
Dia yang diambil dari tulang rusuk. Jika Tuhan mempersatukan dua orang yang berlawanan sifatnya, maka itu akan menjadi saling melengkapi. Dialah penolongmu yang sepadan, bukan sparing partner yang sepadan.
Ketika pertandingan dimulai, dia tidak berhadapan denganmu untuk melawanmu, tetapi dia akan berada bersamamu untuk berjaga-jaga di belakang saat engkau berada di depan atau segera mengembalikan bola ketika bola itu terlewat olehmu, dialah yang akan menutupi kekuranganmu.
Dia ada untuk melengkapi yang tak ada dalam laki-laki, misalnya seperti perasaan, emosi, kelemahlembutan, keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim untuk melahirkan, mengurusi hal-hal sepele...??? hingga ketika laki-laki tidak mengerti hal-hal itu, dialah yang akan menyelesaikan bagiannya...sehingga tanpa kau sadari ketika kau menjalankan sisa hidupmu... kau menjadi lebih kuat karena kehadirannya di sisimu.
Jika ada makhluk yang sangat bertolak belakang, kontras dengan lelaki, itulah perempuan. Jika ada makhluk yang sanggup menaklukkan hati hanya dengan sebuah senyuman, itulah perempuan.
Ia tidak butuh argumentasi hebat dari seorang laki-laki... tetapi ia butuh jaminan rasa aman darinya karena ia ada untuk dilindungi.... tidak hanya secara fisik tetapi juga emosi.
Ia tidak tertarik kepada fakta-fakta yang akurat, bahasa yang teliti dan logis yang bisa disampaikan secara detail dari seorang laki-laki, tetapi yang ia butuhkan adalah perhatiannya... kata-kata yang lembut... ungkapan-ungkapan sayang yang sepele... namun baginya sangat berarti... membuatnya aman di dekatmu....
Batu yang keras dapat terkikis habis oleh air yang luwes, sifat laki-laki yang keras ternetralisir oleh kelembutan perempuan. Rumput yang lembut tidak mudah tumbang oleh badai dibandingkan dengan pohon yang besar dan rindang... seperti juga di dalam kelembutannya di situlah terletak kekuatan dan ketahanan yang membuatnya bisa bertahan dalam situasi apapun.
Ia lembut bukan untuk diinjak, rumput yang lembut akan dinaungi oleh pohon yang kokoh dan rindang. Jika lelaki berpikir tentang perasaan wanita, itu sepersekian dari hidupnya.... tetapi jika perempuan berpikir tentang perasaan lelaki, itu akan menyita seluruh hidupnya...Karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, karena perempuan adalah bagian dari laki-laki... apa yang menjadi bagian dari hidupnya, akan menjadi bagian dari hidupmu. Keluarganya akan menjadi keluarga barumu, keluargamu pun akan menjadi keluarganya juga.
Sekalipun ia jauh dari keluarganya, namun ikatan emosi kepada keluarganya tetap ada karena ia lahir dan dibesarkan di sana.... karena mereka, ia menjadi seperti sekarang ini. Perasaannya terhadap keluarganya, akan menjadi bagian dari perasaanmu juga... karena kau dan dia adalah satu....dia adalah dirimu yang tak ada sebelumnya. Ketika pertandingan dimulai, pastikan dia ada di bagian lapangan yang sama denganmu…Semoga..!!! (Jemmy Gerson Adii/berbagai sumber)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
22.52
0
komentar
Label: EDITORIAL, SOSIAL BUDAYA
Deiya & Intan Jaya, Butuhkan Figur yang Berjiwa Membangun
Di Kabupaten Paniai sendiri telah memekarkan dua kabupaten, diantaranya Kabupaten Deiyai dan Intan Jaya, dan hadirnya kedua kabupaten itu sesuai informasi yang penulis terima di lapangan adalah harga mati dari rakyat yang ada di kedua kabupaten tersebut.
Seperti sebagaimana diketahui bahwa di sana sini mulai marak dan ramai di bicarakan terkait dengan adanya pemekaran wilayah pada beberapa tahun silam, hal itu juga tidak terlepas setelah adanya reformasi pada tahun 1998, dimana pemekaran di era reformasi itu sendiri muncul dan didasari pada rasa ketidakpuasan atas berbagai kesenjangan pembangunan, seperti kesenjangan wilayah, pendapatan, kesempatan kerja, kesempatan memperoleh pendidikan, kesehatan dan lain-lain.
Selain itu pula, diindentifikasikan bahwa selama ini hasil-hasil pembangunan yang sudah dilaksanakan, dirasakan belum memenuhi rasa keadilan atau belum merata ke seluruh pelosok-pelosok wilayah termasuk yang ada di daerah ini.
Dalam benak penulis, hingga sampai di awal tahun 2009 ini masih bertanya-tanya apakah Deiya dan Intan Jaya hadir karena rakyat ataukah hanya oleh kepentingan beberapa pejabat atau bahkan beberapa intelektual..? Apakah dengan hadirnya Deiya dan Intan Jaya benar-benar kelak akan mengurangi berbagai kesenjangan-kesenjangan. Ataukah sebaliknya..?
Kedua kabupaten itu telah di sahkan oleh DPR RI pada tanggal 29 Oktober 2008, tetapi bagi penulis pertanyaan itu selalu ada tiap saat dalam benak penulis, yang tidak tahu kapan baru ada jawabannya.
Ada isu atau kabar yang berbisik di telinga penulis bahwa tuntutan pemekaran ini adalah keinginan dan aspirasi masyarakat murni bukan kerena intern kepentingan politik para penguasa daerah ini beberapa tahun lalu.
Memang penulis sadari kalau melihat kondisi geografis Papua pada umumnya dan lebih khususnya di Paniai sendiri dimana luas wilayah dan kondisi geografis sulit dan sangat berat, sehingga tidak akan bisa dibangun oleh satu kabupaten saja, dan memang salah satu alternative adalah Paniai mau dan tidaknya harus memekarkan daerahnya.
Pasalnya, keterlambatan kemajuan daerah ini juga kerena minimnya sarana dan prasarana transportasi, menyebabkan pelayanan pemerintah belum menjangkau ke seluruh masyarakat khususnya di daerah terpencil dan terisolasi, disamping terbatasnya dana dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan, mengakibatkan kondisi sosial masyarakat masih memprihatinkan, tertinggal dan terbelakang.
Bahkan masih ada masyarakat terasing yang belum tersentuh oleh pemerintah, sebab luas wilayah yang sulit ditempuh menyebabkan pula terjadinya lepas kendali dan terbelangkahinya jangkauan pelayanan pemerintah kepada masyarakat serta lambannya pembangunan di wilayah tersebut akibat kesulitan transportasi.
Sehingga untuk meningkatkan pastisipasi dan menjawab semua persoalan tersebut, bagi penulis perlu adanya terobosan baru melalui suatu kebijakan khusus, antara lain melalui pembentukan satuan administrasi pemerintah baru, terutama di daerah-daerah yang masih tertinggal. Tetapi perlu juga di ingat bahwa bagaimana caranya yang tepat.
Sebab untuk merubah kesenjangan pembangunan sangatlah di butuhkan Figur yang takut akan Tuhan, berjiwa besar dan benar-benar seorang Figur yang ingin mau merubah kesenjangan pembangunan kearah yang lebih baik, dan sebaliknya bukan Figur yang suka melakukan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN)……Semoga..!!! (Jemmy Gerson Adii)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
22.46
0
komentar
28 Desember 2008
“Seputar Lahirnya Mars Sinode GKI (KINGMI) Papua”
1. Latar Belakang Lahirnya Mars Sinose Kingmi: (a. Semangat roh kembalinya Sinode Kingmi Papua. b. Membangun kesatuan dan persatuan dalam organisasi gereja Kingmi. c. Membangun cirri khas gereja Kingmi). 2. Tim Pengarang Lagu Mars Sinode; (a. Bpk Fredy Kusen. b. Drs. Dody Siwabesy, MP. c. Pdt.Yance Nawipa, M.Th).
Nawipa, Yance lahir di Kagokadagi Paniai Propinsi Papua pada tanggal 05 Januari 1968. Anak pertama dari alm Pdt. Lukas Nawipa dan alma Lea Gobai sebagai pelayan Tuhan di pedalaman Paniai. Saya menyelesaikan Sekolah Dasar (SD) YPPGI di Obaipugaida. Pada bulai Mei 1982 saya menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) YPK di Wamena. Kemudian melanjutkan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) YPPGI pada tahun dan kota yang sama, dan menyelesaikan pada bulan Mei 1987, sesudah itu melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Teologi Jaffray (STTJ) Ujungpandang pada bulan Agustus 1987 dan menyelesaikan pada bulan Mei 1992.
Saya, pernah melayani di beberapa tempat, antara lain: menjadi Guru pada Sekolah Teologi Atas (STA) Bozeman dan mengajar pada Akademi Agama Kristen di Wamena tahun 1992-1993. Setelah itu melanjukna pendidikan Program Pasca Sarjana pada Institut Filsafat Theologi dan Kepemimpinan Jaffray (IFTKJ) Jakarta dan menyelesaikan 1995. Menikah dengan Ny.Mince T. Nawipa pada tanggal 15 April 1995 di Jakarta. Telah di karuniai Tuhan dua orang putri, yaitu Febrin Visi Irka Nawipa (SMP) dan Sela Almenda Nawipa (TK).
Melayani Tuhan pada Sekolah Tinggi Teologi GKIP Sorong dan menjadi Gembala sidang Pos Pelayanan Km 12 Sorong dari tahun 1995—1999. Kemudian membuka Sekolah Tinggi Teologi Walter Post Kampus II Nabire tahun 1999 dan sedang melayani sebagai Ketua Sekolah. Pernah menjadi Gembala Sidang GKI (Kingmi) Jemaat Sejahtera Nabire sejak tahun 2000—2004. Kemudian tahun 2006/2007 telah menyelesaikan Program Pascasarjana Jurusana Kepemimpinan Konsentrasi Manajemen Gereja pada IFTK Jaffray Jakarta, dengan Judul Tesis: “Model-Model Kepemimpinan Para Hamba Tuhan dari Sejak 1938—2005 Sebagai Suatu Acuan bagi Kepemimpinan Gereja Kemah Injil Menuju Kemandirian di Tanah Papua.”
Berkaitan dengan kembalinya Sinode Kingmi Papua, maka saya menulis judul tesis ini untuk memberikan kontribusi pikiran kepada pihak gereja untuk mengembangkan diri menjadi mandiri di Tanah Papua. Dengan semangat roh sinode Kingmi ini, maka saya diberi kesempatan oleh Panitia Konferensi Wilayah ke-VIII untuk menyusun teks lagu Mars Sinode Kingmi Papua.
Lagu Mars Sinode ini dikarang dalam suasana yang penuh semangat, untuk membangun Sinode Kingmi di Tanah Papua sebagai sebuah lembaga gereja yang kuat, sehat, hidup dan mandiri.
3. Tujuan Lahirnya Mars Sinode: Di dalam Syair lagu Mars Sinode Kingmi Papua terdapat gambaran visi, misi, tujuan, dan falsafah pelayanan organisasi Gereja Kingmi. Dengan menghayati dan mengamalkan isi syair lagu agar seluruh warga Gereja Kingmi memiliki sehati, sepikir, seroh, seiman untuk melayani Tuhan bersama-sama di Tanah Papua ini dalam Kuat Kuasa Kebangkitan Kristus untuk menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah dan menciptakan Zona Damai di Tanah Papua.
4. Penjelasan Istilah: (4.1. Lagu Mars. 4.2. Sinode. Sinode (juga dikenal sebagai konsili) adalah sebuah dewan dari sebuah Gereja Kristen, yang biasanya dihimpun untuk mengambil keputusan tentang suatu masalah doktrin, administrasi atau aplikasi. Sebuah konsili ekumenis dinamai demikian karena ia merupakan sinode dari seluruh Gereja (ekumene) atau, lebih tepatnya, dari semua yang menganggapnya sebagai seluruh Gereja.Kata "sinode" berasal dari kata Yunani συνοδος yang berasal dari kata συν (sun=bersama-sama) dan όδος (hodos=jalan) yang berarti "berjalan bersama".
Dengan demikian, kata "sinode" juga berarti "persidangan" atau "pertemuan" yang menekankan kebersamaan. Kata ini sinonim denagn kata Latin concilium — "konsili". Pada mulanya, sinode adalah pertemuan yang dihadiri oleh para uskup, dan kata ini masih dipergunakan dalam pengertian ini di lingkungan Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur.
Kadang-kadang ungkapan sinode umum atau konsili umum merujuk kepada suatu konsili ekumenis. Kata sinode juga merujuk kepada dewan para uskup yang berkedudukan tinggi, yang membawahi sejumlah Gereja Ortodoks yang mempunyai pimpinan sendiri (otosefalus).
Penggunaan di berbagai denominasi Gereja.
Gereja Ortodoks. “Di lingkungan Gereja-gereja Ortodoks, sinode terdiri atas para uskup dan merupakan sarana utama untuk pemilihan uskup dan penetapan hukum-hukum gerejawi antar-diosis”.
Gereja Katolik Roma. “Sinode local. Di lingkungan Gereja-gereja ritus Timur sinode mempunyai pengertian yang sama dengan di lingkungan Gereja-gereja Ortodoks. Di lingkungan Gereja-gereja ritus Latin mempunyai pengertian berikut: Konsili-konsili tertentu, Sinode diosis (keuskupan), Konferensi uskup nasional.”
Konsili-konsili tertentu adalah sinode-sinode yang tidak permanen dari para uskup ritus Latin di wilayah-wilayah tertentu. Konsili ini mempunyai dua bentuk: konsili atau sinode lengkap, yang terdiri atas para uskup dari suatu negara dan yang dihimpunkan oleh dua pertiga suara dari konferensi uskup nasional, dan dewan provinsial, yang terdiri atas para uskup dari suatu provinsi gerejawi dan yang dihimpunkan oleh metropolitan dengan persetujuan dari mayoritas uskup yang ada di bawahnya.
Para uskup wilayah (termasuk uskup pembantu serta mereka yang bukan uskup yang mengepalai gereja-gereja tertentu di wilayah (misalnya, kepala biara teritorial) dan vikar apostolik) mempunyai hak suara dalam konsili-konsili pleno atau provinsial, meskipun beberapa anggota lainnya dari wilayah yang bersangkutan (seperti misalnya presiden universitas Katolik dan para pejabat gereja curia setempat diundang dan berpartisipasi sebagai penasihat.
Sinode diosis adalah sebuah pertemuan yang tidak permanen dari para rohaniwan dan awam dari suatu gereja di wilayah tertentu, yang diundang oleh uskup diosis sebagai suatu dewan penasihat tentang masalah-masalah legislatif. Hanya seorang uskup (uskup diosis) yang mempunyai hak suara, dan di diosis-diosis yang tidak mempunyai uskup pembantu, ia mungkin merupakan satu-satunya uskup yang menghadiri sinode ini. Para anggota lain dari sinode diosis, termasuk para uskup pembantu yang hadir, hanya bertindak sebagai penasihat, sementara segala keputusan untuk mengeluarkan keputusan hukum diserahkan kepada uskup diosis.
Konferensi uskup nasional adalah sebuah lembaga permanen yang terdiri atas semua uskup ritus Latin di sebuah negara. Para uskup dari gereja-gereja sui juris lainnya dan utusan nuncio Paus menurut hukum tidak termasuk dalam konferensi para uskup, meskipun konferensi itu sendiri dapat mengundang mereka untuk menghadirinya sebagai penasihat atau dengan hak suara (Hukum Kanon 450).
Baik sinode partikular (kan. 445) dan sinode keuskupan (kan. 391 & 466) mempunyai kekuasaan legislatif penuh atas anggota-anggotanya. Hal ini berbeda dengan kekuasaan konferensi uskup nasional, yang hanya mengeluarkan hukum-hukum pelengkap hanya bila diberikan wewenang untuk hal itu oleh dekrit Takhta Suci. Setiap hukum pelengkap harus pula dikukuhkan oleh Takhta Suci (kan. 455).
Sinode Umum. “Gereja Katolik Roma juga mempunyai dua sinode yang terdiri atas anggota-anggota dari seluruh Gereja: Sinode para Uskup dan Konsili ekumenis. Sinode Para Uskup adalah sesuatu yang baru dari Konsili Vatikan II, yang diperkenalkan lewat dekrit Christus Dominus. Sinode ini adalah sebuah dewan penasihat Paus, yang anggota-anggotanya terdiri atas para uskup terpilih dari seluruh dunia. Paus berfungsi sebagai presidennya atau menunjuk seseorang sebagai presidennya, menetapkan agendanya, menghimpun, menunda, dan membatalkan sinode, dan dapat pula mengangkat anggota-anggota tambahan ke dalamnya (kan. 344).
Para anggota sinode mengungkapkan pandangan-pandangannya mengenai masalah-masalah secara pribadi (artinya, sinode tidak mengeluarkan dekrit atau resolusi), tetapi Paus, atas keputusannya sendiri, dapat memberikan kuasa itu. Dalam hal ini, dekrit-dekrit atau resolusinya disetujui dan dirumuskan oleh Paus sendiri (kan. 343). Sinode Para Uskup ini ditunda apabila Takhta Suci kosong.
Gereja Katolik Roma percaya bahwa sebuah konsili ekumenis adalah sebuah sinode non-permanen dari semua uskup yang ada dalam persekutuan dengan Paus dan yang, bersama-sama dengan Paus, menjadi pemimpin tertinggi di dunia atas seluruh Gereja Kristen (kan. 336). Paus sendirilah yang mempunyai hak untuk menghimpunkan, menunda, dan membubarkan sebuah konsili ekumenis. Ia sendiri pula yang memimpinnya atau memilih seseorang yang lain untuk mewakilinya dan menentukan agendanya (kan. 338). Apabila Takhta Suci kosong, maka otomatis sebuah konsili ekumenis akan ditunda.
Sebelum hukum-hukum dikeluarkan oleh sebuah konsili ekumenis diberlakukan atau sebelum ajaran-ajaran yang dikeluarkan oleh sebuah konsili ekumenis dianggap otentik, semuanya itu harus dikukuhkano leh Paus, yaitu orang satu-satunya yang berhak merumuskannya (kan. 341). Harus dicatat bahwa pandangan tentang konsili ekumenis ini sangat berbeda dengan pandangan-pandangan yang dipegang oleh denominasi-denominasi Kristen lainnya.
Gereja Anglikan. “Di lingkungan Komuni Anglikan, sinode dipilih oleh para rohaniwan dan awam. Di kebanyakan gereja-gereja Anglikan, ada hierarkhi sinode yang dibagi menurut geografinya, dengan Sinode Umum di puncaknya; para uskup, rohaniwan dan kaum awam bertemu sebagai "kelompok" di dalam sinode. Sinode diosis dihimpun oleh seorang uskup di dalam diosisnya, dan terdiri atas rohaniwan dan anggota awam yang terpilih. Sinode dekanat dihimpun oleh Dekan rural (atau Dekan Wilayah) dan terdiri atas semua rohaniwan yang ditunjuk ke masing-masing paroki di lingkungan dekanan, ditambah anggota-anggota awam yang diangkat”.
Gereja Lutheran. “Dalam tradisi Lutheran sinode dapat merupakan suatu wilayah administratif setempat yang serupa dengan sebuah diosis, seperti misalnya Sinode Daerah Minneapolis dari Evangelical Lutheran Church in America (Gereja Lutheran Injili di Amerika), atau menunjuk kepada keseluruhan tubuh gereja, seperti misalnya Lutheran Church - Missouri Synod (Gereja Lutheran - Sinode Missouri, sebuah denominasi Lutheran yang konservatif). Kadang-kadang kata ini juga digunakan untuk pertemuan para pendeta dari sebuah diosis. Dalam hal ini, kata tersebut tidak mengandung makna administratif.”
Gereja Presbyterian. “Dalam sistem pemerintahan Gereja Presbyterian kata sinode adalah tingkat administrasi antara klasis setempat dan General Assembly (Persidangan Umum), sebagai lembaga tertinggi pemerintahannya. Beberapa denominasi menggunakan kata sinode, seperti misalnya Presbyterian Church in Canada (Gereja Presbyterian di Kanada), Uniting Church in Australia (Gereja Bersatu di Australia), dan Presbyterian Church (USA) (Gereja Presbyterian di AS). Namun, sebagian gereja lainnya tidak menggunakan kata sinode sama sekali, dan Gereja Skotlandia membubarkan sinodenya pada tahun 1980-an, lihat Daftar Sinode dan klasis Gereja Skotlandia”.
Gereja-gereja Reformasi. “Di Swiss dan Gereja-gereja Reformasi Jerman Selatan Gereja-gereja Reformasi ditata sebagai gereja-gereja mandiri yang dinamai menurut wilayahnya (mis. Gereja Reformasi Injili Zürich, Gereja Reformasi Berne), sinode mempunyai kedudukan sejajar dengan Persidangan Umum dari Gereja-gereja Presbyterian. Di Belanda, Gereja-gereja Reformasi (dan di kalangan Gereja-gereja Reformasi orang-orang Belanda di Amerika Utara), "sinode" adalah persidangan denominasi yang dihadiri oleh wakil-wakil dari masing-masing klasis setempat”.
Penggunaan di Kongo oleh Protestan. “Di Republik Demokratik Kongo, sebagian besar denominasi Protestan telah bergabung dalam sebuah institusi keagamaan yang dinamai Gereja Kristus di Kongo atau CCC, yang di Kongon sendiri biasa dirujuk sebagai Gereja Protestan. Dalam struktur CCC, sinode nasional adalah persidangan umum dari berbagai gereja yang membentuk CCC. Dari Sinode ini dibentuk sebuah Komisi Eksekutif, dan sekretariat. Ada pula sinode-sinode CCC di setiap provinsi Kongo, yang disebut sebagai sinode provinsi. CCC terdiri atas 62 denominasi Protestan”.
4.3. GKI (Kingmi) Papua. “Nama Gereja Kemah Injil pada awalnya adalah “Gospel Tabernacel,” Nama ini lahir dari pengalaman pelayanan DR AB.Simpson pendiri Gereja Kemah Injil sedunia. Lebih khusus konteks pelayanan misi C&MA di Tanah Papua, setelah organisasi gereja berdiri sendiri maka pihak C&MA dan para pelayan pribumi bersepakan memberi nama: “Kamah Injil Gereja Masehi Indonesia dan disingkat menjadi KINGMI Irian jaya. Karena adanya kebutuhan pelayanan misi C&MA maka KINGMI bergabung dengan KINGMI lain di Indonesia. Kemudian nama KINGMI Irian Jaya berubah menjadi Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII). Mengingat pelayanan gereja yang sangat kompleks, rumit dan luas maka GKII Wilayah Papua mengusulkan untuk menggunakan Sinode Kingmi Papua seperti model pemerintahan gereja yang dahulu”.
Isi Lagu Mars Sinode GKI (KIMGMI) Papua
1. Visi Gereja. “Visi adalah gambaran besar yang nampak secara samar-samar yang ada didepan, untuk dikejar melalui kerja keras sampai menjadi kenyataan. Visi organisasi itu datang dari Tuhan. GKI (Kingmi) Papua menerima visi dari Allah, yaitu: “Menghadirkan Nilai-Nilai Kerajaan Allah di Tanah Papua.”. Nilai-nilai Kerajaan Allah itu terdiri dari Nilai-nilai yang berhubungan dengan Allah dan nilai-nilai yang berhubungan dengan manusia. Gereja Kingmi berusaha menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah yang berhubungan dengan Allah sendiri adalah: memancarkan kesucian hidup, kejujuran, hidup benar, bersekutu, menyembah Allah, dll. Sedangkan nilai-nilai Kerajaan Allah yang berhubungan dengan manusia adalah: menghormati hak-hak orang lain, menghargai martabat manusia, memandang dan menghargai orang lain sebagai gambar Allah, mempercayai orang lain, mengasihi orang lain, melayani orang lain, membela nasib orang-orang miskin, dll.
2. Misi Gereja. “2.1. Misi gereja adalah pelaksanaan atau pemenuhan dari tugasnya yang penting dan utama yaitu menegakkan, melayani, dan memberitakan Injil Kerajaan Allah, dan pengutusan yang bertujuan untuk mengabdi danmelayani manusia. 2.2. Misi juga berarti keluar melewati batas gereja yang telah didirikan dan mengarahkan diri kepada manusia-manusia yang berada di luar gereja. Misi berarti suatu perjumpaan atau pertemuan antara Gereja dan manusia-manusia yang berada dalam situasi yang tidak bersifat Kristen. 2.3. Gereja Kemah Injil (Kingmi) mendapat misi dari Allah, yaitu: 2.3.1. Misi penginjilan bersasarkan Amanat Agung Yesus Kristus (Matius 28:18-20). 2.3.2. Misi Sosial (pelayanan kemanusiaan) dalam (Lukas 4:17-18). 2.3.3. Misi Pendidikan berdasarkan Amanat Agung Yesus Kristus (Matius 28:18-20). 2.3.4. Misi Diakonal 2.3.5. Misi Penggembalaan”.
3. Tujuan Gereja. “Tujuan Pelayanan GKI (Kingmi) Papua adalah: 3.1. Supaya seluruh unsure, komponen dan anggota gereja memuliakan Allah melalui hidup kudus, setia melayani dan Tuhan dan sesame; 3.2. Supaya seluru unsure, komponen dan anggota jemaat menikmati hidup aman, tentram dan damai sejahtera dalam Yesus Kristus di bumi ini”.
4. Fokus hidup Gereja. “Gereja GKI (Kingmi) ada hadir di Tanah Papua untuk: 4.1. belajar hidup terfokus, yaitu terus-menerus berusaha hidup berpadanan dengan Injil Yesus Kristus dan menjadi keserupaan dengan gambar-Nya; 4.2. agar gereja mencerminkan Yesus Kristus di dalam dunia ini melaui kehidupan sehari-hari kapan dan dimana saja. 4.3. Gereja selalu berfokus pada pelayanan, yaitu melayani Tuhan dan sesama manusia melalui kobaran karunia-karunia yang Allah berikan kepada setiap orang percaya.
5. Landasan Kerja Gereja. “Pelayanan GKI (Kingmi) Papua berlandaskan pada: 5.1. Lambang Injil Empat Berganda, yaitu Yesus Kristus Juruselamat, Pengudus, Tabib dan Raja yang akan datang. 5.2. Allah Tritunggal, yaitu Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. 5.3. Alkitab sebagai Firman Allah yang telah diilhamkan oleh Roh Kudus”.
6. Bentuk Pemerintahan Gereja. “Dalam bentuk Pemerintahan gereja Presbyterial Sinodal, maka Presbyter (tua-tua) gereja tergabung menjadi majelis jemaat bersama-sama memimpin dan memerintah jemaat setempat (lokal). Presbyter (majelis jemaat) berjalan bersama-sama dalam sinode.Bentuk pemerintahan ini, bukan saja menghormati pendeta dan juga menghargai pemimpin-pemimpin rohani. Di dalam kepemimpinan sebagai jemaat awam diikutsertakan dengan lebih dulu dilantik. Sebagai penatua gereja, mereka bersama-sama dengan pendeta mengatur roda kehidupan pendeta. Pada umumnya gereja di Indonesia yang sudah mengkombinasi struktur organisasi, menyebut penatua ini sebagai majelis. Jika jemaat ini sudah berkembang, sehingga menjadi beberapa atau puluhan gereja, maka bentuk pemerintahan gereja ini mendidrikan suatu wadah yang dinamakan sinode. Melalui sidang sinode ini, secara periodik dapat diadakan rapat. Dalam sinode ini akan menghasilkan keputusan-keputusan penting yang akan menentukan arah jalannya gereja. Gereja Kingmi menganut bentuk pemerintahan sinodal-presbiterial ini”.
7. Sistem Kerja Gereja. “Gereja dilambangkan sebagai tubuh Kristus. Tubuh mempunyai banyak anggota. Setiap anggota tubuh berbeda namun dalam menegrjakan seatu pekerjaan mereka harus bersatu dan bekerja bersama-sama, saling bergantung, saling melayani, saling menghargai dan saling menopang. Pelayanan dalam organisasi GKI (Kingmi) Papua sangat diharapkan agar seluruh komponen, unsure, tingkatan dan anggota jemaat mengembangakn system kerja: 7.1. Bulatkan Tekad Tekad kerja yang bulat maka tidak ada kemungkinan kesempatan bagi oknum yang lain. 7.2. Pelihara Persatuan. Bersatu dalam perbedaan (karunia, umur, pendidikan, dan jenis kelamin dan suku/ras) untuk melayani Tuhan. Perbedaan adalah asset bagi organiasi jika ditata dengan baik. 7.3. Berjiwa Besar dalam Tuhan. Gereja didirikan atas dasar Yesus Kristus. Kepala Gereja juga Yesus Kristus. Dasar dan Kepala Gereja GKI (Kingmi) di Tanah Papua adalah Yesus Kristus sendiri. Untuk itu, seluruh warga gereja Kingmi di Tanah Papua dalam pelayanan harus berjiwa besar dan selalu berpikir posif. Capailah hal apa yang Sinode Kingmi idamkan kesejahteraan hidup, pangaruh dan kekuasaan, hubungan kemanusiaan, kehidupan yang berhasil atau sukses nikmatilah semua itu dalam Tuhan.
Bagaimana menggunakan keajaiban berpikir dan berjiwa besar? 7.3.1. Ketika orang yang kecil berusaha menjatuhkan anda, Berpikirlah Besar, 7.3.2. Ketika perasaan “Saya belum mencapai tujuan saya” Muncul Berpikir Besar, 7.3.3. Ketika terlihat ada perselisihan atau pertengkaran yang tersembunyi, Berpikirlah Besar. 7.3.4. Ketika romantisme (cinta-kasih) memudar, Berpikirlah Besar, 7.3.5. Ketika merasa diri anda kalah, Berpikirlah besar, 7.3.6. Ketika anda merasa perkembangan anda dalam pekerjaan menurun, Berpikirlah Besar. Ingatlah ini: Orang Bijak akan menjadi Penguasa dari pikirannya, Orang bodoh akan menjadi budak dari pikirannya. Orang Benar, Berpikir dan Berjiwa Besar dalam TUHAN. 7.4. Melawan Kuasa Gelap dengan Kuasa Roh. Tanah Papua harus menjadi Tanah damai. Gereja hadir untuk membawa damai itu. Berbahagialah bagi mereka yang membawa damai karena mereka akan melihat Kerajaan Allah. Iblis tidak senang kalau umat Tuhan di Tanah Papua hidup dalam kerukunan dan kedamaian, sehingga Iblis selalu melakukan serangan dengan kata-kata dusta kepada oknum-oknum dan kepada kelompok-kelompok tertentu. Gereja harus melawan dusta Iblis atau kuasa gelap dengan kauat kuasa Roh Kudus”.
8. Strategi Pelayanan Gereja. “Tugas Pelayanan GKI (Kingmi) Papua dijabarkan dalam program kerja Sinode berikut ini, yaitu program pelayanan Doa, Daya, Data dan Dana (D4)”.
9. Tema : Berubah untuk Menjadi Kuat, sehat, hidup dan mandiri
Kesimpulan Akhir:
"Sebuah organisasi gereja yang merindukan sehat, kuat, hidup dan mandiri perlu dilakukan pengembangan organisasi berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar organisasi gereja itu sendiri. Dari penggunaan GKII Wilayah kembali menjadi Sinode GKI (Kingmi) adalah juga sebuah proses perubahan untuk gereja yang mandiri tanpa bergantung pada pihak-pihak lain untuk membangun dirinya sendiri dan membangun yang lain."
"Organisasi GKI ( Kingmi) di Tanah Papua perlu dilakukan pengembangan organisasi tiap priodik (jika satu priode selesai), yaitu menambah atau memangkas departemen, biro-biro yang sesuai kebutuhan pelayanan gereja setelah mengamati perubahan-perubahan". (Jemmy Gerson Adii/ Fredy Kusen, Drs. Dodi Siwabesy, MP and Pdt. Yance Nawipa M.TH)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
20.27
0
komentar
Label: RENUNGAN
“Hiduplah dengan Bijaksana, Adil, dan Beribadah; Titus 2:12"
Kepada segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada,salam sejahtera dalam Kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
1. Dalam suasana sukacita Natal yang menyinggahi ruang-ruang kehidupan, kita Mengucap syukur kepada Allah atas kelahiran Yesus Kristus, Juruselamat kita,karena dalam Dialah “kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (Titus 2:11). Yesus Kristus datang ke dunia supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Kasih karunia Allah yang tampak dalam diri Yesus Kristus itu pertama-tama membuat kita sanggup meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi (Titus 2:12), lalu mendidik kita untuk “hidup bijaksana, adil dan beribadah” (Titus 2:12).
Kasih karunia Allah itu mendidik kita untuk menjadi bijaksana dan penuh penguasaan diri. Kita telah dipanggil untuk mengikuti Kristus dan telah menyatakan kesediaan untuk mengikuti-Nya. Dalam setiap saat dan kesempatan, kita diajar mendengarkan firman Allah dan hidup sesuai dengan firman itu, seperti Kristus sendiri hidup dalam ketaatan penuh kepada Bapa.
Kebijaksanaan Kristiani ini haruslah memancar dalam hubungan dengan sesama. Dalam diri Anak-Nya Allah memberikan keselamatan kepada semua manusia, tanpa memandang suku, status sosial, dan agama. Allah menjadi manusia untuk menebusnya dari segala cela dan dosanya. Seperti Allah mengasihi semua orang, kita pun dipanggil untuk mengasihi sesama manusia, lebih-lebih sesama yang dipertemukan oleh Allah dengan kita dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Ketika kita mengasihi sesama tanpa memandang suku, agama, dan status sosial, maka kita telah berlaku adil. Kita telah menerima kasih dari Allah, dan Allah menghendaki agar kita mampu membawa kasih itu kepada sesama.
Kehendak Allah hanya dapat kita mengerti bila kita sendiri memiliki hubungan yang akrab dengan-Nya. Dalam ibadah yang kita lakukan, kita mendengarkan firman Allah, merayakan karya penyelamatan Allah, dan membina hubungan dengan Allah. Ibadah yang sejati membawa manusia pada kebahagiaan karena hakikat kehidupan beragama adalah hidup dalam hubungan pribadi dengan Allah dan ikut mengambil bagian dalam karya Allah untuk mengasihi manusia dan dunia.
2. Rakyat telah memilih orang-orang yang dipercaya untuk memperhatikan dan melayani kepentingan umum demi terwujudnya kesejahteraan bersama. Walaupun ada di antara mereka yang dipilih itu justru sibuk mengurusi kepentingan sendiri dan lebih mempedulikan kekuasaan daripada kesejahteraan bersama, tidak bisa disangkal bahwa ada banyak orang yang penuh kesungguhan hati melayani sesama.
Dengan dukungan pemerintah atau dengan usaha sendiri, mereka telah berjuang membantu sesama warga bangsa untuk mencapai kesejahteraan dan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Menurut kemampuan masing-masing, banyak anggota masyarakat, baik secara pribadi maupun dalam kelompok, telah berjuang memajukan pendidikan bagi anak-anak bangsa karena sadar bahwa kemajuan bangsa ini sangat ditentukan oleh pendidikan mereka di masa sekarang.
Kita berusaha dengan tidak henti-hentinya agar seluruh warga bangsa dapat hidup dengan rukun dan damai. Dalam hubungan itu, kita berupaya untuk terus menerus melakukan dialog dengan berbagai kelompok agama dan masyarakat supaya setiap warga dapat menjalankan kehidupan imannya secara lebih penuh tanpa rasa takut dan curiga satu sama lain. Berbagai hambatan dan kesulitan dalam usaha dialog ini telah kita lalui dan tidak perlu membuat kita patah semangat.
Kita patut bersyukur oleh karena bangsa kita telah sanggup bertahan menghadapi berbagai bencana yang silih berganti melanda negeri kita. Berbagai bencana itu tidak membuat kita putus asa dan berhenti berusaha. Masih banyak warga bangsa yang turut berbela rasa dan membantu meringankan beban sesama yang ditimpa bencana dan malapetaka sehingga mereka tidak terhimpit dalam penderitaan yang berkepanjangan.
3. Dalam segala usaha untuk memajukan kesejahteraan masyarakat, memajukan Pendidikan, dan menciptakan kerukunan itu baiklah kita ingat akan kasih karunia Allah yang telah dinyatakan dalam diri Kristus. Kasih karunia itu telah mendidik kita
dan memberi kita kemampuan agar sanggup hidup secara bijaksana, adil, dan beribadah. Untuk mewujudkan hal itu kami mengajak seluruh umat Kristiani Indonesia mewujudkan hal-hal berikut:
Tekun mendengarkan firman Allah yang tertulis dalam Kitab Suci agar kebijaksanaan ilahi meresapi pikiran dan hati kita. Kita menyadari bahwa kemajuan zaman merupakan tantangan tersendiri bagi kehidupan iman kita. Sebab itu, anak-anak, remaja, dan kaum muda hendaknya sejak dini diajar untuk mendengarkan firman Allah dan menaatinya.
Tetap melibatkan diri dalam usaha-usaha untuk memajukan kesejahteraan umum dan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Dengan cara ini, secara nyata kita menjalankan perintah Allah untuk berlaku adil kepada semua orang dan mengasihi sesama tanpa memandang suku, agama, ataupun golongan. Dalam segala usaha ini marilah kita memohon bantuan Tuhan agar Ia menganugerahkan kesejahteraan bagi bangsa kita, kebijaksanaan bagi para pemimpin bangsa kita, dan keamanan bagi negeri kita.
Terus-menerus menjalankan dengan setia ibadah sejati kepada Allah demi pemantapan iman kepada Tuhan dan menghindarkan diri dari ibadah yang basabasi. Ibadah sejati tidak dijalankan untuk memamerkan kesalehan tetapi untuk membina hubungan pribadi dengan Allah sehingga benar-benar menghasilkan buah nyata dalam tindakan. Oleh karena itu, hendaknya kita menjauhkan diri dari segala tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah seperti korupsi, penyalahgunaan narkoba, tindak kekerasan, dan sebagainya. Kita dipanggil untuk mengembangkan dan memelihara kebebasan yang bertanggung jawab agar semua warga bangsa dapat menjalankan ibadah dengan leluasa sesuai dengan tatacara agama masing-masing dan kekayaan budaya para pemeluknya.
Akhirnya, marilah kita memohon kebijaksanaan Allah agar kita sanggup memahami firman Allah dan hidup menurut firman itu, sebagaimana Kristus sendiri hidup dalam ketaatan penuh kepada Bapa. (Jemmy Gerson Adii/Aweidakai)
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
19.55
0
komentar
Label: RENUNGAN
27 Desember 2008
Kisah "BOB" & "BIB"
Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama. Uniknya, dikiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.
Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis, maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya. Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah permen lolipop.
Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat." Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, "Saya lupa makan permennya!"
Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. "Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya." "Kenapa kamu memanggil saya?" tanya Bob. "Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali!" Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. "Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama." Bib menambahkan.
Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.
Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia." Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali." Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.
Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja.
Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup.
Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.
Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia?
Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka menjawab, "Saya akan bahagia nanti...nanti pada waktu saya sudah menikah...nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri...nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya...nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya...nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar... "
Pemikiran 'nanti' itu membuat kita bekerja sangat keras di saat sekarang'.
Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa 'nanti' bahagia. Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa 'nanti' bahagia.
Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa 'nanti' bahagia itu.
Ritme hidup yang sangat cepat... target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu...
tetapi semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan. Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita;
pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi lebih indah.
Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran; memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita,
berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri. Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang.
Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukurkepada Tuhan seperti Bib yang melewati perjalanan dan pengalaman spektakulernya di lembah permen lolipop.
Kita pasti bisa jika kita memiliki komitmen untuk menyiapkan waktu untuk Tuhan setiap hari dalam keseharian kita dan tidak melupakan kebaikan Tuhan yang telah dianugerahkan-Nya di sepanjang tahun 2008 ini...Tuhan Yesus Memberkati…
Diposkan oleh
putra peteng papua
di
20.44
0
komentar
Label: RENUNGAN
My Number NPWP
My Daily
About Me
Blog Organisasi
-
Rapat Kerja Sinode GKII Wilayah I Papua - Rapat Kerja I Sinode GKII Wilayah I Papua akan dilaksanakan pada hari Selasa 11-14 Juli 2017 bertempat di Gedung Serba Guna GKII Bethesda yang terletak di ...8 tahun yang lalu
-
Mari Rebut Kembali Pasar. - Peningkatan kehidupan ekonomi masyarakat Papua hingga sampai saat era modern ini perlu mendapat perhatian penuh. Selama ini orang Papua asli hanya menjadi...16 tahun yang lalu
-
-
-
-
Please Your Respon..?
Peta Kunjungan